Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Selalu Mencampuri.
Karena ingin usahanya berjalan dengan lancar membuat Aluna mau tidak mau harus mentraktir Egar. Aluna dan Egar makan berdua di salah satu Restaurant di dekat kantor.
Keduanya sudah sama-sama menikmati makanan yang bersidang di atas meja.
"Tanda tangan!" Aluna menggeser dokumen tersebut kepada Egar.
"Aluna aku masih makan. Kenapa harus menyuruhku menandatangani di saat makan seperti ini," ucap Egar.
"Lalu aku harus menunggu sampai kapan," tanya Aluna menatap dengan serius.
"Hmmmm, bagaimana jika aku mengajukan satu syarat lagi?" tanya Egar.
"Syarat apa lagi?" tanyanya.
"Berdamai dengan temanku," jawab Egar.
"Temanmu siapa maksudnya? Ravindra?" tebak Aluna.
"Benar, hanya dia satu-satunya sahabat dan aku ingin kamu berdamai dengannya," jawab Egar.
"Berdamai bagaimana, di dalam dirinya saja dan keyakinannya menikah denganku hanya untuk membalas dendam. Dia selalu mencari masalah dengan. Mana mungkin aku bisa berdamai dengannya," jawab Aluna.
"Bisa. Aku sangat mengenal Ravindra, ketika kamu sungguh-sungguh menyesali dengan semua kesalahan kamu dan aku sangat yakin hubungan kalian akan jauh lebih baik dan mungkin bisa saja kalian akan sama-sama jatuh hati," ucap Egar.
Aluna terdiam seketika mendengar saran itu.
"Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Dia bahkan tidak pernah bertanya dan memintaku untuk menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu, dia lebih memilih mendengarkan penjelasan dari orang lain dibandingkan dengan orang yang bersangkutan," batin Aluna.
"Hey!" Egar melambaikan tangannya di wajah Aluna.
"Malah melamun," ucap Egar geleng-geleng kepala.
"Sudahlah, aku hanya ingin meminta tanda tangan kamu dan untuk syarat yang kamu ajukan, biarlah waktu yang menjawab semuanya," ucap Aluna.
"Baiklah," sahut Egar.
"Baiklah apa? Lalu bagaimana dengan tanda tangan yang aku minta?" tanya Aluna memastikan dengan menautkan kedua alisnya.
"Sabar-sabar, kamu tidak melihat aku sedang makan dan nanti setelah selesai makan aku pasti akan menandatanganinya," jawab Egar.
"Awas kalau bohong," tegas Aluna menatap dengan tajam.
"Iya-iya," sahut Egar.
Keduanya kembali melanjutkan makan bersama. Namun siapa sangka ternyata tanpa mereka berdua sadari ada yang mengambil foto mereka secara diam-diam.
Lumayan romantis, apalagi di saat Egar memberikan makanan kepada Aluna. Keduanya terlihat cukup akrab, dengan pembicaraan saling tersenyum satu sama lain.
Orang yang melakukan hal itu tak lain adalah Jiya. Jiya bener-bener menjadi penguntit yang selalu mengganggu hubungan Aluna.
"Aku ingin melihat bagaimana reaksi Ravindra saat menyadari bahwa istrinya benar-benar gatal. Dia akan mulai menyadari dan akan menyesal dengan keputusannya," batin Jiya.
Jiya melihat foto-foto yang telah dia dapatkan dengan senyum miring di wajahnya. Tetapi tiba-tiba saja Jiya kaget saat ponselnya ditarik kita orang.
"Kamu wartawan?" tanya Egar melihat foto-foto tersebut.
Jiya cukup kaget dan padahal sebelumnya pria itu sedang duduk di hadapan sang adik.
"Kembalikan ponselku!" tegas Jiya.
"Ini!" Egar tidak menahan ponsel itu dan langsung memberikan.
"Aku meringankan pekerjaanmu, kau ingin mengirimnya bukan kepada Ravindra. Aku sudah mengirimnya terlebih dahulu," ucap Egar dengan santai membuat Jiya melihat hal tersebut dan ternyata benar.
"Kenapa kamu melakukannya?"
"Kamu menyukai Aluna dan ingin membuat pernikahannya dengan Ravindra menjadi bubar?" tanya Jiya.
Egar tertawa mendengarnya membuat Jiya mengerutkan dahi.
"Hey, tidak semua orang punya pikiran seburuk kamu. Jadi jangan beranggapan bahwa aku memikirkan hal seperti itu!" ucap Egar dengan geleng-geleng kepala, reaksinya melihat Jiya benar-benar sangat muak.
