"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Tangan yang Tak terlihat
Fei melaju kencang meninggalkan kompleks gudang terbengkalai itu, jantungnya berdebar liar bagai genderang perang di dalam dadanya. Kartu bergambar gagak hitam itu tergeletak di jok penumpang, simbol mengerikan yang kini terasa seperti cap kematian. Mereka tahu. Mereka mengawasinya. Ketakutan dan paranoia menyelimuti dirinya seperti kabut dingin, mencengkeram setiap inci kulitnya. Apartemen rahasianya, yang selama ini menjadi benteng terakhirnya, kini terasa seperti sangkar kaca yang rapuh. Ia harus bergerak. Sekarang.
Ia tidak kembali ke apartemen. Malam itu, Fei berkendara tanpa tujuan pasti selama berjam-jam, pikirannya berputar cepat, mencari tempat perlindungan baru. Ia melintasi jalan-jalan kota yang ramai, lalu menyusup ke jalan-jalan sempit pinggiran, mencari tempat yang cukup terpencil namun tidak terlalu mencolok. Akhirnya, ia menemukan sebuah motel tua di kawasan yang terlupakan, jauh dari keramaian dan sorotan. Namanya 'The Sleepy Hollow Inn', sebuah tempat yang tampak usang dan jarang diperhatikan, sempurna untuk bersembunyi. Ia membayar tunai, menggunakan nama samaran acak yang terlintas di benaknya, dan memilih kamar di lantai paling atas, di sudut, yang memiliki jendela menghadap ke jalan belakang yang sepi.
Begitu masuk ke kamar, Fei segera memeriksa setiap sudut. Jendela, kunci pintu, bahkan detektor asap. Ia menutup tirai tebal, menciptakan kegelapan yang pekat, seolah ingin memutuskan diri dari dunia luar. Ia merasa seperti hewan buruan yang terluka, mencari liang untuk menjilat lukanya dan menyusun strategi baru.
Sampel-sampel yang ia kumpulkan dari gudang—noda darah samar dan residu kimia—adalah satu-satunya hal yang memberinya harapan. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan kit forensiknya. Di bawah cahaya redup lampu meja, ia mulai bekerja.
Pertama, noda darah. Ia menggunakan reagen khusus untuk menguji keberadaan hemoglobin. Hasilnya positif. Itu memang darah manusia. Kemudian, ia mencoba mengidentifikasi golongan darah, meskipun ia tahu itu akan sulit dengan sampel sekecil itu. Namun, ia berhasil mendapatkan beberapa indikasi. Golongan darah yang tidak umum. Yu juga memiliki golongan darah yang tidak umum. Ini adalah petunjuk, betapapun kecilnya.
Selanjutnya, residu kimia. Ini adalah bagian yang paling menarik dan mengerikan. Fei mengeluarkan beberapa botol kecil cairan penguji dari kitnya. Ia meneteskan satu per satu pada sampel residu yang ia kumpulkan dari lantai gudang. Bau aneh mulai tercium, campuran antiseptik dan sesuatu yang lebih tajam, hampir seperti obat-obatan.
Setelah beberapa uji coba, hasilnya mulai mengarah pada sesuatu yang spesifik. Residu itu menunjukkan jejak kuat dari dua zat: sebuah anestesi tingkat tinggi yang sangat kuat, sering digunakan dalam prosedur bedah yang kompleks atau untuk menenangkan pasien yang sangat agresif; dan sebuah cairan antiseptik berteknologi tinggi, yang tidak dijual bebas di pasaran dan hanya digunakan di rumah sakit atau klinik dengan standar kebersihan sangat tinggi, seringkali untuk mencegah infeksi pasca-operasi yang rumit.
Fei merasakan napasnya tertahan. Anestesi tingkat tinggi. Antiseptik elit. Ini bukan pembunuhan biasa. Ini adalah operasi yang sangat terencana, sangat profesional, dan didukung oleh sumber daya medis yang luar biasa. Para pelakunya bukan hanya preman jalanan. Mereka memiliki akses ke fasilitas medis tingkat atas, mungkin sebuah klinik gelap yang beroperasi di bawah tanah, atau bahkan jaringan pembedahan ilegal yang didukung oleh dokter-dokter korup.
Kesimpulan itu menghantamnya seperti palu godam. Ini bukan lagi tentang dendam pribadi atau persaingan aktor. Ini adalah jaringan kekuasaan yang jauh lebih besar dan lebih menakutkan dari yang ia bayangkan. Sebuah organisasi yang mampu membungkam rumah sakit, mengkremasi jenazah tanpa jejak, dan melakukan penyiksaan serta pengambilan organ dengan presisi medis.
"Klinik gelap... jaringan pembedahan ilegal..." Fei bergumam, otaknya memproses informasi itu dengan kecepatan tinggi. "Mereka bukan hanya membunuh Yu, mereka juga mengambil sesuatu darinya."
Mengingat kembali video penyiksaan, adegan pengambilan organ vital itu kembali berputar di benaknya. Bukan hanya untuk membungkam Yu. Ada motif lain yang lebih mengerikan, lebih ritualistik. Simbol gagak dengan mata tunggal, praktik okultisme, perdagangan organ gelap—semuanya kini mulai terhubung dalam sebuah pola yang menjijikkan.
