NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Jawaban Yang Menggantung

Malam merangkak naik menyelimuti kediaman Kyai Hasyim. Suara jangkrik di pekarangan rumah bersahutan, menciptakan orkestra alam yang biasanya selalu berhasil membuat Hannah terlelap dengan cepat. Namun, malam ini berbeda. Keheningan itu justru terasa bising di telinganya, seolah meneriakkan kecemasan yang berkecamuk di dalam dadanya.

Hannah berbaring menatap langit-langit kamar tidurnya yang berwarna krem pucat. Kamar ini adalah tempat perlindungannya, saksi bisu masa kecil hingga remajanya sebelum ia berangkat ke pesantren. Di sudut kamar, tumpukan novel yang belum sempat ia baca berdebu tipis, dan poster motivasi bertuliskan “Reach Your Dreams” masih tertempel miring di dinding. Ironis. Hannah baru saja pulang untuk meraih mimpi-mimpi itu, tetapi sebuah skenario tak terduga bernama ‘pernikahan’ tiba-tiba menghadang di depan pintu gerbang kebebasannya.

Tas ransel besar miliknya masih tergeletak bisu di samping lemari. Isinya belum dibongkar sepenuhnya. Hanya beberapa helai baju yang sempat ia keluarkan tadi sore. Sebagian dirinya merasa enggan membereskan barang-barang itu, seolah dengan membiarkannya tetap berkemas, ia bisa lari kapan saja jika situasi semakin mendesak.

Tok. Tok.

Ketukan halus di pintu kayu jati itu membuyarkan lamunan Hannah. Ia tahu ritme ketukan itu. Pelan, berhati-hati, dan penuh kasih.

“Nduk? Belum tidur?” Suara Umi terdengar samar dari balik pintu.

Hannah menghela napas panjang, mengubah posisinya menjadi duduk bersila di tengah kasur. Ia merapikan sedikit rambutnya yang berantakan. “Masuk, Mi. Belum dikunci.”

Pintu terbuka perlahan. Cahaya lampu dari ruang tengah menerobos masuk, membentuk siluet tubuh Umi yang membawa nampan. Aroma teh melati yang pekat dan manis seketika memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma pisang goreng mentega kesukaan Hannah. Di belakang Umi, sosok Abah muncul. Pria paruh baya itu sudah melepas pecinya, memperlihatkan rambutnya yang mulai memutih seluruhnya, namun wajahnya tetap teduh seperti biasa.

“Umi bawakan teh hangat sama pisang goreng. Dari tadi siang kamu belum makan benar, lho,” ujar Umi lembut, meletakkan nampan di meja belajar Hannah yang penuh dengan stiker lama.

Umi kemudian duduk di tepi kasur, tepat di samping Hannah. Tangan wanita itu, yang mulai keriput namun selalu hangat, meraih jemari Hannah dan menggenggamnya erat. Abah menarik kursi belajar, memutarnya menghadap Hannah, lalu duduk dengan tenang.

Keheningan sempat menguasai ruangan selama beberapa detik. Hanya suara denting sendok kecil beradu dengan gelas teh yang terdengar saat Umi mengaduk gula.

“Maafin Abah sama Umi ya, Nduk,” Abah membuka percakapan. Suaranya rendah, tidak ada nada otoriter yang biasa ia gunakan saat mengajar santri. “Abah sadar, kejutan tadi siang itu keterlaluan buat kamu yang baru saja sampai.”

Hannah menunduk, matanya mulai terasa panas. Pertahanan dirinya yang ia bangun sejak siang perlahan retak di hadapan kedua orang tuanya.

“Kenapa harus sekarang, Bah? Mi?” suara Hannah bergetar, menyuarakan protes yang tertahan di tenggorokan. “Hannah baru dua puluh tahun. Hannah baru saja lepas dari peraturan pondok yang ketat. Hannah punya mimpi. Hannah mau kuliah Sastra, mau ikut organisasi, mau nulis buku... Hannah nggak mau semua itu berhenti cuma karena Hannah harus sibuk di dapur ngurus suami.”

