Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Hampir Saja
Tok-tok-tok.
"Masuk!" terdengar suara dari ruangan tersebut membuat Aluna langsung memasuki ruangan suaminya dengan membawa dokument.
"Aku sudah mendapatkan persetujuan dari orang-orang yang bersangkutan dan sekarang tinggal giliran kamu menandatanganinya. Jangan membohongiku!" tegas Aluna memberikan dokumen tersebut kepada Ravindra.
Ravindra mengambilnya dan ternyata benar apa yang dikatakan istrinya bahwa Aluna benar-benar melaksanakan semua tantangannya.
"Jangan hanya diperhatikan dan langsung saja tanda tangan. Agar bisa berangkat ke Kanada," ucap Aluna.
Ravindra menghela nafas dan kemudian berdiri dari tempat duduknya dengan meletakkan dokumen tersebut di atas mejanya. Ravindra keluar dari area tempat duduknya dan mengambil jas nya yang terlihat memakainya.
"Hey kamu mau kemana? ini belum di tanda tangan?" tanya Aluna.
"Ikut denganku dan jangan teriak-teriak!" tegas Ravindra.
"Kita mau kemana dulu?" tanya Aluna.
Ravindra tidak mendengarkan dan langsung berjalan meninggalkan istrinya masih berada di dalam ruangan. Aluna mau tidak mau harus menyusul Ravindra.
Aluna mengikuti sang suami berjalan di belakangnya melewati koridor-koridor perusahaan, setiap orang yang berpapasan dengan Ravindra sudah pasti menundukkan kepala.
Ada juga beberapa karyawan terlihat sinis menatap Aluna. Aluna hanya bersikap biasa saja dan sudah biasa mendapat tatapan penuh dengan kecurigaan seperti itu.
Sampai akhirnya mereka berdua memasuki mobil. Pasti banyak spekulasi dari orang-orang di kantor mengapa dua sejoli itu memasuki mobil yang sama.
"Kita mau kemana sebenarnya?" tanya Aluna.
"Bogor," jawab Ravindra sembari memakai sabuk pengaman.
"Hah!"
"Untuk apa? Kenapa kamu tidak mengatakan terlebih dahulu?" tanya Aluna.
Protes istrinya tidak di pedulikan Aluna dengan Ravindra langsung menyetir dengan kecepatan santai.
"Astagfirullah, kenapa pergi ke Bogor seperti mau pergi ke mana saja. Memang kamu pikir dekat," oceh Aluna.
Ravindra memilih untuk menghidupkan musik daripada mendengarkan perkataan istrinya. Aluna terasa begitu kesal dengan merapatkan giginya dan ingin menerkam Ravindra, tetapi Aluna tidak mungkin melakukan hal itu dan membuatnya melihat lurus ke depan.
Dalam perjalanan keduanya benar-benar diam tanpa ada yang memulai obrolan, hanya suara musik close to you dari Carpenters, benar-benar cocok untuk keduanya. Apalagi mereka melewati hutan dengan alam yang indah.
Aluna juga terlihat tampak menikmati musik tersebut, sepertinya sesuai dengan seleranya dengan kepalanya secara pelan mengangguk dan sesekali matanya terpejam menikmati indahnya suara sang penyanyi.
Aluna membuka jendela mobil melihat bagaimana keindahan jalan penuh dengan alam yang mereka lewati, udara di pagi hari cukup membuat tenang. Aluna juga mengulurkan tangannya ingin merasakan udara menabrak tangannya seolah-olah ingin menangkap udara secara langsung.
Sementara Ravindra sembari menyetir juga menikmati alunan musik tersebut, tetapi hal yang ada di kepala Ravindra bagaimana dia mengingat pertama kali pertemuannya dengan Aluna di Bandara.
Melihat gadis dengan pakaian pengantin yang seharusnya dia pakai di hari pernikahannya, wajah tampak kecil dengan mata bengkak karena menangis, wanita itu menurut Ravindra sangat menyedihkan dan siapa sangka wanita adalah wanita mengambil keputusan meninggalkan pernikahan.
"Apa tujuan kita masih jauh?" tanya Aluna membuat Ravindra terbuyar dari lamunannya.
"Sebentar lagi," jawab Ravindra.
"Memang kita mau ke mana dan untuk apa kita ke Bogor?" tanya Aluna.
"Ada hal yang harus diselesaikan," jawab Ravindra.
"Lalu bagaimana dengan tanda tangan yang aku minta?" tanya Aluna
"Aluna, meski aku menandatanganinya dan tidak mungkin kita langsung pergi ke Kanada. Kamu pikir semuanya tidak butuh proses. Ada jadwal yang sudah ditentukan!" tegas Ravindra.
"Artinya perjalanan bisnis tahunan benar-benar dilaksanakan di Kanada?" tanya Aluna memastikan.
"Hmmm," Ravindra menjawab deheman.
"Sungguh?" tanyanya terlihat begitu bahagia dan tidak dijawab lagi oleh Ravindra.
