Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Kejutan
Hari itu, Suasana terasa berbeda. Langit biru bersih tanpa awan, angin sepoi-sepoi menyebarkan bau bunga melurah dari taman tetangga, dan matahari memancarkan cahaya yang hangat namun tidak menyakitkan. Untuk Rara, 28 tahun, ini adalah hari yang dia tunggu-tunggu selama setahun—hari di mana Rama, pria yang mencintainya dengan sepenuh hati, akan melamarkannya.
Dia berdiri di tengah taman bunga Bukit Mutiara, yang dipersiapkan khusus oleh Rama dan teman-temannya. Taman itu dipenuhi bunga mawar merah, bunga matahari, dan anggrek hitam—bunga kesukaannya yang dia ceritakan kepada Rama hanya sekali, tapi dia ingat. Di kejauhan, gunung-gunung Sorong berdiri gagah, diselimuti kabut tipis yang membuat pemandangannya lebih indah.
"Tiba waktunya," bisik teman Rara, Siti, sambil menepuk bahunya.
Rama muncul dari balik pohon beringin, memegang seikat bunga mawar merah yang besarnya hampir menutupi wajahnya. Dia berjalan pelan ke arah Rara, matanya penuh cinta dan harapan. Setiap langkahnya membuat jantung Rara berdebar lebih kencang—dia sudah siap untuk mengatakan "ya" tanpa ragu.
"Rara," ujar Rama, suaranya lembut tapi tegas. "Sejak pertama kali aku melihatmu di kedai kopi Kedai Biru dua tahun yang lalu, aku tahu bahwa kamu adalah wanita yang akan mengisi kekosongan di hatiku. Kamu yang selalu mendukungku saat kerja sulit, yang selalu menertawakan lelucon bodohku, yang selalu ada di saat aku butuh. Maukah kamu menjadi istriku, berbagi semua suka dan duka, dan membangun masa depan yang indah bersama?"
Rara menangis senyum, tangannya terangkat ke mulutnya. Dia mengangguk dengan kencang, suaranya terengah-engah karena nangis. "Ya, Rama! Tentu saja ya! Aku mau banget! Aku mencintaimu, Rama, lebih dari apapun di dunia ini!"
Saat Rama meletakkan cincin berlian kecil di jari tangannya, semua teman dan keluarga yang ada disana bersorak, membunyikan peluit, dan melemparkan bunga kertas. Rara merasa seperti berada di awan—semua impiannya akan terwujud. Dia membayangkan masa depan dengan Rama: rumah kecil dengan taman bunga, liburan ke pantai setiap tahun, dan anak-anak yang mereka lahirkan bersama, bermain di taman sambil dia memasak makanan kesukaannya.
Tapi di balik senyum lebar Rama, Rara melihat sesuatu yang tersembunyi. Mata dia sesekali melayang ke arah pintu taman, seolah menunggu seseorang. Rara merasa sedikit curiga, tapi dia membuangnya ke belakang—hari ini adalah hari bahagia, dia tidak mau merusaknya.
Malamnya, setelah semua tamu pulang, mereka duduk di teras rumah Rama minum teh hangat. Udara sejuk Sorong menyemprot wajah mereka, dan bintang-bintang bersinar terang di langit. Rama mengangkat muka, wajahnya tiba-tiba serius. Keringat mulai muncul di dahinya, dan dia menegangkan jari-jarinya.
"Cinta... ah, Rara," ujarnya, kesulitan menemukan kata-kata. "Ada sesuatu yang harus kubilang. Yang aku sembunyikan dari kamu selama ini. Aku takut kamu marah, tapi kamu berhak tahu."
Rara merasa jantungnya berdebar kencang, seperti mau melompat keluar. Dia menggenggam cangkir tehnya dengan erat. "Apa ya, Rama? Jangan bikin aku takut."
"Aku... aku punya anak, Rara. Namanya Lila. Umurnya tujuh tahun. Ibunya, Siti—ya, namanya sama dengan temanmu—meninggal karena sakit kanker dua tahun yang lalu."
Kata-kata itu seperti kilat yang menyambar Rara tepat di hati. Dia terkejut, kecewa, dan takut—semua rasa itu datang sekaligus. Dia melihat Rama dengan mata yang penuh kebencian dan kecewa. Bagaimana bisa pria yang dia cintai menyembunyikan hal sebesar itu dari dia selama setahun?
