NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Bab 23 Menggoda Suamiku

Selene tiba-tiba terlihat sedih. Matanya memerah, air mata menetes saat ia berkata dengan suara bergetar,“Meskipun Anita tidak mau mengakuinya, dia tetap saudara perempuanku. Jadi, Dion…”

Namun sebelum sempat melanjutkan kalimatnya, Dion Leach mendongak dan menatapnya dengan tajam.

“Kalau aku dengar kau memanggilku seperti itu lagi,” ucapnya datar tapi penuh ancaman, “kau akan menanggung akibatnya.”

Nada suaranya dingin, menusuk seperti pisau. Selene langsung menelan ludah, merasa seolah Dion akan benar-benar memotong lidahnya jika ia berani mengulanginya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dan menatap Nenek dengan wajah memelas.

“Nenek…” bisiknya pelan.

Nenek tampak terkejut oleh sikap Dion yang begitu keras dan tanpa kompromi. Tapi ketika ia menatap lebih jauh, ia melihat Dion dengan lembut membuang tulang ikan di piring Anita, lalu menaruhkannya di sisi piring sang wanita.

Sikapnya berubah total , dari sosok yang dingin menjadi penuh perhatian.

Nenek mulai memahami bahwa Dion hanya bersikap lembut pada Anita Lewis. Ia pun memilih diam, hanya berkata pelan,

“Ayo makan.”

Tak seorang pun menanggapi Selene lagi. Ia pun terpaksa menunduk, makan sambil menahan tangis yang hampir pecah.

Dion sendiri tidak pernah suka makan bersama banyak orang. Ia hanya makan sedikit, dan hampir seluruh waktunya ia gunakan untuk membantu Anita mengambilkan lauk, menyiapkan sup, bahkan menyisihkan duri ikan. Semua dilakukan secara alami, tanpa pamrih.

Anita juga tidak melawan. Ia hanya menerimanya dengan tenang, dan anehnya, gerak-gerik mereka tampak begitu serasi , seolah kebersamaan itu sudah menjadi kebiasaan lama.

Namun, bagi Selene, pemandangan itu terasa menyakitkan. Setiap kali melihat tatapan lembut Dion kepada Anita, perutnya seperti diremas rasa iri.

Setelah makan malam, Anita mengajak Dion berjalan keluar ke taman belakang.

Di sana, ada kebun kecil, beberapa petak sayur, dan sebuah kolam renang dengan air biru kehijauan yang berkilau di bawah lampu taman.

Anita menatap air kolam sambil berkata lembut, “Kau tidak merasa pusing atau sesak lagi, kan?”

Dion menatapnya sebentar, lalu menjawab singkat,

“Tidak, aku baik-baik saja.”

Saat itu, ponsel Anita bergetar. Sebuah pesan baru masuk dari Hendra.

[Hendra: Nyonya, hasilnya sudah keluar! Cepat kan? Hebat nggak aku? ]

Anita menekan pesan itu sambil tersenyum kecil, lalu memperlihatkan komposisi obat yang baru saja dikirimkan oleh Hendra.

“Ini hasil pemeriksaan dari Hendra,” jelasnya.

Namun, saat ia melihat Dion diam saja, Anita tiba-tiba teringat sesuatu, dulunya Anita yang asli memang pernah tergila-gila pada Hendra. Wajahnya memanas karena malu, dan buru-buru menambahkan, “Aku hanya memintanya untuk memeriksa obat yang kau minum. Dia cepat sekali memberi hasilnya.”

Dion tetap menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Anita menunduk, lalu menambahkan dengan lembut, “Aku sudah memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan di sekitarmu lagi.”

Senyum tipis muncul di bibir Dion. Ia mengangguk perlahan.

“Baiklah.”

Hanya satu kata, tapi cukup membuat hati Anita terasa hangat. Tatapan Dion memberinya rasa aman dan kepercayaan yang dalam , seolah ia mempercayakan seluruh dirinya pada Anita.

“Apa hasilnya?” tanya Dion kemudian.

