Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33🩷 Tak pernah main-main
Dea masih menatap kepergian punggung Rifal yang menjauh darinya, langkahnya tidak buru-buru terkesan santai. Tapi entah kenapa Dea merasa harus takut sekarang, ia bahkan tak mau mencerna ucapan Rifal barusan.
/
Riuh itu tak ia hiraukan, meski beberapa penghuni MIPA 3 tak berada di tempatnya sekarang. Rifal yang semula akan bergabung di warung babeh jadi malas untuk sekedar berjalan kesana.
Hatinya diliputi kemarahan, jengkel, kesal dan arghhh!
Ia menendang meja lalu menaikan kakinya ke atas membuat Dian dan Meri langsung menoleh cukup terkejut dengan aksinya itu, "apa atuh om?! Santaii...biasanya juga tidur..."
Baru ini kali pertamanya Dea tak mendengarkan apa kata Rifal, baru ini pertama kalinya Dea mendebat dan bertengkar dengannya. Rasanya itu, ia tak suka. Bahkan Dea tak menghiraukan ucapannya yang menyukai gadis itu. Apa dia bilang, bukan siapa-siapa? Bukankah Dea bilang ia donaturnya? Rifal menyunggingkan senyuman miring.
Kesal sekali, Dea tak menghiraukan apa maunya.
Thunderboy
(Rifal) Gue minta 5 orang buat nanti malem ikut gue. Ian @Vian gans, ikut gue ntar malem.
(Bono) Siap.
(Ali) Gas
(Odoy) Kemana bro? Gaslah pake nitro.
(Fikri tower) Siap, Otewe.
(San-san) ikut gue mah, Fal kemanapun.
(Vian gans) kemana, Fal?
(Rifal) Jegal orang. Jam 7 udah di basecamp.
(Vian gans)😂😂 Dea. Syeremm kalo mas-mas caem kecolek harga dirinya. Bandel ya mas, mamahnya anak-anak?
"Kemana lagi kamu, Fal? Ngga bisa sehari aja kalo malam tuh ada di rumah?" papa yang kini mengalah menurunkan tensi bicaranya. Ia menyerah meminta Rifal untuk anteng di rumah dengan nada keras.
"Kemarin Rifal di rumah. Sekarang lagi ada perlu." jawabnya meraih helm dari meja.
"Perlu apa, balapan? Papa tau kamu suka ikut balap-balapan liar, Fal. Papa tau kamu ikut geng! Rifalll!" jeritnya memanggil Rifal yang justru sudah melengos pergi dari rumah.
Rifal menyalakan motornya dan pergi.
Bibir Inggrid mengerucut melihat Willy mengajak seseorang.
"Hay..."
Dea meringis melihat wajah sengit Inggrid pada Kirana yang memasang tampang polos tanpa dosa. Alih-alih diam, bibir Inggrid malah gatal.
"Ngapain nih cewek pembawa sial ikut, sii...Willy, ngapain Lo ajak dia, bikin mendung tau ngga!" omelnya, Inggrid...memang sudah begitu bawaan oroknya.
Kirana mendelik, "gue diajak Willy ya, kalau bukan Willy yang ngajak gue juga ngga mau pergi bareng Lo. Willy yang bawa mobil Lo yang sewot..." Belanya membuat Willy jadi bingung sendiri.
"Gaess, udah---udah lah, akur bentar kenapa sih." Lerai Dea sudah menenteng paper bag berisi kado untuk Sharena.
"Oh sombong Lo ya! Lo pikir gue ngga punya mobil, cewek setan?!" jika ditanya bibir terpedas tentu Inggrid pemiliknya, jangan coba-coba untuk melawan.
"Tauu, lagian nih cewek ngapain diajak sih Wil?! Temen yang punya acara juga bukan! Malu-maluin bawa beginian..." kini Gibran yang bersuara.
Dan perdebatan itu memancing pertikaian kecil yang membuat Willy menggaruk tengkuknya. Bagaimanapun, ia dan Kirana sedang kembali dekat.
