"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 | RAHASIA DI BALIK VILA ELIT
"Julian masih bangun, Karina?"
Aleeza Wira bertanya dengan napas terengah-engah, peluh tipis membasahi keningnya. Setelah Austin mengantarkannya kembali ke penthouse, Aleeza tak membuang waktu sedetik pun. Ia buru-buru mengganti gaun mewahnya dengan pakaian santai, lalu setengah berlari menerjang dinginnya malam menuju vila elit di kawasan perbukitan Madrid.
"Dia masih bangun, Aleeza. Dia terus menunggumu," jawab Karina seraya tersenyum teduh.
Karina Westi Mahendra sepupu kandung Aleeza yang memiliki paras sangat jelita dengan mata cokelat hangat dan kulit kuning langsat khas Indonesia. Mantan runner-up Miss Universe itu adalah sosok pelindung bagi Aleeza di tanah Spanyol ini.
"Aku akan masuk menemuinnya sekarang," ujar Aleeza legas, hendak melangkah melewati selasar vila.
"Aleeza, tunggu..."
Panggilan Karina menahan langkah Aleeza. Saat Aleeza menoleh, ia menangkap keraguan yang mendalam di sepasang mata sepupunya itu.
"Julian terus bertanya-tanya kenapa kau menghilang beberapa hari terakhir," tutur Karina pelan, ada kecemasan tersirat di balik intonasinya. "Dan aku melihat beritamu di majalah serta televisi, Aleeza. Berita pertunanganmu dengan Austin Vanderbilt."
Karina mendekat, menatap Aleeza lekat-lekat.
"Kau tidak benar-benar bersama billionaire gila itu dan melupakan Julian, kan?"
Aleeza terkekeh sinis, matanya menyipit emosi. "Aku belum gila untuk menyerahkan hatiku pada pria iblis seperti Austin Vanderbilt, Kar!"
"Tapi beritanya sudah meledak di seluruh Spanyol! Bahkan Mami dan Papi di Jakarta terus meneleponku!"
"Kau tahu betul bagaimana jahatnya media memutarbalikkan fakta, Karina!" potong Aleeza cepat, suaranya bergetar menahan gejolak perasaan. "Aku memang terjebak masalah rumit dengan Austin. Pria arogan itu yang memulai permainan gila ini! Tapi aku bersumpah, tidak akan pernah ada hubungan sungguhan di antara kami."
Aleeza menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh. Ada rahasia besar dan menyakitkan yang tidak boleh diketahui siapa pun—termasuk fakta bahwa Austin menjadikan Julian sebagai kartu as untuk mengancamnya.
"Kau hanya perlu percaya padaku, Kar," bisik Aleeza dengan mata berkaca-kaca namun penuh ketegasan. "Aku tidak sehina itu sampai tega meninggalkan Julian setelah kecelakaan tragis yang menimpanya demi membela diriku."
Karina terpaku mendengarnya. Ia menghela napas panjang lalu mengangguk pelan, membiarkan Aleeza melangkah menuju pintu kamar di ujung lorong.
Aleeza mendorong pintu kamar perlahan.
Di dalam ruangan beraroma terapi yang tenang itu, seorang pria muda berwajah tampan namun pucat tampak duduk bersandar di pinggir ranjang, menatap kosong ke arah jendela luar.
Julian.
Pria yang rela mengorbankan masa depannya demi melindungi Aleeza dari kejahatan konspirasi media masa lalu. Dan kini, Aleeza siap mengorbankan kehormatannya bahkan terjebak dalam sangkar emas milik Austin Vanderbilt hanya demi memastikan Julian tetap aman dan mendapatkan perawatan terbaik di Spanyol.
Aleeza menyunggingkan senyum terhangatnya, melangkah masuk seraya menyapa lembut:
"Julian aku datang."
Aleeza Wira melangkah mendekat, lalu berlutut perlahan di depan ranjang tempat Julian duduk. Ia meraih jemari tangan Julian yang terasa hangat, mengelus punggung tangannya dengan lembut.
"Kenapa belum tidur, Sayang?" bisik Aleeza dengan suara selembut mungkin. "Ini sudah larut malam..."
