NovelToon NovelToon
TAWANAN CINTA TUAN SAGA

TAWANAN CINTA TUAN SAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Barat / CEO / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak

Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.

"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.

Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.

"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.

"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "

Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

"Saga, coba tebak. Apa yang aku dapatkan di sini?" Agres memotret Ivana, Jane dan juga Rei yang terbaring pingsan di mobilnya.

Agres kini tengah melakukan video call dengan Saga, "Kerja bagus, aku suka hal ini" ujar Saga sebari meneguk selegas wine.

"Tunggu, mengapa kalian juga membawa kedua pelayan payah itu,"

Mendengar ucapan Saga, Danuel pun tiba-tiba muncul di layar ponsel. "Kau ingin aku tinggalkan mereka sendiri di sini? mereka baru saja di serang para pria brengsek itu," Danuel memperlihatkan pada Saga, di ujung jalan itu ada beberapa polisi yang tengah melakukan penangkapan pada para preman itu.

"Lalu, apa peduliku tentang itu?." Saga tiba-tiba sadar akan sesuatu.

"Tunggu, siapa yang menelepon polisi. Kalian yang menelepon mereka?" Pertanyaan Saga itu sontak membuat Agres langsung membela dirinya.

"Tentu saja tidak, untuk apa aku memanggil mereka. Kau pikir aku ingin cari mati, lagi pula para polisi itu tak tahu siapa kita, dan juga. Sepertinya Danuel suka dengan salah satu dari mereka." Ujar Agres sebari melirik Danuel.

"Hai, apa maksudmu?" Danuel yang tak terima langsung menampar pipi Agres. "Plakkkkk"

"Dasar pria gila ini, mengapa kau menamparku?"

Wajah Saga seketika berubah, ia menunjukkan raut wajah yang penuh dengan amarah. "Apa kau suka pada Ivana?"

Mendengar itu Danuel pun syok, ia menatap Ivana dan langsung menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak, untuk apa aku suka padanya. Lagian Ivana bukan tipeku"

"Jadi seperti apa tipemu?" pertanyaan dari Agres membuat Danuel menatap ke arah Jane dan tersenyum.

"Sudahlah Agres, kau jangan menggodaku seperti itu."

Sebuah motor zx kini mendekat ke arah mereka, motor itu kini berhenti tepat di samping mobil Agres. "Tok tok tok" ketuk pria di atas motor itu, mengetuk kaca mobil Agres.

Agres pun sontak menurunkan kaca mobil itu, Pria itu juga membuka helmnya, rupanya pria di atas motor itu adalah Martin.

"Dari mana kau dapat motor ini?" tanya Agres yang penasaran dengan asal motor itu.

"Entahlah, aku rasa milik para preman itu. Salah sendiri meninggalkan kuncinya di atas motor. Ayo, kita harus kembali sekarang. Sebelum para polisi itu sadar dan malah menangkap kita juga." Martin memakai helmnya kembali, ia pun kemudian membawa motornya pergi dan di ikuti oleh Agres yang membawa mobilnya tepat di belakang Martin.

Di tempat lain, kini Saga masih belum tidur. Ia sedari tadi terus berada di depan layar komputer. "Selesai," ujar Saga setelah akhirnya tugasnya selesai untuk hari ini. Dia memang sibuk, ada dua pekerjaan yang harus ia lakukan.

Dan kini, pekerjaannya bertambah satu. "Ivana, aku benar-benar tak sabar melihatmu menangis. Memohon padaku," Saga memegang anak panah di tangannya. Ia kemudian melemparkannya tepat menancap ke sebuah foto dengan wajah Ivana yang ia taruh pada sebuah papan kayu.

"Tepat hari ini, kau akan menjadi milikku Ivana," Saga tersenyum puas, ia tertawa seperti orang tak waras.

Pria itu juga kini mengambil bingkai foto, dengan Olivia di dalam bingkai foto itu. "Oliv, Olivia."

Pria itu kini tampak mengerikan, ia terus memanggil nama wanita itu meski kini ia telah tiada.

*****

“Hem, aku ada di mana?” Ivana kini telah terbangun dari pingsannya, ia menatap sekitar. Mendapati ruang kamar yang tampak sangat asing di matanya.

