andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Semua tertegun di ruang rapat. Udara terasa berat, seolah oksigen dihisap habis oleh ketegangan. Lututku melemas, telapak tanganku dingin. Aku menatap satu per satu wajah di sekeliling meja. Ada yang menunduk, ada yang memejamkan mata, ada pula yang menatap kosong ke dinding. Bukan hanya tegang, sebagian dari mereka tampak putus asa. Pak Nurdin berdiri kaku di ujung ruangan. Napasnya tidak beraturan, dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.
Tujuh korban dalam waktu kurang dari dua hari. Semua terjadi dengan jeda waktu yang presisi. Pembunuh ini seolah menghormati jadwalnya sendiri. Tidak meleset sedetik pun. Dan kami, para penegak hukum, terasa seperti sekumpulan orang bodoh yang terus dipermainkan.
“Kita harus menangkap Romi,” ucap Pak Sunarji memecah keheningan.
“Benar, Romi harus ditangkap,” sahut Pak Haris cepat, nadanya tegang.
“Lusi depresi dan sudah dua tahun di rumah sakit jiwa. Salman berada di luar negeri. Satu-satunya yang paling memungkinkan adalah Romi,” kata Pak Nurdin dengan suara berat.
Ia menoleh ke arah Pak Cipto. “Bagaimana, apakah keberadaan Romi sudah diketahui?”
Aku tidak ikut menimpali. Pikiranku justru melayang ke hal lain. Kenapa tidak ada kode lanjutan? Seharusnya ada tanda berikutnya, semacam hitungan mundur atau pesan baru yang menunjukkan jadwal pembunuhan selanjutnya. Apa teror ini sudah berakhir, atau justru akan semakin kacau?
Lima orang gantung diri. Satu orang menjatuhkan diri dari gedung. Satu orang ditembak sniper. Besok apa lagi?
“Andi, bagaimana pendapat kamu?”
Aku tersentak. Lamunanku buyar. “Ya, Pak, ada apa?” tanyaku refleks.
“Bagaimana menurut kamu?” ulang Pak Nurdin, menatap lurus ke arahku.
Aku menarik napas dalam. “Orang yang paling tahu soal kasus ini memang Pak Romi. Tapi saya lebih setuju beliau dipanggil sebagai mitra, bukan langsung sebagai tersangka.”
“Kenapa?” tanya Pak Nurdin.
Aku mengedarkan pandangan, memastikan semua mendengarkan. “Pertama, tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan keterlibatan Pak Romi. Kedua, motif balas dendamnya tidak kuat. Kalau dia ingin membalas institusi, seharusnya dia bekerja sama dengan kelompok teroris. Faktanya, Pak Romi menjalankan usaha hiburan malam secara legal. Semua perizinannya lengkap.”
“Kalau bukan Romi, lalu siapa yang kita jadikan tersangka?” potong Pak Cipto.
Pertanyaan itu terdengar aneh dan menyesakkan. Aku tahu tekanan publik besar. Media menuntut nama, masyarakat menuntut jawaban. Tapi menetapkan tersangka tanpa alat bukti adalah pelanggaran terhadap akal sehat dan hukum itu sendiri.
“Lebih baik tangkap dulu saja Romi,” ujar seseorang. “Soal bukti nanti bisa kita susun.”
Dadaku berdesir marah. Ini memalukan. Pola lama yang terus berulang. Tangkap dulu, bukti menyusul. Aku hendak bicara, tapi Pak Nurdin mengangkat tangan, menyuruhku diam.
Rasa muak menyesak di tenggorokan. Tidak punya tersangka lalu asal menunjuk orang hanya demi meredam tekanan publik.
“Baik,” kata Pak Nurdin akhirnya. “Kalau begitu kita tangkap dulu Romi. Pak Cipto, kamu bertugas mencari Romi.”
Aku melihat Pak Cipto tertegun. Menangkap Romi bukan perkara mudah. Bahkan nyaris mustahil.
“Tampaknya tidak perlu repot-repot menangkap saya.”
Semua kepala menoleh. Pintu ruang rapat terbuka. Seorang pria melangkah masuk dengan tenang. Jaket kulit mahal membungkus tubuhnya. Rambutnya panjang, diikat sederhana ke belakang. Tubuhnya kekar, dan meski usianya setara Pak Haris, wibawanya masih sangat terasa.
“Romi,” ucap Pak Cipto lirih.
Romi melangkah masuk, lalu duduk santai di kursi kosong. Ia menyilangkan kaki, ekspresinya datar, nyaris bosan.
“Dari dulu kalian memang sembrono,” katanya pelan, tanpa rasa takut.
“Bukan sembrono. Kamu pelakunya, kan?” tuduh Pak Cipto tajam.
