NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Gladis meringkuk di atas tempat tidur berukuran king size yang terasa terlalu luas dan dingin baginya.

Ia menenggelamkan wajahnya di bantal, berusaha meredam isak tangis yang menyesakkan dada.

Bau detergen maskulin yang kuat di kamar ini terus mengingatkannya bahwa ia berada di wilayah kekuasaan Arkan, sang nakhoda yang baru saja merampas kebebasannya.

Di tengah isak tangisnya, sebuah getaran di saku roknya mengejutkan Gladis.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya. Nama yang tertera di layar membuat jantungnya berdegup kencang karena harapan.

"Om Dayu..."

Dayu adalah adik kandung mendiang ayahnya, satu-satunya keluarga sedarah yang tersisa dan selama ini tinggal di luar kota.

Gladis segera menggeser tombol hijau, suaranya parau dan hampir hilang.

"Om..." bisik Gladis pecah.

"Gladis? Suaramu kenapa, Nak? Om baru saja mendarat dan mendengar kabar tentang ibumu. Ya Tuhan, maafkan Om baru bisa dihubungi," suara Dayu terdengar sangat cemas di seberang sana.

"Mama sudah tidak ada, Om. Dan sekarang... Gladis takut. Gladis dipaksa..."

Gladis tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia terisak lagi, teringat bagaimana Arkan membentaknya dan memaksanya menikah di depan jasad ibunya.

"Tenang, Gladis. Katakan pada Om, kamu di mana sekarang? Kenapa suaramu seperti sedang bersembunyi? Apa si Arkan itu melakukan sesuatu padamu? Om akan menjemputmu sekarang juga."

Mendengar kata "menjemput", secercah cahaya muncul di kepala Gladis.

Ia segera mengirimkan live location apartemen Arkan melalui pesan singkat.

"Gladis ada di apartemen Arkan, Om. Di pusat kota. Tolong jemput Gladis sekarang, Om. Gladies tidak mau di sini," ucapnya dengan nada memohon yang amat sangat.

"Tunggu Om di sana. Jangan keluar kamar. Om akan sampai dalam tiga puluh menit. Jangan takut, ada Om sekarang."

Gladis menghapus air matanya dengan kasar. Sebuah senyum tipis yang getir muncul di wajahnya yang sembap.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian di rumah sakit, ia merasa punya senjata untuk melawan Arkan.

Ia segera bangkit, tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan.

Ia meraih tasnya, memasukkan beberapa barang penting yang sempat ia bawa.

Gladis berdiri di balik pintu kamar, telinganya menempel pada kayu pintu, mendengarkan suasana di luar.

Di bawah, ia masih mendengar denting gelas dan suara langkah kaki Arkan yang berat.

"Tunggu saja, Arkan, Kamu bilang nakhodanya adalah kamu? Tapi kamu lupa, di darat, aku punya keluarga yang punya hak lebih tinggi darimu." gumam Gladis.

Gladis mulai menyusun rencana. Ia akan menunggu bel apartemen berbunyi, dan ia akan berlari keluar sebelum Arkan sempat menghentikannya.

Ia yakin Arkan tidak akan berani berbuat kasar jika ada Om Dayu di sana.

Tepat tiga puluh menit kemudian, bunyi intercom di ruang tamu Arkan berbunyi nyaring.

Ding-dong!

Jantung Gladis berdetak kencang saat mendengar suara bel yang berbunyi.

Penyelamatnya telah datang. Dengan keberanian yang dikumpulkan dari rasa benci, Gladis membuka kunci pintunya dan melangkah keluar menuju balkon lantai dua, menatap ke arah ruang tamu di bawah di mana Arkan sedang berjalan menuju pintu depan dengan kening berkerut.

"Siapa malam-malam begini?" gumam Arkan, suaranya terdengar dingin dan waspada.

Arkan membuka pintu, dan sosok Dayu berdiri di sana dengan wajah yang merah padam karena amarah.

"Di mana keponakanku, Arkan?!" gertak Dayu tanpa basa-basi.

