NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Lelehan air ngamuk dari langit baru saja berhenti ketika Cyan keluar dari lobi kantor dengan map tebal di tangan. Ia belum sepenuhnya siap, bahunya masih tegang setelah rapat panjang yang menyeret mood-nya ke titik paling rendah. Sudah pukul empat sore, tapi perjalanan ke Bandung harus tetap dilakukan hari ini juga karena deadline klien tidak mengenal belas kasih.

Mobil kantor sudah menunggu di parkiran basement. Di samping mobil itu, Magenta berdiri sambil memainkan kunci di jemarinya.

“Halo, Bu Syan,” sapanya sok formal sambil memberi hormat lebay.

Cyan hanya mendengkus. Suasana hatinya benar-benar lagi kacau saat ini.

“Stop. Jangan mulai, Genta. Kita mau perjalanan jauh.”

“Lho, bawahan rendah ini hanya menyapa dengan sopan. Lagi pula, hari ini aku supir pribadi kamu. Harusnya kamu bilang terima kasih dong,” balas Magenta ramah. Tidak pernah tersinggung meski Cyan selalu membalasnya ketus.

“Kamu itu supir karena kamu yang bilang mau nyetir. Bukan karena aku butuh,” balas Cyan sambil lewat begitu saja menuju sisi penumpang.

Magenta membuka pintu mobilnya dengan gaya pelayan hotel. “Udah jangan marah-marah mulu. Silakan masuk, nyonya tinggi elit 175 cm.”

“Magenta, aku belum marah kali ini, tapi bukan berarti gak bisa. Jadi, jangan macam-macam sekarang,” tegur Cyan menatap tajam, seakan ingin melahap pria ini sekali telan.

“Baik! Baik! Nggak jadi bercandanya kali ini.”

Magenta cepat-cepat menutup pintu, kembali ke kursi pengemudi, dan menyalakan mesin.

Mobil melaju keluar dari basement, menembus turunan pendek sebelum masuk ke jalan besar. Cyan bersandar, menatap kota dari balik jendela. Lampu-lampu mulai menyala, arus kendaraan padat, dan entah mengapa rasanya perjalanan ini akan sangat panjang.

Magenta menyalakan musik pelan dari playlist-nya, membuat Cyan langsung menoleh dengan tatapan elang.

“Dih. Kenapa musiknya lagu penyesalan kayak beginian?” protes Cyan yang alisnya bertaut sempurna.

“Kenapa? Kamu anti sama musik galau?”

“Galau sih boleh.”

Cyan menunjuk dashboard dengan wajah tidak terima.

“Tapi ini lagu orang patah hati yang duduk di pinggir sungai sambil merengut. Kita lagi kerja, bukan syuting MV.”

“Okey, kalau begitu, playlist rap?”

“Jangan, Genta,” balas Cyan cepat.

“Kenapa? Takut ketularan SWAG?”

“MAGENTA.”

“Hah, terus lagu apa? Aku gak tau seleramu,” ucap Magenta bingung. Hingga akhirnya ia terpikirkan sebuah lagu yang jadi primadona warga Indonesia.

DJ Rimex.

“ASTAGA, GENTA!” teriak Cyan ketika dentuman musik bass tinggi itu mengejutkan jantungnya.

“Lah, salah lagi? Kirain kamu suka lagu beginian,” balas Magenta tidak merasa bersalah.

“Atas dasar apa kamu ngira aku suka DJ angkot begitu? Hah?” geramnya meremas sabuk pengaman.

“Ya ... karena anak kantor sering muter musik itu pas kepepet deadline. Jadi, aku pikir kamu juga suka.”

“Bodoh. Ya Tuhan, umurku kayak berkurang sehari karena kamu, Genta!”

“Oke, oke!” Magenta tertawa sambil mengganti lagu ke instrumen santai. “Susah banget ya bikin kamu nyaman.”

Cyan melipat tangan. “Aku nyamannya kalo kamu diam.”

***

Jalan tol mulai lengang ketika mereka sudah melewati gerbang keluar kota. Langit memudar menjadi jingga dan angin dari AC mobil membuat suasana tidak begitu hening. Untuk beberapa menit, Magenta tidak bicara sama sekali. Itu saja sudah seperti pencapaian luar biasa baginya.

Cyan akhirnya bersuara, memecah keheningan.

“Kamu yakin bisa nyetir jauh? Awas aja kalo tiba-tiba ngantuk.”

“Loh, Bu Bos. Kamu lupa? Aku ini supir terbaik anak gang sebelah. Nyetir Jakarta–Bandung itu appetizer.”

Cyan menoleh dengan tatapan “apaan sih”.

“Magenta, jangan sok hebat. Aku tahu kamu sering telat dan hobimu bikin masalah.”

“Kamu ngomong kayak gitu, tapi bicaranya sambil pakai nada manis gitu, ya? Cuma karena sekarang aku calon suami pura-pura kamu?” sindir Magenta.

Cyan langsung memalingkan wajah.

Pipinya memerah panas.

