Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16_MALAM YANG TERLALU SUNYI
Malam turun pelan di rumah Mahendra.
Tidak ada suara televisi. Tidak ada tawa. Bahkan langkah kaki pun jarang terdengar. Rumah besar itu terasa lebih dingin dari biasanya, seolah ikut menyesuaikan jarak yang sengaja diciptakan oleh dua penghuninya.
Nayla terbaring di ranjang sejak sore. Demamnya sudah turun, tapi tubuhnya masih lemas. Kepalanya berat, tenggorokannya kering, dan setiap kali ia bergerak, rasa pegal menyebar ke seluruh badan.
Lampu kamar hanya menyala satu. Redup.
Ini pertama kalinya ia benar-benar menghabiskan malam di rumah Mahendra dalam keadaan seperti ini. Biasanya, meski tinggal satu atap, mereka hidup di dunia masing-masing. Azka dengan kamarnya. Nayla dengan kamarnya.
Tidak ada kunjungan. Tidak ada perhatian. Tapi malam ini berbeda. Namun tetap saja… dingin.
Nayla menarik selimut lebih tinggi, memejamkan mata. Ia berusaha tidur, tapi pikirannya terlalu penuh. Tentang hari ini. Tentang Azka yang tidak berangkat sekolah. Tentang sikapnya yang panik tapi pura-pura tidak peduli.
Tentang fakta bahwa ini adalah malam pertama mereka benar-benar 'berbagi rumah' dalam keadaan sadar satu sama lain.
Tok. Tok.
Suara ketukan pelan membuat Nayla membuka mata.
“Nayla?”
Suara itu rendah. Datar. Tapi jelas.
Azka.
“Iya,” jawab Nayla pelan.
Pintu terbuka sedikit. Azka berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kaus hitam dan celana training. Rambutnya sedikit berantakan, sesuatu yang jarang Nayla lihat.
“Kamu udah makan?” tanya Azka.
Nayla menggeleng kecil. “Belum lapar.”
Azka menatapnya beberapa detik. Tatapannya cepat menyapu wajah Nayla, memastikan sesuatu.
“Demam?” tanyanya lagi.
“Udah turun,” jawab Nayla jujur.
Azka mengangguk. “Kalau pusing lagi, bilang.”
Nada suaranya seperti perintah, bukan perhatian.
Nayla hampir tertawa, tapi ia terlalu lelah.
Azka berdiri di sana, canggung. Seolah ia tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah memastikan Nayla masih hidup dan bernapas dengan baik.
“Tidur,” katanya akhirnya.
Pintu ditutup pelan.
Nayla menatap langit-langit kamar. Itu saja? Ia tidak tahu harus merasa lega atau kecewa.
***
Di dapur, Azka berdiri lama di depan kompor.
Ia menatap panci kecil di depannya, air di dalamnya belum benar-benar mendidih. Tangannya bertumpu di meja dapur, napasnya berat.
Ini konyol.
Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia berdiri di dapur untuk orang lain. Biasanya, ada asisten. Ada pembantu. Ada segalanya.
Tapi malam ini, ia menyuruh semua orang istirahat lebih awal. Karena alasan yang tidak ia sebutkan.
Azka membuka lemari, mengambil satu bungkus sup instan, yang entah sejak kapan ada di sana. Ia mengerutkan kening, lalu menambahkan potongan wortel dan ayam yang ia temukan di kulkas.
Ia tidak ingin Nayla tahu. Kalau ia sampai tahu Azka Mahendra, pewaris keluarga besar, berdiri memasak sup karena panik memikirkan seseorang yang selalu ia sakiti, itu akan jadi bahan ejekan seumur hidup.
Atau lebih buruk… bahan harapan. Dan Azka belum siap memberi harapan.
Sup itu akhirnya matang. Aromanya sederhana, hangat. Tidak istimewa, tapi cukup.
Azka menuangnya ke dalam mangkuk. Tangannya sempat berhenti di udara. Kenapa dia melakukan ini? Ia menghela napas, lalu mengambil sendok.
***
Nayla hampir tertidur ketika pintu kamar kembali terbuka.
Kali ini, langkah kaki terdengar lebih dekat. Lebih nyata.