Fei mengepalkan tangannya. Kemarahan yang dingin kini bercampur dengan rasa jijik yang mendalam. Skala konspirasi ini jauh melampaui pemahamannya. Ini adalah labirin kekuasaan, uang, dan kejahatan yang kebal hukum. Mereka bisa memanipulasi media, mengendalikan rumah sakit, dan bahkan memiliki jaringan medis rahasia untuk melakukan kejahatan paling keji. Ini adalah "tangan tak terlihat" yang mengendalikan segalanya, melindungi para pelaku utama, dan mengubur kebenaran di bawah lapisan kebohongan yang rapi.
Rasa frustrasi merayapi dirinya. Bagaimana ia bisa melawan musuh yang begitu besar, begitu terorganisir, dan begitu berkuasa? Ia hanya seorang wanita biasa, tanpa koneksi, tanpa kekuasaan, dan kini menjadi target. Metode penyelidikan tradisional jelas tidak akan berhasil. Ia tidak bisa mengandalkan polisi, karena mereka pasti sudah dibungkam atau terlibat. Ia tidak bisa mengandalkan media, karena mereka telah menjadi corong kebohongan.
Fei bersandar ke dinding, memejamkan mata. Gambar Yu yang tersenyum di foto, lalu Yu yang hancur di video, bergantian muncul di benaknya. Dia berjanji. Dia harus menepati janji itu.
"Aku tidak bisa melawan mereka dari luar," bisiknya pada dirinya sendiri, membuka mata, sebuah ide mulai terbentuk. "Aku harus masuk ke dalam."
Untuk menemukan musuh, ia harus menjadi bagian dari dunia mereka. Dunia elit yang korup, dunia glamor yang menyembunyikan kekejaman di baliknya. Dunia yang membunuh Yu. Ini adalah satu-satunya jalan. Ia harus menyusup.
Tapi bagaimana? Ia adalah Xiao Fei, seorang wanita yang sederhana, yang hidup jauh dari gemerlap dunia Yu. Ia tidak memiliki koneksi, tidak memiliki modal, tidak memiliki citra yang bisa menembus lingkaran setan itu.
Perkembangan karakter Fei mencapai titik krusial. Ia menyadari bahwa duka dan amarahnya harus diubah menjadi kecerdasan strategis yang lebih tinggi. Ia harus menjadi seseorang yang baru. Seseorang yang bisa bergerak tanpa dicurigai di antara para predator. Seseorang yang bisa memanipulasi, mengamati, dan mengumpulkan informasi tanpa menarik terlalu banyak perhatian—atau setidaknya, menarik perhatian yang salah.
Ia mulai menyusun strategi jangka panjang. Ini bukan lagi misi balas dendam yang membabi buta. Ini adalah misi infiltrasi yang membutuhkan kesabaran, kecerdasan, dan transformasi total. Ia harus merancang persona baru, cerita latar yang meyakinkan, dan penampilan yang sesuai.
"Siapa aku sekarang?" ia bertanya pada pantulan dirinya di cermin kamar motel yang buram. Xiao Fei sudah mati bersama Yu.
Ia memikirkan nama. Nama yang kuat, karismatik, tapi juga misterius. Nama yang bisa membuka pintu, bukan menutupnya. Nama yang tidak akan pernah dihubungkan dengan Xiao Fei yang berduka.
Meylie/Meyling.
Nama itu terlintas di benaknya. Singkat, elegan, dan memiliki nuansa timur yang eksotis. Ling, seorang investor seni yang dingin dan karismatik, yang baru kembali dari luar negeri, mencari peluang di pasar yang ramai. Ling, yang memiliki selera tinggi, koneksi yang kuat (tentu saja, fiktif pada awalnya), dan aura misteri yang menarik.
Ini adalah sebuah peran. Peran terpenting dalam hidupnya. Ia harus belajar bagaimana berjalan, berbicara, dan berpikir seperti Ling. Ia harus menekan emosi aslinya, menyembunyikan duka dan dendamnya di balik topeng yang sempurna. Ia harus belajar tentang dunia seni, tentang investasi, tentang intrik sosial para elit. Ia harus belajar bela diri, tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk menjadi lebih kejam dari musuhnya.
Fei membuka laptopnya, mencari informasi tentang kursus seni, lelang, dan acara sosial elit. Ia mulai membuat daftar pakaian yang harus ia beli, salon yang harus ia kunjungi, dan bahkan aksen yang harus ia latih. Ia akan menghabiskan setiap tabungan yang ia miliki, setiap sen yang Yu dan ia kumpulkan untuk masa depan mereka, untuk menciptakan persona ini.
Ini adalah sebuah pengorbanan, sebuah pemusnahan diri dari identitas aslinya. Tapi ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai keadilan.
"Ling," ia berbisik lagi, mencoba nama itu di lidahnya. Rasanya asing, namun juga kuat. "Aku akan menjadi Ling."
Mulai saat ini, Xiao Fei yang lemah, yang penakut, yang hanya ingin hidup tenang bersama kekasihnya, telah terkubur. Yang tersisa adalah Ling, sebuah entitas baru yang dingin, karismatik, dan bertekad baja. Ia akan menyusup ke sarang serigala, menjadi salah satu dari mereka, dan dari dalam, ia akan menghancurkan jaringan kekuasaan yang telah merenggut segalanya darinya.
Perburuan telah berubah. Sekarang, ia adalah pemburu yang menyamar, siap memasuki dunia yang membunuh kekasihnya. Dan mereka, "tangan tak terlihat" itu, tidak akan pernah melihatnya datang.