Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 18》
Keesokan harinya, Emily membuka mata dan bangun, ia mengangkat selimut lalu merapihkan tempat tidur, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah merasa segar, ia berjalan keluar kamar.
Dari atas ia bisa mendengar suara wanita yang tak pernah ia dengar di rumah itu namun ia merasa sudah pernah mendengarnya di suatu tempat.
Langkahnya dengan cepat menuruni tangga lalu melihat ternyata wanita itu adalah Ibu dari Albert.
"Selamat pagi ibu, apa yang membuat anda kemari?," tanya Emily, ia melihat bahwa wanita itu tak datang sendiri, ia duduk dengan seorang gadis yang lebih sexy dari padanya.
"Oh, saya tidak punya kepentingan dengan mu, cepat panggil anak saya kemari," ucap wanita itu dengan sinis.
Ibu Albert bermana Rosaline Kobesta, seorang wanita dengan darah bangsawan yang menikahi ayah Albert karna sebuah perjodohan di masa lalu.
Emily baru membalikkan badan, namun ia sudah menemukan Albert yang sedang melangkah menghampiri mereka.
"Ada apa ini?," tanya Albert karna mendengar suara ibunya yang cukup keras, padahal di mansion itu Emily tidak pernah berbicara sekeras itu.
"Duduklah Albert, ada yang ingin Ibu sampaikan," Lelaki itu duduk di sofa, Emily juga mengikutinya duduk namun wanita itu menolak dan berkata, "lebih baik kau tidak usah mendengar percakapan kami, ini urusan keluarga"
Emily ingin sekali menjawabnya dengan lantang namun Albert memberi lirikan mata seolah menyuruhnya menghindar dari sana, sehingga gadis itu pergi menuju dapur.
Meski di dapur ia tak bisa melihat mereka, namun ia bisa sedikit mendengar suara mereka jika ia berdiri dekat tembok..
"Oh, ada Nona Clara, senang bertemu dengan anda," ucap Albert begitu melihat wanita itu, mereka berjabatan lalu kembali duduk.
"Jadi, ada apa ibu kemari?"
Ibunya tersenyum dan berkata dengan manis, "Albert, bukankah Nona Chara lebih cantik?, bagaimana kalau kalian bertunangan?"
Emily terkejut mendengarnya dari dapur, mengapa tiba-tiba ada pesaing dalam kehidupannya? Ia sudah tinggal di tempat yang nyaman dan sekarang ia harus berusaha mempertahankannya?
Oh, tunggu..
Ia mencoba mengingat alur cerita novel yang ia baca, mencari nama Clara.
Sayangnya ia sama sekali tidak mengingatnya, apa mungkin ada beberapa bab yang ia lupakan dan tidak ia baca?
Emily menarik nafas panjang.
"Maksud ibu apa? Saya sudah menikah dengan Emily," jawab Albert dengan tatapan tegas.
"Ibu tidak suka dengannya, latar belakangnya tidak cocok dengan keluarga kita, terlebih lagi kakek sudah menceritakan bahwa kalian menikah karna kecelakaan, ayolah.. ini sudah hampir setengah tahun kalian menikah, kau bisa menceraikannya dan bertunangan dahulu dengan Clara"
Albert memijat keningnya yang sakit mendengar ide aneh dari Ibunya.
"Aku tidak akan melakukannya"
Jawaban Albert membuat Emily sadar bahwa pria itu pasti tidak mau melanggar kontrak, karna dalam perjanjian sudah tertulis bahwa mereka akan bersandiwara selama satu tahun penuh, jadi jika ada yang melanggar maka denda yang di kenakan adalah dua kali lipat dari keuntungan menyelesaikan kontrak itu.
"Clara teman sekolahmu dan dia juga memiliki latar belakang bagus, ada apa dengan mu?, apa kau sudah jatuh cinta pada gadis itu?," tanya Ibunya.
Emily tidak lagi mencuri dengar percakapan mereka, lagi pula apapun keputusan Albert maka keuntungan tetap jatuh padanya, jadi ia memutuskan pergi ke halaman untuk melihat sayurannya yang sudah besar, mungkin beberapa hari lagi sudah bisa di panen.
"Aku tetap tidak mau"
Clara mendengus, ia agak kesal.
