Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Ingatan Tersembunyi
Di bahu Dranco, Asher masih tak sadarkan diri. Tubuhnya sesekali bergetar karena keganasan dari racun saraf Viper’s Fang yang memperparah jalur mana di dalam tubuhnya yang tidak stabil, membuat suhu tubuhnya naik turun dengan ekstrem. Aruna terengah-engah harus setengah jalan, setengah berlari untuk mengimbangi langkah lebar Dranco yang seolah tidak peduli bahwa orang yang ia panggul sedang berada di ambang hidup dan m4ti.
Kota Oakhaven menyambut mereka dengan udara dan mana yang menyesakkan. Kota ini jauh dari kata indah, perpaduan antara bengkel logam tua dan sarang binatang buas. Bau karat, asap kayu, dan aroma d4rah samar tercium di setiap sudut jalanan yang becek. Bangunan-bangunannya dibangun dari tumpukan kayu hitam yang diperkuat dengan tulang-tulang monster raksasa yang telah memfosil.
Dengan para penghuninya yang mayoritas ras Half-Beast, berdiri di pinggir jalan dengan mata yang berkilat tajam di bawah bayang-bayang jubah mereka. Mereka menatap Aruna dengan pandangan lapar, seolah-olah sedang menilai seberapa mahal harga seorang manusia di pasar gelap organ sihir.
"Berhenti!" sebuah suara menggelegar menghentikan langkah mereka tepat di depan gerbang utama yang terbuat dari gerigi besi tua. Seorang penjaga gerbang bertubuh raksasa dengan kepala badak melangkah maju. Kapak batunya yang retak namun terlihat mematikan ditujukan tepat ke depan Aruna.
"Manusia dilarang masuk tanpa jaminan!" geram si penjaga, napasnya yang panas mengepul di udara dingin. "hrrmm... Gimana kalau kau bisa kasih aku manusia pucat yang kau bawa itu? dagingnya terlihat lumayan enak."
Dranco tidak gentar. Ia justru menyeringai, melangkah maju hingga zirah merah bersisiknya bersentuhan dengan ujung tajam kapak batu tersebut. Aura predator dari ras naga yang ia miliki seketika menekan hawa ganas di sekitar gerbang.
"Dia milikku, Badak Bodoh. Manusia ini adalah makananku yang berharga, dan gadis kecil ini..." Dranco melirik Aruna dari balik bahunya dengan tatapan jahil. "...dia adalah pelayan pribadiku yang bertugas memasak untukku sebelum aku menyantapnya. Apa kau punya masalah dengan itu?"
Aruna mengepalkan tinjunya. Giginya bergemeletuk menahan amarah. 'Arrrggh... Siapa yang pelayan?! Siapa yang mangsa?!' Ia sudah bersiap untuk menarik wajannya, namun tiba-tiba kepalanya berdenyut.
Ding!
[Terdeteksi kondisi lingkungan dengan tingkat permusuhan tinggi. Keamanan host menjadi prioritas utama. Mengaktifkan Mode Otomatis: 'Submissive Servant'...]
"Kata-kata dari tuanku yang agung benar sekali!" Aruna tiba-tiba berseru dengan suara yang mendadak manja dan penurut. "Aku hanyalah pelayan kecil tuanku yang tidak berdaya! Mohon izinkan kami masuk agar aku bisa segera melayani Tuan Naga yang sangat perkasa ini. Tuanku sudah sangat lapar dari tadi dan dia bisa sangat menakutkan jika permintaannya ditolak!"
Aruna bahkan melakukan gerakan hormat yang sangat anggun dan patuh, membungkuk sedemikian rupa hingga rambut peraknya terjuntai ke tanah. 'S!alan! Sistem rongsokan! Ahhh... Kenapa kau merusak wibawaku lagi di depan umum?!' jeritan Aruna dalam hati sementara wajahnya tersenyum manis secara paksa.
"...?! Hahaha... Kau dengar itu? Pelayan kecilku sudah memohon. Buka gerbangnya sekarang juga!"
Setelah melewati jalanan yang penuh tatapan lapar yang mencekam, mereka akhirnya sampai di sebuah penginapan kumuh bernama The Rusty Fang. Dranco menendang pintu kamar hingga terbuka dan tanpa perasaan, ia melempar tubuh Asher ke atas tempat tidur kayu yang kasar.
