NovelToon NovelToon
Benih Rahasia CEO Cassanova

Benih Rahasia CEO Cassanova

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Lari Saat Hamil / Single Mom / Ibu Pengganti / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:37.7k
Nilai: 5
Nama Author: serena fawke

“15 menit, lakukan semuanya untuk membuatmu hamil dalam kurun waktu itu! Saya tidak menerima waktu lebih dari itu”

Layla Anabella, wanita yang diselingkuhi oleh suaminya itu memilih menjadi ibu pengganti pasangan kaya raya yang tidak bisa punya anak karena sang istri mandul untuk membayar biaya pengobatan ibunya.

Namun, sang istri risih dengan keberadaan Layla dan menjebaknya sehingga Layla diusir karena melanggar perjanjian tanpa tahu kalau dirinya sudah mengandung benih pria itu.

7 tahun kemudian Layla berniat melamar kerja untuk biaya hidupnya dan putranya namun ternyata bos perusahaanya adalah pria itu.

Apa yang akan terjadi setelahnya? Apakah pria itu tahu kalau dia punya seorang putra yang sangat mirip dengannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon serena fawke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 18

”Saka, ini pegawai yang tadi mengunci Layla di toilet.” Johan menunjuk pegawai yang kini sudah menunduk ketakutan, apalagi setelah Saka masuk atmosfer ruangan menjadi benar benar menegangkan.

Wajah Saka terlihat marah bukan main. Rahangnya mengeras dan sorot matanya sangat tajam. Entahlah apa itu murni karena marah dengan orang orang kurang ajar atau marah karena melihat Layla berbicara dengan mantan suaminya itu.

Yang pasti adalah, Saka benar benar murka saat ini dan tidak ada yang bisa selamat dari kemarahan pria ini.

Saka berdiri di tengah ruangan besar lantai sepuluh, dikelilingi para staf yang sengaja berkumpul setelah mendengar berita heboh tentang insiden Layla. Di hadapannya, tiga pegawai yang baru saja dituduh mengunci Layla di toilet berdiri dengan tubuh gemetar. Wajah mereka penuh ketakutan, tapi tak ada satu pun dari mereka yang berani membuka mulut terlebih dahulu.

Saka melangkah mendekati mereka, tangan di saku, tatapannya tajam menusuk. Ia tak perlu meninggikan suara untuk membuat udara di ruangan itu terasa dingin.

“Siapa yang memulai?” tanyanya singkat, suaranya datar tapi jelas membawa ancaman.

“P-pak Saka… Kami… Kami hanya bercanda,” salah satu dari mereka berani membuka mulut, meski suaranya nyaris tenggelam.

“Bercanda?” Saka menatap wanita itu dengan tajam, bibirnya melengkung tipis menjadi senyum penuh ejekan. “Menurutmu, membuat seseorang menangis ketakutan di kegelapan itu bercanda? Membiarkan seorang wanita terkurung selama satu jam, itu lucu?”

“Tidak, Pak! Kami tidak bermaksud—”

“Cukup,” potong Saka dengan suara dingin. “Saya tidak butuh alasan. Saya ingin jawaban. Siapa yang memulai?”

Ketiga orang itu terdiam, menunduk dengan wajah pucat. Salah satu dari mereka mencoba berbicara, tapi kata-katanya tercekat di tenggorokan.

Saka melangkah lebih dekat, suaranya semakin rendah namun tajam. “Kalian pikir saya tidak tahu? Ada kamera di setiap sudut gedung ini. Saya bisa melihat semuanya. Tapi saya ingin mendengar pengakuan langsung. Jadi, siapa?”

Wanita di tengah mulai menangis, tangannya gemetar memegang lengan bajunya sendiri. “S-saya, Pak…” akhirnya ia berbisik.

Saka mengangguk pelan, lalu melirik dua orang lainnya. “Dan kalian ikut-ikutan. Apa kalian tidak punya otak untuk berpikir sendiri, atau kalian hanya pengecut yang senang mengikuti kebodohan orang lain?”

“Pak Saka, mohon maafkan kami,” pria di sebelahnya mencoba memohon. “Kami tidak bermaksud menyakiti Bu Layla. Kami tidak tahu kalau—”

“Tidak tahu?” Saka memotong lagi, suaranya mulai naik satu tingkat. “Kalian bekerja di bawah perintah saya, dan saya tidak mempekerjakan orang yang tidak tahu perbedaan antara bercanda dan menyiksa. Kalau kalian tidak tahu, maka kalian tidak pantas ada di sini.”

“Pak, tolong… Beri kami satu kesempatan lagi…” wanita itu kini berlutut, air matanya mengalir deras.

Saka memandang mereka dengan ekspresi dingin, tak sedikit pun tergerak oleh tangisan atau permohonan mereka. “Saya tidak peduli tangisan kalian. Tidak ada tempat bagi kalian di perusahaan ini.”

