Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan mempesona. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
《 Sebelumnya
Papah dan Mamah Ethan sedang menunggu di lobby rumah sakit. Papah Ethan terus menelpon dan berbicara tanpa jeda. Sehingga tidak menyadari diperhatikan istrinya dari jauh dengan hati gatal dan ingin menarik ponsel dari tangannya.
Makin lama, Mamah Ethan tidak sabar menunggu, karena belum mengetahui kondisi Ethan. Rasa kesal mendorong untuk mendekati suaminya. "Sudah dapat info kondisi Ethan?"
Pertanyaan Mamah Ethan membuat suaminya terkejut dan berhenti telpon. "Bukannya kau yang sedang cari info?"
"Lalu sejak tadi kau telpon ke mana?"
"Aku lagi cari tahu, tapi tidak ada yang tahu." Papah Ethan menjawab yang terlintas di pikirannya. "Cari tahu lagi, masa tidak ada yang tahu."
"Kau..." Mamah Ethan tidak meneruskan, agar mereka tidak berdebat di lobby. Apa lagi belum tahu kondisi Ethan dan sedang jadi pusat perhatian pers.
Mamah Ethan khawatir, ada wartawan masuk ke lobby dan mengetahui perselisihan mereka. "Kau minta Velly ke sini?" Tanya Mamah Ethan yang melihat Velina masuk ke lobby.
"Aku kasih tahu Ethan kecelakaan dan dirawat di sini." Bisik Papah Ethan, karena Velina berjalan cepat mendekati mereka.
Mamah Ethan hanya bisa menghembuskan nafas kuat karena sudah tidak bisa mencegah. 'Semoga Papah tidak lihat ini.' Mamah Ethan berharap, karena tahu sumber kemarahan Ethan adalah Velina.
"Om, Tante, apa yang terjadi? Mengapa Ethan bisa kecelakaan?" Velina bertanya setelah menyalami dengan wajah panik.
Mamah Ethan tidak menjawab. "Tante tinggal dulu. Nanti Om yang jelaskan." Mamah Ethan menghindar.
Ia khawatir orang-orang Papahnya sedang mengawasi dan akan mempersulit ia menemui Ethan. Tapi Papah Ethan yang sedang tidak fokus pada kecelakaan Ethan, tidak pikirkan hal itu.
"Velly, Ethan alami kecelakaan. Itu bisa kau lihat di sosmed. Sekarang kami belum tahu kondisinya, karna dilarang mendekati Ethan." Papah Ethan berkata serius sambil berbisik, karena istrinya belum jauh.
"Mengapa Om dan Tante tidak bisa mendekati Ethan?"
"Ini menyangkut perkenalan tadi di kantor. Opahnya agak marah, karna Ethan pergi. Jadi kalau ditanya pers, bilang saja kita belum bisa bertemu Ethan...." Papah Ethan mendikte apa yang harus dikatakan Velina kepada pers.
"Apa Pak Ken gak marah, kalau aku bilang begitu, Om?" Velina jadi serius bertanya, karena ingat yang ditanyakan Ethan padanya di aula kantor.
"Mungkin marah. Tapi tidak ada pengaruhnya kepada Ethan. Kau ingin bersama Ethan bukan?" Papah Ethan bertanya penuh penekenan. Velina mengangguk kuat.
"Kalau Ethan masih dibawah pengaruh Opahnya, kau akan sulit bersamanya. Jadi kau harus mendukung Om dan bahas ini dengan orang tuamu. Supaya kita bisa menghilangkan pengaruh Opahnya...." Papa Ethan kembali mendoktrin Velina, supaya dia dan orang tuanya bisa berpihak padanya.
"Nanti saya bicarakan dengan Papi, Om. Tapi Om yakin Ethan gak apa-apa? Apa Ethan mau bersamaku?" Velina bertanya lagi, karena ingat sikap Ethan padanya.
"Kau meragukan feeling Om pada anak sendiri?"
"Tapi tadi di kantor Ethan sangat marah, Om. Aku baru pernah lihat dia marah seperti itu. Karna selama ini, dia hanya menghindar karna sibuk." Velina menjelaskan.
"Tadi dia kesal sama Om, karna surprisenya digabung dengan perkenalan sebagai CEO. Nanti kalau sudah jelaskan maksud Om, Ethan akan terima." Papah Ethan terus berusaha agar Velina bisa percaya dan mendukungnya.
"Baik, Om. Jadi berapa lama kita akan menunggu di sini?"
"Kau tidak usah menunggu, karena belum tahu berapa lama Ethan sadar dan stabil. Kau lakukan rencana yang Om bilang tadi. Kalau Ethan sudah bisa ditemui, Om kasih tahu." Ucap Papah Ethan lagi.