Bodoh sekali dia membiarkan topik itu terbuka.

“Kita belum deal apa-apa,” katanya samar.

“Loh? Bukannya kamu udah setuju menurunkan tone marahmu jadi 30%?” Magenta pura-pura menghitung dengan jari. “Perjanjian itu berlaku loh, kalau aku bakal pura-pura jadi calon suami kamu.”

Cyan ingin menendang dashboard.

Harga dirinya ke mana? Ya Tuhan.

“Itu belum final,” katanya menyeletuk.

“Syan, kamu mau aku ikut ke kampung kamu atau enggak?”

Cyan menatap jendela. Hujan rintik turun lagi di luar, membuat bayangan lampu-lampu jalan berlari di permukaan kaca.

“Bukan mau atau nggak. Aku Cuma butuh orang yang bisa bikin keluargaku berhenti ribut soal nikah.”

“Lalu kenapa pilih aku?”

Cyan terdiam lama.

“Hufh, karena cuma kamu yang muncul di hidupku dengan cara paling bikin pusing, mungkin.”

Kalimat itu tersimpan di benak Cyan. Tidak berani diungkapkan. Apa lagi selain mencari aman.

“Karena kamu yang nawarin.”

“Iya sih. Bener juga,” balas Magenta tersenyum getir, jawaban yang tidak sesuai espektasi.

Tiga puluh menit kemudian, Magenta menguap.

“Kamu ngantuk?” Cyan spontan menatap.

“Sedikit, tapi masih oke. Mau gantian nyetir?”

“Tidak.” Ia menolak mentah-mentah.

“Satu, aku nggak percaya kamu bakal tidur diam di sampingku, bisa-bisa kecerobohanmu gangguin aku bikin mobil kita jatoh ke parit. Dua, aku nggak mau nyetir mobil kantor malam-malam dan diganggu makhluk usil kayak kamu. Tiga, kalau aku nyetir, kamu pasti ngoceh terus dan itu bakal bikin aku tambah sakit kepala dan kesel.”

Magenta ngakak. “Jadi kamu lebih milih aku ngantuk kayak sekarang daripada aku banyak ngomong?”

“Ya,” Cyan jawab cepat.

“Yaampun, tega banget kamu.”

“Sekarang terbukti efektif.” Cyan menutup pembicaraan.

Karena gengsinya pecah sedikit, Cyan membuka laci dan mengambil minuman kaleng dingin. Ia menaruhnya diam-diam di cup holder sebelah Magenta.

“Bu Bos baik sekali.” Magenta sudah bersiap meledek.

“Satu kata lagi keluar dari mulutmu, aku ambil lagi.”

“Baik, baik!” Magenta mengangkat kedua tangan. “Terima kasih, Tuan Putri.”

“MAGENTA.”

Magenta tertawa lagi dan anehnya, Cyan tidak terlalu kesal kali ini.

***

Setelah memasuki kawasan rest area KM 72, Magenta memutuskan berhenti.

“Kaki aku kaku. Kita istirahat sebentar,” katanya sambil mematikan mesin.

Rest area tidak terlalu ramai. Cyan turun, meregangkan badan. Rambut panjangnya jatuh mengalir di bahu, membuat Magenta terpaku beberapa detik. Cyan menangkap tatapan itu dan langsung memalingkan wajah.

“Apa liat-liat?!”

“Lihat pemandangan. Cantik dan indah banget.”

“Jangan bercanda di luar jam kerja.”

“Kita lagi dinas keluar kota, otomatis masih di jam kerja.”

Cyan menutup wajah dengan tangan, mulai frustrasi.

“Kenapa aku setuju pergi sama kamu, sih?” katanya masih membuang muka, menghindari tatapan Magenta. Magenta memperhatikan Cyan yang berjalan menuju minimarket kecil. Mengekori seperti anak ayam yang kehilangan induk.

“Karena aku menyenangkan?” tanyanya sambil berlari menyusul.

“Karena aku nggak punya pilihan lain,” balas Cyan.

“Alasan kamu itu loh bikin hati aku retak, Syan.”

“Hati apa, sih? Hati kamu tuh terbuat dari plastik kayaknya.”

“Astaga. Calon istri aku jahat banget.”

Cyan berhenti mendadak, mereka nyaris bertabrakan. Untung saja Magenta refleks diam di tempat.

“Kita belum—”

“Ya, aku tau, tapi kamu gak pernah nolak kalau aku bilang begitu.”

Cyan terdiam. Panas merayap sampai ke ujung telinga. Ia mengatur napas, melanjutkan langkah dengan cepat masuk ke minimarket. Magenta hanya menyeringai sambil mengikutinya dari belakang. Sesaat Cyan bingung hendak membalas apa, pada akhirnya kalimat itu memilih tergantung di udara.

Setelah membeli snack, mereka kembali ke mobil. Magenta membuka pintu dan menaruh kantung plastik di kursi belakang. Saat Cyan hendak masuk, kakinya terpeleset sedikit karena lantai sedikit basah. Pria itu pun sontak menangkap siku Cyan.

