Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjara
Astrid dan bu Hemas terdiam saat tahu Hanin tetap meneruskan penyidikannya ke polisi atas keributan yang terjadi.. mereka cemas, takut mendengar ancaman hukuman 4 tahun dalam penjara.
"Hanin, kamu ya dasar nggak tahu diri berani-beraninya mau penjarakan kami, busuk hati kamu itu!, dasar udik!" ujar Astrid penuh emosi.
Hanin hanya diam, tidak menanggapi ocehan Astrid yang terus menghinanya.
"Bu Astrid.. jaga mulutnya, jangan sampai ada ucapan ujaran kebencian lagi mau tambah pasalnya, mau?" ujar polisi menakuti Astrid.
Astrid pun terdiam.
Bu Hemas yang juga berada di sebelah Astrid bicara, "Hanin.. kamu benar-benar nggak punya hati ya, ibu sudah tua kamu penjarakan, tega kamu.. ibu harus mengurus ayah Adrian yang sedang sakit," ujar bu Hemas.
"Bu, sekarang saya balik ya.. apa ibu punya hati waktu mas Adrian di desak ibu untuk menceraikan saya?, hinaan hinaan ibu pada saya?, apa saat itu ibu punya hati? Saya akan hubungi mas Adrian.. dan ceritakan kebusukan ibu dan kamu Astrid!!" ujar Hanin sambil telunjuknya menunjuk wajah Astrid di depannya.
"Heh.. kamu sekarang berani ya tunjuk-tunjuk aku, brengsek!" ujar Astrid sambil mau berdiri, 2 polwan pun datang menahan Astrid sambil memborgol tangannya, termasuk bu Hemas yang juga ingin menyerang Hanin.
"Apa ini.. lepasin, lepasin.." ujar Astrid dan bu Hemas yang tangannya sudah di borgol sambil di giring oleh polwan masuk ke dalam sel tahanan.
Setelah menyelesaikan berkas laporan sebagai korban, polisi menyuruh Hanin dan Amel untuk kembali pulang.
Tiba di rumah dengan berjalan kaki karena kantor polisi hanya berjarak 200 meter, mereka pun segera masuk ke dalam halaman..
"Mbak Hanin, gimana udah beres urusannya dengan mantan mertua?" tanya bu Santi tetangga Hanin dulu.
"Alhamdulillah bu, terima kasih sudah menolong saya tadi melaporkan ke polisi" ujar Hanin menyalami bu Santi.
"Sami-sami mbak Hanin, mereka memang pantas tidur di penjara" ujar bu Santi yang juga mengetahui watak mantan mertua Hanin itu.
Hanin dan Amel kini sudah ada di dalam rumah, mereka kelihatan lelah dengan kejadian tersebut hingga melibatkan polisi,
"Mel, mas Adrian mending kasih tahu atau nggak ya soal ini?" tanya Hanin.
"Mending kasih tahu aja mbak, terus terang aja soal kelakuan mereka tadi" ujar Amel sambil merapikan barang, Hanin mengangguk.
Hanin mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Adrian tapi tidak ada respon.. lalu Hanin menghubungi Davina pacar Adrian, "Assalamualaikum mbak Vina.. "sapa Hanin. "Waalaikumsalam mbak, apa kabar?" tanya Davina.
"Alhamdulillah baik.. ,maaf ya Vin apa mas Adriannya ada dengan kamu di sana?" tanya Hanin.
"Ooh nggak mbak, tadi sih dia biasa kerja terus rencananya mau beresin barangnya di rumah baru, begitu.." ujar Davina.
"Ooh gitu ya, oke kalau gitu saya titip pesan aja ya sampaikan kalau sekarang bu Hemas dan Astrid ada di kantor polisi, di sel, maaf yaa.. karena mereka berdua udah buat onar di rumahku, juga sempat menganiaya temanku" ujar Hanin.
"Hah.. masa sih mbak? kok bisa gitu ya" ujar Davina terkejut. "Mm, iya Vin.. ibu dan kakaknya mas Adrian kena pasal 310, 311 KUHP mengenai penghinaan pencemaran nama baik, begitu kata polisinya" ujar Hanin.
"Mm, segitunya ya mereka.. ibu mas Adrian kan sudah tua tapi kelakuannya, kaget saya mbak" ujar Davina di telpon.
"Ya begitulah Vin.. sejak lama mereka benci aku, karena aku orang kampung, orang udik, mandul nggak berguna katanya" ujar Hanin. Davina terdiam.
Mereka pun mengakhiri perbincangan.
Malam harinya, ponsel Hanin berdering.. Adrian menghubungi Hanin, "Assalamualaikum mas" sapa Hanin.
"Waalaikumsalam.. kamu nggak apa-apa Han?, tadi Davina cerita ke aku tapi kurang jelas.. "ujar Adrian. "Aku baik-baik aja mas" ujar Hanin.
