Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Di dalam ruang privat yang mewah, aroma kopi dan hidangan lezat menguar, namun pikiran Cintya terlalu berkecamuk untuk menikmati semua itu. Tatapan intens Arkana masih terpatri dalam benaknya, bersamaan dengan pengakuan cintanya yang tiba-tiba. Ia merasa seperti terjatuh ke dalam labirin yang penuh kejutan.
"Kak, gue …" Cintya mencoba memulai percakapan, namun terhenti saat nada dering ponsel Arkana memecah keheningan. Pria itu mengerutkan kening sejenak, lalu mengangkat panggilan tersebut. Nada suaranya berubah dingin dan tegas saat menjawab, jauh berbeda dengan kelembutan yang ia tunjukkan pada Cintya beberapa saat yang lalu.
"Bagus! Pastikan semuanya sesuai rencana. Tidak ada ruang untuk kesalahan," ucap Arkana singkat dan padat, lalu mengakhiri panggilan. Wajahnya mengeras, memancarkan aura kekuasaan yang membuat Cintya sedikit bergidik.
"Maaf, Sayang. Ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda," ujar Arkana, menatap Cintya dengan tatapan menyesal yang tampak tulus.
"Hah! Gue gak salah dengar, kan? Dia manggil gue Sayang! meleleh adek bang!" jerit batin Cintya dramatis.
"Eh! Ya sudah hati-hati ya kak," ujarnya ceria berusaha menyembunyikan kekecewaan yang menyeruak dalam hatinya. Sebagian dirinya merasa lega karena terhindar dari situasi yang canggung, namun sebagian lainnya merasa penasaran dengan urusan misterius yang selalu menyelimuti Arkana.
Arkana tersenyum tipis, mengelus pipi Cintya dengan sentuhan lembut yang membuat jantungnya berdebar tak terkendali. "Aku akan segera kembali. Jangan merindukanku, ya?" bisiknya, lalu beranjak pergi dengan langkah cepat dan penuh percaya diri.
Setelah Arkana menghilang dari pandangan, Cintya menghela napas panjang dan bersandar di kursinya. Ia merasa seperti baru saja selamat dari terjangan ombak besar. Ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi sejak bertemu dengan pria itu.
_____&&______
Di sisi lain kota, Rico memacu motor sportnya dengan kecepatan tinggi, melintasi jalanan yang mulai sepi. Pikirannya dipenuhi dengan harapan dan kecemasan. Panggilan telepon yang diterimanya beberapa saat lalu adalah titik terang yang selama ini ia nantikan.
"Bertahun-tahun sudah berlalu. Apa mungkin aku akan benar-benar bertemu dengannya?" gumam Rico lirih, mencengkeram setang motornya dengan erat.
Sesampainya di sebuah gedung perkantoran yang tampak usang dan terpencil, Rico segera menuju lift dan menekan tombol lantai paling atas. Suasana di dalam lift terasa dingin dan sunyi, seolah menyimpan rahasia kelam yang tersembunyi.
Pintu lift terbuka, memperlihatkan sebuah lorong sempit yang remang-remang. Rico berjalan dengan langkah tegap menuju sebuah ruangan yang terletak di ujung lorong. Di depan pintu ruangan itu, dua orang pria berbadan tegap dengan wajah tanpa ekspresi berdiri berjaga.
"Bos Reno sudah menunggu Anda, Tuan Rico," ucap salah seorang pria dengan nada hormat.
Rico mengangguk, lalu membuka pintu ruangan tersebut. Di dalamnya, seorang pria paruh baya dengan wajah penuh bekas luka sedang duduk di belakang meja kerjanya yang berantakan. Aroma asap rokok memenuhi ruangan, menciptakan kesan yang suram dan misterius.
"Bagaimana perkembangannya, Reno?" tanya Rico tanpa basa-basi, suaranya tegas dan penuh tuntutan.
Pria itu, yang bernama Reno, tersenyum tipis dan menyeringai, memperlihatkan giginya yang tidak rata. "Saya punya sedikit kabar baik untuk Anda, Tuan Rico. Setelah bertahun-tahun mencari, kami akhirnya mendapatkan petunjuk yang cukup meyakinkan tentang keberadaan adik Anda."
Rico menahan napas, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. Ia sudah terlalu lama menantikan kabar ini, hingga ia hampir kehilangan harapan.
"Katakan! Jangan bertele-tele!" desak Rico dengan nada tidak sabar.
Reno menghela napas, lalu melanjutkan penjelasannya dengan tenang. "Menurut informasi yang kami dapatkan dari informan terpercaya, bayi yang hilang itu dititipkan di sebuah panti asuhan yang terletak di daerah pegunungan yang terpencil. Panti asuhan itu sudah lama ditutup karena kasus penelantaran anak, namun kami masih berusaha mencari tahu keberadaan orang-orang yang terlibat dalam kasus tersebut. Kami menduga, seseorang sengaja menyembunyikan identitas adik Anda."
Rico mengepalkan tangannya di atas meja, berusaha menahan emosi yang meluap-luap dalam dadanya. Ia merasa marah, sedih, dan frustrasi. Bertahun-tahun ia hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan, dan kini ia akhirnya mendapatkan petunjuk yang bisa membawanya menuju kebenaran.
"Cari tahu segalanya! Aku ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini! Aku ingin tahu di mana adikku sekarang! Aku akan membalas semua yang telah mereka lakukan!" perintah Rico dengan nada penuh amarah dan tekad.
Reno mengangguk, ekspresinya serius dan penuh pengertian. "Tentu, Tuan Rico. Kami akan mengerahkan semua sumber daya yang kami miliki untuk mengungkap kebenaran dan menemukan adik Anda."
Setelah Reno undur diri, Rico duduk terdiam di kursinya, menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan masa lalu, saat ia masih kecil dan bermain bersama adiknya halaman rumahnya. Ia teringat akan senyum ceria adiknya, tawa riangnya, dan pelukannya yang hangat. Kenangan itu bagaikan luka yang kembali menganga, mengingatkannya akan kegagalan dirinya sebagai seorang kakak.
"Aku akan menemukanmu, Adik. Aku janji. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi," bisik Rico lirih, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia bersumpah, ia akan melakukan apa pun untuk menemukan adiknya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya gadis itu, meskipun itu berarti ia harus menghadapi masa lalunya yang kelam.
Perlahan, Rico meraih dompet kulit usangnya dan membukanya. Di dalamnya, tersimpan sebuah foto buram seorang anak perempuan dengan rambut dikepang dua dan senyum polos yang menawan. Foto itu adalah satu-satunya yang ia miliki sebagai pengingat akan adiknya.
Rico menatap foto itu dengan tatapan penuh kerinduan dan kesedihan. Ia mengusap foto itu dengan lembut, seolah menyentuh wajah adiknya secara langsung.
"Di mana kamu sekarang, Dik? Apakah kamu baik-baik saja? Aku sangat merindukanmu," gumam Rico lirih, suaranya bergetar menahan tangis.
Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan adiknya tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan bahagia. Ia berharap, di mana pun adiknya berada, ia selalu dilindungi dan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Saat Rico membuka matanya kembali, setetes air mata jatuh menimpa foto tersebut. Ia segera menghapusnya dengan ibu jarinya, lalu menyimpan kembali foto itu di dalam dompetnya. Ia menggenggam dompet itu erat-erat, seolah menggenggam harapan terakhirnya.
Rico berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menyerah. Ia akan terus mencari adiknya, sampai ia menemukannya. Ia tidak akan membiarkan masa lalu menghantuinya. Ia akan menebus semua kesalahannya.
Bersambung...