Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Lana dan Dapur yang Berantakan
Lana dan dapur yang berantakan menjadi pemandangan yang sangat menyedihkan saat Adrian tiba-tiba muncul di depan pintu dengan tangan yang bersedekap di dada. Pecahan piring porselen berserakan di atas lantai marmer sementara asap tebal mengepul dari arah wajan yang tertinggal di atas kompor menyala.
Lana berdiri di tengah kekacauan tersebut dengan wajah yang penuh coretan noda hitam serta rambut yang tidak lagi tertata rapi. Ia mematung saat melihat sorot mata Adrian yang semula sangat dingin kini perlahan berubah menjadi penuh dengan ketegangan.
Adrian melangkah masuk ke dalam area dapur yang panas tanpa mempedulikan sepatunya yang menginjak ceceran saus tomat yang merah pekat. Ia segera mematikan aliran gas pada kompor dengan gerakan yang sangat tangkas sebelum api sempat menyambar kain serbet di dekatnya.
"Apakah kamu sedang mencoba untuk membakar mansion saya beserta seluruh isinya, Lana?" tanya Adrian dengan nada suara yang sangat rendah namun menggetarkan batin.
Lana hanya bisa menundukkan kepala sambil meremas ujung celemeknya yang sudah sangat kotor oleh berbagai macam bumbu dapur. Air mata mulai menetes membasahi pipinya yang kemerahan akibat suhu panas dari tungku yang menyala sejak tadi.
Ia merasa sangat gagal karena tidak bisa memenuhi perintah suaminya yang terlihat sangat sederhana namun ternyata sangat sulit bagi dirinya. "Saya hanya ingin memasak hidangan kesukaan Anda, namun semuanya menjadi sangat kacau dalam sekejap saja," isak Lana dengan bahu yang naik turun karena menahan tangis.
Adrian terdiam melihat kerapuhan gadis di hadapannya yang tampak sangat berantakan dan penuh dengan rasa putus asa yang mendalam. Kemarahan yang sempat menyelimuti pikirannya perlahan luruh saat melihat jemari Lana yang tampak memerah karena terkena cipratan minyak panas.
Ia meraih tangan Lana secara perlahan dan membawanya menuju wastafel untuk membasuhnya dengan air yang mengalir dingin. "Seorang prajurit tidak boleh menyerah pada keadaan, namun mereka juga harus tahu kapan harus meminta bantuan tim," bisik Adrian dengan nada yang tidak terduga lembutnya.
Lana tersentak merasakan perhatian kecil yang diberikan oleh pria yang selama ini ia anggap sebagai monster tak berperasaan di dalam hidupnya. Ia menatap wajah Adrian dari jarak yang sangat dekat dan menemukan guratan kelelahan yang selama ini tersembunyi di balik wibawa militernya.
Kesunyian di dapur itu kini terasa jauh lebih tenang daripada sebelumnya meskipun ruangan tersebut masih terlihat seperti medan peperangan yang baru saja berakhir. Adrian mengambil sebuah kain bersih dan menyeka noda hitam pada pipi Lana dengan gerakan yang sangat hati-hati dan perlahan.
Lana merasa jantungnya berdebar secara tidak beraturan karena ia baru pertama kali melihat sisi lain Adrian Al Fahri yang jauh dari kekerasan senjata. Ia mulai bertanya-tanya apakah pria ini benar-benar sedingin penampilannya atau hanya sekadar memakai topeng untuk menutupi luka masa lalunya yang kelam.
"Bersihkan dirimu dan kembali ke meja makan, saya yang akan menangani semua kekacauan yang kamu buat di sini," perintah Adrian kembali dengan nada tegas namun tak lagi mengancam.
Lana melangkah keluar dari dapur dengan perasaan yang sangat bingung sekaligus tersentuh oleh perlakuan singkat sang kolonel kaya raya tersebut. Ia tidak menyangka bahwa kegagalannya di dapur justru memperlihatkan sisi kemanusiaan dari pria yang telah merenggut kebebasannya secara paksa.
Namun, rasa tenang itu segera sirna saat ia melihat sebuah amplop hitam misterius terselip di balik pintu kamarnya saat ia hendak masuk. Sisi lain Adrian Al-Fahri yang baru saja ia lihat seolah tertutup kembali oleh bayang-bayang rahasia besar yang mulai menghantui hidup mereka.