Gadis itu memiliki garis wajah tegas dengan alis tebal, badannya lebih berisi daripada Emily dan pakaian yang ia kenakan bermerk terkenal, itu wajar karna ia adalah cucu bangsawan yang juga terpandang di sana, ia juga sudah mendapatkan gelas magister seperti Albert, sedangkan Emily hanya sarjana.
Dalam segala aspek, Clara lebih mendominasi dan sempurna.
"Kalau begitu jadikan saya menjadi sekretaris anda, beri saya waktu empat bulan mendekati anda, jika anda tidak tertarik maka saya akan pergi"
Clara menantang Albert, ia tidak mau menyiakan kesempatan ini, jika ia bisa menikah dengan Albert, maka kerjasama kedua perusahaan akan terjalin, dan juga ia ingin mendapat gelar Nyonya Juan.
"Baiklah kalau anda ingin mencobanya"
Albert yakin bahwa ia tidak tertarik membuat suatu hubungan dengan siapapun, pernikahannya juga hanya sebuah kontrak, ia hanya melakukannya agar mengatasi rumor yang beredar tentangnya di luar sana.
Setelah membuat kesepakatan, Ibunya dan gadis itu segera pergi dari sana, ia akan mulai bekerja besok, lagian Albert sudah harus pergi ke kantor, ia akan membicarakan hal ini pada Emily saat ia pulang nanti.
"Nona, mengapa Nona belum makan, ayo kita pergi ke ruang makan"
Bibi Vei mengajak Emily untuk sarapan karna gadis itu belum menyentuh makanan dari pagi, ia sibuk dengan kebun dan jika di suruh makan ia hanya akan menjawab nanti.
"Bibi, apa Bibi tau gadis yang tadi pagi datang?," tanya Emily pada Bibi.
"Oh, Nona Clara, ia pernah menjadi teman satu sekolah Tuan Albert, sering datang kemari juga waktu mereka masih kecil, kenapa Nona bertanya?,"
Tadi pagi saat perbincangan berlangsung, Bibi Vei masih di pasar, jadi ia tidak tau bahwa gadis itu datang ke sana.
"Tidak papa," jawabnya.
Emily bisa menyimpulkan bahwa Albert sudah lama mengenal Clara, pikiran Emily malah mengingat dada besar Clara yang di lihatnya tadi pagi.
Emily menatap miliknya yang tidak terlalu besar lalu tertawa.
"Kenapa tertawa tiba-tiba non?," Bibi Vei bingung melihat tingkah gadis itu.
Malamnya Albert pulang ketika Emily sedang menonton tv dengan para pelayan seperti biasanya, para pelayan juga sudah tidak sungkan, berbeda dengan dulu saat pertama kali Emily mengajak mereka menonton maka mereka akan segera membubarkan diri saat Albert datang.
"Emily, ikut denganku sebentar ke ruang kerja"
Gadis itu terkejut, saat pertama kali datang ke mansion, ia sudah di beri peringatan untuk tidak masuk ke dalam ruang kerja dan kamar pribadi milik Albert, namun pria itu sekarang menyuruhnya ikut dengannya ke sana.
Albert segera menutup pintu lalu berkata, "Mulai besok, ikutlah denganku ke kantor"
"Maksudnya?," Emily bingung, apakah ia kesana untuk bekerja atau untuk menemani?
"Clara akan menjadi Wakil sekretaris ku, aku hanya tidak ingin ada kesalahan pahaman dari orang-orang karna selama ini sekretarisku adalah lelaki"
Emily ingat, sekretaris itu yang dulu menjemputnya di Cafe untuk bertemu dengannya.
"Lalu, apa aku hanya menemanimu atau aku harus bekerja juga?," tanya Emily dengan polos, ia sudah menganggur mulai dari pernikahan ini berlangsung, namun jangan lupa bahwa ia adalah lulusan terbaik dengan menyandang mahasiswi menerima beasiswa penuh.
"Haha, kau lucu sekali, terserah padamu, kalau kau mau bekerja boleh, jika kau hanya ingin duduk juga tidak papa"
Albert hanya ingin agar Clara tidak terlalu dekat dengannya, karna ia tau gadis itu termasuk tipe yang centil dan mencari perhatian pada semua orang.