Anita membaca detail laporan di ponselnya lalu menjawab,“Obatnya bagus. Fungsinya menenangkan dan menstabilkan sistem saraf. Tapi…”

Ia berhenti sejenak, menatap Dion dengan ragu.

“Efeknya tidak terlalu signifikan untuk kondisi tubuhmu sekarang. Kecuali kalau kau minum dua kali lipat dosisnya.”

Ia menunduk dan menambahkan dengan suara lebih pelan, “Tapi itu terlalu berisiko. Setiap obat punya efek samping.”

Dion hanya mengangguk, seolah sudah menduga jawabannya.

“Aku tahu. Kakek Drake Leach juga ikut mengawasi obat yang aku konsumsi.”

Mereka terdiam sejenak, hanya terdengar suara lembut angin yang berembus di taman.

Hingga tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa.

Selene muncul sambil terengah-engah, tangannya bertumpu di lutut.

“Hah ... hahh.... ah.... Anita… Nenek memanggilmu. Katanya, kau harus menemuinya sendiri.”

Apakah Anita akan menuruti panggilan itu?

Atau ada sesuatu yang disembunyikan Nenek di balik ajakan mendadaknya?

Anita Lewis memperhatikan gerak-gerik Selene dengan mata tenang namun tajam. Saat gadis itu membungkuk karena kelelahan, kerah bajunya sedikit terbuka, memperlihatkan kulit putih dan lembut di bagian leher dan dada atasnya.

Rona merah di wajahnya akibat berlari membuatnya terlihat semakin menawan , pemandangan yang pasti akan menggoda mata pria mana pun.

Namun, Dion Leach yang berdiri di samping Anita sama sekali tidak menoleh. Pandangannya hanya tertuju pada wanita di sisinya itu.

Anita tersenyum kecil.

“Nenek memintaku datang sendirian?” tanyanya pelan.

Selene, masih terengah-engah, mengangguk.

“Hah.... ah iya, begitu katanya. Silakan masuk, Anita.”

Tapi Dion langsung memotong, suaranya datar tapi tegas, “Aku ikut denganmu sayang.”

Anita hanya menjawab singkat,“Baiklah.”

Selene yang masih setengah membungkuk tetap berpose menggoda, berharap Dion menatapnya walau sekilas. Tapi pria itu berjalan melewatinya begitu saja , bahkan tanpa melirik sedikit pun.

Selene menggertakkan giginya, menahan kesal.

“Anita, tunggu aku .... aaah!”

Jeritannya membuat Anita berhenti dan menoleh. Ia melihat Selene duduk di lantai dengan rok yang tersingkap sedikit, menampakkan pahanya yang putih dan halus. Gadis itu memegang pergelangan kakinya, berpura-pura menahan sakit, sementara air mata mulai menggenang di matanya.

“Anita,” katanya lirih, “Nenek menunggumu. Kau tak perlu khawatir tentangku.”

Cahaya dari kolam di sampingnya memantul ke kulitnya, membuat penampilannya tampak lebih lembut dan menggoda.

Anita mendekat sedikit dan bertanya datar, “Kau bisa berdiri?”

Selene menekan pergelangan kakinya lagi sambil mengerang pelan, “Ahh…”

Nada suaranya terdengar manja dan dibuat-buat , sebuah tangisan lembut yang biasanya mampu meluluhkan hati pria.

Tapi Dion berdiri diam membisu, ekspresinya tetap datar, seolah sama sekali tak melihat pemandangan itu.

Selene mendongak dan menatapnya dengan tatapan lembut.

“Urusan Nenek lebih penting. Anita, kalau kau tak keberatan, bisakah kau meminta Tuan Leach membantuku berdiri? Kakiku sakit…”

Anita tahu ini hanya siasat, tapi ia tetap menatap Dion dan bertanya tenang,“Apa kau mau membantunya?”

Dion menatap balik istrinya, lalu bertanya pendek, “ Apa kau keberatan?”

Anita menjawab tanpa ragu, “Ya. Aku keberatan.”