"Apa maksudnya?" tanya Jiya dengan kesulitan menelan ludah
Egar memang mengirim foto-foto tersebut langsung pada Ravindra. Ravindra berada di ruangannya melihat foto-foto itu.
"Aku mengirimnya langsung kepadamu dari ponsel Kakaknya," Ravindra melihat ke arah pintu ketika temannya sudah kembali muncul.
"Apa maksudnya?" tanya Ravindra menghela nafas dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Aku memberi syarat kepada istrimu untuk menemaniku makan siang dan aku akan menandatangani surat persetujuan, tetapi siapa sangka aku mendapati kakaknya sengaja memotret kami berdua dan sesuai dugaan bahwa foto itu akan dikirim kepada kamu. Sudah dapat di pastikan dia tidak baik dan memiliki niat jahat kepada adiknya," jawab Egar.
"Begitu," hanya reaksi singkat yang di berikan Egar.
"Hey, reaksi seperti apa itu? kenapa jawabanmu sesingkat itu?" tanya Egar.
"Lalu aku harus bereaksi apa?" tanya Ravindra.
"Kau tidak penasaran apa yang kami bicarakan saat makan siang tadi?" tanya Egar.
"Tidak penting untukku," jawab Ravindra.
"Meski istrimu tiba-tiba saja mempertanyakan tentang masa lalumu?" tanya Egar lagi.
"Kamu bilang apa?" tanya Ravindra.
"Entahlah, bagaimana tiba-tiba saja dia penasaran dan bertanya tentang dia kepadaku," jawab Egar.
"Kau mengatakan apa?" tanya Ravindra.
"Aku tidak mengatakan apa-apa dan aku hanya mengatakan kepada dia satu pertemuan hanya satu tujuan dan jika ingin mempertanyakan lebih lanjut maka akan ada makan siang berikutnya," jawab Egar.
"Egar, kita berdua memang sahabat, tetapi aku tidak suka jika kau mendahuluiku untuk mengatakan apapun kepadanya," ucap Ravindra.
"Kau mengharapkan dia bertanya langsung kepadamu?" tanya Egar membuat Ravindra terdiam.
"Ya, ampun, pasangan suami istri benar-benar lebih memilih untuk saling memendam daripada mengungkapkan. Ternyata temanku selalu menunggu oh dan ternyata yang satunya menunggu ditanya, benar-benar pasangan suami istri membingungkan," ucap Egar dengan geleng-geleng kepala.
"Kenapa dia harus penasaran tentang masa laluku. Apa mungkin dia menemukan sesuatu lagi di kamarku?" batin Ravindra penasaran.
******
Firman baru saja keluar dari kamar dengan menuruni anak tangga, melihat kedua orang tua istrinya berada di ruang tamu bersama dengan Jiya.
"Umi dan Abi ingin pergi ke mana?" tanya Firman melihat ada satu koper di sebelah mereka.
"Umi, menemani Abi ke Palembang untuk menghadiri acara di sana," jawab Wulan
"Jiya ikut?" tanya Firman.
"Tidak! Aku tetap di rumah, jika aku ikut siapa yang akan mengurus rumah dan juga kamu," jawab Jiya.
"Mengurusku, kamu hanya mengurusku di depan kedua orang tua mu untuk memperlihatkan kepada kedua orang tuamu jika kamu adalah istri yang sempurna," batin Firman.
"Ya sudah kalau begitu Umi dan Abi berangkat dulu. Jiya kamu hati-hati di rumah," ucap Wulan.
"Insyallah Umi. Abi dan Umi juga hati-hati di jalan dan begitu sampai langsung kabari Jiya," sahut Jiya.
"Iya. Assalamualaikum!" ucap Wulan dan Abi yang langsung berpamitan.
Begitu kedua orang tuanya pergi, Jiya benar-benar cuek kan langsung berlalu dari hadapan suaminya.
"Kamu benar-benar sombong Jiya, kita lihat saja, apa setelah ini kamu bisa sombong, aku akan menghancurkan kesombongan dan yang aku lakukan tidak dosa. Aku hanya meminta hakku," batin Firman dengan ekspresi wajah penuh rencana.
Ting.
Firman mendapatkan notif pada ponselnya.
"Obat yang kamu inginkan aku sudah pesan. Temui aku jika menginginkannya secepatnya," Firman tersenyum miring ketika membaca pesan dari seseorang yang tidak di ketahui siapa.
"Jiya, mari kita buktikan. Aku benar-benar ingin melihat kesombonganmu. Kau benar-benar bukan manusia dan kau pantas mendapatkan hal ini. Apa yang aku lakukan jelas bukan kesalahanku," ucap Firman kemudian langsung pergi.
Entahlah kemana Firman, mungkin punya rencana besar terhadap istrinya.
Bersambung ...