Saka melirik Johan, yang berdiri di dekat pintu. “Panggil keamanan. Seret mereka keluar sekarang juga”

Ketiga orang itu langsung panik. “Pak Saka! Tolong, kami tidak punya pekerjaan lain! Kami mohon!”

Namun, Saka tidak bergeming. “Itu bukan urusan saya,” jawabnya singkat. “Hidup adalah tentang pilihan. Dan kalian memilih untuk melakukan hal bodoh. Jangan salahkan orang lain atas konsekuensinya.”

Ketika keamanan datang dan mulai menyeret ketiganya keluar, Saka memutar tubuhnya menghadap semua staf yang menyaksikan adegan itu. Pandangannya dingin, penuh wibawa.

“Dengar baik-baik,” katanya dengan nada rendah namun menggema di ruangan itu. “Jika ada di antara kalian yang berpikir untuk mencoba hal yang sama, kalian akan bernasib seperti mereka. Saya tidak akan memberi peringatan kedua.”

Ruangan itu sunyi senyap. Semua orang menundukkan kepala, tak berani menatap langsung ke arah pria yang kini terlihat lebih seperti raja daripada bos mereka.

Saka diam sejenak, memastikan semua orang memahami ancamannya, sebelum akhirnya berjalan menuju lift dengan langkah mantap. Johan mengikutinya dari belakang tanpa berkata apa-apa, sementara di belakang mereka, atmosfer tegang masih terasa menggantung.

Tidak ada seorang pun yang berani membicarakan insiden ini, tapi satu hal yang pasti: tidak ada yang akan pernah berani mengusik Layla lagi.

”Jo aku pulang sekarang, Meira berulah lagi nanti malam aku akan lembur.” Saka berucap pertanda meminta Johan tidak perlu mengikutinya lagi.

Johan menatap punggung sahabatnya itu dengan tatapan sendu. ”Entah sudah berapa lama hidupnya menderita seperti itu,” gumam Johan sembari menarik mengembuskan napasnya kasar.

**

Cahaya lampu di teras mansion menerangi Bugatti Chiron hitam yang baru saja berhenti. Saka melangkah turun dengan tenang, jas hitamnya tetap rapi meskipun perjalanan panjang baru saja dilalui. Penjaga dan pelayan yang berbaris rapi di sepanjang jalan masuk segera menunduk hormat.

“Selamat datang, Tuan,” suara mereka serempak, penuh kehormatan.

Tanpa banyak bicara, Saka hanya mengangguk tipis dan melangkah masuk ke dalam mansion. Sebelum sempat mencapai pintu utama, kepala pelayan mendekatinya dengan langkah tergesa. Ekspresinya tegang, seolah sedang membawa kabar yang sulit disampaikan.

“Tuan,” ucap kepala pelayan dengan nada rendah, “Nyonya Meira...”

Saka menghentikan langkahnya. Wajahnya tetap dingin, tapi sorot matanya tajam. “Diaman dia sekarang?” tanyanya singkat.

“Nyonya ada di ruang tamu. Kami sudah menyingkirkan semua barang yang mudah pecah sesuai perintah Anda, Tuan,” jawab kepala pelayan hati-hati. “Tapi Nyonya menemukan foto pernikahan Anda dan… membantingnya. Barang-barang lain juga ikut berantakan.”

Saka menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Rahangnya mengeras, tapi ia tetap melangkah masuk. Suara kaca pecah terdengar dari ruang tengah, diikuti oleh suara tangisan wanita.

“MAS! Sampai kapan aku harus begini?!”

Saka berhenti di ambang pintu ruang tengah, menatap kekacauan di depannya. Meira berdiri di tengah ruangan, napasnya memburu, dengan wajah merah karena marah. Foto pernikahan mereka tergeletak di lantai, kacanya pecah menjadi serpihan.

“Meira,” panggil Saka dengan suara rendah tapi tegas.

Meira menoleh, matanya yang berkaca-kaca menatap Saka penuh emosi. “Akhirnya pulang juga? Seperti biasa, kamu datang dengan wajah itu, dingin, seolah semua ini tidak penting!”

“Sayang, cukup,” potong Saka, langkahnya mendekat ke arah Meira. “Berhenti bergerak kamu bisa terluka,” lirih Saka.

Meira tertawa kecil, getir. “Aku sudah muak, Mas! Sudah bertahun-tahun aku mencoba! Semua cara sudah aku lakukan, tapi aku tetap mandul!”

Saka terdiam, menatap Meira tanpa ekspresi. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, tapi ia mencoba menahan amarahnya.

“Kamu tahu sendiri, Mas!” Meira melanjutkan dengan suara meninggi. “Kakekmu itu hanya peduli pada cicit! Kalau aku tidak bisa hamil, apa gunanya aku di mata keluarga besar ini? Warisan itu akan jatuh ke tangan orang lain!”