"Begini mas kronologinya.. tadi pagi kan ibu dan Astrid ke rumah, nggak ngerti kenapa marah terus bentak-bentak Amel temanku jilbabnya juga di tarik sama Astrid padahal Amel udah tanya baik-baik maksud mereka kesini.. Amel kan kesal, tapi Astrid terus nyolot ngata-ngatain aku udik, kampungan di tambah ibu yang nyuruh Amel kayak pembantu untuk panggil aku..
terus aku keluar, tapi tanganku malah di tarik-tarik di seret sama ibu juga Astrid jadinya aku minta tolong.. ,untung ada tukang bangunan yang lagi kerja yang bantu lepasin tangan ibu, Astrid.. ada tetangga yang baik laporin ke polisi yang aku nggak tahu sebelumnya,
Polisi datang mas, sampai akhirnya kita semua pergi ke kantor polisi.. Astrid dan ibu kena kena pasal KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan, penghinaan, kekerasan juga ujaran kebencian..
Maaf ya mas, terpaksa aku harus meneruskan penyidikan soal ini karena aku sebagai korban, ibu dan Astrid sudah sangat keterlaluan.. Maaf ya mas sekali lagi" ujar Hanin.
"Mm, iya sudah nggak apa-apa.. aku bisa ngerti kok perasaan kamu Han, biar mereka berdua di sana dulu di kantor polisi supaya mereka sadar, biar ayah juga tahu masalah ini" ujar Adrian.
"Han, atas nama keluarga aku minta maaf ya soal kelakuan ibu dan mbak Astrid terhadap kamu, terima kasih infonya.. nanti aku ke kantor polisi" ujar Adrian.
"Sama-sama mas.. "ujar Hanin. Mereka pun mengakhiri perbincangan di telpon.
Malam harinya, Adrian mengendarai motor maticnya menuju kantor polisi dekat rumah Hanin untuk mengunjungi ibu dan kakaknya di sel tahanan..
Setelah tiba Adrian meminta ijin polisi menemui keluarganya yang di tahan, tampak polwan mendampingi ibu Hemas dan Astrid keluar dari sel menghadap Adrian,
"Adrian, pasti kamu di telpon si udik kampungan itu ya, ngadu apa dia ke kamu hah?" tanya bu Hemas, sedangkan Astrid pun cuek.
"Bu, udah dong bu.. jangan bilang udik, udik, kampungan terus nanti pasalnya bisa berlapis ibu mau begitu? Hanin bukan udik seperti yang ibu sangka, Hanin perempuan hebat.. mandiri, pengusaha wanita terbaik nasional lunya prestasi bu, jangan bilang seperti itu lagi Adrian mohon.." ujar Adrian.
"Halaah kamu ya Adrian, berani ya sama ibu.. terus kenapa kamu putuskan pertunangan dengan Sita heh?" ujar bu Hemas.
"Maaf bu, Adrian nggak mau bahas soal Sita lagi, jadi ibu nggak usah repot-repot ngomongin hal itu, nggak penting!" ujar Adrian lesu melihat sikap ibunya. Astrid pun melotot mendengar ucapan Adrian barusan.
"Heh, Adrian dasar ya kamu anak nggak berbakti sama ibu, anak durhaka ngerti?" ujar Astrid sewot.
"Apa mbak?, terus mbak anak sholehah gitu? berbakti gitu?, boro-boro sholehah.. sholat aja engga, hobinya menghina orang, mulut mbak juga kotor, sadar nggak mbak? kita sama-sama anak durhaka.." ujar Adrian santai.
Astrid langsung berdiri hendak menampar Adrian tapi tangan ibu Hemas menahan tangan Astrid. Adrian hanya tersenyum miring.
"Ya sudah ya bu, aku mau ke ayah dulu.. mau bilang kalo istri dan anak sulungnya bikin gaduh bikin onar di rumah orang!, bikin malu aja!" ujar Adrian kesal, lalu berbalik meninggalkan Astrid dan bu Hemas yang mematung.
"Pak polisi makasih ya, titip dulu ibu dan kakak saya di sini" ujar Adrian yang kebetulan mengenal baik salah seorang polisi di sana.
Adrian pun pergi ke rumah orang tuanya, dan bertemu dengan ayahnya.. Adrian menceritakan dengan rinci kronologis masalah yang membuat ibunya dan Astrid mendekam di penjara.
"Terus sekarang menurut ayah gimana?" tanya Adrian.
"Ya, terus terang ayah sih nggak akan berbuat apa-apa nak, nggak akan membela ibumu atau Astrid, masa orang salah di bela?, lagi pula Hanin berhak berbuat seperti itu" ujar ayah Adrian.
"Biar saja hukum yang mengadili mereka.." ujar ayah Adrian lagi. Adrian mengangguk.
"Ya menurut aku juga begitu yah, oh ya mumpung ibu dan mbak Astrid nggak ada bisa tolong aku nggak yah?" ujar Adrian.
"Tolong .. tolong apa ya nak?" tanya pak Wijaya.
"Adrian minta tolong ayah lamarin Davina, karena kalau ada ibu pasti ribet urusannya" ujar Adrian. "Oh gitu, apa kamu sudah yakin dia pilihan terbaik kamu?" tanya pak Wijaya.
"Aku sudah sholat istikharoh yah, dan semua petunjuk jelas Davina yang terbaik" ujar Adrian. Pak Wijaya pun mengangguk, lalu menepuk nepuk bahu Adrian.
****