Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pohon Kenangan yang Tumbuh
Suatu pagi cerah, Lin Muchen berjalan menuju kebun kecil di belakang rumah mereka. Di sana, di tanah yang sudah digemburkan, berdiri Gu Shiyu memegang dua bibit pohon muda, wajahnya berseri terkena sinar matahari pagi.
“Ingat?” tanyanya pelan saat Lin Muchen mendekat. “Dulu kita berjanji akan menanam pohon di halaman rumah kita sendiri.”
Lin Muchen tersenyum lebar. Ia ingat jelas — sore itu di bawah pohon besar di pekarangan rumahnya, dua anak kecil saling berjanji bahwa kelak saat dewasa, mereka akan menanam pohon bersama, sebagai tanda persahabatan yang tak akan pudar oleh apa pun. Waktu berlalu, perpisahan terjadi, janji itu sempat terkubur namun tidak pernah hilang sepenuhnya.
“Aku ingat,” jawabnya lembut, mengambil satu bibit darinya. “Dan hari ini akhirnya tiba.”
Mereka menanamnya bersama — satu untuk ayah Lin Muchen, satu untuk ayah Gu Shiyu. Tangan mereka kotor terkena tanah, wajah mereka berkeringat, namun hati mereka terasa ringan dan penuh syukur. Saat selesai, mereka menyiramnya dengan air dari ember yang sama, berdiri berdampingan menatap tanah yang baru saja ditanami.
“Mereka akan tumbuh tinggi dan rimbun,” ucap Gu Shiyu pelan. “Seperti mimpi yang mereka impikan dulu.”
“Dan kita akan merawatnya bersama,” tambah Lin Muchen, merangkul bahunya. “Setiap hari, tanpa putus.”
Namun tak lama kemudian, kabar tak terduga datang. Seorang pebisnis besar dari kota lain bernama Pak Harun mengajak kerja sama — investasi besar yang bisa mempercepat pembangunan sekolah, pasar, dan klinik di banyak desa sekaligus. Angkanya begitu besar, terdengar terlalu indah untuk ditolak.
“Dengan dana ini, kita bisa membuka sepuluh cabang sekaligus dalam setahun,” ucap Gu Shiyu sambil menatap peta yang kini jauh lebih luas. “Banyak orang akan terbantu, Muchen.”
Lin Muchen mengangguk, namun kerutan tipis muncul di dahinya. “Benar. Tapi siapa sebenarnya Pak Harun? Mengapa ia tiba-tiba tertarik?”
“Katanya ia mengagumi prinsip kerja kita,” jawab Gu Shiyu. “Katanya ia ingin berbagi keuntungan dengan orang banyak.”
Namun perasaan was-was Lin Muchen tidak hilang. Ia mulai mencari informasi tentang Pak Harun. Awalnya semuanya tampak baik — dermawan, dikenal membantu daerah terpencil. Namun semakin dalam ia mencari, semakin banyak hal yang terlihat samar — asal usul kekayaannya tidak jelas, beberapa rekan kerjanya tiba-tiba mundur, ada kabar bisik-bisik tentang cara kerjanya yang keras dan tidak jujur.
Malam itu, Lin Muchen duduk di meja kerja bersama Gu Shiyu, meletakkan catatan-catatan yang dikumpulkannya. “Kita tidak bisa terburu-buru,” ucapnya tenang namun serius. “Jika kita menerima dana ini tanpa mengetahui asalnya, kita bisa saja membangun kebaikan di atas kejahatan orang lain.”
Gu Shiyu menatap berkas-berkas itu, senyumnya perlahan memudar. “Tapi kesempatannya tidak akan datang dua kali. Banyak orang menunggu bantuan ini.”
“Aku tahu,” Lin Muchen menggenggam tangannya. “Aku juga ingin membantu mereka. Tapi dengan cara yang benar. Jika kita menerima apa yang salah, kita tidak berbeda dengan mereka yang dulu menghancurkan keluarga kita.”
Pertengkaran pertama mereka terjadi malam itu juga — bukan karena amarah, melainkan karena kecemasan yang berbeda arah. Gu Shiyu takut melewatkan kesempatan untuk membantu banyak orang, sementara Lin Muchen takut mereka tergelincir ke jalan yang keliru tanpa menyadarinya. Mereka tidur dalam diam, saling memunggungi, hati keduanya terasa berat.
