Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Saat Alyssa sibuk menyiapkan makan siang untuk Junior, pandangannya tertuju pada halaman rumah yang luas. Ia melihat dua anak kecil berlarian dan bermain kejar-kejaran, Niko dan Kairo. Tawa Niko terdengar riang, dan setiap kali ia tertawa, Kairo ikut tertular kegembiraan. Dapur rumah itu berdinding kaca, sehingga Alyssa bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di luar.
Biasanya, makan siang yang ia siapkan untuk Junior akan diantar oleh sopir. Namun hari itu, Alyssa memutuskan untuk mengantarkannya sendiri ke kantor Junior. Ia juga ingin mengajak Niko ikut, sekalian agar anaknya bisa jalan-jalan karena hari itu Niko tidak masuk sekolah.
Pikiran Alyssa melayang ke masa lalu, saat ia pernah mendatangi kantor Junior, berharap suaminya mau menerima Niko. Namun yang ia terima justru penghinaan di depan banyak orang.
Kairo selalu menjadi anak kesayangan Junior. Bahkan memeluk Niko pun tidak pernah ia lakukan. Jika saja Niko benar-benar memahami situasinya, mungkin anak itu akan menangis tanpa henti karena apa yang dialaminya.
Kedua anak itu kemudian masuk ke ruang keluarga.
"Kak, kita main lagi, yuk?" ajak Kairo.
Alyssa tersenyum kecil pada Kairo. Anak itu sebenarnya baik dan dekat dengan Niko. Setidaknya, Alyssa bersyukur Niko tidak sendirian dan masih punya teman bermain.
"Boleh! Aku ambil mainanku dulu, ya. Tunggu di sini!" jawab Niko ceria sambil berlari menjauh.
Namun senyum Niko seketika menghilang saat Maureen muncul. Perempuan itu langsung menghampiri Niko dan menariknya menjauh dari Kairo.
"Kamu anak bodoh! Jangan dekat-dekat anakku!" hardiknya.
Amarah Alyssa langsung meledak.
"Apa katamu?" bentaknya. "Maureen, ibu macam apa kamu sampai bicara seperti itu di depan anak-anak?!" Suaranya bergetar menahan marah.
Benar-benar tidak punya pikiran. Anak kecil pun diperlakukan seperti itu.
"Anakmu memang bodoh! Masih berani main sama anakku!" balas Maureen, suaranya semakin tajam, seolah menebas hati Alyssa.
"Kamu keterlaluan!"
Alyssa melempar sendok sayur yang masih ia pegang, melepas celemeknya dengan kasar, lalu menampar Maureen sekuat tenaga.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kamu menghina anakku!"
"Aaah! Lepaskan aku!" Maureen berteriak, namun Alyssa sudah lebih dulu menarik rambutnya.
Maureen membalas dengan menjambak rambut Alyssa. Keduanya saling menarik dan mencakar tanpa ampun.
Niko dan Kairo mundur ketakutan, menatap dua perempuan dewasa itu bertengkar di depan mereka.
"Kamu dan anakmu itu pembawa sial dalam hidup Junior!" teriak Maureen sambil menampar Alyssa dengan keras.
"Kamu berani bicara begitu? Kamu itu selingkuhan! Perusak rumah tangga! Kamu yang merebut suamiku!" balas Alyssa sambil mencengkeram wajah Maureen.
"ALYSSA!"
Suara keras seorang pria menggema.
"Daddy!"
"Daddy, hentikan mereka!"
Alyssa terpaksa melepaskan Maureen saat sebuah tangan menariknya kasar. Tamparan keras mendarat di pipinya, dan tubuhnya terlempar ke lantai.
Junior baru saja menamparnya.
"J-Junior…"
Ia tidak percaya. Junior menamparnya demi membela Maureen.
Air mata Alyssa mengalir deras.
"Jauhi keluargaku, Alyssa! Masalahnya bukan Maureen, kamu! Kamu perempuan murahan!" teriak Junior sambil memeluk Maureen yang pura-pura menangis di dadanya.
"Aku hanya melindungi anak kita. Anakmu menyerang Kairo," isak Maureen.
"Itu bohong! Kamu yang menghina anakku!" teriak Alyssa. "Ibu mana yang bisa diam saat anaknya dihina?!"
Namun Junior tetap menutup telinga.
"Jauhkan dirimu dari Maureen. Aku tidak akan pernah mencintaimu lagi. Mencintaimu adalah kesalahan terbesarku!"
"Daddy, Mommy cuma melindungiku," tangis Niko.
"Diam! Jangan panggil aku begitu! Aku bukan ayahmu!" bentak Junior. "Ayahmu itu Edgar!"
Niko menangis tersedu.
"Kamu kejam, Junior! Bagaimana bisa kamu menyakiti anakmu sendiri?" Alyssa berlutut dan memeluk Niko.
"Aku tidak akan percaya lagi padamu," jawab Junior dingin.
"Kak Niko baik, Papa."
"Kairo, diam! Ayo naik!" Maureen menarik anaknya, lalu tersenyum sinis ke arah Alyssa.
"Aku muak denganmu. Ambil surat perceraian itu dan tanda tangani sekarang!" perintah Junior.
"Junior… kenapa kamu tidak pernah mau mendengarkanku?"
"Aku ingin berpisah. Kalau tidak, aku akan kirim anakmu ke panti asuhan."
Niko langsung memeluk ibunya dengan ketakutan.
"Mommy, aku tidak mau ke sana…"
"Aku tidak akan membiarkannya!" tegas Alyssa.
"Dia bukan anakku," jawab Junior datar.
"Kamu menutup mata! Dia mirip kamu!"
"Pergi dari hadapanku!"
Alyssa membawa Niko ke kamar.
"Mommy, aku benci Daddy," tangis Niko.
Alyssa menenangkannya, lalu turun kembali dengan tangan gemetar membawa surat perceraian dan pulpen.
"Kita benar-benar berpisah?" tanyanya pelan.
Ia berbicara panjang, tentang cintanya, tentang Niko, tentang pengorbanannya, tentang doa agar Junior bahagia meski tanpa dirinya.
Dengan tangan bergetar, Alyssa akhirnya menandatangani surat itu. Air matanya jatuh membasahi kertas.
"Aku harap kamu menemukan kebahagiaanmu."
Karena ia mencintai Niko, dan karena cinta itu, ia memilih pergi agar anaknya tak lagi terluka.