Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Gelap Danu
Luna duduk lemas di kursi yang berada di dalam kamarnya. Ditemani Lisa yang setia menemaninya sejak dari tadi.
"Kamu gak mau rebahan aja, Dek?" tawar Lisa.
Luna menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak, Kak. Aku takut nanti malah tambah pusing," ucapnya dengan nada sangat lemah, membuat Lisa semakin gelisah. Terlebih Rendra, dan David belum juga kembali dari dapur.
"Tuan Muda, sama David kok lama banget sih. Udah 30 menit masih belum juga kembali. Padahal masak sup ayam paling lama cuma 10 menit," gerutu Lisa melihat ke arah pintu kamar.
Tak berselang lama, akhirnya muncul Rendra, dan David sambil membawa nampan berisi sup ayam.
"Nah itu mereka dateng. Tapi kok..." Lisa menutup mulut, berusaha menahan untuk tidak tertawa, saat melihat pakaian Rendra dan David yang terlihat sangat berantakan.
"Gak usah ketawa, Lis!" David menghela napas pelan, dan duduk disamping Lisa.
Sementara Rendra duduk di depan Luna, dan memberinya semangkuk sup ayam. "Ni, makan dulu! Biar efek mabuk laut lo reda."
"Tapi baju Kakak sama Kak David kok berantakan banget? Kayak abis dari barak militer aja," ucap Luna merasa heran melihat pakaian Rendra, dan David bergantian.
"Ceritanya panjang, Dek. Udah kamu makan aja dulu. Minta Rendra buat nyuapin kamu, biar so sweet gitu kek di film-film," David tersenyum menggoda Rendra yang kini sedang menatapnya kesal.
"Lis, kita ke depan dulu yuk! Cari udara segar," David menyenggol lengan Lisa, seolah-oleh memberinya kode untuk membiarkan Rendra, dan Luna berduaan.
Lisa yang paham kode tersebut, mulai beranjak berdiri dari tempat duduknya, dan menggandeng tangan David keluar dari kamar.
"Ya udah, Dek. Kakak tinggal dulu ya?" ucapnya yang berlalu pergi tanpa menunggu balasan Luna.
Membuat Rendra hanya bisa mendengus kesal melihat David, dan Lisa yang kompak membuatnya berduaan dengan Luna.
"Yaudah ini lo makan dulu, Cil!" pinta Rendra menyodorkan semangkuk sup ayam.
"Kakak gak mau nyuapin aku ya?" tanya Luna memasang wajah memelas.
"Huff! iya deh," Rendra mengambil satu suap, lalu meniupnya pelan, dan menyuapkannya ke Luna. Tentu dengan senang hati Luna menerima suapan itu.
"Hmm, enak banget!" Luna tersenyum sambil terus mengunyah potongan daging ayam, yang terasa begitu empuk. Dengan rasa gurih, dan sama sekali tidak terlalu asin.
"Ini yang buat sup sapa kak?" tanya Luna dengan wajah penasaran. Sementara giginya terus mengunyah karena menurutnya, ini sup ayamnya sangat enak sekali.
"Gue yang bikin," balas singkat Rendra, sambil kembali menyuapi Luna.
"Hah! Serius?" tanya Luna merasa tidak percaya, jika Rendra bisa memasak sup ayam selezat ini.
"Ck! Udah sih jangan bawel! Cepet habisin ni makanan," ucap Rendra sedikit kesal, mendengar rentetan pertanyaan Luna.
Gerakan gigi Luna yang semula semangat mengunyah, kini beralih mendesis kesal. "Ish, gitu aja ngamuk. Gak ada romantisnya jadi pacar. Udah sini aku makan sendiri," ucapnya mengambil mangkuk dari tangan Rendra.
"Aduh, ngambek ni Bocil, " Rendra menghela napas panjang.
Sementara Luna lebih memilih fokus untuk menikmati sup ayam buatan Rendra, yang sangat-sangat nikmat. Hingga ia tidak sadar jika Rendra sedang memperhatikannya.
Gemes juga ni bocil, kalau lagi makan, batin Rendra tersenyum sambil terus memperhatikan Luna.
Cuma butuh waktu 2 menit, Luna selesai memakan semangkuk sup ayam. Membuat Rendra melongo tidak percaya, jika Luna bisa secepat ini menghabiskan porsi makanannya.
"Lo kalau makan, gak dikunyah dulu apa gimana? Cepet amat," Rendra sampai geleng-geleng kepala melihat kecepatan Luna makan sup ayam.
"Hehehe, aku emang terbiasa makan cepet, Kak. Maklum, udah terbiasa sejak aku kerja di Glide Cakes, yang hanya memberi para karyawan waktu makan sebentar, karena pembeli yang terus berdatangan," balas Luna tersenyum manis, tanpa merasa harus malu di depan Rendra.