Jawabannya jujur dan tegas. Dalam hatinya, Dion sudah menjadi miliknya , dan ia tidak suka siapa pun mencoba mendekatinya.

Dion mengeluarkan suara rendah, nyaris seperti dengusan, lalu berjalan perlahan ke arah Selene.

Selene menatap sepatu kulit Dion yang berkilau di depannya, lalu mendongak dengan ekspresi lemah tapi menggoda. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, berkata lembut,“Tolong aku, Tuan Leach…”

Sebelum Dion sempat menjawab, ia melirik Anita dengan tatapan penuh kemenangan, seolah berkata: Lihat? Pria tetap tak bisa menolak pesona wanita.

Namun keyakinannya buyar dalam hitungan detik.

Tubuhnya tiba-tiba terdorong kuat , tendangan keras dari Dion membuatnya kehilangan keseimbangan.

Bruukhhh!

“Aah!”

Jeritannya menggema ketika tubuhnya jatuh ke kolam dengan suara “byur” yang keras. Air memercik ke segala arah, membasahi roknya dan wajahnya sekaligus.

Selene meneguk beberapa kali air kolam sambil berteriak, “Tolong! Tuan Leach, tolong aku!”

Dion hanya memandangnya sekilas dengan dingin dan berkata datar,“Aku juga keberatan.”

Kata-katanya tajam dan dingin, namun bagi Anita, itu adalah kalimat paling memuaskan yang pernah ia dengar. Ia menahan tawa, lalu akhirnya tersenyum puas melihat cara suaminya menyingkirkan godaan.

Ia tahu, Dion bukan pria yang mudah dipermainkan.

Selene tetap berjuang di air, memegangi pinggir kolam sambil batuk-batuk. Tapi tidak ada yang menolongnya. Langkah Dion dan Anita terdengar menjauh, meninggalkannya sendirian dalam genangan air dingin.

Saat keduanya menghilang di balik koridor, Selene mengangkat wajahnya yang basah, air menetes dari rambutnya, dan matanya menyala dengan amarah.

“Anita Lewis…” gumamnya pelan tapi penuh kebencian. “Apa pun yang kau miliki… akan kuambil darimu!”

Ia mengepalkan tangan, menatap punggung mereka yang semakin jauh.

Semakin mustahil mendapatkan Dion, semakin besar pula keinginannya untuk memilikinya.

---

Anita Lewis segera menghampiri sang nenek, suaranya lembut namun bersemangat.

“Nenek, apakah Nenek sedang mencari aku?”

Nenek memandang Anita dengan tatapan penuh kasih. Ia merasa lega melihat cucunya kini tampil sederhana, tidak semewah dulu.

“Anita, apakah kamu masih marah pada Selene?” tanya Nenek hati-hati.

Anita duduk di sampingnya, senyumnya tenang. “Tidak, Nek.”

Marah? Untuk apa. Selene bahkan tidak pantas disebut saingan. Kalau pun harus marah, rasanya seperti menanggapi badut di panggung, tidak ada gunanya.

Nenek menarik napas panjang, seolah ingin melepaskan beban dari dadanya. “Anita, bukan karena Nenek membela Selene, tapi Nenek ini sudah tua. Cepat atau lambat, Nenek akan pergi. Ibumu juga sudah tiada, dan seorang wanita setelah menikah butuh keluarga untuk bersandar. Kamu dan adikmu seharusnya bisa saling menopang setelah Nenek tak ada.”

Anita hanya mendengarkan, tidak menolak, tidak pula mengiyakan. Baginya, ucapan itu terdengar seperti khayalan belaka.

Melihat cucunya diam saja, Nenek mendesah lagi. “Berjanjilah pada Nenek, ya, kamu akan berbaik-baik dengan Selene. Nenek juga akan menegur Suzanne nanti.”

Nenek sadar, usianya tak lagi panjang. Ia tak bisa terus-menerus melindungi mereka. Yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha menyatukan cucu-cucunya sebelum waktunya habis.