Gladis yang melihat itu dari atas langsung berteriak, "Om Dayu! Aku di sini!"

Gladis berlari menuruni tangga spiral dengan cepat, mengabaikan tatapan tajam Arkan yang seolah ingin menembus jantungnya. Namun, langkah Gladies terhenti tepat di anak tangga terakhir ketika Arkan merentangkan tangannya, menghalangi jalan Gladies dengan tubuh tegapnya.

"Minggir, Arkan!" teriak Gladis.

Arkan tidak menoleh pada Gladis, matanya tetap tertuju pada Dayu.

"Dia tidak akan pergi ke mana pun, Dayu. Dia adalah tanggung jawabku sekarang."

"Tanggung jawab?!" Dayu merangsek masuk ke dalam apartemen.

"Atas dasar apa kamu menahan putri mendiang kakakku? Kamu cuma orang luar, Arkan!!"

Arkan menarik sudut bibirnya, sebuah senyum sinis yang sangat tipis namun mematikan.

Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan selembar kertas fotokopi akta nikah darurat yang ia urus sore tadi.

"Atas dasar ini," ucap Arkan tenang sambil menyodorkan kertas itu ke depan wajah Dayu.

"Secara hukum, aku bukan lagi orang luar. Aku suaminya. Dan sebagai suami, aku punya hak mutlak untuk menentukan di mana istrinya tinggal."

Dayu mencengkram erat kedua tangannya saat mendengar perkataan dari Arkan.

Langkahnya untuk mengambil warisan mendiang kakaknya telah gagal.

Arkan tersenyum sinis dan mendekat ke arah Dayu.

"Lekas pergi dari sini atau aku akan membongkar rahasia dimana kamu melakukan korupsi di perusahaan Widya." gumam Arkan.

Dayu yang mendengarnya langsung mengeluarkan keringat dingin.

"Gladis, maaf. Om Dayu tidak bisa membantu mu." ucap Dayu yang kemudian meninggalkan apartemen Arkan.

Gladis menggelengkan kepalanya dan mendekat ke arah pintu.

"Om Dayu!!"

Gladis berteriak histeris memanggil pamannya, namun pintu baja itu tertutup dengan dentuman keras, mengunci rapat satu-satunya harapan yang ia miliki.

Suara langkah kaki Dayu yang terburu-buru menjauh di koridor apartemen terdengar seperti vonis mati bagi kebebasan Gladis.

Arkan memutar kunci ganda dengan tenang, lalu berbalik.

Ia berdiri menjulang di depan pintu, menatap Gladies yang masih terpaku dengan tangan terulur ke arah pintu.

"Om Dayu tidak akan kembali, Gladis. Dia lebih sayang pada lehernya sendiri daripada pada keponakannya yang malang," ucap Arkan, suaranya kembali sedingin es, tanpa ada sisa emosi dari perdebatan tadi.

"Kamu mengancamnya? Kamu benar-benar iblis, Arkan!"

Gladies berbalik, wajahnya memerah karena luapan emosi yang bercampur aduk.

"Kamu menjebak Mama, kamu menikahiku secara paksa, dan sekarang kamu mengusir satu-satunya keluargaku!"

Arkan melangkah maju, membuat Gladies terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak pintu yang baru saja dikunci.

Arkan meletakkan kedua tangannya di pintu, mengurung tubuh mungil Gladies di antara lengannya yang kokoh.

"Aku melindungimu dari serigala berbulu domba seperti dia, Gladis. Dan sekarang, dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi," Arkan mendekatkan wajahnya, aroma wiski dan tembakau mahal tercium dari napasnya.

"Kemasi barang-barangmu yang paling penting."

Gladis mengernyitkan keningnya dan mencoba melawan tatapan intimidatif itu

"Apa maksudmu? Aku tidak mau ke mana-mana!"

"Besok pagi, pukul lima, kita berangkat ke pelabuhan. Aku mendapatkan tugas baru. Kapal pesiar Ocean Empress. Kita akan berlayar selama sembilan bulan," ujar Arkan dengan nada mutlak.