“Di mana ini, loh ada apa dengan lenganku?” Ivana menatap lengannya, lengan wanita itu. Kini telah di bogol.

“Bagaimana ini, di mana aku sebenarnya. Bagaimana bisa tiba-tiba ada borgol di tanganku.” Ivana kembali menatap sekitar, ia mendapati semua ruangan yang tampak asing.

“Di mana aku sebenarnya, ini di mana? Ini bahkan bukan rumahku.”

Ivana kini melihat jendela, ia kemudian pergi arah jendela itu. Tampak pemandangan laut yang indah dengan cahaya sinar bulan yang terang. “Hah, ini di mana. Aku di mana, Jane, Rei. Di mana kalian? Siapa pun, tolong keluarkan aku dari sini!”

Dari luar kamar itu, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. “Dia sudah bangun?” tanya Saga pada seorang pelayan.

“Sepertinya begitu Tuan Saga.” Ujar pelayan itu, menjawab pertanyaan dari Saga.

“Tolong ambilkan kunci kamar ini!.”

“Baik Tuan.”

Wanita pelayan itu mengambilkan kunci kamar itu, lalu memberikannya ke pada Saga. Saga pun membuka kamar itu, ia masuk ke dalam lalu menguncinya kembali.

Ivana syok, ia langsung luruh di lantai saat mendapati seseorang yang ia kenal ternyata melakukan ini padanya. “Kak Saga.” Ivana berucap dengan tatapan kosong menatap Saga.

Pria itu mendekat ke arah Ivana, “Kenapa tatapanmu seperti itu? merasa bersalahkah atau justru sebaliknya.”

Saga menarik dagu Ivana membuatnya dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu. “Kau yang mengurungku?” Pertanyaan Ivana itu, seketika membuat Saga tertawa.

“Kau ternyata memang jauh lebih bodoh dari apa yang aku bayangkan.”

“Kak, mengapa kau tiba-tiba seperti ini padaku? Apa salahku padamu sampai kau harus bersikap seperti ini padaku. Jika ini tentang kak Olivia, aku minta maaf padamu.”

“HAHAHAHA, KAU BARU MINTA MAAF SETELAH OLIVIA TELAH BENAR-BENAR PERGI.”

“Plakkkkk” tamparan itu Saga arahkan pada pipi mulus Ivana. membuat wanita itu luruh di lantai. Sudut bibirnya kini juga telah sobek lantaran terus menerima tamparan.

“Kau boleh ambil jantung ini, ini bahkan bukanlah punyaku. Aku tak berhak atas jantung ini.”

Saga mendekat pada Ivana, ia kini bahkan mencekik leher wanita itu. “Dasar munafik, kau sedari dulu sangat iri pada Olivia, kini kau bahkan sudah bisa mendapatkan jantungnya. Kau pasi sangat senang kan Ivana. Kau itu ular, kau tak jauh berbeda dengan para wanita murahan.”

Mendengar itu Ivana tak terima, ia memukul hidung Saga dengan jidatnya. Membuat hidung pria itu mengeluarkan darah dari hidungnya. Saga pun menyeka darah itu, ia kemudian mengoleskannya pada pipi Ivana.

“Berhentilah kak, ini menjijikkan.”

“Berkacalah Ivana, kau juga sama menjijikkannya dengan darah ini. Kau dengar ya Ivana, kau tak akan pernah bisa lari dari sini.” Saga mengelus pipi Ivana yang sempat ia tampar, ia bahkan mengelus kepala Ivana dengan lembut.

“Persiapkan dirimu Olivia sayang, kau akan segera menjadi milikku setelah besok kita menikah.” Mendengar itu Ivana langsung membeku, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Lepaskan aku, aku Ivana, bukan Olivia. Saga, kau gila, aku tak mau menikah denganmu. Saga, lepaskan aku.” Ivana kini berdiri, ia mengejar Saga yang akan pergi meninggalkan kamar itu.

Mendengar langkah kaki dari Ivana membuat Saga kian berbalik. Ivana ingin memukulnya dengan tangan yang terborgol. Namun Saga menghentikan Ivana, ia kemudian mendorong tubuh Ivana hingga ia terjatuh di atas kasur.

