Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak laki-laki
Setelah memastikan Sophie dan Hans sibuk menata kamar baru di dalam mansion, Max melangkah keluar menuju balkon halaman belakang yang luas. Udara dingin Frankfurt menerpa wajahnya, namun pikirannya terasa jauh lebih panas. Ia menjauh dari jangkauan pendengaran siapapun, lalu menekan tombol panggil pada ponselnya.
"Lucas," ucap Max tanpa basa-basi begitu sambungan terhubung. Suaranya rendah dan tajam, nyaris berupa bisikan yang mematikan.
"Ya, Tuan? Saya sedang memantau pergerakan saham di bursa. Keadaannya—"
"Tunda dulu soal saham," potong Max cepat. "Aku ingin kau meretas server CCTV Rumah Sakit Pusat Frankfurt sekarang juga. Fokus pada koridor sayap utara, pukul 10:15 sampai 10:30 pagi ini."
Di seberang telepon, suara ketikan keyboard Lucas terdengar cepat. "Apa ada masalah, Tuan?”
"Aku hanya ingin memastikan lingkungan rumah sakit benar-benar steril dari sisa-sisa anak buah ayahku," dalih Max, suaranya tetap datar meskipun rahangnya mengeras. "Ada seseorang yang terlihat mencurigakan di lorong tadi. Periksa siapa dia, cari tahu identitasnya melalui basis data pengenalan wajah, dan laporkan hasilnya padaku secara pribadi. Jangan biarkan Sophie tahu."
Lucas terdiam sejenak di seberang telepon. Sebagai orang yang telah bertahun-tahun mendampingi Max, ia tahu ada sesuatu yang jauh lebih mengusik tuannya daripada sekadar "sisa-sisa anak buah Richard". Namun, ia cukup bijak untuk tidak mendesak.
"Baik, Tuan," jawab Lucas dengan nada profesional. "Saya akan segera mengunduh data rekaman dari server rumah sakit dan mencocokkannya dengan daftar hitam kita. Saya akan memberikan laporan detail dalam waktu satu jam."
"Pastikan juga protokol keamanan mansion diaktifkan ke tingkat dua. Aku ingin sensor laser di area taman selalu aktif mulai malam ini."
"Dimengerti, Tuan."
Max mematikan sambungan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kegelisahan yang menyelimuti pikirannya. Ia berdiri mematung menatap taman belakang mansion yang luas, di mana angin sore mulai menggoyang dahan-dahan pohon.
Kau akan memohon padaku untuk tetap tinggal di kursi ini.
Jika Richard, pria yang paling ditakuti di dunia otomotif Eropa, menunjukkan tanda-tanda ketakutan terhadap pemilik Blackwood Holdings, maka apa pun yang sedang mereka hadapi sekarang adalah sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perselisihan keluarga atau perebutan aset. Max merasa seperti seorang pion yang baru saja menyadari bahwa ia berada di papan catur yang jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
"Jika mereka yang menyelamatkan perusahaan lima belas tahun lalu, itu artinya mereka memegang kendali atas fondasi Hoffmann Motors," gumam Max lirih, matanya menatap tajam ke arah bayangan pohon yang kian memanjang.
Ia menyadari bahwa keberhasilannya memenjarakan Richard mungkin adalah kesalahan taktis yang fatal. Ia telah meruntuhkan pelindung—meskipun pelindung itu adalah iblis—dan kini ia terekspos tanpa perisai. Richard tidak akan membiarkan informasi itu keluar jika ia tidak merasa keselamatannya terancam.
Tanpa ia sadari, Sophie sudah berdiri mematung beberapa langkah di belakang Max, kedua lengannya bersedekap di dada. Wajahnya datar, namun matanya yang tajam tidak lepas dari punggung tegap Max yang tampak tegang. Keyakinan Sophie selama ini terbukti bahwa Maximillian masih menyembunyikan sesuatu yang besar darinya.
Keheningan di antara mereka hanya dipecah oleh suara gesekan daun yang tertiup angin. Sophie mengembuskan napas panjang, mencoba menekan rasa kecewanya, sebelum akhirnya melangkah maju menghampiri Max.
"Sedang apa, Max?" tanya Sophie dengan nada suara yang tenang, nyaris seperti bisikan.
Max tersentak kecil, namun dengan kecepatan seorang aktor profesional, ia langsung mengubah mimik wajahnya. Saat ia berbalik, tatapan tajam dan penuh perhitungan itu hilang, digantikan oleh senyum santai yang terlihat sangat meyakinkan bagi orang awam.
"Hanya menikmati udara sore," jawab Max ringan. Ia melangkah mendekat, mencoba menyentuh lengan Sophie. "Udara di sini jauh lebih bersih daripada di pusat kota. Aku ingin memastikan semuanya benar-benar tenang agar kau dan ayahmu bisa beristirahat."
Sophie menatap mata Max dalam-dalam. Ia melihat pantulan dirinya di sana, tapi ia juga melihat sebuah dinding tebal yang sengaja dibangun Max untuk menjauhinya.
"Begitu ya," sahut Sophie singkat, memaksakan sebuah senyum tipis yang sama palsunya dengan senyum Max. "Kalau begitu, jangan terlalu lama di luar. Udara dingin tidak baik untuk kesehatanmu.”
Sophie melangkah maju, berdiri tepat di samping Max. Ia membiarkan angin sore yang dingin menerpa wajahnya, memainkan helaian rambutnya yang halus. Tatapannya lurus ke depan, menembus cakrawala yang mulai menggelap, seolah ia sedang melihat ke masa sepuluh tahun yang lalu.