Air mata pertama akhirnya jatuh, membasahi pipi Hannah. “Lagipula, Mas Akbar itu... dia jauh lebih tua. Beda delapan tahun, Bah. Dunia kami pasti beda. Dia sudah mapan, serius, kaku. Sedangkan Hannah? Hannah masih mau main, masih mau belajar.”

Umi mengusap punggung Hannah, membiarkan putrinya menumpahkan segala gundah. Abah mendengarkan dengan seksama, tidak memotong, tidak menyela. Ia membiarkan Hannah menyelesaikan kalimatnya.

Setelah isak tangis Hannah sedikit mereda, Abah mencondongkan tubuhnya ke depan. Tatapannya dalam, menembus manik mata Hannah.

“Hannah, dengarkan Abah baik-baik,” ucap Abah lembut namun tegas. “Abah menjodohkanmu bukan karena Abah ingin membuangmu. Bukan karena Abah ingin beban Abah berkurang. Demi Allah, tidak.”

Abah menarik napas sejenak. “Abah memilih Nak Akbar karena Abah melihat sesuatu di dirinya yang jarang dimiliki laki-laki zaman sekarang. Kematangan emosi. Kamu bilang dia tua? Bagi Abah, dia matang. Laki-laki yang matang tidak akan menjadikan istrinya sebagai pelayan, tapi sebagai ratu.”

“Tapi kuliah Hannah...” cicit Hannah pelan.

“Justru itu,” potong Abah cepat. “Saat Nak Akbar datang melamar, syarat pertama yang Abah ajukan bukan mahar yang tinggi, bukan rumah mewah. Syarat Abah cuma satu: Jangan patahkan sayap putri saya.”

Hannah tertegun. Ia mendongak menatap Abah, mencari kebohongan di sana, tapi nihil.

“Akbar menyanggupinya tanpa ragu, Hannah,” sambung Umi, suaranya meyakinkan. “Dia bersumpah di depan Abah dan Umi. Dia bilang, dia akan membiayai kuliahmu sampai S1, S2, atau sampai kapan pun kamu mau belajar. Dia bilang, istri yang cerdas adalah madrasah terbaik bagi anak-anaknya kelak. Dia tidak mencari pembantu, Nduk. Dia mencari partner.”

Kata-kata itu meresap perlahan ke dalam benak Hannah, sedikit menggoyahkan benteng penolakannya. Bayangan wajah Akbar di ruang tamu tadi siang kembali melintas. Wajah yang tenang, sorot mata yang menunduk hormat, dan kalimat pembelaannya saat melihat Hannah kelelahan.

“Izinkan Dek Hannah istirahat dulu.”

Kalimat itu terngiang lagi. Laki-laki egois pasti akan mendesak meminta kepastian. Tapi Akbar mundur. Ia memberi ruang.

“Tapi Hannah takut, Mi. Hannah nggak kenal dia. Bagaimana kalau nanti setelah menikah sifat aslinya keluar? Bagaimana kalau dia galak?” tanya Hannah, menyuarakan ketakutan terbesarnya.

Umi tersenyum bijak. “Cinta itu bisa ditumbuhkan, Hannah. Witing tresno jalaran soko kulino. Tapi karakter, akhlak, dan tanggung jawab, itu pondasi yang sudah tertanam lama. Akbar punya pondasi itu. Umi lihat cara dia memperlakukan ibunya, sangat santun. Laki-laki yang memuliakan ibunya, insya Allah akan memuliakan istrinya.”

Abah bangkit berdiri, lalu mengusap puncak kepala Hannah yang tertutup jilbab instan rumahan.

“Abah tidak memaksamu menjawab 'iya' malam ini. Itu tidak adil. Tapi Abah juga minta, jangan langsung bilang 'tidak' hanya karena ketakutan bayanganmu sendiri,” kata Abah. “Libatkan Pemilik Hati. Kamu santriwati, kan? Kamu tahu ke mana harus mengetuk pintu saat bingung.”

“Istikharah, Nduk,” bisik Umi sebelum mencium kening Hannah. “Minta petunjuk sama Allah. Kalau hatimu jadi tenang, lapang, dan dimudahkan membayangkan dia, itu tanda baik. Tapi kalau hatimu makin sempit, makin gelisah, dan ada saja halangan yang muncul, Abah dan Umi janji tidak akan memaksa.”