"Ugh... pelan-pelan sedikit!" protes Aruna begitu pengaruh mode otomatis sistemnya mereda.
"Kenapa? Toh, dia tidak merasakan apapun," jawab Dranco acuh tak acuh. "Dengar, Gadis kecil... Diam disini! Aku akan pergi mencari informasi tentang pergerakan dari assasin yang mengejar kalian. Jangan pernah kamu keluar dari kamar ini jika kau tidak mau berakhir jadi santapan."
"..." Aruna tidak menjawab. Perhatiannya sudah teralih sepenuhnya pada Asher. Ia segera mendekat, menggunakan sapu tangan basah untuk membersihkan d4rah hitam yang merembes dari pundak Asher. Tangannya gemetar saat menyadari betapa dinginnya suhu tubuh Asher yang terus menurun "Asher... bertahanlah, jangan menyerah..." bisiknya.
Malam semakin larut. Aruna yang kelelahan fisik dan mental akhirnya tak tertahan. ia duduk di lantai yang dingin dengan kepala bersandar di pinggiran tempat tidur, tangan Aruna masih menggenggam erat jari-jari Asher. Perlahan, kesadarannya tersedot ke dalam kegelapan yang sunyi. Tring...
'Eh? Ini dimana?' Aruna mendapati dirinya berdiri di tengah sebuah aula istana yang megah namun dingin. Di tengah aula, terdapat altar batu perak yang dikelilingi ribuan simbol sihir. Di sana, seorang gadis kecil berusia tiga tahun dengan rambut perak, Auristela kecil yang terbaring lemah.
Di depan altar, berdiri seorang wanita, Reina, sang Permaisuri yang telah lama tiada. Wajahnya sangat mirip dengan Auristela, cantik namun penuh kesedihan.
"Ibu... sakit... dada Auri sangat panas..." rintih Auristela kecil.
Air mata membasahi pipi ratu Reina, namun dia terus merapalkan mantra. tangannya mengeluarkan Cahaya perak yang menyilaukan, menuju ke jantung Auristela yang berisi mana raksasa yang bergejolak seolah akan meledak kapan saja.
"Tahan sedikit lagi ya, putri kecilku..." bisik ratu Reina. "Mana ini terlalu besar untuk tubuhmu yang mungil. Jika Ibu tidak menyegelnya, kamu akan meledak. Dan jika ayahmu atau pihak istana tahu... mereka hanya akan melihatmu sebagai senjata perang."
Ratu Reina meletakkan tangannya di atas jantung Auristela. Tekanan sihir yang luar biasa memaksa mana itu tenang kembali dan terkunci di balik segel rumit.
"Ibu telah menaruh pelindung di dalam segel ini... sebuah sistem yang akan menjagamu dan mengelola sisa mana yang bocor. Sistem ini adalah bagian dari jiwaku dan manamu. Tapi ingat, Auristela... sistem ini akan mengalami gangguan jika kau tidak bisa menyelaraskan jiwamu. Jangan buka secara paksa sebelum kau siap..."
Gubrak!
"?!" Aruna terbangun dengan tubuh yang tersentak. Keringat dingin membasahi punggungnya. Jantungnya berdebar kencang, seolah ia baru saja melintasi dimensi lain. Dia menyadari ada yang Menggenggaman tangannya, terasa kaku namun hangat.
Aruna perlahan melihat ke atas, Asher sudah membuka matanya. Meskipun pucat, tatapannya begitu intens.
"Putri..." suara Asher terdengar sangat serak. "Kamu... Kenapa kamu menangis? Aku baik baik saja."
Ding!
[Status Kedekatan dengan Asher de Volland: 52%.
Bonus/Catatan: Target terjaga saat host sedang mengigaukan namanya.
Kesan ML: "Air matanya... apakah dia begitu takut kehilanganku sampai memanggilku dalam mimpinya?"]
"Eh?" Aruna tertegun, tangannya refleks meraba pipinya yang basah. 'Bukan karena kamu, Es Batu! Aku cuma kaget lihat ingatan pemilik asli!' teriak Aruna dalam hati dengan wajah yang mulai memerah hebat. Namun, di bawah tatapan Asher yang dalam, ia hanya bisa terdiam kaku.