"Ayoo sini, lawan gue. Willy, gue ngga jadi ikut sama Lo lah, mending naik taksi online aja!" Ketus Inggrid.
"Ing...Ing, kok gitu...udah yok. Jangan gitu, mulutnya diem." Pinta Dea menenangkan Inggrid.
"Udahlah, Willy udah terlanjur ngajak juga, masa batal kita kan BESTie ..." ucap Dea sementara wajah Inggrid masih keruh, ia tak suka Kirana yang bermuka dua itu, ia juga tak suka Kirana karena memanfaatkan Willy dan hanya menjadikan Willy pelarian setelah Rama gagal ia dapatkan, dulu.
Inggrid sudah menunjuk wajah Kirana yang sedang ditenangkan Willy, "kalo bukan karena Willy udah gue acak-acak muka Lo, awas kalo sampe bikin temen gue sakit hati lagi." Ancam Inggrid masuk ke bangku belakang, "tuh, suruh dia masuk bagasi aja, Wil! Males banget..." masih saja Inggrid mengomel.
Dea dengan mini skirtnya duduk di paling pinggir setelah Gibran dan Inggrid yang berada di tengah. Di sepanjang jalan, bibir Inggrid masih saja mengomel panjang memuntahkan kalimat tak sukanya pada Kirana, dimana tangan Willy sudah merambat memegang tangan Kirana meminta gadis itu untuk bersabar menghadapi ujian macam Inggrid.
Sementara Dea hanya bisa menahan tawanya disana dengan mengedarkan pandangan ke luar jendela. Sampai akhirnya Gibran mulai angkat bicara membawa topik lain yang ditimpali Dea dan Willy mengakhiri omelan dan ucapan pedas Inggrid.
Baru saja suasana tercipta nyaman dengan tawa dan canda mengalir, Willy mengernyit melihat jalan yang hanya satu jalur ini tersendat. Lebih tepatnya, di depan sana beberapa pemotor justru berhenti di tengah jalan, menghalangi jalan mereka.
Tiit....
Sengaja Willy membunyikan klakson mobil, yang bukan membuat mereka notice untuk menoleh ke arah mobil Willy saja. Namun para penghuni di dalam mobil pun ikut melihat ke arah depan mobil.
"Eh, ada apa? ada yang tabrakan?" tanya Inggrid kebingungan.
Willy tidak mencoba membuka jendela kacanya merasa jika ini bukan pertanda baik, "jangan ada yang buka kaca mobil." pinta Willy menginjak rem perlahan sehingga mobil berhenti tepat diantara 7 pemotor itu.
Ketegangan mulai terjadi di dalam, tak ada lagi canda dan tawa mereka.
"Tabrak aja bisa ngga sih?" tanya Kirana tak enak duduk. Namun kembali suara Inggrid membuat suasana tegang bertambah panas.
"Bener kan kata gue...ngajak nih cewek jadi si al. Biasanya juga asik-asik aja." Tunjuknya pada Kirana.
"Ing bisa diem ngga?" Willy menoleh tajam.
"Ini mereka geng motor kayanya, Will." Kini Gibran bersuara. Dea, sejak tadi ia memperhatikan ketujuh manusia di depan bersama motornya yang kali ini seorang diantara mereka yang paling tinggi dengan slayer menutupi wajah turun menggebrak mobil Willy dengan tongkat baseball.
"Turun!" ia bahkan semakin memangkas jarak dan menggedor-gedor kaca.
"Astaga. Jangan ada yang turun!" jerit Inggrid panik. Ia bahkan sudah memegang Dea dan Gibran, "ini lama-lama kaca juga bakal pecah."
"Bang ke." Umpat Willy ingin menelfon polisi, bahkan semesta seperti tengah mendukung dengan tak adanya pengguna jalan yang lewat bersama mereka, atau justru karena mereka memang mengambil jalanan yang jarang dilewati orang?
Ada sebenarnya, namun para pemotor itu hanya melintas tanpa mau menolong.
"Woyy turun! Gue butuh cewek yang namanya Deanada Kharisma." teriaknya.