Dalam sepersekian detik itu, tubuh mereka rapat, tangan Magenta mencengkeram lengan Cyan. Tatapan mereka bertemu, dan suara-suara dunia sekitar mendadak redam.

Sadar dirinya terlalu berkontak fisik, Cyan cepat-cepat menarik diri.

“A-aku bisa sendiri!”

“Sorry. Refleks,” jawab Magenta buru-buru klarifikasi.

Cyan gegas masuk ke mobil, menutup pintu terlalu cepat sampai terdengar ‘duk’ pelan. Magenta menghela napas, cengengesan, lalu duduk di kursi pengemudi tanpa komentar.

***

Beberapa kilometer sebelum masuk Kota Bandung, jalanan sedikit menikung dan suasana gelap semakin pekat. Cahaya lampu kota di kejauhan memancarkan cahaya seperti hamparan bintang.

“Kamu tau? Perjalanan kayak gini biasanya bikin aku pusing, tapi gak tahu kenapa hari ini biasa aja. Aku gak mabuk perjalanan juga,” ucap Cyan bersandar sambil memeluk tasnya.

“Karena supirnya keren?”

Cyan memutar bola mata malas, melempar pandang ke jendela lagi. “Sialan, aku tarik kata-kataku.”

“JANGAN! Tolong, sedikit aja hargai!” teriak Magenta panik.

“Ya udah, terima kasih. Untuk jasa nyetirnya. Mas tinggi sulit, Tuan 165 cm.”

Magenta mengerjap, seperti tidak menyangka Cyan benar-benar memuji.

“Wah, aku harus catat hari ini sebagai salah satu keajaiban dunia masuk segmen On The Spot.”

“Magenta, sumpah kalau kamu—”

“Baik-baik aku diam, tapi terima kasih banyak, ya, Syan.”

Untuk beberapa saat, mereka benar-benar terdiam. Bukan awkward, terasa beda dari hari biasa. Bukan panas karena pertengkaran debat yang tidak perlu, tetapi suasana yang sedikit romantis menghangatkan hati keduanya saat ini.

Sesampainya di Bandung, mereka berhenti di lampu merah dekat alun-alun. Cyan menghela napas lega, akhirnya tiba juga setelah perjalanan berjam-jam.

Magenta mengintip Cyan, memastikan gadis itu baik-baik saja.

“Kamu kelihatan lebih rileks.”

“Hmm.”

Cyan menatap keluar jendela.

“Bandung selalu punya efek begitu.”

“Kalau aku juga punya efek begitu ke kamu, gimana?”

Cyan spontan menatapnya cepat-cepat dan Magenta langsung terkekeh.

“Astaga mukanya merah lagi.”

“Genta, diem.”

“Tapi lucu deh. Kamu biasanya judes, tapi sekarang ....”

“MAGENTA!”

Magenta mengangkat tangan. “Oke, oke, gak usah marah. Ingat rasa marah harus berkurang 30%.”

Cyan menunduk sambil memijat pelipis.

“Kenapa sih aku mau-mau aja berangkat sama dia? Kayak gak ada orang lain aja di dunia ini!”

Magenta tersenyum singkat, membekap mulut menahan gelak tawa.

“Karena jauh di dalam hati kamu, kamu suka, ‘kan?”

Hening.

Krik, krik.

Saat ini Cyan berusaha untuk tidak melempar tas ke arah Magenta.

“MAGENTA! BAWA MOBILNYA YANG BENER!”

“SIAP, CALON ISTRI!”

Bugh!

“YA TUHAN, KDRT!”

1
Sinchan Gabut
Haish... bulan puasa hey 😆
Sinchan Gabut
aku kaget, kirain dah offc, taunya pura-pura. ah elah jd kangen kan eh hahahha
Anisa Saja
malu-malu meong nih
IR Windy
magenta makin seneng gak tuh dibilangin kek gitu
IR Windy
si raka emng peka bgt smpe hal2 kecil
IR Windy
hayoloo.. alya sampe neting gitu
IR Windy
okeee cyan mulai jinak nih kayaknya
IR Windy
kesempatan dlm kesempitan itu mh wkwk
IR Windy
kapan mreka gk brantem wkwk
IR Windy
si genta mah emg nyari kesempetn aja, jd gk cuma bantu
IR Windy
bantet gak tuh wkwk fiks kalo gaada magenta bakal sepi sih hidup cyan
IR Windy
magenta ngeselin poll ya
Anisa Saja
ngeri emang kalau sampai kejadian kayak gitu
Anisa Saja
bener banget itu, Raka.
Anisa Saja
jangan-jangan apa? hayooo
Anisa Saja
memang agak aneh kalau orang yang biasanya banyak omong tiba-tiba diem aja
Anisa Saja
padahal udah sama-sama dewasa.
Anisa Saja
kayaknya si genta ada sesuatu sama cyan nih
Aruna02
kok balas budi sih
Rain (angg_rainy): Awalnya🙈 balas budi aja lama2
total 1 replies
Aruna02
dih pede 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!