Romi tersenyum tipis. “Kalau kalian tidak percaya, tanya penjaga musala. Dari kapan saya di sini. Saya sudah satu jam berada di polsek. Ngobrol dengan Pak Maman. Saya punya alibi. Saya punya saksi. Kalian mau apa?”
Ia menatap kami satu per satu. Tatapannya tenang, nyaris menghina.
“Jangan asal menetapkan orang jadi tersangka tanpa bukti yang jelas,” ujar Romi, suaranya rendah tapi menghantam keras ke seluruh ruangan.
“Baik. Karena kamu sudah di sini, apa pendapat kamu?” tanya Pak Nurdin akhirnya.
Romi menyandarkan punggungnya ke kursi. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya, lebih mirip ejekan daripada keramahan. “Jadi kalian tidak jadi menangkap aku?” katanya santai.
Beberapa orang tampak tidak nyaman mendengar nada bicaranya. Romi lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya tenang namun jelas. “Kasus ini sebenarnya sederhana. Asal semua mau terbuka, pasti ada jalan keluar. Jangan saling menutupi demi harga diri. Jangan menutupi kebenaran.”
“Kamu terlalu bertele-tele, Romi,” potong Pak Sunarji dengan nada keras.
Aku mengamati Romi dengan saksama. Wajahnya tetap tenang, nyaris dingin. Ini wajah seseorang yang sudah berkali-kali berhadapan dengan ketidakadilan. Aku teringat reputasinya. Pernah memimpin pengungkapan penyelundupan narkoba dua ton, pernah dielu-elukan sebagai calon pemimpin masa depan. Semua itu runtuh ketika ia memilih membela seorang siswi SMP, anak seorang pekerja seks komersial. Akhirnya ia dipecat.
“Pelakunya adalah Nirmala,” ucap Romi tiba-tiba, tegas tanpa ragu.
Ruangan langsung bergemuruh. Beberapa perwira mengernyit, yang lain saling pandang dengan wajah tak percaya.
“Nirmala sudah mati. Bagaimana mungkin dia melakukan teror?” sahut salah satu perwira.
Romi mendengus pelan. “Itu yang harus kalian ingat baik-baik. Laporan perundungan lima tahun lalu semuanya bohong. Termasuk laporan kematian Nirmala.”
Suasana mendadak hening. Kata-kata itu menggantung di udara.
“Satu-satunya jalan menemukan Nirmala adalah menangkap semua pelaku perundungan,” lanjut Romi. “Jumlahnya empat belas orang. Usut tuntas apa yang mereka lakukan. Cari tahu bagaimana mereka menyiksa Nirmala. Dan terakhir, tanyakan di mana mereka membuang Nirmala.”
Tak ada yang langsung menanggapi. Empat belas anak itu bukan dari keluarga biasa. Orang tua mereka berpengaruh, punya kuasa. Menangkap satu saja sudah sulit, apalagi semuanya.
“Kamu dendam dengan kejadian lima tahun lalu?” tanya Pak Sunarji tajam.
Romi tersenyum kecil, nyaris geli. “Aku dendam sama anak kecil?” gumamnya. “Bukan level aku.”
Ia menegakkan tubuh. “Aku memang kecewa pada praktik ketidakadilan. Tapi justru aku bersyukur dipecat. Kalau tidak, mungkin aku masih jadi polisi kere. Polisi kaya itu hanya ada dua kemungkinan, korupsi atau menjilat penguasa.”
Beberapa wajah langsung memerah. Ucapannya menusuk telak. Aku sendiri terdiam. Dalam hati, aku mengakui kebenaran kata-kata Romi. Jika ingin kaya, jangan jadi polisi. Dan jika ada polisi yang kaya, patut dicurigai bagaimana cara ia mendapatkannya
“Ini tidak bisa dilakukan,” ucap Pak Nurdin dengan suara berat.
“Empat belas anak itu berasal dari keluarga berpengaruh. Menyentuh mereka akan merepotkan kita semua.”
Romi mendengus pelan. Tatapannya tajam, menusuk satu per satu wajah di ruangan. “Kalian juga harus bertanya kepada orang tua para pelaku perundungan Nirmala. Siapa saja yang mereka bayar untuk membungkam kasus itu.”
Ia berdiri sedikit dari kursinya, suaranya kian tegas. “Daftar calon korban yang nyata hanya bisa digali dari dua sumber. Pertama, dari Nirmala sendiri. Kedua, dari orang tua para pelaku perundungan. Tanpa itu, kalian tidak akan pernah menemukan titik terang.”
Romi berhenti sejenak, memberi tekanan pada kata-katanya. “Di sinilah keberanian kalian diuji. Kalian memilih mempertahankan jabatan dengan menjilat orang-orang itu, atau bertindak benar.”
Ia menatap Pak Nurdin tanpa gentar. “Tangkap semua pelaku perundungan Nirmala. Interogasi mereka satu per satu. Semakin mereka jujur, semakin banyak nyawa yang bisa diselamatkan.”