Praktis saja mereka langsung melirik Dea, "De,"
"Ini Lo punya masalah apa, sama orang mana sih? Lo punya utang?" cecar Inggrid, tentu saja Dea menggeleng, "enak aja. Gue ngga punya masalah sama siapa-siapa apalagi utang."
"Lo turun gue ikut." Jawab Gibran. Alih-alih berdebat, Willy justru turun sendiri, "kalo ada apa telfon polisi, gue coba ngomong dulu mau mereka apa cari Dea."
"Eh Willy!" seru mereka histeris terutama Inggrid dan Kirana.
Dea, ia mencermati Willy yang bicara di luar sana, sembari sesekali menoleh ke arah mobil. Ada gestur seperti dada Willy di dorong dengan tongkat baseball itu. Sementara yang lain, mereka hanya tertawa, terkekeh saja melihat Willy. Bahkan saat Willy terlihat mulai melawan, 2 lainnya turut bereaksi dan kepanikan kembali terjadi di dalam mobil.
Tak habis disana 2 orang tadi sudah menepuk-nepuk kaca mobil di bagian belakang, "Deanada turun Lo." pinta mereka.
"Astaga! Willy, kasih apa aja yang dia mau lah, uang, hape....kasih dulu!" cerocos Inggrid ketakutan.
Mereka hampir satu postur, dengan modelan yang sama, menutupi wajahnya dengan slayer namun satu yang membuat Dea tertegun lama, satu sosok diam nan santai duduk bersandar di atas motor tanpa melakukan apapun selain menatap mobil seperti sedang mencermati isi mobil.
Dari postur dan gelagatnya, Dea mengingat seseorang, Rifal....bahkan seorang lain yang ia yakini Vian itu, kini mulai menarik kerah kemeja Willy, dimana Gibran tak tahan dan ikut keluar.
"Eh....eh, Gib! Jangan keluar juga----" histeris Inggrid.
GUE MAU DEANADA KHARISMA!!!
Teriak mereka. Mendengar namanya, dan ingat dengan kejadian siang yang lalu, tentang----"jangan salahkan aku, De, silahkan kamu pergi kalau bisa..." dan seringaian itu. Ia tau jika Rifal bukan orang yang suka main-main dengan ucapannya. Maka dengan menghela nafasnya, ia meraih kedua bahu Inggrid, "Ing, kayanya gue ngga bisa datang ke ultah Sharena, nanti tolong kasiin kado dari gue ya... sorry."
"Maksud Lo apa sih, De...eh, kenapa jadi keluar semua sih?! Ini bahaya tau, telfon polisi!" jerit Inggrid menahan saat Dea membuka pintu mobil dan keluar.
"Dea masuk!!" bentak Gibran dan Willy. Dan sosok yang semula diam, paling santai di belakang itu kini berdiri.
"It's oke Wil, Gib...mereka bakal lepasin Lo semua. Sampein salam gue sama Sharena, sorry gue ngga bisa datang."
Dea berjalan menghampiri lelaki dengan slayer hitam itu, "aku tau kamu ngga pernah main-main."
Tangan Dea diraih dan ditariknya ke arah motor untuk kemudian Dea duduk di boncengannya. Sementara yang lain berangsur menyusul.
Dea menatap Willy dan Gibran yang diam, "Dee!"
"Gue oke. Nanti gue balik langsung ke rumah, ngga usah khawatir, gue ngga akan apa-apa." Ucap Dea berusaha menenangkan teman-temannya sebelum akhirnya para pemotor itu membawa Dea.
Gibran bereaksi dengan mencoba menahan mereka membawa Dea, begitupun Willy namun sia-sia, sebab mereka justru menghadiahi Gibran dengan keroyokan, "Deee!"
.
.
.
.
saya suka 😍😍😍
berasa dipanah ga tu neng dea..syok dan ada sensasi geli2nya gt ga sih.berbunga mksdny..😄😄
sabar yak om fal... jawabannya masih nunggu acc teh sin🤭
si pemaksa,, ini kaya bang maru cumn persi muda nya🤣🤣