"Sembilan bulan? Di tengah laut? Kamu gila! Aku masih kuliah, aku punya kehidupan di sini!"

"Kuliahmu bisa dilakukan secara daring, aku sudah mengurus izin cuti tatap mukamu ke pihak dekanat sore tadi. Mengenai kehidupanmu..." Arkan menyentuh dagu Gladies, memaksa gadis itu menatapnya.

"Hidupmu adalah di mana pun aku berada. Di atas kapal itu, tidak akan ada laki-laki pengecut yang mencarimu, tidak ada paman penjilat yang mengganggumu. Hanya ada aku, kamu, dan samudera."

"Aku tidak mau! Kamu tidak bisa membawaku pergi sejauh itu!"

Gladis mencoba meronta, namun cengkeraman Arkan di dagunya menguat, tidak menyakitkan namun penuh peringatan.

"Ini bukan tawaran, Gladis. Ini perintah nakhoda. Di atas kapal itu, aku adalah hukum. Kamu akan ikut denganku sebagai istri kapten. Persiapkan dirimu, karena sembilan bulan ke depan, kamu akan belajar bagaimana caranya menjadi seorang wanita yang patuh."

Arkan melepaskan Gladis dan berjalan menuju kamarnya sendiri tanpa menoleh lagi.

"Siapkan koper kecilmu. Jika pukul lima pagi kamu belum siap, aku akan membawamu dengan apa adanya, bahkan jika kamu hanya memakai baju tidur," tambahnya sebelum menutup pintu kamar.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Gladys 😄 cocok jadi pasangan hidup Arkan
Ita Putri
seruuuu
lanjut💪💪
Ariany Sudjana
bagus Gladys kamu harus tegas, jangan biarkan pelakor murahan seperti Angela merusak rumah tangga kamu dengan Arkan
Ariany Sudjana
sedih lihat perjuangan Gladys sampai segitunya demi menyelamatkan suami tercinta
Ariany Sudjana
ini kenap sih ada pelakor datang? Gladys yang berjuang menyelamatkan Arkan di pulau, malah dipeluk pelakor, dan orang tua Arkan juga diam, jangan-jangan Arkan sudah dijodohkan dengan perempuan ga jelas itu
Ariany Sudjana
Suka dengan karakter Gladys, tidak peduli dengan semua halangan, dia hadapi demi menyelamatkan suami tercinta, walaupun awalnya mereka berdua menikah karena terpaksa
Ariany Sudjana
Alex harus dihukum berat, jangan biarkan dia lolos
Ariany Sudjana
semoga Arkan dan Gladys lekas ditemukan dengan kondisi selamat dan sehat. semangat juang Gladys luar biasa, tidak ada sosok manja, semua dilakukan demi keselamatan suami tercinta
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa diselamatkan dan bisa sadar kembali dan kembali sehat, jangan tinggalkan Gladys
Ariany Sudjana
bagus Arkan, jangan biarkan Gladys hancur karena omongan julid dari orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Ariany Sudjana
tetap waspada yah Arkan dan Gladys, jangan biarkan Alex atau siapapun menghancurkan rumah tangga kamu kalian
Ita Putri
sweet banget gk sih mereka berdua 🥰
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Gladys sudah tahu kejadian sebenarnya, dan jangan pernah meragukan suami kamu untuk melindungi kamu Gladys
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Gladys kamu jangan bodoh, jangan mudah emosi, Arkan itu kapten kapal, dan dia harus menjaga wibawanya di depan seluruh penumpang. dan lagi, jangan karena kamu istrinya, Arkan harus percaya begitu saja, tidak seperti itu. bukti paling kuat CCTV, dan jika bukti itu keluar, nama kamu bisa dibersihkan. ingat Gladys, Alex dan antek-anteknya ada di sekeliling kamu, segala cara akan dilakukan untuk menjatuhkan kamu dan Arkan
Ariany Sudjana
bukannya seram Gladys, tapi itu cara Arkan untuk melindungi kamu selaku istrinya
Ita Putri
alur cerita seru gk bertele tele
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ita Putri
semangatnya outhor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!