Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 – Misi yang Terlalu Bersih
Hari kedua sebagai murid dalam dimulai dengan panggilan resmi.
Ren Tao baru saja menyelesaikan meditasi pagi ketika batu giok identitasnya bergetar pelan. Cahaya tipis muncul di permukaannya, membentuk satu kalimat singkat.
Tugas lapangan. Aula distribusi. Sekarang.
Ren Tao membuka mata. Tidak ada ekspresi terkejut. Justru sebaliknya sudut bibirnya naik sangat tipis.
Terlalu cepat, pikirnya.
Wei Kang tidak sabar.
Di aula distribusi, beberapa murid dalam sudah berkumpul. Suasananya berbeda dari pembagian tugas harian. Lebih sunyi. Lebih formal. Seorang pengawas berdiri di depan meja batu, dengan gulungan giok berwarna biru tua tanda misi resmi.
“Ini bukan tugas rutin,” ucap pengawas itu. “Ini misi pembersihan wilayah luar sekte. Tingkat risiko rendah.”
Ren Tao memperhatikan pilihan katanya.
Tingkat risiko rendah.
Biasanya, kalimat itu berarti sebaliknya.
Nama-nama mulai dibacakan. Tiga murid dalam senior. Dua murid menengah.
Lalu.
“Ren Tao.”
Beberapa kepala menoleh.
Ren Tao melangkah maju tanpa ragu.
“Wilayah target: lembah utara, bekas area formasi lama. Tugas: verifikasi gangguan qi dan pembersihan sisa energi liar.”
Pengawas menatap Ren Tao sejenak lebih lama. “Kau akan bertugas sebagai pencatat lapangan.”
Pencatat.
Posisi yang terlihat aman. Tidak memegang komando. Tidak berada di garis depan.
Terlalu bersih.
Ren Tao mengangguk. “Dimengerti.”
Di perjalanan menuju lembah, kelompok bergerak tanpa banyak bicara. Murid senior berjalan di depan, aura mereka stabil dan kuat. Ren Tao berada di belakang, membawa gulungan giok pencatat.
Ia mengamati.
Langkah. Jarak. Pola napas. Distribusi qi.
Tidak ada yang kebetulan.
Saat mereka memasuki wilayah target, Ren Tao langsung merasakan kejanggalan. Aliran qi di udara memang kacau, tapi tidak liar. Ada pola berulang. Seperti sisa-sisa formasi yang sengaja ditahan agar tidak runtuh sepenuhnya.
Ini bukan gangguan alami.
“Mulai pembersihan,” perintah salah satu murid senior.
Dua murid maju, melepaskan serangan Qi untuk menetralisir area. Tanah bergetar pelan. Energi liar berhamburan lalu tiba-tiba berbalik arah.
Ren Tao langsung menurunkan tubuhnya.
Formasi tersembunyi aktif.
Ledakan kecil terjadi di sisi kanan lembah. Salah satu murid terpental, darah muncrat dari bahunya.
“Formasi jebakan!” teriak seseorang.
Kacau.
Ren Tao bergerak cepat, tapi tidak ke depan. Ia mundur setengah langkah, membuka gulungan giok pencatat, dan menekan satu simbol kecil di sudutnya.
Cahaya menyala.
Perekaman aktif.
Ia mencatat setiap perubahan qi, setiap reaksi formasi, setiap kesalahan langkah.
Sementara murid lain sibuk bertahan, Ren Tao sudah memahami pola jebakan itu. Formasi ini bukan untuk membunuh.
Ini untuk menguji.
Atau lebih tepatnya—
Menjatuhkan kesalahan pada seseorang.
“Ren Tao! Laporkan pola qi!” teriak murid senior.
Ren Tao menatap formasi itu, lalu menjawab dengan suara tenang. “Formasi berlapis. Tiga titik jangkar. Jika dihancurkan paksa, Qi akan berbalik ke pusat.”
“Jadi apa solusinya?”
“Matikan satu jangkar,” jawab Ren Tao. “Yang di barat. Sisanya akan runtuh sendiri.”
Mereka mengikuti instruksinya.
Formasi runtuh dengan suara rendah, seperti napas yang dilepaskan.
Hening.
Beberapa murid menatap Ren Tao dengan ekspresi berbeda sekarang. Bukan curiga.
Waspada.
Dalam perjalanan kembali, tidak ada yang berbicara padanya. Tapi jarak itu berubah. Bukan menjauh.
Justru menjaga.
Di aula disiplin, laporan misi diserahkan.
Ren Tao menyerahkan gulungan giok pencatat lengkap, detail, dan bersih.
Terlalu bersih untuk dimanipulasi.
Wei Kang membaca salinan laporan itu malamnya. Tidak ada kesalahan prosedur. Tidak ada pelanggaran. Bahkan analisis formasi Ren Tao tercatat sebagai kontribusi resmi.
Wei Kang menutup matanya sejenak.
“Bukan hanya patuh aturan,” gumamnya. “Dia menjadikannya senjata.”
Di kamarnya, Ren Tao duduk bersila. Ia membuka gulungan salinan pribadi catatan kecil yang tidak diserahkan.
Formasi itu.
Pengawas itu.
Waktu pemanggilan yang terlalu cepat.
Ia tersenyum tipis.
Bagus.
Semakin rapi permainan mereka, semakin mudah ia membaca celahnya.
Dan di dunia sekte ini—
Orang yang memahami aturan paling dalam
adalah orang yang paling berbahaya.
semangat terus ya...