NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Malam itu berakhir tanpa perayaan.

Tidak ada janji besar.

Tidak ada sumpah diucapkan dengan darah.

Hanya keputusan yang akhirnya diambil—dan konsekuensinya mulai berjalan.

Xuan pergi sebelum fajar.

Tidak dengan iring-iringan.

Tidak dengan panji.

Ia hanya membawa pedang lamanya, jubah gelap, dan tiga orang yang dulu pernah bersumpah mati untuknya.

Lin Que berjalan setengah langkah di belakang.

Dua lainnya menyebar, seperti bayangan yang terbiasa bergerak di wilayah berbahaya.

Mereka meninggalkan Kota Qinghe saat kabut masih tebal, saat ayam belum berkokok, saat dunia seolah belum siap menerima bahwa seseorang yang pernah dikubur hidup-hidup oleh sejarah… kini berjalan lagi.

Xuan tidak menoleh ke belakang lagi karena ia tahu, jika ia menoleh maka Ia mungkin tidak akan pergi.

Kota Qinghe kembali ke ritmenya.

Toko obat Feng Ling buka seperti biasa.

Orang-orang datang untuk membeli ramuan, mengeluh tentang persendian, cuaca, dan harga beras.

Tidak ada yang tahu bahwa pusat dunia untuk beberapa orang baru saja bergerak menjauh dari kota kecil itu.

Namun Yun Ma tahu.

Sejak hari ketiga ia mulai merasakannya seperti benang yang tertarik salah arah, tidak putus dan tidak juga tegang melainkan… berputar. Seperti seseorang yang berjalan, tapi tidak pernah benar-benar menjauh dari titik yang sama.

“Mereka tersesat.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Yun Ma saat ia sedang memotong akar kering.

Ayin menoleh cepat. “Siapa, Nona?”

Yun Ma berhenti dan membuat pisau kecil di tangannya diam, "Xuan,” jawabnya pelan.

Hui yang sedang berbaring di rak langsung mengangkat kepala. “Oh! Aku juga merasa itu! Seperti… seperti jalan yang seharusnya lurus, tapi jadi melingkar! Sangat menjengkelkan!”

Ye berdiri di dekat pintu dan bayangannya bergerak gelisah. “Itu bukan kebetulan,” katanya. “Wilayah itu sedang diputar.”

Ayin mengerutkan kening. “Diputar?”

“Formasi,” lanjut Ye. “Lama. Halus. Tidak mematikan.... Tapi cukup untuk menyesatkan.”

Yun Ma menutup mata, ia menarik napas panjang dan di dalam kesadarannya, benang itu jelas kini bukan hanya bergetar, tapi terpelintir.

----

“Sudah seminggu,” gumam Yun Ma “Jika mereka terus berjalan di sana… mereka tidak akan sampai ke mana pun.”

Ayin menggenggam celemeknya. “Nona mau…?”

“Aku akan menyusul,” kata Yun Ma tenang.

Ayin membeku. “Tapi… toko? Kota ini?”

“Akan aman,” jawab Yun Ma. “Aku akan memastikan.”

Malam itu, Yun Ma tidak tidur.

Ia berdiri di halaman belakang, menorehkan simbol satu per satu ke tanah dengan jari telunjuknya, tidak ada cahaya mencolok dan tidak ada mantra panjang yang ada hanya goresan sederhana namun setiap garis membawa bobot niat yang tidak bisa ditiru.

Ayin berdiri di ambang pintu, menahan keinginan untuk bertanya.

Hui mondar-mandir, mengomentari segalanya. “Oh, ini pelindung lapis tiga! Aku suka yang ini! Yang ini bikin orang jahat lupa kenapa mereka datang!”

Ye berdiri di tengah lingkaran bayangannya menyebar, menyatu dengan simbol.

“Perlindungan ini akan menutup kota dari pengamatan kasar,” katanya. “Tapi jika musuhnya sekelas Dewan Bayangan…”

“Mereka akan tetap merasakan,” jawab Yun Ma. “Namun tidak akan bisa masuk.” Ia menoleh ke Ayin.

“Ayin.”

Ayin melangkah maju. “Nona.”

“Aku akan meninggalkan kota ini sementara,” kata Yun Ma. “Aku tidak tahu berapa lama.”

Ayin mengangguk. “Aku akan menunggu.”

Yun Ma tersenyum kecil. “Bukan hanya menunggu. Kau akan menjaga.”

Ia mengangkat tangan dan menyentuh dahi Ayin dengan dua jari.

Hangat menyebar.

Bukan kekuatan besar.

Melainkan izin.

