NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:450
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Perjanjian di Bawah Bintang Amber

Malam di Navasari setelah kepergian Arlo tidak lagi terasa seperti malam-malam biasa. Udara di sekitar menara observasi masih menyisakan getaran energi yang membuat bulu kuduk meremang, namun rasa takut penduduk desa perlahan-lahan luntur, digantikan oleh rasa takjub yang kolektif. Untuk pertama kalinya dalam sejarah desa itu, mereka semua melihat ke satu arah yang sama: sebuah bintang baru berwarna kuning madu yang bersinar paling terang di ufuk utara.

Di dalam menara, Alana masih terduduk diam. Zona isolasinya berpendar lembut, menciptakan batas antara keajaiban yang ia miliki dan realitas yang ia tinggalkan. Ia menatap kompas kuningan di tangannya. Jarumnya bergetar pelan, menunjuk tegak lurus ke arah bintang amber itu sebuah pesan tanpa kata bahwa Arlo telah sampai di posisinya di Navigasi Langit.

"Dia sudah di sana, Alana," suara Elian memecah keheningan. Ia berdiri di balik kaca, menatap punggung Alana dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Alana berbalik perlahan. Mata indigonya tampak lebih tenang sekarang. "Dia bukan hanya di sana, Elian. Dia adalah langit itu sendiri sekarang. Aku bisa merasakan napasnya dalam setiap embusan angin yang masuk ke menara ini."

Elian mengangguk. Ia melangkah menuju jendela besar dan melihat ke arah bawah, ke jalan setapak yang menuju rumah kakek. Senter-senter penduduk desa mulai terlihat mendekat. Bu Ratna, para petani kopi, dan beberapa pemuda desa berjalan dalam iring-iringan yang sunyi. Mereka tidak membawa senjata atau alat sensor; mereka membawa bunga, lilin, dan hasil bumi.

"Mereka ingin penjelasan," kata Elian. "Mereka melihat badai tadi. Mereka melihat helikopter-helikopter itu jatuh. Mereka tahu kau adalah alasan di balik semua ini."

Alana berdiri, merapikan sweternya yang kini telah berpendar perak di bagian serat-seratnya. "Buka pintunya, Elian. Biarkan mereka masuk ke halaman. Aku tidak bisa menyentuh mereka, tapi mereka harus tahu kebenarannya."

Sesuai perintah Alana, Elian turun dan membuka gerbang rumah kakek Surya. Penduduk desa berkumpul di halaman, menatap menara observasi dengan campuran rasa hormat dan ngeri. Alana melangkah ke balkon menara, berdiri di balik perisai transparan yang membuatnya tampak seperti dewi yang terperangkap dalam botol kaca.

"Penduduk Navasari!" suara Alana menggema, bukan karena pengeras suara, tapi karena frekuensi indigonya yang memanipulasi udara di sekitarnya. "Kalian telah melihat apa yang terjadi malam ini. Dunia luar ingin mengambil apa yang kita miliki di sini. Mereka ingin mengubah rahasia langit menjadi senjata."

Keheningan total menyelimuti halaman. Bu Ratna melangkah maju, menatap Alana dengan air mata di matanya. "Alana, apa kau masih manusia yang sama yang meminum teh di kedaiku?"

Alana tersenyum sedih. "Aku adalah Alana yang sama, tapi jiwaku kini terikat pada janji yang dibuat kakekku dan Arlo. Aku berada di sini untuk melindungi kalian. Selama aku ada di menara ini, tidak ada badai, tidak ada musuh, dan tidak ada kegelapan yang bisa melukai Navasari."

Ia kemudian mengangkat tangannya ke langit. Seketika, pilar cahaya emas dari mercusuar menyebar, membentuk jaring-jaring cahaya tipis yang menaungi seluruh desa.

"Inilah perjanjian kita," lanjut Alana. "Kalian menjaga rahasia rumah ini dari dunia luar. Kalian menjadi mata dan telingaku di tanah. Sebagai imbalannya, langit akan memberikan perlindungan dan keberkahan bagi Navasari. Tidak akan ada lagi surat-surat yang hilang. Setiap doa kalian akan sampai ke atas sana melalui tanganku."

Satu per satu, penduduk desa berlutut atau menundukkan kepala. Mereka tidak menyembah Alana, melainkan menerima sebuah simbiosis baru. Navasari bukan lagi sekadar desa kopi; ia telah menjadi tempat perlindungan terakhir di bumi bagi keajaiban.

Malam itu, setelah penduduk desa pulang dengan hati yang tenang, Elian kembali naik ke menara. Ia membawa secarik kertas dan sebuah pena. Ia menempelkan kertas itu ke kaca isolasi.

Aku akan menjadi perantaramu, Alana. Aku akan mengurus semua urusan fisik di bawah sini. Tapi kau... kau harus berjanji satu hal.

Alana mengambil penanya dan menulis di balik kaca:

Apa itu?

Elian menatap mata indigo Alana dengan dalam.

Jangan pernah merasa sendirian di dalam sana. Meskipun kita tidak bisa bersentuhan, aku akan selalu ada di sisi lain kaca ini. Aku akan menjadi bukti bahwa kau masih memiliki rumah di bumi.

