Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerinduan Anak dan Ibu
Sembilan bulan Lestari bertahan di neraka ini.
Perutnya sekarang sudah gede banget. Kayak balon yang mau meletus. Setiap jalan, dia harus pegang pinggang, tubuhnya condong ke belakang buat menyeimbangkan beban perut yang berat.
Kakinya bengkak parah. Nggak bisa pake sandal lagi—terlalu sempit. Jadi dia jalan pake sandal yang talinya digunting, biar muat.
Napasnya pendek-pendek. Susah napas. Perut yang gede menekan paru-paru dari bawah, jadi dia nggak bisa napas dalam.
Tidur juga susah. Nggak bisa telentang—perut nya menindih pembuluh darah, bikin pusing. Nggak bisa miring kanan atau kiri terlalu lama—pinggangnya sakit. Jadi dia cuma bisa tidur setengah duduk, bersandar ke tembok. Tidur yang nggak nyenyak. Tidur yang dipenuhi mimpi buruk.
Tapi yang paling sakit bukan badannya.
Yang paling sakit adalah...
Dia kangen ibunya.
Kangen banget.
---
Jumat sore. Seminggu sebelum kelahiran Antoni.
Lestari duduk di kamar gudangnya. Di tangannya ada ponsel—ponsel jadul yang layarnya udah retak, tombol nya pada nempel. Ponsel bekas punya Wulandari yang dikasih ke Lestari—bukan karena kasihan, tapi karena Wulandari beli yang baru.
"Minimal lo bisa dihubungi kalau gue lagi butuh sesuatu dari luar," kata Wulandari waktu ngasih ponsel itu.
Lestari nggak pernah pake ponsel buat nelpon siapa-siapa. Nggak punya pulsa. Nggak punya nomor yang mau dihubungin.
Kecuali satu.
Nomor ibunya.
Markonah.
Terakhir kali Lestari ketemu ibunya itu... kapan ya? Waktu pernikahan. Sepuluh bulan lalu.
Sepuluh bulan.
Lestari nggak pernah pulang. Nggak pernah diizinin pulang.
"Buat apa lo pulang? Mau ngeluh ke bokap nyokap lo? Mau ngadu? Jangan harap!" kata Dyon waktu Lestari minta izin pulang bulan ketiga kehamilan dulu.
Jadi Lestari nggak pernah pulang.
Cuma bisa nelpon. Seminggu sekali. Kalau lagi ada pulsa—pulsa yang dia beli dari uang cuci baju yang dia simpen diam-diam, lima ratus perak ditabung pelan-pelan sampe cukup buat beli pulsa lima ribu.
Hari ini dia baru aja isi pulsa. Lima ribu. Cukup buat nelpon lima belas menit.
Tangannya gemetar waktu pencet nomor ibunya. Nomor yang udah hapal di luar kepala. Dia pencet satu-satu—pelan, hati-hati, takut salah.
Nada sambung.
Tuuuut... tuuuut... tuuuut...
Lama.
"Angkat... angkat kumohon..." bisik Lestari.
Tuuuut... tuuuu—
"Halo?"
Suara ibunya. Suara yang udah nggak Lestari denger langsung selama sepuluh bulan. Suara yang... suara yang bikin dada Lestari sesak.
"I—Ibu..." Suara Lestari langsung serak. Langsung gemetar.
"Lestari? Nak? Itu kamu?"
"Iya, Bu... ini... ini aku..."
Hening sebentar. Terus suara ibunya—suara tangis. Tangis yang ditahan tapi nggak bisa.
"Nak... Nak gimana kabar kamu? Kamu... kamu baik-baik aja kan? Kandungan kamu gimana? Udah mau lahir kan?"
Lestari nggak bisa jawab. Tenggorokan nya tercekik. Air mata nya langsung keluar—langsung deras—kayak bendungan jebol.
"Bu... Bu aku... aku kangen Ibu... kangen banget... aku... aku pengen pulang, Bu... pengen ketemu Ibu..." Suara nya pecah, sesengukan.
"Ibu juga kangen, Nak... kangen banget... tiap hari Ibu nangis mikirin kamu... Ibu... Ibu nyesel, Nak... nyesel udah nggak bisa nolongin kamu waktu itu... Ibu harusnya lebih berani... harusnya Ibu—"
"Bukan salah Ibu..." Lestari nangis makin keras. "Bukan... ini... ini salah Bapak... salah aku yang lemah... tapi Bu... aku... aku nggak kuat lagi... aku udah nggak kuat..."
Tangisan Lestari makin nggak terkontrol. Sesengukan keras. Tubuh nya getar. Tangan yang nggak pegang ponsel nutup mulut biar nggak kedengeran ke luar—takut Wulandari denger, nanti dimarahin.
"Nak... Nak cerita sama Ibu... ada apa? Kamu kenapa? Dyon... Dyon jahat sama kamu?"
Lestari menarik napas—napas yang tersendat, sesengukan. "Dia... dia sering mukul aku, Bu... dia nggak peduli sama aku... sama bayi aku... dia bilang... dia bilang ini bukan tanggung jawab dia... mertuanya juga... mertuanya jahat, Bu... aku... aku dipaksa kerja keras tiap hari... cuci baju orang, beresin rumah, masak, semua... aku... aku nggak dikasih makan yang bener, Bu... aku... aku cuma dapet sisa... kadang cuma nasi sama garam... bayiku... bayiku kecil, Bu... dokter bilang bayiku kurang gizi... tapi... tapi aku nggak tau harus gimana..."
Markonah di seberang sana nangis. Nangis keras. Suara nya bergetar parah.