“Selama aku pergi,” lanjut Yun Ma, “kau adalah jangkar kota ini. Jika sesuatu mencoba masuk… kota ini akan menolaknya.”

Ayin terdiam, lalu menunduk dalam. “Aku tidak akan mengecewakan Nona.”

Hui menyeka mata dengan ekornya. “Ini sangat mengharukan… tapi kita benar-benar harus pergi sebelum aku mulai menangis!”

Ye mendengus pelan. “Kau tidak punya air mata.”

“Aku punya perasaan!” bantah Hui.

Yun Ma tertawa pelan.

Namun ada beban di baliknya.

Mereka berangkat sebelum matahari terbit.

Tidak lewat jalan utama.

Tidak lewat jalur dagang.

Yun Ma membuka celah tipis di antara dunia bukan portal, bukan teleportasi kasar.

Lebih seperti melangkah di sela niat.

Shen Yu muncul begitu mereka melewati batas. “Aku sudah bilang aku tidak mau terlibat,” katanya datar.

Namun ia tetap berjalan di sisi Yun Ma.

“Terima kasih,” jawab Yun Ma.

Shen Yu mendengus. “Aku di sini bukan untuk dia.”

Hui menoleh. “Oh! Tapi kau khawatir!”

“Diam,” kata Shen Yu.

Mereka tiba di wilayah yang seharusnya menjadi jalur lurus menuju perbatasan barat.

Namun udara di sana… salah.

Pepohonan tumbuh dengan pola yang terlalu rapi.

Burung-burung terbang, lalu kembali ke cabang yang sama.

Jejak kaki di tanah berulang.

“Mereka terjebak di lingkaran,” kata Ye.

“Formasi kebiasaan,” tambah Shen Yu. “Musuh yang licik. Tidak menyerang. Hanya membiarkan target berjalan sampai lelah.”

Hui mencium tanah. “Oh! Aku mencium bau Xuan! Dan besi! Dan… frustrasi!”

Mereka mengikuti jejak itu.

Semakin dalam.

Semakin berat.

Xuan menyadari pada hari kelima bahwa mereka tidak bergerak.

Langit selalu sama.

Batu yang mereka lewati pernah mereka lewati sebelumnya.

Lin Que tidak mengatakan apa-apa.

Namun matanya mulai gelap.

“Ini jebakan,” kata salah satu pengawal akhirnya.

Xuan mengangguk. “Aku tahu.”

“Apa kita balik arah?”

“Kita sudah membalik arah,” jawab Xuan dingin. “Berkali-kali.”

Ia berhenti.

Menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan Kota Qinghe… ia memikirkan Yun Ma.

Bukan wajahnya.

Melainkan ketenangannya.

Dan benang itu yang selalu terasa ada, meski jauh.

Saat Yun Ma akhirnya melihat mereka, matahari sedang tergantung rendah.

Xuan berdiri di tengah lingkaran batu.

Wajahnya lebih pucat.

Namun matanya… menyala.

Ia merasakan sesuatu.

Berbalik.

Dan melihatnya.

Yun Ma berdiri di tepi formasi.

Tenang.

Utuh.

“Aku bilang kau tidak perlu ikut,” katanya pelan.

Yun Ma tersenyum tipis. “Dan aku bilang aku tahu.”

Hui melompat ke depan. “Kalian benar-benar berputar-putar! Aku hampir pusing melihatnya!”

Ye melangkah maju.

Bayangannya memanjang, menusuk tanah.

Formasi bergetar.

Retak.

Shen Yu mengangkat tangan.

Api Sunyi menyentuh satu titik.

Lingkaran itu runtuh bukan meledak, bukan hancur.

Hanya… dilepas.

Udara mengalir kembali.

Lin Que berlutut refleks. “Yang Mulia….”

Xuan tidak menjawab.

Ia menatap Yun Ma lama.

“Aku gagal,” katanya akhirnya.

“Tidak,” jawab Yun Ma lembut. “Kau hanya tidak sendirian lagi.”

Hening.

Xuan menarik napas panjang.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia dibebaskan dari penjara dunia…

ia tidak merasa sendirian di tengah jalan.

Namun jauh di balik pepohonan yang kini kembali normal

Seseorang mengamati.

“Terlalu cepat,” bisiknya. “Ia tidak seharusnya diselamatkan secepat ini.”

Bayangan itu tersenyum. “Tapi tidak apa sekarang aku tahu... Dia tidak berjalan sendiri.”

Dan permainan kembali berubah arah.

Bukan menuju istana.

Bukan menuju perang terbuka.

Melainkan ke sesuatu yang jauh lebih berbahaya—

Kebenaran yang mulai bergerak.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!