Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POIN KETERIKATAN PERTAMA
Langkah kaki Enzo membawa tubuhnya makin jauh meninggalkan ruko Toko Kelontong Berkah. Di sekelilingnya, suasana pagi perkotaan bergerak kian cepat. Deru mesin sepeda motor, teriakan calo angkutan umum yang mencari penumpang di persimpangan, serta aroma asap knalpot yang pekat perlahan mengaburkan sisa-sisa ketegangan yang tadi sempat memenuhi ruko.
Enzo melangkah pelan menelusuri trotoar yang agak berdebu. Tangan kanannya merogoh saku celana jins, meremas ponsel tua yang permukaannya masih terasa agak hangat. Getaran yang ia rasakan beberapa saat lalu bukan getaran biasa—ada jeda ritmis yang menjadi ciri khas notifikasi dari aplikasi misterius itu.
Di bawah naungan pohon peneduh yang tumbuh di tepi halte bus tua, Enzo menghentikan langkahnya. Ia menyandarkan punggungnya pada tiang besi halte yang mengelupas catnya, lalu mengangkat ponselnya ke sejajar dada. Layar retak itu menyala redup, menampilkan antarmuka hitam pekat yang bertransformasi cepat menjadi lembaran teks berwarna putih bersih.
[Pembaruan Data Keterikatan Target: Nadira]
[Tingkat Keterikatan Awal: 12%]
[Penyesuaian Keterikatan: +6%]
[Tingkat Keterikatan Saat Ini: 18%]
Enzo memandangi deretan angka itu dengan kening berkerut. "Naik enam persen..." gumam Enzo pelan seraya mengusap dagunya yang kasar oleh tunggul janggut tipis.
Bagi orang lain yang terbiasa bermain gim atau membaca kisah fiksi murahan, kenaikan angka seperti itu mungkin dianggap sebagai sebuah pencapaian yang menyenangkan. Namun, Enzo tidak merasakan kepuasan instan apa pun. Sebaliknya, ada rasa berat yang perlahan menumpuk di dasar dadanya, seolah-olah angka-angka itu bukan sekadar indikator permainan, melainkan beban tanggung jawab nyata yang ditempelkan padanya.
Sebelum Enzo sempat mematikan layar, teks di ponselnya bergerak mengalir ke bawah, membuka kolom baru bertajuk 'Analisis Psikologis Target'.
[Laporan Analisis: Kenapa Keterikatan Meningkat?]
[1. Rasa Terasing dan Kesepian Kronis: Nadira tumbuh di lingkungan keluarga yang selalu menganggap keberadaannya sebagai beban. Sejak kecil, ia dibiasakan untuk mengalah, tidak memiliki suara, dan menerima perlakuan tidak adil sebagai hal yang wajar.]
[2. ketiadaan Pelindung: Selama bekerja di toko kelontong, Nadira sering menjadi sasaran kekesalan pembeli atau pembawaan sewenang-wenang orang asing. Tidak ada orang dewasa yang pernah berdiri di depannya untuk memberikan rasa aman tanpa meminta imbalan.]
[3. Impak Tindakan Subjek: Langkah Enzo yang berdiri di sampingnya—bukan untuk menjadi pahlawan yang pamer kekuatan, melainkan hanya untuk menegakkan fakta sederhana—memberikan validasi pertama dalam hidup Nadira bahwa dirinya berharga untuk dibela.]
Enzo tertegun membaca baris-baris kalimat itu. Layar ponselnya seolah-olah menjadi cermin tembus pandang yang menelanjangi sisi tergelap dari kehidupan gadis muda yang baru saja disapanya.
"Kesepian kronis..." bisik Enzo seraya menghembuskan napas berat.
Kalimat itu menghantam otaknya secara mendalam. Enzo teringat bagaimana Nadira selalu menundukkan kepala, bagaimana gadis itu dengan cepat menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan yang tidak ia lakukan, dan bagaimana matanya berbinar begitu canggung saat menerima bantuan kecil. Itu bukan sekadar sifat pemalu biasa, melainkan pertahanan diri dari seseorang yang terbiasa merasa tidak dianggap di dunia ini.
Enzo menyapu wajah kusamnya dengan telapak tangan yang agak kasar. Ada kepahitan samar yang merayap di dalam dadanya. Ia menyadari bahwa dirinya dan Nadira sebenarnya tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama manusia yang terpinggirkan di sudut kota yang bising ini—Enzo yang berjuang menutupi ketakutan dan kegagalannya dengan alasan-alasan rasional, serta Nadira yang menutupi lukanya dengan kepatuhan dan kebiasaan mengalah.