"Ya Allah... Nak... Nak maafin Ibu... maafin Ibu yang nggak bisa apa-apa... Ibu... Ibu pengen jemput kamu, tapi Bapak kamu nggak mengizinkan... Bapak kamu bilang... bilang kamu udah bukan tanggung jawab kami lagi... kamu udah jadi tanggung jawab suami kamu... Ibu... Ibu cuma bisa nangis, Nak... cuma bisa nangis..."
"Ibu jangan nangis... kumohon... kalau Ibu nangis, aku... aku makin nggak kuat..."
"Tapi Nak... Ibu dengernya... Ibu nggak bisa nggak nangis... kamu anak Ibu... darah daging Ibu... kamu lahir dari Ibu... tapi Ibu nggak bisa lindungi kamu... Ibu... Ibu gagal jadi ibu..."
"Ibu nggak gagal... Ibu udah jadi ibu yang baik... ini... ini salah keadaan... salah Bapak... salah... salah siapa aja tapi bukan salah Ibu..."
Mereka nangis bareng. Nangis lewat telpon. Nangis yang sama-sama nggak bisa berhenti.
Anak dan ibu.
Ibu dan anak.
Yang seharusnya nggak terpisah.
Tapi sekarang terpisah jarak—jarak yang cuma beberapa kilometer, tapi terasa kayak ribuan kilometer. Terpisah waktu—waktu yang bikin mereka nggak bisa peluk. Nggak bisa lihat langsung.
Cuma suara.
Suara lewat ponsel yang pulsanya terbatas.
"Bu... aku... aku mau ketemu Ibu... aku pengen peluk Ibu... aku pengen nangis di pelukan Ibu kayak dulu... aku... aku kangen banget..."
"Ibu juga, Nak... Ibu juga kangen banget... tapi... tapi gimana caranya... Bapak kamu nggak mengizinkan Ibu kesana... kalau Ibu datang, nanti malah bikin masalah buat kamu..."
"Aku... aku juga nggak boleh pulang... Dyon nggak mengizinkan... dia bilang kalau aku pulang, aku pasti ngadu... pasti ngeluh... dia nggak suka itu... jadi aku... aku nggak bisa kemana-mana, Bu..."
Hening sebentar. Cuma suara isak tangis mereka berdua.
"Nak..." Suara Markonah pelan, gemetar. "Kalau... kalau udah lahir nanti... kalau bayinya udah lahir... kamu harus kuat... kamu harus jaga bayi kamu... jangan sampe bayi kamu ngalamin apa yang kamu alamin... kamu harus jadi ibu yang lebih kuat dari Ibu... kamu bisa... Ibu percaya kamu bisa..."
Lestari merem erat. Air mata ngalir makin deras. "Aku... aku janji, Bu... aku janji bakal jaga bayiku... aku nggak bakal biarkan bayiku menderita... aku... aku bakal jadi ibu yang baik... meskipun... meskipun aku nggak tau gimana caranya..."
"Kamu pasti bisa, Nak... kamu anak Ibu... kamu kuat... kamu lebih kuat dari yang kamu kira..."
Tiba-tiba dari luar pintu—
"LESTARI! LO NGAPAIN DI DALEM?! KELUAR! MASAK MAKAN MALEM!"
Suara Wulandari. Keras namun terdengar jutek.
Lestari kaget. "Bu... Ibu aku harus tutup... nanti aku ditelpon lagi ya... aku sayang Ibu... aku sayang banget..."
"Ibu juga sayang kamu, Nak... sayang banget... Ibu doain kamu... doain kamu kuat... doain kamu selamat... Ibu cinta kamu..."
"Aku juga cinta Ibu..."
Telpon ditutup.
Lestari menatap ponsel di tangannya. Layar ponsel udah gelap. Tapi air mata nya nggak berhenti.
Dia peluk ponsel itu erat—peluk kayak peluk ibunya. Peluk sambil nangis. Nangis yang nggak bersuara.
"Ibu... aku kangen... kangen banget... kenapa kita harus pisah... kenapa..."
"LESTARI! GUE PANGGIL SEKALI LAGI LO NGGAK KELUAR, GUE DOBRAK PINTU!"
Lestari cepet-cepet lap air mata pake ujung daster. Berdiri—susah banget berdiri—terus keluar.
Wulandari berdiri di depan pintu, tangan di pinggang, muka jutek. "Lo ngapain lama-lama? Telponan sama siapa?"
"N—nggak ada, Mah... aku cuma... cuma beresin barang..."
"Beresin barang pantat kau! Gue denger suara lo nangis! Ngadu sama siapa lo?!"
"Nggak... nggak ada, Mah... aku cuma... cuma kepanasan jadi mataku berair—"
PLAK!
Tamparan keras. Pipi kanan. Lestari udah hapal—pipi kanan hari ini, besok pipi kiri, giliran.
"JANGAN BOHONG! Lo telponan sama nyokap lo kan?! Ngadu kan?! Ngeluh kan?!"
"Nggak, Mamah... aku cuma—"
"Mulai sekarang ponsel lo gue sita! Gue nggak mau lo ngadu kemana-mana! Lo ada masalah, lo selesain sendiri! Ngerti?!"
Wulandari nyamber ponsel dari tangan Lestari. Lestari cuma bisa pasrah. Nggak berani nolak.
"Sekarang masak! Gue laper! Dyon juga bentar lagi pulang!"
Wulandari balik ke kamarnya, bawa ponsel Lestari.
Lestari berdiri sendirian. Tangannya masih di posisi kayak lagi pegang ponsel—tapi ponsel nya udah nggak ada. Udah diambil.
Air mata nya keluar lagi.
Sekarang... sekarang dia bener-bener sendirian.
Nggak bisa nelpon ibu lagi.
Nggak bisa denger suara ibu lagi.
Nggak bisa...
Nggak bisa apa-apa lagi.
---
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