“Sampai jumpa besok Olivia Sayang, selamat tidur untukmu.” Saga tersenyum, namun senyum itu hanya sesaat, sampai akhirnya senyuman itu berubah menjadi wajah datar.

“Dan semoga mimpi buruk, untukmu Ivana.”

Saga membuka pintu kamar itu, ia kini keluar dan kembali menutup pintunya. Ivana kini kembali berdiri, ia kembali melakukan perlawanan. Ivana berusaha mendobrak pintu itu dengan tubuhnya. “Brakkkkkk, brakkkkkk”

“Kak, aku mohon padamu. Keluarkan aku dari sini, ini aku Ivana. Aku bukan kak Olivia, sadarlah kak. Tolong aku, tolong sadar untukku.”

“Kak, tolong jangan seperti ini padaku. Jane, Rei, di mana kalian.”

“Buka pintunya! Buka! Jangan kunci aku di sini. Siapa pun, tolong aku! Aku mohon pada kalian. Siapa yang mendengarku tolong buka. Aku harus pergi menemui bibi Agnes.”

“Tolong buka.”

Ivana menangis tersedu-sedu, ia menangis pilu meratapi nasibnya. Sedangkan di samping pintu kamar itu, ada Saga. Ia sedang bersandar pada tembok. Ia benar-benar puas mendengarkan tangisan dan jeritan dari Ivana.

“Teruslah menangis Ivana, aku benar-benar muak melihatmu tersenyum.”

*****

Di sisi lain, kini Jane terbangun dari pingsannya. Ia menatap ruangan dengan interior abu-abu hitam dengan sebuah logo elang besar di tengah ruangan itu.

“Kau sudah bangun gadis kecil?” tanya Danuel yang berdiri di samping Jane yang tengah terduduk di kursi.

“Di mana aku? mengapa ada borgol di lenganku.”

Jane menatap Rei yang kini berada tepat di depannya, tengah di rangkul oleh orang yang tak mereka kenal.

“Rei, siapa pria itu,” tanya Jane, namun Rei tak berani menjawab ia hanya menggelengkan kepalanya lantaran takut.

“Ada apa denganmu, mengapa kau hanya diam?” Rei mencoba mengkode Jane, hingga akhirnya ia sadar dan menatap ke sampingnya, ia mendapati seseorang yang sempat ia temui hari ini.

“Kau, pria waktu itu.”

Danuel duduk di samping Jane, ia kemudian membuang asap rokoknya ke arah gadis itu dan membuatnya batuk.

“Apa yang kau lakukan.”

Danuel menarik dagu Jane, “wajah yang cantik dan juga imut. Namun, tubuhmu juga bagus.”  Danuel mengatakan itu tepat di telinga Jane.

Mendengar itu Jane benar-benar marah, namun ia benar-benar tak bisa berbuat apa pun. “Berapa usiamu?”

Jane tak ingin menjawab, ia hanya diam tanpa mengatakan apa pun. “Jangan mau nona, dia itu sudah berkepala tiga.” Ujar Martin sebari memainkan rambut Rei.

“Aku benar-benar tak menyangka, standarmu sekarang benar-benar gadis muda ya paman?” Mendengar Martin mengatakan itu, membuat Danuel marah, ia melemparkan sepatunya ke arah Martin dan membuat pria itu meringis kesakitan.

“Rasakan itu, dasar payah.”

Melihat Martin yang terkena lemparan oleh Danuel seketika membuat Rei tertawa lirih, ia benar-benar puas melihat Martin yang kesakitan.

1
Mar lina
aku mampir
Thor
An_cin: Terima kasih kak😍
total 1 replies
Homerun
Alurnya bagus dan terkonsep. Aku suka. Lanjut thor🤗
An_cin
Yang suka akal-akalan barat, ayo sini
Homerun
aw aw, sempat suuzon sama Jane. Tapi ternyata baik juga tu anak 🤭btw semangat cintaku
An_cin: makasih sayangku🤭👍
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mantap thor
An_cin: Terima kasih kak, sudah mampir 🤭👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!