"Yes, akhirnya impianku bisa terwujud," ucap Aluna benar-benar sangat senang dengan bersorak.
Ravindra sampai mendengus dengan senyum kecil tampak di wajah tampannya melihat kelakuan istrinya seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah besar.
Ravindra mungkin tidak menyangka jika dia bersama dengan Aluna bisa juga berbicara secara lembut dan tidak terlalu menegangkan apalagi harus berdebat setiap hari seperti apa yang mereka lakukan.
*****
Ternyata Ravindra mengajak istrinya untuk memeriksa proyek yang sedang dijalankan di Bogor.
"Kalau ingin mengecek proyek ini, bukankah seharusnya kamu berangkat bersama dengan sekretaris kamu dan bukan aku. Aku mana tahu menahu dengan bangunan-bangunan seperti ini," oceh Aluna saat memasuki proyek tersebut dengan menggunakan helm pelindung di kepalanya.
"Kamu bisa tidak, kalau apa-apa itu jangan protes. Kamu juga karyawan di kantor dan bagaimanapun kamu harus tahu!" tegas Ravindra.
"Tetapi ini bukan bagian dari pekerjaanku yang harus turun secara langsung ke lapangan. Aku ini wanita dan tidak punya urusan pekerjaan terjun langsung," protes Aluna.
Ravindra menghela nafas dengan memegang kedua bahu Aluna dengan memutarkan posisi tubuh istrinya itu dan menunjuk beberapa kumpulan wanita yang mengikuti proyek tersebut sama seperti Aluna mereka menggunakan helm pelindung dan hanya saja sepatu mereka sepatu boot dan juga memakai celana.
Berbeda dengan penampilan Aluna seperti biasa ke kantor menggunakan dress panjang semata kaki dengan penampilan yang casual dan elegan.
"Apa mereka bukan wanita?" tanya Ravindra.
"Ya, ya, me..."
"Sudah jangan protes, kamu ikuti saja. Jika kamu membuatku kesal, maka aku tidak akan menandatangani dan tidak akan menyetujui perpindahan tempat untuk perjalanan bisnis tahunan!" tegas Ravindra memberi ancaman.
"Kamu...." Aluna tidak bisa protes lagi ketika Ravindra memilih untuk pergi meninggalkan istrinya.
"Issss, apa-apaan coba maksudnya?" ucap Aluna tampak begitu kesal dan dengan terpaksa mengikuti suaminya kembali.
Aluna tidak mengerti pekerjaan berurusan di lapangan, tetapi Aluna hanya pura-pura mengerti saja dengan mengikuti Ravindra. Jangan tanya bagaimana wajah Aluna terlihat begitu kesal dengan penuh keterpaksaan dan tidak ada ikhlas nya sama sekali.
"Huhhh kenapa aku harus dibawa ke tempat seperti ini, sudah tahu panas," ucapnya dengan mengipas-ngipas bagian wajahnya tampak begitu kegerahan.
Ravindra tampak mengobrol dengan seorang pria yang mungkin saja mandor dari proyek tersebut.
"Baiklah Pak, kalau begitu nanti saya akan menginformasikan kepada karyawan saya," ucap pria itu.
"Baiklah saya tunggu kabar baiknya mengenai proyek ini," ucap Ravindra.
"Baik. Pak," sahut pria itu.
Pria itu kemudian berpamitan pergi. Ravindra menghela nafas dengan melihat di sekelilingnya dan tatapan matanya langsung melihat kearah istrinya.
"Huh!" Ravindra menyergah nafas melihat istrinya itu.
"Aku yakin, saat ini dia pasti sedang mengumpat, mengatakan ini dan itu," ucap Ravindra sudah bisa menduga isi pikiran istrinya.
Tiba-tiba mata Ravindra melihat ke arah atas. Ravindra melotot dengan kedua bola mata hampir jatuh saat melihat jendela terlepas dari proyek yang belum jadi itu dan sangat bertepatan Aluna berada di bawahnya.
"Aluna!" teriak Ravindra langsung berlari.
Aluna juga kaget ketika namanya diucapkan membuat Aluna kaget. Aluna tidak tahu apa yang terjadi dan tubuhnya langsung terdorong oleh Ravindra.
Sehingga membuat pasangan suami istri itu sama-sama terjatuh dengan posisi Ravindra berada di atas tubuh Aluna.
"Aaaa!" Ravindra akhirnya tertimpa jendela tersebut.
Aluna masih schok dengan wajah kagetnya, apalagi melihat reaksi ekspresi sang suami menahan rasa sakit pada punggungnya.
"Pak...." lirih Aluna ikut cemas.
Insiden kecelakaan itu membuat para pekerja proyek tersebut langsung berlari untuk melihat keadaan Ravindra dan juga Aluna, mereka juga langsung membantu dengan cepat.
Aluna juga semakin cemas, bagaimana tidak Ravindra mendapatkan hal seperti itu karena menolong dirinya.
Bersambung....