NovelToon NovelToon
Kontrak Dua Minggu

Kontrak Dua Minggu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Wanita Karir
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.

Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 (Part 2)

Marisa tiba di apartemen, menghela napas lega. Dalend sudah menunggunya di sofa.  "Bagaimana? Lo selamat?" tanya Dalend, berdiri dengan tegang.

"Gue selamat. Dan gue menolak cek $200 juta," kata Marisa, melemparkan tasnya ke sofa.

Dalend terdiam, matanya membulat. "Dua ratus juta? Gila! Dan Lo menolak?" Ia terkejut namun ekspresinya tetap terkesan cool.

"Gue menolak, " Marisa mengangguk. "Gue bilang janji gue lebih berharga daripada uangnya."

Dalend berjalan mendekat, dan kali ini, ia meraih tangan Marisa, tidak ada pura-pura. Ia menggenggamnya erat, matanya penuh kekaguman.

"Marisa... thank you," bisik Dalend, suaranya serak. "Lo benar-benar penyelamat gue. Gue enggak tahu bagaimana harus membalas Lo."

"Lo sudah membayar gue, Dalend," Marisa mengingatkan, meski ia menikmati kehangatan genggaman itu.

"Bukan, ini bukan tentang uang lagi," Dalend membantah. "Ini tentang kehormatan. Lo bisa saja ambil uang itu dan pergi, tapi Lo memilih janji. Lo membuat Mama gue terpojok. Lo membuat gue merasa layak untuk diperjuangkan."  

Dalend melepaskan tangan Marisa, tapi pandangannya tidak lepas. Ia melangkah mundur, mengambil napas dalam-dalam.

"Oke. Sekarang, kita harus fokus pada pesta petunangan. Mama pasti akan berusaha membalas dengan membuat persiapan ini seberat mungkin. Kita harus tampil seperti pasangan yang benar-benar jatuh cinta. Kontrak $50 juta kedua ini menuntut akting yang lebih meyakinkan."

Marisa mengangguk. "Apa rencana selanjutnya? Gaun, undangan, cincin?"

"Mama gue akan memaksakan gaun dari desainer langganannya, cincin berlian keluarga, dan daftar tamu yang di dominasi Tirtayasa. Kita harus melawan itu, perlahan-lahan," jelas Dalend.

Selama sisa hari itu, apartemen itu dipenuhi dengan panggilan telepon dan email dari asisten Nyonya Elvira yang mengirimkan jadwal dan pilihan.

tentang pilihan Gaun: Dalend langsung menolak semua pilihan Nyonya Elvira yang bergaya konservatif. " kita akan cari desainer yang cutting edge. Lo bukan boneka, Marisa. Lo harus bersinar," putus Dalend.

cincin: Dalend menolak cincin warisan yang ia tahu dipakai Nyonya Elvira saat ia menikah. "Gue akan buat cincin sendiri. Sesuai selera Lo. Dengan batu safir biru, untuk mengingatkan kita pada keberanian Lo di Le Mirage," kata Dalend.

Sesi Foto Pre-Wedding: Nyonya Elvira menjadwalkan sesi foto formal di estate Angkasa Raya. Dalend mengganti lokasi itu menjadi tempat-tempat street style di Jakarta, didaerah tempat mereka pertama kali bertemu.

Marisa dan Dalend bekerja seperti mitra bisnis yang sempurna. Mereka saling melengkapi-Marisa  membawa ketenangan dan integritas, sementara Dalend membawa kreativitas dan kegilaan yang diperlukan untuk melawan tradisi keluarga. Mereka menghabiskam malam itu merencanakan setiap detail,  tertawa, dan berdebat dengan ringan.

...

Malam itu, setelah rencana sudah tersusun rapi, Marisa duduk di sofa, memegang mug teh hangat. Dalend duduk di karpet, sedang mengolah data di laptopnya.

"Dalend," panggil Marisa,  memecah keheningan yang panjang.

"Ya?"

"Kenapa Lo bersikeras membuat cincin baru dengan batu safir biru? Kenapa enggak cincin yang simpel saja?" Dalend mendongak. Ia menutup laptopnya dan menatap Marisa.

"Cincin ini... itu bukan cuma properti akting, Marisa," Dalend mengakui, suaranya pelan. "Cincin itu adalah trofi kita. Safir biru itu melambangkan keberanian Lo, saat Lo membela gue, dan saat Lo menolak cek $200 juta tadi pagi. Gue ingin Lo punya sesuatu yang nyata dari semua ini. Sesuatu yang akan mengingatkan Lo bahwa Lo adalah berlian langka itu, meskipun Lo kembali ke kampung nanti."

Marisa merasakan tenggorokannya tercekat. Dalend tidak lagi bicara tentang kontrak. Dalend bicara tentang kenang-kenangan dan penghargaan personal.

"Lo juga. Lo harus mendapat sesuatu, "Marisa membalas.

"Gue sudah dapat. Kebebasan dari perjodohan, dan alasan untuk bekerja keras," Dalend tersenyum. Ia merangkak maju, duduk di tepi sofa di sebelah Marisa. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter, dan tidak ada tas punggung yang membatasi.

"Gue serius. Kalau enggak dalam kontrak, Marisa, gue sudah pasti... gue bakal ngajak Lo pacaran sungguhan," bisik Dalend.

