IG: margaretraegis
Season 1 END , now S2 Oliver
Partnya emamg banyak tapi pendek 😁 Jangan keder ama part banyak ya
Usia 47 disangka 30an, aki-aki tapi daun muda ini rebutan kue terakhir dengan Anita, diskon lagi.
“Nah, buat kamu.”
“Gak usah.” Aku melenggos, mementahkan tawarannya begitu saja.
“Bener gak mau?” Dia masih memamerkan senyumannya.
“Gak. Thanks.”
“Ini gratis lho, gak usah bayar ke saya.”
“Gue gak suka gratisan.”
“You gak suka gratisan, tapi seneng diskon. Oke-oke, got it.” Kutu kupret! Cari masalah nih kutu.
“Ehhh, kutu... “ Baru mau nyembur dia udah angkat tangan.
Begitulah kisah pertemuan pertama mereka. Bagaimana bisa Anita akhirnya berkenalan lebih dekat dengan aki-aki ganteng ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18. Dia Pacar Gue 4
Mak tahu penderitaan kalian ngeliat gambar ini, sama menderitanya ngehalu pengen nyolek Kevin dan Papa Bear tapi gak dapet, wkwkwk...
Bayangin gimana bisa duduk disampingnya itu menderita, pake bangetttt 🤣🤣🤣
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=**💚💛💙***\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kami sudah menghabiskan steak kami, dia menawariku minum sedikit wine, jadi mataku agak berbinar-binar ngeliat koko ini sekarang. Dia yang memilih restoran ini dan menolak dibayar kemudian.
“Gak pantes kamu yang dibayarin, simpan saja uang kamu.”
“Tapi kan ...”
“Gak ada tapi-tapi.” Dia langsung menaruh kartunya di cardholder dan memberikannya kepada pelayan yang bertugas. Terserah dia sajalah. Aku senang-senang saja dibayari.
“Ko, ...” Aku bertopang dagu melihatnya didepanku.
“Hmm?” Dia duduk santai saja menjawabku. Setelah pembicaraan personal yang melewati batas tadi, semuanya lebih gampang.
“Pernah bunuh orang sebagai ketua geng.” Dia meringis melihatku.
“Itu perintah boss, mungkin orangnya sampai masuk UGD dulu, entah gak tahu kelanjutannya. Kalo sekarang gak pernah berantem di jalan lagi, sudah bukan masanya.” Aku bayangin dia pada masa mudanya bawa tongkat bisbol, pake kalung rantai, berkeliaran di Kowloon kaya film-film Triad Hongkong. “Kenapa memang?”
“Gak, seneng aja punya Koko yang bisa berantem...” Dia melihatku, menakar perkataanku.
“Kamu itu kena alkohol dikit saja bicaranya lancar ya...” Aku ketawa, aku sebenarnya memang bukan orang yang kuat kena alkohol.
“Kan ke koko sendiri.” Aku tergelitik bertanya lebih jauh. “Weekend gak kencan Ko?”
“Gak.” Dia tidak melihatku sama sekali waktu menjawabku.
“Punya pacar gak Ko.”
“Gak.” Aku rasa gak sepenuhnya benar gaknya. Dia sembarangan jawab aja, gak percaya, mana mungkin gak punya cem-ceman.
“Iyakah?”
“Kenapa emang?” Aku terkikik.
“Gak, cuma penasaran aja kok.” Aku mengamati dengan lekat ekspresinya mengulik Koko ketemu gede ini menyenangkan. Lagipula aku tak perlu khawatir dia macam-macam, dia mana berani mikir macem-macem, kan aku anak brothernya, bisa diputus hubungan keluarga dia. Bisa di tendang Big Brothernya kalo macem-macem, udah dipesenin jaga, malah di apa-apain kan cari perkara. Jadi aku gak takut deket-deket dia.
“Mau dessert gak.” Dia berusaha mengalihkan perhatianku. “Apa mau pulang aja?’ Ternyata dia sama tidak nyamannya dengan aku ketika dikulik masalah pribadi. Aku emang kelewatan kayanya, meringis sendiri dalam hati.
“Boleh...” Aku melihat buku menu disamping kami?
“Ehh ada cheese cake, mau ini aja deh.” Sesudah pelayan pergi aku memandang beberapa orang yang berlalu lalang di restoran mahal ini, kebanyakan bersama pasangannya, ini akhir pekan, banyak yang menghabiskan waktu berdua. Aku melewatkan banyak tawaran kencan seperti ini. Melihat mereka yang bahagia seperti itu kadang iri juga.
“Jangan melototin orang pacaran. Cari pacar yang bener sana. Kenalin saya dulu, background checking sama saya.” Aku ketawa, mesti ada verifikasi indentitas dulu kayanya ini.
“Ohh bisa check background orang Ko.”
“Bisa. Kerjaan gampang.” Aku tak heran dia bisa melakukan background checking dengan latar belakang seperti itu, diam lagi, bertopang dagu memainkan gelasku menyesap wine di gelasku. “Mau dikenalin cowo?” Hmm, males, kenalan sama orang itu canggung kadang, mesti mikirin pacaran, mesti mikirin kesukaan dia, mesti mikirin berantem gak cocok. Lebih baik ngejar bonus aja, bisa ngajak Mama jalan-jalan jauhan.
“Gak.” Langsung kujawab tanpa keraguan.
“Kenapa?”
“Males proses kenalan, canggung, gak tahu cocok apa engganya, ngabisin waktu. Lebih baik ngejar bonus tahunan.” Si Koko senyum, dia pasti tahu apa yang gue maksud.
“Gak takut hidup sendiri?”
“Ada Mama...”
“Kalo Mama gak ada lagi bagaimana.”
“Ya sendiri aja...”
“Yakin?”
“Entahlah, liat aja nanti Ko.” Gue angkat bahu, tidak suka membayangkan masa depan. Hanya lakuin yang terbaik sekarang dan menikmati hidup.
“Jangan menutup diri begitu. Nanti kamu nyesel, gak ada salahnya nyoba kenalan dengan orang, coba nerima orang lain.”
“Bilang hal yang sama buat lu sendiri Ko.”