HIATUS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilan
Setelah sarapan pagi, seperti biasa Anin akan berangkat kerja menggunakan angukatan umum. Sesampainya di kantor ia merasa heran dengan sikap rekan kerja satu devisinya. Bagaiman tidak, ia diperlakukan dengan baik, tidak seperti hari-hari sebelumnya.
"Anin ini teh untukmu" ucap Dewi sembari meletakkan secangkir teh ke meja kerja Anin.
Anin hanya diam saja mendapat perlakuan seperti itu dari dewi, biasanya ia akan membentak-bentak Anin dan mencari-cari kesalahnnya.
Tari yang sedari tadi berdiri di depan pintu ruangan administrasi, terus memperhatikan sikap rekan kerja Anin yang begitu menjijikkan baginya.
Karena merasa muak melihat tingkah Dewi, Tari menghampiri Anin. "Dasar penjilat, beberapa orang mengira dengan menjadikan Anin sebagai ratu, maka tidak akan ada yang mengingat perlakuan buruknya dulu saat menindas seseorang." ucap Tari, ia sengaja mengeraskan suaranya agar semua rekan kerja Anin mendengarnya, terutama Dewi yang sedang berdiri di depannya.
Dewi menatap tajam Tari sekilas dan berlalu pergi dengan perasaan kesal.
Setelah kepergian Dewi, Anin menarik lengan Tari dan berjalan keluar ruangan yang begitu menakutkan baginya. Ia lebih suka dan nyaman di perlakukan seperti dulu.
"Kenapa semua orang bersikap seperti itu padaku? sepertinya mereka ingin memakan ku hidup-hidup" ucap Anin setelah berada di luar ruangan.
"Saya dengar pak Kevin mengantarmu pulang, apa hubungan kalian berdua?" tanya Tari dengan tatapan penuh selidik.
"Dia hanya mengantarku karena kebetulan lewat" ucap Anin berbohong
"Benarkah?" ucap Tari mengangkat satu alisnya. "Tapi dilihat dari matamu, kau sedang berbohong, apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" ucap Tari terus mendekatkan wajahnya kewajah Anin mebuat Anin menundukkan kepalanya.
"Aku tidak menyembunyikan apapun" ucap Anin memanyungkan bibirnya.
"Baiklah, aku ada sesuatu untukmu" Tari memberikan gambar kecil pada Anin "kau suka karya seni kan? pergilah ke pameran itu, hari ini adalah pameran terakhirnya, aku pergi dulu." ucap Tari sembari mengibaskan rambutnya kebelakang dan berlalu pergi meninggalkan Anin.
"Terimakasih" ucap Anin sedikit berteriak karena Tari sudah jauh.
.
.
.
Setelah semua pekerjaannya selesai, ia bergegas pulang. Ia senganya menyelesaikan pekerjaannya lebih awal, agar ia bisa menyaksikan pameran lukisan itu.
Tidak butuh waktu lama kini Anin sudah berada di museum karya seni yang diceritakan Tari tadi.
Ia sangat tabjuk melihat lukisan besar yang sedang di pamerkan di museum itu.
"Apa lukisan ini masih ada?" tanya Anin sembari memperlihatkan gambar kecil yang ia pegang.
"Mohon maaf, bingkai lukisan kecil itu sudah terjual" ucap pegawai yang melayani bagian konsumen. "silahkan lihat-lihat lagi karya lainnya.
Anin memanyungkan bibirnya cemberut mendengar penjelasan pegawai itu. Tanpa ia sadari ada dua orang yang sedang memperhatikannya. Ia adalah pembeli terakhir lukisan itu yang tak lain adalah Oma Jelita bersama seorang pria.
Anin tiba-tiba merasa mual, ia segera menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi dan tidak sengaja menjatuhkan buku hariannya.
Pria yang bersama Oma Jelita mengambil buku harian itu
"Sepertinya gadis itu sangat menyukai lukisan ini" ucap Oma Jelita sembari melirik lukisan yang ia pegang "nanti saat kamu mengembalikan itu padanya, tolong berikan ini untuknya!" Oma Jelita memberikan lukisan itu pada Dilan. Ya nama pria yang bersama Oma jelita Adalah Dilan.
Dilan usinya lebih tua satu tahun dari Kevin. Ia manajer karya seni sekaligus teman Oma Jelita. Oma Jelita menganggap Dilan sebagai cucunya sendiri, ia menyayangi Dilan sebagaimana ia menyayangi Kevin.
"Oma bukankah anda juga sangat menyukai lukisan ini? kenapa tiba-tiba anda ingin memberikannya begitu saja?" tanya Dilan
"Saya sudah tua, bingkai lukisan ini terlalu kecil untuk dipandang, apalagi Oma sudah tua dan pasti sudah rabun. Melihat lukisan asli akan lebih nyaman" ucap Oma Jelita mengembangkan senyumnya
"Baiklah lukisan ini" Dilan menunjuk dirinya sendiri. "Adalah milik anda" ucap Dilan mengangkat sudut bibirnya hingga deretan giginya terlihat.
"Oma ada janji dengan teman-teman Oma, jadi Oma pergi dulu dah" ucap Oma jelita sembari melambaikan tangannya pada Dilan.
Dilan hanya tersenyum menatap kepergian Oma Jelita. Ia menghormati Oma Jelita sebagaimana Ia menghormati orang tuanya.
TBC