Jika kebanyakan cewek akan merasa malu, dan menjaga imagenya di depan cowok yang disukai. Berbeda dengan Luna yang terkesan apa adanya, tanpa harus menjaga image, apalagi merubah diri sendiri menjadi orang lain. Dan ini menjadi nilai plus di mata Rendra, yang membuatnya menilai Luna berbeda dari kebanyakan cewek diluar sana.
"Sekarang keadaan lo gimana? Apa masih ngerasain efek mabuk laut?" tanya Rendra merasa khawatir.Luna menggelengkan kepala,
"Nggak kok, udah reda. Abis kenyang karena makan sup Kakak. Makasih ya, Kakak sayang," ucapnya tersenyum manis menatap Rendra.
Kakak sayang?
Entah kenapa mendengar kata-kata itu, membuat Rendra tersenyum manis, dan mengacak-acak rambut Luna karena merasa gemas. "Lo itu kalau emang gak kuat mabuk laut, jangan dipaksa, Dek."
"Tapi aku cuma pengen main jet ski sama Kakak," balas Luna menatap sendu Rendra.
"Tapi lo gak kuat mabuk laut, Cil. Gue gak mau lo kenapa-kenapa. Kalau emang lo mau main jet ski sama gue, nanti coba kita konsultasi ke dokter, buat cari cara ngilangin mabuk laut lo itu," ucap Rendra sedikit merapikan rambut Luna.
Luna tersenyum merasakan perlakuan lembut Rendra, "Kak?"
"Iya, kenapa?"
"Makasih ya, udah khawatir sama aku," ucap Luna tersenyum manis. "Dan makasih juga, Kakak kasih kesempatan 1 minggu buat pura-pura jadi pacar Kakak."
Rendra dibuat terdiam mendengar perkataan Luna. Sebetulnya ia berbohong tentang, tantangan 1 minggu pura-pura menjadi pacarnya.Yang sebenarnya terjadi adalah ia sudah jatuh hati dengan Luna. Namun untuk saat-saat ini, ia masih membutuhkan waktu memastikan sekali lagi perasaannya.
"Udah lo jangan pikirin itu dulu, sekarang lo rehat dulu. Biar badan lo pulih lagi," ucap Rendra yang kemudian beranjak pergi, membiarkan Luna untuk beristirahat di kamar.
Sementara Luna dibuat tersenyum, naik keatas tempat tidur, memejamkan mata, dan mengingat moment Rendra menyuapinya tadi. Hingga membuatnya terpejam sambil senyum-senyum sendiri.
*************************
"ARGHHHHHHH!!!" rintihan suara seseorang memekik di tengah gelapnya ruang bawah tanah. Pria tersebut nampak pasrah, saat Danu terus menggoreskan pisau ke arah dahinya.
"Tuan... ampun... argh..." meski pria tersebut memohon ampun berulang kali, Danu masih saja meneruskan aksinya.
Bagi Danu suara dan jeritan orang itu, ibarat alunan suara musik yang terdengar merdu di telinganya. Karena sudah merasa puas bermain-main, Danu mulai melepaskan tubuh pria tersebut, dan membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
Bruak
"Argh..." pria tersebut meringis dengan suara lemah. Darah mengalir deras di seluruh wajahnya. Sementara kondisi tubuhnya nampak babak belur, dengan pakaian yang terlihat sobek-sobek.
Sambil berjongkok Danu menarik kasar rambut pria tersebut. "Bagaimana? Apa kau puas menikmati permainan saya, Kevin?"
Kevin yang melihat tatapan dingin Danu, hanya bisa terdiam membisu. Rasa penyesalan karena sudah mengkhianati Bosnya, membuat Kevin hanya bisa pasrah menerima kematian, yang sebentar lagi akan ia terima.
"Tuan, ampuni saya ...." Kevin memohon dengan suara terbata-bata, meski ia tau jika Danu tidak akan pernah mengampuninya.
"Hahahaha," tawa Danu menggema di seluruh sudut ruang bawah tanah.
"Apa kau bilang tadi? Saya tidak mendengarnya?" Danu mendekatkan telinganya ke arah Kevin.
"Maaf... Tuan.." sekali lagi Kevin berusaha memohon ampun.
Danu tersenyum sinis, "Maaf katamu?"
"Kau telah mengkhianati saya, Kevin. Kau ingin memberitahu keberadaan istriku kepada anakku. Bahkan kau juga berusaha membawa istriku pergi dari tempat itu,"
"Dan menurutmu, apa saya akan memaafkan mu begitu saja, Hah!" tangan Danu mulai mencengkram kuat rahang Kevin.