Namun Anita tidak memberikan janji apa pun. Ia hanya tersenyum samar.

Selene pernah menjerumuskan Anita yang asli ke dalam air hingga tewas, bagaimana mungkin ia bersikap baik pada perempuan yang telah mengambil nyawa orang lain?

Nenek akhirnya menyerah dan mengalihkan topik. “Anita, kalau Dion Leach benar-benar memperlakukanmu dengan baik, bertahanlah di sisinya. Jangan lagi memikirkan Joshua…”

Anita segera memotongnya, tenang tapi tegas. “Nenek, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Joshua. Dalam hidupku sekarang, hanya ada nama Dion.”

Setelah semua pengkhianatan di kehidupan lalu, cinta baginya sudah tak lagi punya arti.

Pernikahannya dengan Dion adalah ikatan yang saling menguntungkan bukan karena cinta, tapi karena keduanya tahu bagaimana saling melindungi.

Selama ia tidak berniat bercerai, ia akan tetap menjalani hidup ini tanpa menoleh ke masa lalu.

Nenek menatap Anita lama-lama, lalu tersenyum penuh kebanggaan, “Bagus, kamu sudah tahu apa yang kamu mau. Nenek senang mendengarnya.”

Dulu gadis itu selalu membantah setiap nasihatnya. Kini, Anita tampak jauh lebih tenang dan matang. Ia merogoh saku dan mengeluarkan amplop merah, menyodorkannya pada cucunya.

“Ini, bawa. Pulanglah dengan Dion. Tidak baik tinggal terlalu lama di rumah orang tua setelah menikah.”

Anita menerima dan mengangguk sopan. Ia menghampiri Dion yang menunggu di ruang tamu, lalu menyerahkan amplop itu padanya.

“Ini dari Nenek. Ayo, kita pulang.”

Dion sempat terdiam, menatap bungkusan merah besar itu dengan raut heran. Ia tidak menyangka di usianya yang sudah dewasa masih akan menerima angpao seperti anak muda.

Anita menjelaskan pelan, “Itu tanda kasih dari Nenek. Di keluargaku, sudah jadi kebiasaan memberi angpao kepada menantu laki-laki yang datang berkunjung pertama kali. Semakin tebal isinya, semakin besar restu yang diberikan.”

Dion tersenyum kecil dan menerimanya tanpa banyak kata.

Anita kemudian berganti pakaian dan turun bersama Dion. Tapi sebelum sempat melangkah keluar, mereka melihat Selene berdiri di depan tangga , tubuhnya basah kuyup, wajahnya terlihat memelas.

“Tuan Leach… Anita… kalian mau pergi?” tanyanya dengan suara lirih.

Anita mengangkat dagunya sedikit, menatap Selene dari atas ke bawah. Gaun putih yang dikenakan Selene menempel di tubuhnya karena air, menonjolkan lekuk tubuh yang nyaris terbuka.

Bahkan pakaian dalam berenda hitam di balik kain itu pun terlihat jelas.

Wajah Selene tampak lembut, menyedihkan, dan di mata pria yang tidak tahu apa-apa, mungkin juga menggoda. Tapi bagi Anita, pemandangan itu justru menjijikkan.

Dengan senyum tipis penuh ejekan, Anita berkata dingin,“Selene, kamu sepertinya selalu siap kapan saja untuk menggoda pria. Begitu ada laki-laki lewat, kamu langsung berubah jadi kucing manja yang haus belaian.”

Nada suaranya tajam tapi tenang. Ia tidak berteriak, namun tiap katanya menusuk dalam.

Menggoda pria? Itu bahkan pujian untuk Selene. Kenyataannya, ia hanyalah perempuan murahan yang tahu caranya berpura-pura tak berdaya.

Dion hanya menatap dari samping, tidak berkata apa-apa. Tapi dari ekspresinya, jelas ia tahu siapa yang sesungguhnya di depan mereka.

Anita tidak menunggu reaksi apa pun. Ia menggenggam tangan Dion dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

---

Bersambung.....

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!