Ia membuka mata dan langsung duduk setengah terkejut.
Azka masuk ke dalam kamar, membawa semangkuk sup hangat. Uapnya masih terlihat.
Nayla membelalak. “Azka?”
Azka berhenti di samping ranjang. “Bangun.”
Nada itu… tetap kasar. Tapi tangannya gemetar sedikit saat meletakkan mangkuk di meja kecil.
“Kamu harus makan,” lanjutnya.
Nayla menatap sup itu, lalu Azka, lalu kembali ke sup. “Ini… buat aku?”
Azka menoleh ke arah lain. “Jangan banyak tanya.”
Nayla tertawa kecil, suaranya serak. “Kamu masak?”
Azka melirik tajam. “Mau makan atau nggak?”
“Ma—” Nayla terbatuk kecil.
Azka langsung mendekat. “Pelan.”
Ia meraih bantal tambahan, menyelipkannya di punggung Nayla agar posisi duduknya lebih nyaman. Gerakannya cepat, seolah takut ketahuan sedang perhatian.
Nayla terdiam.
“Pegang,” kata Azka sambil menyodorkan mangkuk.
Nayla menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar. Supnya hangat, baunya menenangkan.
“Terima kasih,” ucap Nayla pelan.
Azka tidak menjawab.
Ia berdiri di samping ranjang, tangan dimasukkan ke saku, matanya menghindari tatapan Nayla. Seolah kehadirannya di kamar ini sudah melanggar banyak aturan tak tertulis yang ia buat sendiri.
Nayla menyendok sup perlahan. Rasanya sederhana. Tidak terlalu asin. Tidak terlalu hambar. Tapi hangatnya menjalar sampai ke dada.
“Kamu nggak perlu repot,” kata Nayla setelah beberapa sendok.
Azka mendengus. “Lo sakit. Titik.”
Nayla tersenyum kecil. “Kamu ngomongnya selalu kayak lagi marah.”
Azka meliriknya. “Karena gue memang marah.”
“Kenapa?”
Azka diam.
“Karena lo nggak jaga diri,” jawabnya akhirnya.
Nayla terdiam. “Aku nggak biasa dijagain.”
Azka menatapnya lama. “Mulai sekarang, biasa.”
Kalimat itu membuat jantung Nayla berdegup lebih cepat.
“Apa kamu sadar apa yang kamu bilang?” tanya Nayla pelan.
Azka mengalihkan pandangan lagi. “Jangan ke mana-mana. Tidur habis makan.”
Nada perintah itu kembali muncul, seperti tameng.
Nayla menghabiskan supnya pelan-pelan. Azka tidak duduk, tapi tidak pergi juga. Ia berdiri di sana, seperti penjaga yang terlalu kaku untuk mengakui tugasnya sendiri.
Setelah mangkuk kosong, Nayla menyerahkannya.
Azka mengambilnya, lalu berhenti sejenak. “Kalau pusing lagi, panggil.”
Nayla mengangguk.
Azka melangkah ke pintu, lalu berhenti.
“Nayla,” panggilnya tanpa menoleh.
“Iya?”
“Jangan maksa kuat terus,” ucap Azka pelan. “Kamu bukan sendirian.”
Kalimat itu jatuh berat di udara. Sebelum Nayla sempat menjawab, Azka sudah keluar dan menutup pintu.
***
Malam itu, Nayla tertidur dengan perasaan aneh. Bukan bahagia. Bukan sedih. Tapi hangat… dengan ujung-ujung yang dingin.
Di kamar lain, Azka berdiri di depan jendela, menatap halaman gelap. Tangannya mengepal, lalu mengendur.
"Gue kenapa?". Gumamnya pelan, lalu menghela napas panjang.
Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai bolak-balik ke kamar Nayla. Ia juga tidak tahu sejak kapan ia takut jika Nayla tidak menjawab panggilannya.
Yang ia tahu hanya satu: Malam itu, Azka memilih tetap tinggal di rumah, berjaga dalam diam, karena seseorang yang seharusnya hanya menjadi 'istri rahasia'.
Dan dingin yang selalu ia banggakan…perlahan mulai retak.