NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Setelah pintu kamar Naura benar benar tertutup rapat, suasana di ruang tamu mendadak berubah. Najam yang tadinya terlihat khawatir, kini justru menyandarkan punggungnya ke sofa sambil melipat tangan di dada. Ia menatap Arkan dengan senyum penuh arti, senyum yang biasanya ia tunjukkan saat mereka sedang menjalankan misi atau latihan tanding.

"Oke, aktingnya bagus, Kan," cetus Najam santai, memecah keheningan. "Ringisan lo tadi... gue kasih nilai delapan deh. Hampir aja gue percaya."

Arkan yang tadinya tampak lemas, langsung menegakkan duduknya. Ekspresi wajahnya kembali dingin dan datar. Ia mengusap plester di pelipisnya dengan gerakan kasar.

"Jadi lo tahu?"

"Gue tahu lo siapa, Arkan," Najam terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Gue tahu rekor lo di lapangan. Lima kroco dengan motor berisik itu harusnya cuma jadi 'pemanasan' lima menit buat lo sebelum tidur. Tapi lo malah milih jadi samsak hidup.

" Kenapa? Biar Naura kasihan sama lo?"

Arkan mendengus pelan, lalu menyesap air putihnya. "Gue cuma nggak mau bikin keributan di depan umum. Dan gue nggak mau adek lo ketakutan liat ada orang yang bisa matahin tulang dalam hitungan detik."

Najam tertawa lebih keras kali ini, namun suaranya tetap ia jaga agar tidak terdengar sampai ke kamar Naura. "Takut? Naura?" Najam terdiam sejenak, matanya menatap pintu kamar adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ya... mungkin lo bener. Dia kelihatan rapuh, kan? Itu sebabnya gue minta lo jagain dia di sekolah."

Najam kemudian memajukan badannya, menatap Arkan dengan serius. "Tapi serius, Kan. Baru kali ini gue liat lo rela dipukul cuma buat 'menjaga citra' di depan seorang cewek. Lo beneran naksir adek gue atau ada yang lo cari dari dia?"

Arkan terdiam. Pertanyaan Najam tepat sasaran. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia mencurigai Naura adalah seorang agen atau kriminolog lulusan Oxford yang sedang menyamar. Itu akan merusak hubungan Najam dengan adiknya.

"Gue cuma ngerasa ada yang aneh sama dia, Jam," jawab Arkan akhirnya, memilih kalimat yang ambigu.

"Aneh gimana? Dia emang jenius, makanya dia bisa akselerasi dan kelihatan lebih dewasa dari umurnya," sahut Najam membela. "Tapi di mata gue, dia tetep adek kecil yang butuh dilindungi. Jadi, kalau lo mau deketin dia, gue kasih lampu hijau. Tapi inget... kalau lo bikin dia nangis, kemampuan lo yang katanya hebat itu nggak bakal mempan di depan gue."

Arkan hanya menanggapi ancaman Najam dengan satu alis yang terangkat. "Gue nggak berencana bikin dia nangis, Jam. Gue cuma mau tau seberapa jauh 'skenario' ini bakal berjalan."

......................

Keesokan paginya di sekolah, Naura kembali ke mode penyamaran sempurnanya sebagai siswi SMA yang ceria. Tidak ada lagi Dr. Naura yang dingin dengan kopi hitamnya; yang ada hanyalah Naura yang tampak segar dengan ransel berwarna pastel dan tawa yang renyah.

Di koridor sekolah, Naura disambut oleh Nadira, teman sebangkunya yang energik. Nadira adalah definisi remaja yang sebenarnya, ceroboh, suka bergosip, dan selalu penuh semangat.

"Naura! Sumpah ya, lo harus liat ini!" seru Nadira sambil berlari kecil menghampiri Naura dan langsung merangkul lengannya.

"Ada apa sih, Nad? Masih pagi udah heboh banget," sahut Naura sambil tersenyum manis, senyum yang sudah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun agar terlihat tulus.

"Itu lho, pengumuman festival seni! Kelas kita dapet bagian dekorasi lapangan. Ayo temenin gue cek lokasinya sebelum bel masuk!"

Tanpa menunggu jawaban, Nadira menarik tangan Naura. Mereka berdua berlarian di sepanjang koridor, melewati deretan kelas yang mulai ramai. Naura membiarkan dirinya ditarik, sesekali ia tertawa lepas saat Nadira hampir terpeleset karena terlalu bersemangat.

Sesampainya di lapangan sekolah yang luas, terik matahari pagi mulai terasa hangat.

Nadira tiba-tiba melepaskan tangan Naura dan mulai berlari ke tengah lapangan sambil merentangkan tangan.

"Naura, kejar gue kalau bisa!" tantang Nadira sambil menjulurkan lidah dengan jail.