[Catatan Sistem untuk Subjek:]
[Keterikatan sebesar 18% bukan berarti target telah jatuh cinta atau mengikatkan hidupnya pada Anda. Angka ini hanya menandakan bahwa pintu kepercayaannya telah terbuka sedikit.]
[Peringatan: Jangan memanfaatkan kerapuhan emosional target demi keuntungan pribadi. Setiap bentuk manipulasi akan berakibat pada penurunan Poin Keberanian secara drastis dan sanksi sistemik.]
"Gue juga nggak ada niat memanfaatkan siapapun," umpat Enzo pelan pada layarnya, merasa tersinggung oleh peringatan dingin sistem tersebut.
Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana jinsnya rapat-rapat. Udara pagi kini terasa makin hangat saat matahari mulai naik melintasi atap-atap gedung di seberang jalan. Enzo melangkah meninggalkan halte bus, menyusuri jalan raya menuju pangkalan angkutan umum yang berjarak beberapa ratus meter di depan.
Hari masih pagi, dan ia harus segera menuju lokasi pekerjaan lepasnya hari ini—membantu pembongkaran muatan barang elektronik di sebuah gudang distributor kecil di area pinggiran kota. Ia membutuhkan setiap rupiah yang bisa ia hasilkan hari ini untuk membayar tunggakan sewa kamar kontrakan Bu Salmah dan membeli beras untuk beberapa hari ke depan.
Sambil berjalan di antara pejalan kaki yang terburu-buru, pikiran Enzo tidak bisa lepas dari peristiwa beberapa saat lalu. Aplikasi di ponselnya ini benar-benar aneh. Ia semula mengira "Sistem Penakluk Dewi" adalah semacam program peretas konyol yang dibuat untuk memberinya kekuatan gaib atau kekayaan instan seperti di dalam novel-novel populer. Namun, dari kuesioner brutal tadi pagi hingga analisis dalam tentang rasa kesepian Nadira, sistem ini justru bekerja seperti pisau bedah yang membedah realitas kehidupan nyata.
Sistem ini tidak memberinya uang sepeser pun. Sistem ini tidak mengubah kenyataan bahwa dompetnya hanya berisi sisa uang logam dan kemejanya mulai pudar. Yang diberikan sistem hanyalah dorongan keras untuk berani melangkah, melihat orang lain apa adanya, dan menghadapi ketakutan di dalam dirinya sendiri.
"Bang! Angkot tiga puluh delapan, jalan nggak?" teriak seorang sopir angkot berkulit gelap dari balik kaca mobilnya yang terbuka, menghentikan angkotnya tepat di samping trotoar tempat Enzo berdiri.
"Jalan, Bang!" sahut Enzo seraya buru-buru melangkah naik ke dalam angkot yang agak berdebu itu.
Ia duduk di bangku sudut dekat pintu belakang, menyandarkan kepalanya yang terasa agak pegal pada bingkai kaca mobil yang bergetar seiring deru mesin tua. Di dalam angkot yang sempit itu, beberapa penumpang lain duduk saling berhadapan tanpa bersuara—seorang ibu rumah tangga dengan keranjang sayuran, seorang bapak tua yang tertidur lelap dengan pakaian kerja kusam, dan seorang pemuda sebaya Enzo yang terus menatap layar ponselnya dengan wajah letih.
Enzo menatap wajah-wajah lesu di sekitarnya. Semua orang di kota ini tampaknya sedang menanggung bebannya masing-masing, berjuang mempertahankan hidup di tengah ketidakpastian yang mengepung dari segala arah. Nadira dengan ketakutan dan rasa kesepiannya, Pak Haji dengan tokonya, para penumpang angkot ini, dan dirinya sendiri yang masih meraba-raba arah masa depan.
Enzo merogoh saku celananya sekali lagi, mengelus permukaan ponsel tuanya tanpa mengeluarkan benda itu. Ada rasa penasaran yang teramat sangat mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika Nadira baru merupakan kontak pertama dari rangkaian panjang yang disiapkan oleh sistem, lalu siapa lagi orang-orang yang menyimpan luka di sekitar kehidupannya yang monoton ini?
Mobil angkutan umum itu melaju kencang, membelah keramaian jalan raya kota yang kian bising. Di balik jendela yang berdebu, Enzo menatap lurus ke depan, membiarkan angin pagi menyapu wajah kusamnya seraya bersiap menghadapi kenyataan hari ini dengan segenap keberanian yang baru saja ia kumpulkan.