Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.Kebenaran yang Tidak Diminta
Hujan turun tipis malam itu.
Tidak deras, tidak dramatis—hanya cukup untuk membuat udara terasa berat dan jalanan basah berkilau di bawah lampu kota. Tempat yang dipilih Varrendra jauh dari Imperion, sebuah kedai kecil yang hampir kosong, tersembunyi di sudut jalan tua. Tidak ada siswa, tidak ada pengawas, tidak ada fraksi.
Hanya dua orang yang membawa terlalu banyak beban.
Selvina datang lebih dulu. Ia duduk di kursi dekat jendela, memandang keluar tanpa benar-benar melihat. Ketika pintu terbuka dan Varrendra masuk, ia tidak menoleh.
“Kau tepat waktu,” katanya datar.
“Aku tidak ingin memberimu alasan untuk pergi,” jawab Varrendra.
Ia duduk di seberangnya. Untuk pertama kalinya, tidak ada jarak strategis—meja kecil memaksa mereka berhadapan terlalu dekat. Napas mereka bercampur dengan aroma kopi pahit dan hujan.
“Kau bilang ingin bicara,” ucap Selvina. “Bicaralah.”
Varrendra menatap cangkirnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat kepala. “Aku tidak sepenuhnya jujur padamu.”
Selvina tersenyum kecil. Bukan senyum senang. “Itu bukan pembukaan yang mengejutkan.”
“Ada satu hal yang kusembunyikan,” lanjut Varrendra. “Tentang perjodohan ini.”
Selvina akhirnya menatapnya lurus. “Apa?”
“Awalnya,” katanya pelan, “aku tidak punya pilihan.”
Hening.
“Awalnya,” ulangnya, “ini bukan kesepakatan. Ini instruksi.”
Selvina tidak berkedip. “Dari Rivena.”
Varrendra mengangguk. “Aku setuju karena aku tahu kalau aku menolak, rencananya akan tetap berjalan. Hanya saja… kau akan sendirian.”
Itulah kebohongan kecil itu.
Bukan soal rencana.
Bukan soal strategi.
Melainkan alasan ia mendekat.
“Kau datang padaku,” suara Selvina menurun, “bukan hanya untuk melindungiku. Tapi juga untuk memastikan aku tetap dalam jangkauan keluargamu.”
Varrendra tidak membantah.
“Kenapa baru sekarang kau bilang?” tanya Selvina.
“Karena kalau aku bilang sejak awal,” jawabnya jujur, “kau tidak akan mempercayaiku sama sekali.”
Selvina menunduk. Tangannya bergetar sedikit, lalu berhenti.
“Jadi selama ini,” katanya lirih, “aku berdiri di atas papan catur yang kau pasang.”
“Tidak,” jawab Varrendra cepat. “Aku tidak pernah menggerakkanmu.”
“Tapi kau tahu papan itu ada,” balas Selvina tajam. “Dan kau tetap membiarkanku berdiri di sana.”
Kata-kata itu lebih tajam dari tuduhan.
“Aku minta maaf,” ucap Varrendra. “Bukan sebagai pemimpin fraksi. Bukan sebagai bagian dari rencana. Tapi sebagai diriku sendiri.”
Selvina tertawa kecil, nyaris pecah. “Lucu. Aku bahkan tidak tahu siapa dirimu sendiri dalam semua ini.”
Hening panjang menyelimuti mereka.
“Aku ingin kau tahu satu hal,” kata Varrendra akhirnya. “Aku tidak berniat menjadikanmu penjara.”
“Masalahnya,” jawab Selvina, menatapnya lelah, “aku tidak tahu apakah kau kunci… atau satu-satunya jalan keluar.”
Di sisi lain kota, Rivena berdiri di ruang kerjanya yang gelap.
Lampu tidak dinyalakan. Hanya cahaya dari layar ponsel di tangannya yang menerangi wajahnya.
Nama yang tertera bukan nama besar. Bukan pejabat. Bukan dewan.
Melainkan kontak lama yang seharusnya tidak ia hubungi lagi.
Ia menekan panggilan.
“Aku ingin menunda,” katanya begitu sambungan terhubung. “Tekanan berikutnya.”
Suara di seberang terdiam. “Itu tidak sesuai rencana.”
“Aku tahu.”
“Kenapa sekarang?”
Rivena menutup mata sejenak. Bayangan Varrendra kecil—diam, keras kepala, menahan tangis—melintas singkat.
“Karena kerusakan yang terlalu cepat,” katanya akhirnya, “akan menyeret anakku bersamanya.”
“Itu risiko,” jawab suara itu dingin.
“Tidak,” balas Rivena tajam. “Itu kegagalan strategis.”
Ia mematikan panggilan sebelum ada bantahan.
Keputusan itu bertentangan dengan semua yang pernah ia pegang: efisiensi, tekanan berlapis, kemenangan cepat.
Dan untuk pertama kalinya, Rivena sadar—
Ia baru saja memilih sebagai ibu, bukan strateg.
Kembali di kedai, hujan mulai reda.
Selvina berdiri lebih dulu. “Kesepakatan ini,” katanya, “masih berlaku.”
Varrendra mengangkat kepala. “Meski kau tidak percaya padaku?”
“Justru karena aku belum percaya,” jawabnya. “Aku perlu melihat apa yang akan kau lakukan setelah aku tahu kebenarannya.”
Ia melangkah pergi, lalu berhenti.
“Satu hal, Varrendra.”
“Iya?”
“Jangan bohong lagi,” ucapnya pelan. “Aku lebih tahan disakiti oleh kebenaran… daripada dilindungi oleh kebohongan.”
Pintu tertutup di belakangnya.
Varrendra duduk diam, menyadari satu hal yang tidak pernah diajarkan dalam strategi mana pun:
Kejujuran tidak selalu memperbaiki keadaan.
Kadang, ia hanya memastikan luka itu nyata.
Dan di antara hujan yang tersisa dan keputusan yang berubah arah, permainan ini resmi masuk ke fase baru—
Bukan lagi soal siapa yang menang.
Tapi siapa yang berani tetap jujur saat kekuasaan mulai goyah.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