Saka berusaha mendekat hendak memeluk istrinya itu tetapi wanita itu mendorongnya cepat. ”Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak ingin memiliki anak jika kamu tidak bisa. Aku tidak peduli tentang itu, aku suamimu, meira aku tidak masalah dengan kondisimu apa lagi yang harusnya kau pikirkan, hm?”

Meira menatapnya dengan mata terbelalak, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Kamu gak tau apa pura pura gak tau?cIni soal kehormatan kita! Kalau aku tidak bisa memberikan cicit untuk keluarga besar, Mas pikir aku akan tetap dihormati?”

Saka mendekat, langkahnya mantap meskipun pecahan kaca berserakan di lantai. Ia membungkuk untuk mengambil salah satu serpihan kaca besar di dekat kakinya, tapi pecahan itu melukai telapak tangannya. Darah segar langsung mengalir, namun ia tidak peduli.

”Sayang, berhenti mengkhawatirkan itu. Jika ini tentang uang aku benar benar menjamin kita tidak akan kekurangan, masalah kakek aku sudah mengatakan tolong beri aku waktu bukan? Kita barusaja kembali dari Amerika.”

Meira lagi lagi tertawa sinis seakan dialah yang paling menderita di dunia ini. ”Adikmu sebentar lagi akan kembali. Apa kamu akan diam saja melihat orang yang sudah membunuh orangtuamu menjadi ahli war—

”MEIRA!” bentak Saka tanpa ia sadari. Darahnya mendidih dan kesabarannya sudah habis tidak seperti dirinya yang biasanya sabar dengan tingkah istrinya ini. Tangannya mengepal dan rasanya seluruh tubuhnya bergetar.

Karena tak kuasa menahan amarahnya lagi dan takut melukai istrinya Saka langsung melenggang pergi darisana meninggalkan Meira yang menangis sendirian disana.

1
Abhy JR
langjut
Ma Em
Layla jgn diam saja lawan Meira karena Meira ketakutan diceraikan Saka maka Meira mengancam mu Layla lebih baik beritahu Saka akan kebenarannya agar Saka bisa melindungi mu dan Farel.
Adinda
saka kamu mengusir dan menelantarkan layla bertahun tahun tanpa nafkah layla bukan istrimu lagi
Adinda
layla bukan istrimu lagi karena kamu sudah menelantarkan selama bertahun tahun tanpa nafkah lahir dan bathin
Rafly Rafly
petugas damkar tongong..eh..tolong..ada orang dan bekap mulutnya../Tongue/
Ma Em
Saka tolongin Layla jgn sampai celaka mungkin orang2 suruhan Meira semoga Layla tdk apapa , thor tolong selamatkan Layla.
tariusgilrs♐
omo layla diculik 😱😱
Ma Em
Semoga Saka segera mengetahui bahwa Farel adalah anaknya , Layla cepatlah beritahu Saka bahwa Saka mempunyai seorang anak dgn Layla jgn ditunggu lama2 lagi.
Rafly Rafly
itu ayah mu Farrel
anonim
selalu menunggu update nya
Ma Em
Sudahlah Saka untuk apa kamu msh mau bersama Meira lebih baik kamu ceraikan saja Meira serta Saka lebih baik bersama Layla karena Saka dan Layla sdh ada anak yg akan menyatukan kamu Saka dgn Layla
Nursita Ita
up banyak2
Ma Em
Layla beritahu Saka bahwa Saka punya anak dgn Layla namanya Farel dulu Layla pergi karena dijebak Meira saat Layla sedang hamil Farel sdh ceritakan semuanya pada Saka jgn ditutup tutupi lagi tentang kelicikan Meira
Nursita Ita
up terus saya suka sekali dengan ceritanya
Ma Em
Benar kata ibumu Layla Saka berhak tau bahwa Saka mempunyai seorang putra jgn diumpetin lagi agar Farel dan juga Layla serta ibumu bisa terjamin hidupnya dan pasti Farel adalah seorang pewaris
Ma Em
Semoga Saka segera tau bahwa Saka mempunyai seorang putra dgn Layla.
Ma Em
Akhirnya Saka dan Layla akan bersatu kembali dan mungkin Farel akan punya adik lagi dan semoga Saka segera tau bahwa Saka punya anak dengan Layla seorang anak yg ditunggu tunggu oleh keluarga Saka sebagai penerus keluarga Hirawan untuk Meira mah mending dicerai saja yg bisanya cuma ngamuk2 dan menghabiskan uang Saka saja
Rafly Rafly
farel bakal punya adik nih
Rafly Rafly
akhirnya adik Farrel mulai di proses /Drool/
kesyyyy
geregetan sama sakaa🤐🤐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!