"Kau tahu, Max," Sophie memulai pembicaraan dengan suara yang rendah namun jernih, "kemewahan ini... rumah sebesar ini... aku pernah merasakannya. Dan aku pernah melihatnya hancur dalam semalam."
Max terdiam, ia sedikit menoleh, terpesona sekaligus merasa pedih melihat raut wajah Sophie yang tampak begitu melankolis.
"Dulu, saat keluargaku hancur, aku hanyalah seorang gadis remaja yang cengeng. Aku pikir duniaku sudah benar-benar berakhir," Sophie tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan pahit getir kenangan. "Tapi ada satu hal yang paling aku ingat di hari paling kelam itu. Di tengah kekacauan, aku bertemu dengan seorang anak laki-laki. Dia sangat dingin, bahkan tatapannya sekejam ayahnya."
Max sedikit tersentak, rahangnya mengetat, namun ia tetap bungkam, membiarkan Sophie melanjutkan.
"Dia berusia sekitar dua puluh tahun saat itu. Dia berdiri di hadapanku saat aku sedang menangis tersedu-sedu di sudut ruangan yang sudah berantakan. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tidak ada kata penghiburan, tidak ada pelukan." Sophie tertawa kecil, suara tawa yang hambar. "Dia hanya menatapku sebentar, lalu melemparkan sepotong kain ke arahku, dan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi."
Sophie menoleh ke arah Max, matanya yang indah kini berkilat dengan ketegasan yang tak tergoyahkan. "Anak laki-laki itu mungkin mengira dia hanya melakukan hal kecil yang tidak berarti. Tapi bagiku, kain itu adalah satu-satunya kehangatan yang tersisa di hari itu. Kain itu memberitahuku bahwa di balik topeng iblis yang dikenakan keluarganya, masih ada sedikit kepedulian di dalam dirinya."
Sophie maju satu langkah, berdiri tepat di depan Max, menatapnya dengan intensitas yang membuat Max tak bisa memalingkan wajah.
"Aku menceritakan ini padamu karena aku ingin kau tahu satu hal, Max. Aku tidak pernah melupakan kebaikan, sekecil apa pun itu. Dan aku tidak akan segan untuk membalasnya dengan cara apa pun—termasuk melindungimu dengan caraku sendiri, bahkan jika kau melarangku untuk terlibat."
Suasana di halaman belakang itu mendadak menjadi sangat sunyi. Max terpaku, merasa jantungnya berdenyut kencang. Ia tahu siapa anak laki-laki itu. Ia ingat hari itu. Ia ingat gadis remaja yang menangis di pojok ruangan saat ayahnya, Richard, sedang menghancurkan aset keluarga Adler. Dan ia ingat bagaimana ia diam-diam melemparkan sapu tangannya karena ia tak tahan melihat air mata itu.
Sophie meletakkan tangannya di dada Max, tepat di atas jantungnya yang berpacu. "Jangan mencoba menanggung semuanya sendirian, Max. Karena jika kau pikir kau satu-satunya yang ingin melindungi di sini, kau salah besar. Aku bukan lagi gadis remaja cengeng yang kau beri sapu tangan dulu."
Sophie menatap mata Max untuk terakhir kalinya sore itu, sebuah tatapan yang penuh peringatan sekaligus kasih sayang yang mendalam. Ia menarik tangannya dari dada Max, membiarkan kehangatan yang tadi tercipta perlahan memudar terbawa angin.
"Jangan terlalu lama di luar," ucap Sophie pelan, namun nadanya tidak lagi mengandung permintaan, melainkan sebuah instruksi. "Udara dingin ini tidak baik untuk kesehatanmu.”
Tanpa menunggu balasan dari Max, Sophie berbalik. Ia berjalan meninggalkan balkon dengan langkah yang tenang dan teratur, tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. Rambutnya berkibar tertiup angin, dan punggungnya terlihat begitu tegak, mencerminkan kekuatan wanita yang sudah kenyang dengan kepahitan hidup.
Max hanya bisa berdiri mematung di sana, menatap kepergian Sophie hingga sosok wanita itu hilang di balik pintu kaca besar. Ia merasa seperti baru saja ditelanjangi oleh kata-kata Sophie. Rahasia masa lalu yang ia simpan rapat—tentang sapu tangan itu, tentang rasa bersalahnya yang telah tumbuh menjadi cinta selama sepuluh tahun—ternyata diingat dengan sangat baik oleh Sophie.
Namun, di balik kekagumannya, Max tetap pada pendiriannya. Baginya, mengetahui tentang Blackwood Holdings sama saja dengan menandatangani kontrak kematian. Ia lebih memilih dibenci Sophie karena ketidakterbukaan daripada melihat Sophie dalam bahaya nyata.
Sementara itu, begitu Sophie memasuki lorong yang sepi menuju kamarnya, raut wajahnya yang tenang seketika berubah. Matanya berkilat dengan determinasi yang dingin.
Sophie tahu betul watak pria itu. Mau seberapa keras pun ia bertanya, mau seberapa banyak ia memohon agar Max terbuka, pria itu akan selalu memilih untuk memikul semuanya sendirian dengan dalih "melindungi".
Kau pikir aku masih gadis lemah yang perlu kau kurung dalam sangkar emas ini, Max?
Jika Max tidak mau memberitahunya tentang apa yang mengganggu pikirannya saat ini, maka Sophie tidak akan menunggu diberikan jawaban. Ia akan mencarinya sendiri. Ia akan membuktikan pada Max bahwa ia adalah partner yang sepadan, bukan sekadar beban yang harus disembunyikan di balik kemewahan mansion ini.