Marisa menunduk. "Tapi kita di dalam kontrak, Dalend."

"Gue tahu. Dan kontrak ini akan berakhir. Sepuluh hari lagi," Dalend menghela napas. "Tapi, bisakah kita melakukan satu hal? Di luar kontrak dan di luar akting?"

"Apa?" Marisa bertanya, jantungnya berdetak kencang.

Dalend tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya, dan perlahan, dengan penuh kehati-hatian,  ia menyelipkan helaian rambut Marisa yang jatuh ke belakang telinganya. Jari-jarinya yanh hangat menyentuh kulit pipi Marisa.

Marisa tidak bergerak. Ia tidak menarik diri. Sentuhan itu terasa lebih lembut dan jujur dari semua godaan sinis Dalend sebelumnya.

"Gue cuma pengen tahu, Marisa," Dalend berisik, matanya menatap intens. "Setelah semua yang kita lalui, apakah Lo masih melihat gue sebagai pewaris berantakan yang Lo temui di halte? Atau Lo melihat gue sebagai partner Lo?"

"Gue melihat Lo sebagai Dalend," jawab Marisa, suaranya hampit tak terdengar. "Partner gue. Dan... hoodie hangat gue."

Dalend tersenyum, senyum tulus yang mencapai katanya. Ia mendekat, perlahan, membiarkan Marisa punya waktu untuk menolak.

Ia tidak mendekat untuk pura-pura ciuman di depan publik. Kali ini, Dalend  mendekat karena dorongan pribadi.

Marisa melihat niat itu, dan ia tidak bergerak.

Bibir Dalend akhirnya mendarat di kening Marisa, bukan di bibirnya. Ciuman lembut, penuh rasa syukur dan hormat, yang jauh lebih intim daripada adegan air kiss di Le Mirage.

"Tidurlah, Tunangan," Dalend berbisik, menjauhkan dirinya. "Besok adalah hari yang panjang. Kita harus meyakinkan Mama gue bahwa ini adalah cinta sejati."

Marisa hanya bisa mengangguk ia tahu, kontrak kedua mereka telah resmi berakhir, bukan oleh uang, melainkan oleh perasaan yang tumbuh di antara mereka. Sepuluh hari ke depan bukan lagi tentang akting, melainkan tentang menahan diri dari apa yang kini mereka berdua rasakan.

...

Keesokan harinya, sesi foto pre-wedding di sebuag galeri seni vintage di Jakarta Pusat berjalan lancar. Marisa dan Dalend tampak begitu serasi.

Gaun yang Dalend pilih untuk Marisa adalah gaun sutra minimalis berwarna taupe, yang tampak elegan dan mahal tanpa berlebihan.

Fotografer, yang merupakan teman lama Dalend, menangkap setiap momen tawa dan pandangan mata intens mereka. Di depan kamera, mereka tidak perlu berakting. Sentuhan Dalend di pinggang Marisa terasa alami. Tawa Marisa saat Dalend membisikkan lelucon konyol terasa nyata.

Di sela-sela pemotretan, Marisa menyadari keberadaan Bima yang mengawasi dari kejauhan.

Bima mendekati Marisa saaf Dalend sedang berbicara dengan fotografer.

"Nona Marisa," sapa Bima, suaranya dingin. "Saya dengar Anda menolak cek Nyonya Elvira. Keputusan yang bodoh."

"Saya lebih memilih janji saya, Tuan Bima," balas Marisa, tenang.

"Janji? Atau anda menyadari bahwa menjadi Nyonya Angkasa Raya seumur hidup lebih menguntungkan daripada $200 juta tunai?" Bima menyipitkan mata. "Dalend mungkin bodoh dalam cinta, tapi saya tidak. Saya tahu Anda memanfaatkan dia."

"Saya hanya menolongnya, Tuan Bima. Dan saya akan pergi sesuai janji," tegas Marisa.

Bima tersenyum sinis. " saya harap begitu. Karena saya tahu segalanya. Saya tahu siapa Anda sebenarnya. Bukan Creative Consultant." Ia mengambil jeda, membiarkan ancaman itu meresap. "Jika Anda tidak pergi setelah pesta pertunangan, saya akan memastikan Nyonya Elvira tahu persis siapa Anda, dan mengapa Anda membutuhkan uang cepat itu. Semua detail tentang dirimu dan ibumu. Dan saya jamin, Dalend tidak akan bisa menyelamatkan Anda dari kemarahan keluarga Angkasa Raya."

Marisa merasakan darahnya mendidih. Bima berhasil menemukan setiap detail kelemahan Marisa.

"Gue bakalan pergi, Tuan Bima," balas Marisa, tatapannya tajam. "Tapi bukan karena ancaman Lo. Gue pergi karena gue menepati janji. Dan Lo nggak usah ikut campur dalam urusan gue."

Bima hanya tersenyum dingin dan mundur.

Marisa tahu, waktu telah habis. Perasaan romantis ini harus segera diakhiri. Cincin safir biru, foto pre-wedding yang intim, dan ciuman di kening Dalend harus segera menjadi kenangan yang dikubur. Ia harus menyelesaikan kontrak ini, pergi dan melindungi ibunya dari kemarahan keluarga Angkasa Raya yang dimanipulasi Bima.

1
Sherlys01
Semangat yaa😁💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!