Tiga hari kemudian, Pak Harun datang sendiri ke kantor. Ia tampak ramah, berpenampilan rapi, berbicara manis dan meyakinkan. “Saya kagum dengan ketulusan kalian,” ucapnya sambil tersenyum lebar. “Saya ingin menjadi bagian dari perubahan ini. Tidak ada syarat yang rumit — hanya kerja sama yang saling menguntungkan.”
Gu Shiyu hampir tergoda, namun ia menoleh ke arah Lin Muchen. “Kami butuh waktu untuk mempertimbangkannya,” jawabnya akhirnya.
Setelah Pak Harun pergi, Rian datang dengan wajah serius. “Saya mendengar percakapan di luar… ada orang yang bilang Pak Harun dulu berhubungan dengan rekan bisnis Zhang Hua. Bukan langsung, tapi jalannya sama — masuk ke daerah, mengambil keuntungan, lalu pergi meninggalkan kerusakan.”
Kabar itu mengubah segalanya. Gu Shiyu duduk diam di kursinya, menatap jendela yang cerah namun terasa mendung baginya. “Aku hampir saja…” suaranya pecah pelan. “Aku hampir saja mengulangi kesalahan yang sama — melihat hasil yang baik tanpa memeriksa jalannya.”
Lin Muchen mendekat, meletakkan tangan di bahunya. “Kau tidak salah ingin membantu. Hanya saja kita harus lebih teliti.”
“Tapi bagaimana kalau kesempatan lain tidak datang?” tanyanya cemas. “Bagaimana kalau kita terlalu lambat dan orang-orang tetap menderita?”
Lin Muchen berlutut di samping kursinya, menatapnya lekat-lekat. “Kita tidak perlu cepat. Kita perlu benar. Kebaikan yang tumbuh perlahan berakar lebih kuat. Kita bisa mulai dari yang kecil, dari kemampuan kita sendiri. Bukan dengan uang yang tidak kita ketahui asalnya.”
Mereka mengirim surat penolakan kepada Pak Harun. Reaksinya datang cepat — dingin dan tajam. “Kalian akan menyesal,” begitu bunyi pesannya. “Tanpa bantuan saya, rencana kalian hanyalah mimpi yang tidak akan pernah terwujud.”
Beberapa orang di sekitar mereka mulai ragu. “Mengapa ditolak?” tanya mereka. “Bukankah itu yang kita butuhkan?” Gu Shiyu harus menjelaskan berulang kali, dengan sabar namun tegas — bahwa kepercayaan yang sedang dibangun tidak boleh dikorbankan demi keuntungan seketika.
Hari-hari berikutnya terasa berat. Dana terbatas, rencana harus dikurangi, proyek diperkecil. Namun sesuatu yang luar biasa terjadi — warga desa, rekan kerja, orang-orang yang selama ini dibantu, mulai datang membawa apa yang mereka miliki. Ada yang membawa hasil kebun, ada yang menawarkan tenaga secara sukarela, ada yang menyisihkan sebagian tabungannya.
“Kami tidak punya banyak,” kata seorang nenek tua sambil menyerahkan sejumlah uang kecil yang terlipat rapi. “Tapi kami ingin ikut membangun. Karena kami tahu kalian tidak mengambil keuntungan dari kami.”
Gu Shiyu menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. Ia menyadari satu hal — kekayaan yang sesungguhnya bukanlah uang yang datang dari luar, melainkan kepercayaan yang tumbuh dari hati.
Sore itu, ia dan Lin Muchen pergi ke tempat mereka menanam pohon. Tunas muda itu mulai tegak, daunnya hijau dan segar.
“Kau benar,” ucap Gu Shiyu pelan, menyentuh batang kecil itu. “Kalau kita menanam pohon yang tidak milik kita, akarnya tidak akan kuat. Tapi ini… ini milik kita semua.”
Lin Muchen tersenyum, merangkulnya dari samping. “Kita tidak sendirian. Itulah yang membuatnya berbeda.”
Matahari mulai turun, menyinari tunas muda itu dengan cahaya keemasan. Mereka tidak tahu seberapa tinggi pohon itu akan tumbuh, seberapa luas naungannya kelak. Namun mereka tahu satu hal — mereka menanamnya dengan tangan sendiri, dengan hati yang jujur, dan bersama orang-orang yang sungguh-sungguh peduli.
Dan itulah awal dari segala sesuatu yang sesungguhnya berharga.