"Maaf, Tuan. Saya terpaksa melakukan itu, karena tidak kuat melihat Nyonya Bianca-,"
Bugh
Satu pukulan keras membuat Kevin menghentikan perkataannya. "Diam! Saya tidak sudi lagi mendengarkan alasan payah mu!" Danu menunjuk kasar wajah Kevin.
Dengan susah payah Kevin merangkak, dan meraih pergelangan kaki kanan Danu, mencoba untuk terus memohon ampunan."Tuan, saya minta maaf. Tolong lepaskan saya, Tuan!" Kevin terus berusaha membuat Danu memaafkan dirinya.
Danu yang masih berdiri tegak melihat Kevin bersimpuh, seraya menangis di bawah kakinya, merasa tidak peduli. Bahkan dengan kasar ia malah menendang kepala Kevin, dan membuat Kevin menjauh dari kakinya.
"Kesalahanmu terlalu fatal untuk saya maafkan. Kau tau bukan, tidak boleh ada seorang pun yang boleh memberitahu keberadaan istriku, kepada anakku. Tapi kenapa kau masih juga melanggarnya?" tanya Danu menatap tajam.
Kevin yang ingin membalas pertanyaan Danu, seketika terdiam tidak bisa mengatakan apapun lagi, saat ia melihat kode jari Danu, yang diarahkan kepada anak buah Danu, yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada.
Paham arti kode tersebut, 2 anak buah Danu segera datang, dan membawa Kevin bersamanya.
"Tu-tuan... ampuni saya... biarkan saya hidup," Kevin mulai ketakutan dan ingin memberontak. Namun sayang, badannya sudah tidak berdaya lagi untuk melawan.
Kevin dibawa paksa oleh 2 anak buah Danu menuju ruang bawah tanah. Sedangkan Danu berjalan lebih dahulu, dan dengan santainya duduk di kursi sofa, sambil menyalakan rokok lalu mulai menghisapnya.
Asap putih mengepul ke udara, dan senyum miring terukir jelas di sudut bibir Danu, saat ia berbalik melihat Kevin yang sudah di masukan ke kandang singa peliharaannya. Kedua matanya terlihat begitu menikmati pemandangan yang berada di hadapannya. Melihat singa kesayangannya mencabik-cabik tubuh Kevin.
"ARGHHHHH!!!" teriak Kevin merasa kesakitan. Dirinya hanya bisa pasrah, dan sudah tidak tau harus berbuat apalagi. Hingga pada akhirnya dia tewas mengenaskan di kandang singa milik Danu.
Kevin sebenarnya adalah anak buah kepercayaan Danu. Namun ia ditangkap karena ketahuan membangkang perintah Danu, dan hampir saja memberitahu lokasi Bianca disekap kepada Rendra.
Alasan Kevin berkhianat karena ia merasa tidak tahan melihat keadaan Bianca, yang semakin hari semakin buruk akibat terlalu sering disuntik cairan psikedelik. Dan sekarang ia harus mati konyol, karena terlalu gegabah mengambil tindakan. Kevin lupa dengan siapa orang yang sedang dia hadapi.
Danu Altara Wilson, bos mafia bawah tanah, yang berhasil menguasai beberapa bisnis gelap, baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri. Ia juga dikenal sebagai penjahat kelas kakap, dan berdarah dingin. Hukum seolah tunduk di hadapannya, karena reputasinya bukanlah sebuah dongeng semata.
Namun jati dirinya, sengaja ia rahasiakan dari siapapun, Bahkan Rendra sendiri tidak tau siapa ayahnya itu. Hanya beberapa anak buah kepercayaannya, yang tau siapa dirinya.
"Tuan Danu!" suara seseorang yang datang membungkuk hormat, membuat Danu mengalihkan pandangannya dari kandang singa, ke arah sumber suara yang memanggilnya.
"Hmm, ada apa?" tanya Danu yang masih menghisap sebatang rokok. Orang tersebut berjalan mendekati Danu, lalu memberi map kuning, membuat Danu segera membuka isi map itu.
"Kerja bagus," ia tersenyum puas setelah melihat apa yang sudah orang itu bawakan untuknya.
Danu membuat kode jari tangan, menyuruh orang tersebut untuk pergi. Dan setelah kepergian orang itu, ia terus mengamati isi map kuning, yang berisi 10 foto dengan gambar berbeda.
Menunjukkan betapa bahagianya Rendra bersama gadis yang Danu sendiri tidak tau siapa gadis itu, yang berani-berani mendekati anaknya. Sepertinya Danu sudah mempunyai cara, untuk membuat Rendra tunduk di hadapannya lagi.
"Rendra, bersiap-siaplah! Ayah akan membuatmu tunduk lagi, dan menuruti semua perintah Ayah," ucap Danu tersenyum licik, sambil terus memperhatikan gambar Luna, yang tersenyum memeluk Rendra, di atas jet ski.