Kedua orang tua itu pun keluar kamar, meninggalkan Hannah kembali dalam kesendirian. Namun kali ini, kesendirian itu terasa lebih padat. Ada beban tanggung jawab yang kini beralih ke pundaknya. Bukan lagi tentang menuruti perintah orang tua, melainkan tentang membuat keputusan dewasa pertamanya.

Jam dinding terus berdetak. Pukul 02.00 dini hari.

Hannah terbangun dari tidur ayamnya. Matanya sembab, tapi pikirannya jauh lebih jernih dibanding beberapa jam lalu. Ia turun dari kasur, melangkah menuju kamar mandi.

Air wudhu yang dingin di sepertiga malam menyentuh kulit wajahnya, memberikan sensasi kejut yang menenangkan. Setiap basuhan seolah meluruhkan debu-debu keraguan yang menempel di logika. Hannah menggelar sajadah beludru merah marun menghadap kiblat. Ia mengenakan mukena putih bersih berenda, mukena kesayangannya selama di pondok yang telah menjadi saksi ribuan rakaat dan doa.

Di keheningan yang syahdu, Hannah berdiri tegak.

“Ushalli sunnatal istikharati rak’ataini lillahi ta’ala...”

Hannah mengangkat takbir. Allahu Akbar.

Dunia seakan berhenti berputar di sekelilingnya. Yang ada hanya dia dan Tuhannya. Dalam setiap rukuk dan sujud, Hannah mencoba mengosongkan gelas hatinya. Ia mencoba membuang egonya, membuang ketakutannya tentang masa muda, dan membuang prasangkanya terhadap sosok Muhammad Akbar.

Di sujud terakhir, air matanya kembali menetes. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena rasa kerdil di hadapan Takdir-Nya.

Selesai salam, Hannah duduk bersimpuh. Ia menengadahkan kedua tangan yang gemetar. Bibirnya melafalkan doa istikharah yang telah ia hafal di luar kepala, namun baru kali ini ia rasakan getarannya begitu hebat.

“Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini—pernikahanku dengan Muhammad Akbar—baik bagiku, bagi agamaku, kehidupanku, dan akhiratku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah jalannya, dan berkahilah aku di dalamnya...”

Suara Hannah tercekat isak tangis tertahan. Bayangan wajah Akbar muncul lagi. Bukan wajah asing yang menakutkan, melainkan wajah teduh yang menawarkan perlindungan. Entah mengapa, mengingat janji Akbar untuk menjaga mimpinya membuat hati Hannah berdesir hangat.

“...Namun jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku, bagi agamaku, kehidupanku, dan akhiratku, maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya. Takdirkanlah yang baik untukku di mana saja ia berada, kemudian ridhailah aku dengannya.”

Hannah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Napasnya terdengar lebih teratur sekarang. Dadanya yang tadi sesak, kini terasa sedikit lebih longgar. Tidak ada jawaban instan berupa tulisan di langit atau mimpi bertemu pangeran berkuda putih.

Namun, ada satu rasa yang menyusup pelan ke dalam relung hatinya: rasa pasrah. Ketakutan akan masa depan yang suram perlahan berganti dengan keyakinan bahwa jika ini jalan Tuhan, maka Tuhan pulalah yang akan menuntunnya.

Hannah melipat mukenanya, lalu berbaring kembali di atas karpet, memeluk lutut. Ia memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya sejak kakinya menginjak rumah siang tadi, ia bisa membayangkan sebuah skenario lain. Skenario di mana ia berangkat kuliah diantar oleh seseorang. Seseorang yang mengenakan kemeja koko navy, tersenyum tipis, dan mendoakannya dari balik kemudi.

Dan anehnya, bayangan itu tidak buruk. Sama sekali tidak buruk.

Malam itu, Hannah Humaira tertidur dengan sisa air wudhu di wajahnya, menyerahkan naskah hidupnya kepada Sang Penulis Skenario Terbaik. Keputusan itu mungkin belum bulat sempurna, namun fajar esok hari akan menyambutnya dengan hati yang jauh lebih siap.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!