Naura sempat terdiam sejenak. Di kejauhan, dari balkon lantai dua, ia bisa merasakan sepasang mata sedang mengawasinya, Arkan. Pria itu berdiri di sana, memperhatikannya dengan tatapan penuh selidik, mungkin sedang membandingkan

"Naura yang ceria" ini dengan "Naura yang dingin" semalam.

Oke, Arkan. Lo mau liat pertunjukan? Gue kasih, batin Naura.

Naura pun mulai berlari menyusul Nadira. Ia sengaja membuat langkahnya terlihat sedikit kikuk, sesekali pura-pura hampir terjatuh agar terlihat seperti gadis remaja yang tidak terlalu atletis. Tawa mereka berdua pecah dan bergema di seluruh lapangan, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dengan ketegangan yang terjadi semalam.

"Dapet!" Naura akhirnya berhasil menangkap bahu Nadira di tengah lapangan. Keduanya pun terjatuh di atas rumput hijau sambil terengah-engah dan tertawa.

"Lo... payah banget lari aja lama!" ejek Nadira sambil berusaha mengatur napas.

"Gue kan emang bukan pelari, Nad," jawab Naura manja sambil mengibaskan rambutnya yang sedikit berantakan.

Dari tempatnya duduk di rumput, Naura kembali melirik ke arah balkon. Arkan masih di sana, sedangkan matanya tetap tak lepas dari Naura. Naura membalasnya dengan lambaian tangan ceria seolah tidak tahu apa-apa, membuat Arkan seketika memalingkan wajahnya.

......................

Arkan menyandarkan punggungnya di pagar balkon lantai dua, masih memegang ponselnya yang sebenarnya tidak menampilkan panggilan apa pun. Matanya menyipit, fokus pada satu titik di tengah lapangan, Naura yang sedang tertawa lebar sambil terduduk di rumput bersama Nadira.

"Apa-apaan itu?" gumam Arkan pelan.

Dalam benak Arkan, memori semalam masih sangat segar. Ia mengingat jelas betapa stabilnya tangan Naura saat mengobati lukanya, tatapan matanya yang sedingin es, dan aura intimidasi yang keluar saat ia menyebutkan latar belakang pendidikannya.

Namun sekarang, yang ia lihat hanyalah seorang remaja yang tampak kehabisan napas karena terlalu banyak bercanda.

Arkan merasa seperti sedang menonton dua film yang berbeda namun dengan aktor yang sama.

Arkan bertanya-tanya, apakah mungkin seseorang bisa bertransformasi secara total hanya dalam hitungan jam. Jika ini akting, maka Naura bukan sekadar "paham" tentang literasi, tapi dia adalah seorang maestro dalam penyamaran.

Arkan memperhatikan gerakan Naura saat ia berpura-pura hampir tersandung. Sebagai orang yang terlatih, Arkan tahu bahwa jatuh yang "direkayasa" memiliki ritme yang berbeda dengan jatuh yang tidak sengaja.

Namun, Naura melakukannya dengan sangat rapi hingga Arkan pun mulai meragukan instingnya sendiri.

"Nggak mungkin dia selihai itu," batin Arkan. "Atau jangan-jangan... gue yang terlalu obsesif mikirin dia?"

Tiba-tiba, sebuah tepukan keras mendarat di bahu Arkan, membuyarkan lamunannya.

"Ehem! Lanjut lagi nih pemantauannya?" goda Bimo yang baru saja muncul bersama Rio.

"Tadi malam masuk kamarnya, sekarang jagain dari balkon. Lo beneran kena 'pelet' adeknya Najam ya, Kan?"

Rio ikut mencondongkan badan ke arah lapangan. "Tapi emang sih, Naura kalau lagi ketawa gitu kelihatan... pure banget. Kayak nggak punya beban hidup. Beda banget sama lo yang mukanya ditekuk mulu kayak jemuran belum kering."

Arkan hanya mendengus, berusaha menutupi kebingungannya. "Gue cuma heran, pagi-pagi udah lari-larian di lapangan. Kurang kerjaan."

"Namanya juga anak muda, Arkan! Kita ini SMA, bukan agen rahasia!" seru Bimo sambil tertawa, sama sekali tidak tahu betapa ironisnya kalimat itu bagi Arkan dan Naura.

Arkan kembali melirik ke lapangan. Naura tampak sedang membetulkan kuncir rambutnya, lalu tiba-tiba gadis itu mendongak, tepat ke arah balkon tempat Arkan berdiri.

Selama satu detik, mata mereka bertemu.

Naura memberikan senyum lebar yang terlihat sangat lugu, lalu kembali asyik mengobrol dengan Nadira.

Arkan mengepalkan tangannya di pagar balkon. "Oke, Naura. Kalau lo mau main peran 'siswi konyol', gue bakal ikutin skenario lo. Kita liat siapa yang bakal lepas topeng duluan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!