"Kau ke mana saja beberapa hari terakhir ini, Aleeza?" tanya Julian pelan. Tangannya yang sedikit gemetar bergerak meraba udara, berusaha mencari keberadaan wajah Aleeza.
Dengan mata berkaca-kaca, Aleeza menyambut jemari Julian dan menempelkannya di pipinya sendiri, membiarkan pria itu merasakan kehadirannya.
"Pekerjaanku sedang sangat menumpuk di kantor redaksi," bohong Aleeza. Lagi-lagi ia harus membendung kebenaran kelam tentang pangeran Spanyol bernama Austin Vanderbilt yang telah mengurung kehidupannya. "Maafkan aku karena membuatmu menunggu."
"Berhentilah bekerja, Aleeza," ujar Julian dengan helaan napas berat. "Kau tahu kau tidak perlu memeras keringat lagi. Aku memang tidak lagi bisa melihat aku buta. Tapi aku bukan pria tak berguna yang tidak sanggup memenuhi seluruh kebutuhanmu."
Aleeza mengarahkan pandangannya ke wajah tampan Julian yang kini tampak pias.
Dahulu, sebelum tragedi kecelakaan naas satu tahun lalu, Julian adalah salah satu pengusaha muda tersukses yang selalu bertengger di jajaran eksekutif muda Spanyol. Pria sempurna dengan sorot mata yang penuh kehangatan.
Namun malam itu Pertengkaran kecil di antara mereka membuat Julian mengejar Aleeza hingga sebuah mobil berkecepatan tinggi menghantam tubuh pria itu. Julian selamat, tetapi kedua matanya divonis buta permanen.
Penyesalan itu terus menggerogoti jiwa Aleeza. Kesuksesan bisnis yang kini dinikmati Julian sejatinya dikendalikan oleh tim profesional. Namun di mata publik, nama besar Julian hanya tinggal kenangan dan Aleeza merasa dialah dalang utama yang menghancurkan masa depan cerah pria itu.
"Aleeza kau mendengarkanku?" panggil Julian lagi ketika menyadari keheningan Aleeza yang terlalu lama.
Aleeza buru-buru menyapu sudut matanya yang basah, lalu memasang tawa kecil yang dipaksakan.
"Nanti aku akan berhenti bekerja, Julian. Tapi tidak sekarang. Aku masih ingin mandiri dengan usahaku sendiri," dalih Aleeza, mencoba menyembunyikan rasa bersalah yang semakin dalam setiap kali menatap sepasang mata kosong milik Julian.
Ia sangat bersyukur ada Karina sepupunya yang sudi meluangkan waktu merawat Julian di vila ini di sela-sela kesibukannya. Tanpa Karina, Aleeza tidak tahu bagaimana ia harus menghadapi himpitan dunia yang kian mencekik.
Tiba-tiba, sebuah ukiran senyum pedih terbit di bibir Julian.
"Apakah kau masih mencintaiku dengan kondisiku yang seperti ini, Aleeza?" tanyanya dengan suara lirih yang begitu rapuh.
Pertanyaan itu menghantam dada Aleeza hingga terasa sesak. Tanpa ragu, Aleeza memajukan tubuhnya dan merengkuh erat tubuh tegap Julian.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" bisik Aleeza di pelukan Julian. "Tentu saja jawabannya ya. Bagaimana pun keadaanmu, bagiku kau tetaplah pria paling berharga. Pria yang selalu membuatku merasa menjadi Sang Ratu yang dilindungi."
Julian menghembuskan napas lega, membalas dekapan Aleeza dengan erat.
Namun di dalam pelukan hangat itu, bayangan wajah tegas Austin Vanderbilt, ciuman dominan pria Spanyol itu di depan media, serta ancaman mematikan yang diucapkannya terus menari-nari di kepala Aleeza.
Maafkan aku, Julian jerit Aleeza dalam hati dengan kepedihan mendalam. Aku harus bertahan di samping iblis bernama Austin Vanderbilt demi memastikan kau tetap aman dan bisa menjalani pengobatanmu tanpa gangguan.
▪️▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!