"Kenapa kamu tidak bilang duluan, Rama?" tanyanya, suaranya pelan tapi penuh rasa sakit. "Kamu menyembunyikannya dari aku selama setahun. Bagaimana aku bisa percaya padamu sekarang? Semua yang kamu katakan tentang cinta dan masa depan—apakah itu semu?"
Rama menangis, tangannya memegang tangan Rara dengan erat. "Tidak, Rara. Semuanya itu benar. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku takut kehilanganmu—Lila adalah bagian dari kehidupanku, dia segalanya bagiku setelah Siti pergi. Aku tidak bisa meninggalkannya, tapi aku juga tidak bisa hidup tanpa kamu. Maaf, Rara. Maaf sebesar-besarnya."
Rara diam sejenak, memikirkan semua kemungkinan. Dia mencintai Rama, benar-benar mencintainya. Tapi apakah dia siap untuk menjadi ibu tiri? Apakah dia bisa mencintai anak orang lain seperti miliknya sendiri? Dia baru saja menyelesaikan studi magister di bidang sastra dan memulai karir sebagai penulis di majalah nasional—dia belum pernah berpikir akan menjadi ibu begitu cepat, apalagi ibu tiri.
Sebelum dia sempat menjawab, pintu depan rumah terbuka, dan seorang nenek dengan anak kecil di tangannya masuk. Anak itu memiliki rambut lurus hitam dan mata coklat tua yang sama dengan Rama—besar, cerah, tapi penuh waspada. Dia memegang boneka kucing putih yang kumal dengan jari-jarinya yang kecil, seolah itu adalah satu-satunya hal yang bisa melindunginya.
"Ini Lila, nak," ujar neneknya—nenek Rama—dengan senyum lembut yang penuh belas kasih. "Dia denger suara kamu berdua, jadi pengen keluar. Ini calon ibu barumu, Lila."
Lila menatap Rara dengan mata yang tajam, lalu menyembunyikan wajahnya di leher neneknya. Dia menggenggam baju neneknya dengan erat, seolah takut Rara akan menyentuhnya. Rara merasa hatinya tertekan. Dia berusaha tersenyum, tapi rasanya seolah tenggorokan dia tersumbat oleh benda berat. Ini adalah awal dari sesuatu yang sama sekali baru—dan sangat tak pasti.
Beberapa minggu kemudian, Rara masih bingung apa yang harus dilakukan. Dia pulang ke rumah orang tuanya di distrik Manokwari, untuk memikirkan dengan tenang. Orang tuanya menasihatkannya untuk meninggalkan Rama—mereka takut Rara akan kesulitan merawat anak orang lain dan akan terluka di kemudian hari. Tapi di hati Rara, dia tahu bahwa dia tidak bisa meninggalkan Rama begitu saja.
"Aku mencintainya, Bu," ujar Rara kepada ibunya, sambil menangis. "Tapi aku takut, Bu. Takut tidak bisa menjadi ibu yang baik buat Lila. Takut dia tidak akan menerimaku."
Ibu Rara memeluknya dengan lembut. "Cinta bisa mengatasi segala sesuatu, nak. Jika kamu benar-benar mencintai Rama dan bersedia mencintai Lila, maka semua akan baik-baik saja. Tapi ingat, ini bukan jalan yang mudah. Kamu harus bersabar dan kuat."
Setelah seminggu di Manokwari, Rara memutuskan untuk kembali ke Sorong. Dia akan mencoba—untuk Rama, dan juga untuk Lila yang tidak salah apa-apa. Dia tahu bahwa ini akan sulit, tapi dia bersedia untuk berjuang.
Dia mulai datang ke rumah Rama setiap sore setelah kerja, membawakan sesuatu untuk Lila: kadetulisan lucu dengan gambar kucing, mainan balok, buku cerita tentang putri yang menemukan teman, atau makanan kesukaannya—bakso dan es cendol. Awalnya, Lila selalu menjauh dari dia. Dia hanya diam di sudut ruang tamu, menatap Rara dari kejauhan sambil memegang boneka kucingnya yang bernama "Kiki".