"Kau harus sabar hadapi Ethan. Dia agak cepat emosi, karna pengaruh Opahnya sudah berakar. Makanya sekarang Om mau ambil alih. Kau harus dukung Om dan tante." Papah Ethan terus mempengaruhi Velina.
"Baik, Om." Velina setuju lalu berjalan cepat ke arah Mamah Ethan yang sedang bicara dengan perawat.
"Tante, aku pulang dulu, karna Ethan belum bisa ditemui. Tante yang kuat, ya." Ucap Velina menyemangati manis sambil mencium pipi Mamah Ethan.
"Terima kasih sudah datang." Ucap Mamah Ethan pelan.
Setelah Velina berbalik, Mamah Ethan menarik nafas panjang melihat Velina berjalan keluar dari lobby dan berbicara dengan wartawan. Ia mulai mengerti maksud suaminya yang ngotot mendekatkan Ethan dengan Velina.
Kemudian Jantung Mamah Ethan berdetak kuat dan hampir copot saat melihat pengacara Menaya berbicara dengan pers dan menyebut Ethan sebagai Pak Kendrick Junior. 'Papah sudah tahu.' Mamah Ethan membatin sambil melihat suaminya yang kembali telpon, tanpa menyadari mertuanya sudah lakukan perlawanan.
~••~
Sekarang 》
Di sisi lain ; Setelah Rion berkonsultasi dengan dokter keluarga tentang menu yang bisa dimakan Ethan dan Opahnya, dia pesan menu buat makan malam mereka.
Ketika menu tiba, Rion menata menu yang dibeli di atas meja pasien. Opah Ethan menepuk paha Ethan perlahan. "Ethan, bangun. Makan dengan Opah." Ucap Opah Ethan perlahan.
Ethan menggerakan tangan merai bantal untuk menyangga punggungnya. Rion segera menaikan bagian kepala ranjang, karena mengerti maksud bossnya.
Ethan tetap menutup mata seperti yang diminta Opahnya sambil menepuk bantal yang dia letakan di tengkuk. "Mari kita berdoa, Nak." Ajakan Opahnya membuat wajah Ethan berubah. Hatinya sangat sedih merasakan sesuatu yang berbeda saat menunduk. Bersyukur tanpa bisa melihat makanan yang akan dimakan.
"Nak, ini ayam goreng. Mau Opah suap atau makan sendiri dengan tanganmu?" Opah Ethan bertanya pelan sambil meletakan kotak makan di atas meja di paha Ethan.
"Ethan saja, Opah." Ethan berkata sambil menggerakan tangan untuk meraba kotak makan.
Ketika melihat bossnya mau makan dengan tangan, Rion mengambil tissu basa dan segera membersihkan tangannya.
Ethan tidak jadi mengambil makanan untuk dimakan. Dia langsung memegang tangan yang membersihkan tangannya. "Siapa ini?" Bentak Ethan dengan suara keras karena merasa bukan tangan Opahnya.
"Saya, Pak." Rion menjawab pelan dengan hati berdegup kuat melihat reaksi bossnya.
"Rion?"
"Saya, Pak."
"Pergi dari sini. Pergiii..." Teriak Ethan sambil menggerakan tangannya, kuat. Hingga Opah Ethan harus mengangkat meja makan, agar kotak makan tidak terlempar.
"Ethan, dari awal kecelakaan, Rion sudah ada bersamamu. Biarkan dia di sini bantu Opah." Ucap Opah Ethan sambil memegang tangan Ethan dan memeluk kepalanya. Opahnya mengerti perasaan Ethan yang tidak mau orang lain mengetahui kebutaannya.
"Siapa lagi yang tahu, Opah?" Tanya Ethan yang menurunkan nada suaranya.
Setelah mulai stabil emosinya, Ethan mulai menyadari situasi dan merasakan kehadiran orang lain di sekitanya.
"Pak Menaya dan Gerry. Mereka yang bantu Opah untuk mengurus semuanya..." Opah Ethan menjelaskan perlahan, berharap Ethan mengerti dan mau menerima kehadiran orang lain.
"Makan, Opah." Ethan melepaskan pelukannya sebagai isyarat dia bisa terima. Opah Ethan memberikan isyarat kepada Rion untuk menata lagi kotak makan.
"Mari, Pak. Saya bersihkan tangan, sebelum bapak makan." Rion jadi berani bersuara setelah melihat reaksi Ethan yang tidak lagi mengusirnya.
...~•••~...
...~•○♡○•~...
. menyelesaikan solusi masalah