Alana meletakkan telapak tangannya di kaca, tepat di atas tulisan Elian. Ia merasakan kehangatan yang merambat melalui getaran molekul, meski kulit mereka tidak bersentuhan.

pemandangan dari kejauhan. Rumah kakek Surya di puncak bukit kini bersinar dengan pendaran indigo yang stabil. Di dalam menara, Sang Navigator mulai menulis surat resminya yang pertama sebagai penjaga dimensi. Bukan lagi surat cinta yang penuh keraguan, melainkan sebuah maklumat bagi semesta bahwa bumi kini memiliki pelindung baru.

Pertemuan telah berlalu, rahasia telah terungkap, dan sebuah tatanan baru telah terbentuk. Alana telah menemukan tujuannya, meski harganya adalah isolasi abadi di antara dua dunia.

 

 

Halaman rumah kakek Surya kini menyerupai sebuah katedral terbuka. Cahaya yang memancar dari menara observasi tidak lagi menyilaukan; ia telah melunak menjadi pendaran perak yang menenangkan, seolah-olah langit sedang bernapas dalam irama yang sama dengan degup jantung penduduk Navasari.

Alana berdiri di balkon, menatap wajah-wajah di bawahnya. Ada Pak Haji yang biasanya skeptis, kini memegang tasbihnya dengan takjub. Ada anak-anak kecil yang menunjuk-nunjuk ke arah bintang amber dengan mata berbinar. Navasari telah berubah dalam satu malam, dari sebuah desa yang terlupakan menjadi titik pusat bagi sesuatu yang melampaui logika manusia.

"Rahasia ini adalah beban," suara Alana menggema, lembut namun berwibawa. "Dunia di luar sana memiliki telinga yang sangat tajam untuk sesuatu yang tidak mereka pahami. Jika mereka tahu apa yang ada di sini, mereka akan datang lagi bukan dengan lampu sorot, tapi dengan alat yang bisa menghancurkan jiwa kita. Maukah kalian menjaga rumah ini sebagai rahasia terdalam kalian?"

"Kami akan menjaganya, Alana," jawab Bu Ratna mewakili yang lain. "Navasari selalu menjadi tempat bagi mereka yang mencari perlindungan. Jika langit memilihmu untuk menjaga kami, maka kami memilihmu untuk tetap di sini."

Setelah penduduk desa perlahan membubarkan diri dengan janji suci di hati mereka, Alana kembali masuk ke dalam Zona Isolasinya. Ia menatap ruangan yang kini menjadi seluruh dunianya. Di sudut ruangan, mesin pemancar tua kakek Surya mulai berdengung bukan karena listrik, tapi karena sinkronisasi dengan keberadaan Arlo di atas sana.

Elian masuk membawa sebuah kotak kayu besar. Ia meletakkannya tepat di perbatasan membran transparan. "Aku menemukan ini di gudang bawah tanah tadi. Kakekmu menyebutnya 'Kotak Filter'. Gunanya untuk menaruh barang-barang dari dunia luar agar kau bisa 'mengonsumsinya' tanpa merusak frekuensi ruangan ini."

Alana mencoba memasukkan tangannya ke dalam kotak itu. Ajaib, membran energinya tidak menolak. Ia bisa mengambil sebuah apel merah dari dalam kotak tanpa memicu ledakan statis.

"Terima kasih, Elian," bisik Alana. Ia duduk di kursi rotannya, menatap kompas kuningan yang diletakkan di atas meja. "Bagaimana dengan Jakarta? Polisi pasti akan terus mencari."

"Serahkan padaku," Elian meyakinkan. "Aku akan mengatur skenario agar mereka berpikir kau telah meninggalkan desa ini menuju hutan rimba dan menghilang di sana. Mobilmu akan ditemukan di jurang tanpa jasad. Bagi dunia, Alana sudah menjadi kenangan. Tapi bagi Navasari, kau adalah masa depan."

Malam semakin larut. Elian pamit untuk beristirahat di sofa ruang tamu bawah, bertindak sebagai penjaga gerbang fisik bagi Alana.

Alana kini sendirian di menaranya. Ia menengadah ke arah bintang amber Arlo. Ia mengambil pena kristalnya dan mulai menulis di atas permukaan meja yang kini berpendar. Ia tidak menulis di kertas lagi; ia menulis langsung pada "arus cahaya" yang mengalir di depannya.

Arlo, apakah kau melihatnya? Mereka menerima kita. Bumi dan Langit tidak lagi harus berperang.

Aku merasa sedikit takut, sendirian di dalam cahaya ini. Tapi melihat Elian di sana, dan bintangmu di atas sana, aku merasa memiliki dua jangkar yang kuat. Aku akan mulai menjalankan tugas pertamaku besok.

Aku akan menulis surat untuk orang-orang yang tersesat di luar sana, agar mereka tahu bahwa langit tidak pernah benar-benar jauh.

Tiba-tiba, kompas di mejanya berputar cepat. Jarumnya menunjukkan pola-pola yang bisa dibaca sebagai sandi Morse. Alana menerjemahkannya dalam hati: KAMI SELALU BERSAMAMU, NAVIGATOR.

Alana tersenyum, menyandarkan kepalanya di meja. Ia melihat pantulan matanya sendiri di permukaan kristal mata indigo yang kini menyimpan seluruh rahasia alam semesta.

Di luar menara, kabut Navasari turun dengan damai. Kotak pos kuningan di halaman belakang bergetar sejenak, lalu terkunci secara otomatis. Tidak ada lagi surat fisik yang akan datang. Mulai besok, semua surat akan datang melalui pikiran, melalui mimpi, dan melalui pendaran bintang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!