NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan Pertama

Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui celah gorden apartemen yang berdebu, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara pengap Pulogadung. Suara klakson kendaraan dari jalan raya di bawah mulai bersahut-sahutan, menandakan Jakarta telah bangun, tidak peduli pada badai yang sedang disiapkan di dalam unit lantai dua belas ini.

Alea terbangun dengan leher kaku. Ia mengerjap, menyadari dirinya masih mengenakan sepatu. Di sudut ruangan, Reno tampak tertidur telungkup di depan meja kerja daruratnya, dengan dengkur halus yang menandakan kelelahan luar biasa. Namun, kursi di depan monitor utama kosong.

Alea bangkit, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat tidak melihat Baskara. Ia melangkah menuju dapur kecil yang hanya berisi wastafel berkarat dan sebuah kompor gas satu tungku. Di sana, ia menemukan Baskara berdiri di dekat jendela kecil, menatap ke arah kerumunan gedung pencakar langit di pusat kota yang terlihat samar tertutup polusi.

“Kau tidak tidur?” bisik Alea.

Baskara tidak menoleh, tapi bahunya sedikit turun. “Dunia tidak berhenti berputar saat kita menutup mata, Alea. Bursa saham dibuka tiga puluh menit lagi. Reno sudah mengatur pengiriman otomatis ke beberapa portal berita ekonomi independen.”

Alea mendekat, berdiri di samping Baskara. Pria itu tampak sangat letih; ada lingkaran hitam di bawah matanya, tapi auranya tetap setajam silet. Alea memperhatikan jemari Baskara yang memegang cangkir kopi plastik, sedikit gemetar—sebuah tanda manusiawi yang jarang Baskara tunjukkan.

“Kau bilang dunia berhutang pada kita,” ujar Alea, mengutip kata-kata Baskara semalam. “Tapi, apakah menagih hutang itu harus dengan menghancurkan dirimu sendiri juga? Kau tampak seperti belum bernapas sejak kita meninggalkan Tambora.”

Baskara menoleh perlahan. Sorot matanya yang biasanya penuh perhitungan, kini terlihat goyah sesaat. “Bernapas adalah kemewahan bagi orang-orang yang punya tempat untuk pulang, Alea. Aku tidak punya. Sejak ibuku pergi, aku hanya punya misi.”

Alea memberanikan diri menyentuh lengan jas Baskara yang kini kusut. “Dulu aku menganggapmu monster yang datang untuk merusak keluargaku. Tapi sekarang... melihatmu di sini, melindungiku, aku merasa kita sedang berada di perahu yang sama di tengah badai. Dan aku tidak ingin perahu ini tenggelam hanya karena kaptennya lupa cara beristirahat.”

Baskara menatap tangan Alea di lengannya. Ia seharusnya menarik diri. Ia seharusnya mengingatkan dirinya sendiri bahwa Alea adalah bagian dari rencana, sebuah instrumen untuk mencapai tujuannya. Namun, kehangatan tangan Alea seolah menembus lapisan pelindung es yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.

Keheningan di antara mereka pecah saat Reno tiba-tiba mengerang dan terjatuh dari kursinya.

“Bas! Mulai!” teriak Reno sambil terengah-engah, berebut kembali ke depan layarnya. “Lihat ini! Saham Mahardika Group dibuka melemah dua poin. Berita tentang ‘Ketidakkonsistenan Aset Hijau’ mulai merayap di kolom komentar Bloomberg dan Reuters. Para investor mulai bertanya-tanya.”

Baskara segera kembali ke mode tempur. Ia mendekati monitor, matanya berkilat melihat grafik merah yang mulai menukik. “Bagus. Sarah pasti sedang mencoba menelepon para pemimpin redaksi sekarang. Dia akan menggunakan strategi klasik: pengalihan isu. Dia akan mencoba memunculkan berita lain untuk menutupi ini.”

“Tapi kita punya remah-remah yang lebih besar,” Alea menyela, ia duduk di sebelah Reno. “Gunakan data ‘Asset Stabilization’ yang kita temukan semalam. Di sana ada draf kontrak dengan firma hukum fiktif yang digunakan Sarah untuk menyetor uang tutup mulut kepada para korban penggusuran lahan tahun 95. Jika itu keluar, isu etika bank internasional akan meledak.”

Baskara mengangguk, namun pikirannya terbagi. Ia melihat Alea yang begitu antusias membantunya—gadis yang seharusnya ia benci, kini justru menjadi rekan paling tajam yang ia miliki. Rasa bersalah yang asing mulai merayap di hati Baskara. Jika dia tahu ayahnya juga terlibat dalam kematian orang tuanya, apakah dia masih akan menatapku seperti ini?

“Reno, tahan dulu draf firma hukum itu,” perintah Baskara tiba-tiba.

Reno dan Alea menoleh serentak. “Kenapa? Ini momen yang pas, Bas!” protes Reno.

“Terlalu cepat,” jawab Baskara dingin, mencoba menyembunyikan keraguannya. “Sarah akan segera melacak asal unggahan jika kita terlalu agresif. Kita butuh dia merasa terpojok, tapi tidak sampai membabi buta. Jika dia merasa tidak punya jalan keluar, dia akan melakukan sesuatu yang nekat pada kita... atau pada ayahnya.”

Alea mengerutkan kening. “Maksudmu, ayahmu dalam bahaya?”

Baskara terdiam. Hubungannya dengan ayahnya adalah luka yang tak pernah sembuh. “Hendra Mahardika adalah pria yang lemah, Alea. Di tangan Sarah, dia hanya boneka. Tapi boneka yang sudah rusak biasanya akan dibuang. Aku tidak ingin Sarah melenyapkan ayahku sebelum dia mengakui semua dosanya padaku... dan padamu.”

Alea merasakan ketulusan di balik nada bicara Baskara yang kasar. Ia menyadari bahwa di balik rencana balas dendam yang megah ini, Baskara hanyalah seorang anak yang ingin keadilan bagi ibunya. Tanpa sadar, Alea menggenggam tangan Baskara di bawah meja.

“Kita akan melakukannya bersama-sama,” bisik Alea.

Baskara tidak melepas genggaman itu. Untuk pertama kalinya, fokusnya bukan pada angka di layar, melainkan pada kehangatan kecil di telapak tangannya. Namun, momen itu terganggu oleh bunyi notifikasi darurat dari ponsel Reno.

“Bas, gawat,” wajah Reno pucat. “Sarah tidak melakukan pengalihan isu lewat berita bisnis. Dia melakukan sesuatu yang lebih gila.”

Reno memutar layar laptop ke arah mereka. Di sana, sebuah siaran langsung berita nasional menampilkan Sarah Mahardika yang sedang terisak di depan mikrofon, berdiri di depan lobi kantor pusat Mahardika.

“Putra tiri saya, Baskara Mahardika, telah menculik putri saya, Alea,” ujar Sarah dengan suara bergetar yang sangat meyakinkan. “Baskara menderita ketidakstabilan mental sejak kematian ibunya dan sekarang dia membawa Alea entah ke mana. Saya memohon kepada siapa pun yang melihat mereka, tolong bantu saya menyelamatkan putri saya. Baskara, tolong... bawa Alea pulang. Ibu memaafkanmu, Nak.”

Alea menutup mulutnya dengan tangan, tidak percaya pada sandiwara yang ia lihat. “Dia... dia mengubah kita menjadi kriminal nasional.”

Baskara berdiri, rahangnya mengeras. “Dia baru saja mempercepat permainan. Sekarang, kita bukan lagi pembongkar rahasia. Kita adalah buronan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!