Nadia dan Nadine adalah saudari kembar identik berusia 28 tahun. Wajah mereka nyaris sama, tetapi kehidupan pernikahan mereka sangat berbeda.
Nadia lelah menghadapi Arga, suaminya yang dingin dan selalu sibuk. Sementara itu, Nadine hidup bersama Fajar, fotografer muda yang hangat, manja, dan penuh perhatian.
Berawal dari sebuah rencana nekat, mereka sepakat bertukar identitas selama lima belas hari. Nadia ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai Fajar, sedangkan Nadine berniat memberi pelajaran kepada Arga agar lebih menghargai istrinya.
Mereka sudah menghafal kebiasaan, cara bicara, bahkan rahasia tubuh satu sama lain. Seharusnya tak ada yang menyadari pertukaran itu.
Namun mereka melupakan satu hal: perasaan tidak bisa ditiru.
Saat satu kamar berubah menjadi satu ranjang, sentuhan yang awalnya harus ditolak justru terasa semakin sulit dilepaskan. Nadia mulai mendambakan suami adiknya, sementara Nadine menemukan gairah yang tak pernah ia rasakan bersama suaminya sendiri.
Kebohongan selama lima belas hari itu akhirnya menyeret dua keluarga ke dalam cinta terlarang, kehamilan, pengkhianatan, dan rahasia yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Nadine mengenakan sandal, berjalan ke piano, lalu duduk sambil tenggelam dalam kenangan. Sudah berapa tahun ia tidak menyentuh alat musik itu? Dahulu, ia dan Nadia mulai belajar pada waktu yang sama. Nadia berhenti setelah dua tahun, sedangkan Nadine bertahan selama sepuluh tahun. Setelah orang tua mereka meninggal, keadaan memaksanya berhenti.
Nadine menyentuh tuts hitam putih itu dengan jari rampingnya. Dia menghela napas panjang dan mulai bermain. Jemarinya menari lincah di atas tuts. Melodi yang mengalun terdengar lembut dan indah. Nadine tenggelam dalam musik itu, melupakan waktu dan segala hal di sekitarnya.
Dahulu Nadine berlatih piano setiap hari. Musik menjadi tempatnya menenangkan diri dan salah satu hal yang membuat hidupnya terasa berarti. Ia masih mengingat banyak karya yang pernah dipelajarinya, dan kenangan itu membuatnya tersenyum tipis.
Ketika Arga kembali ke rumah, dia tiba-tiba mendengar suara piano yang sudah lama hilang, dan dia langsung mengenali bahwa lagu itu adalah lagu terkenal "Starry Sky" oleh Richard Clayderman. Itu adalah salah satu karya favoritnya. Karya ini panjang dan mendalam, tetapi tidak menyedihkan. Ini berisi perasaan yang tidak akan pernah hilang, dan juga memberi orang imajinasi tanpa batas.
Begitu masuk, Arga melihat istrinya sedang memainkan piano. Gaun yang dikenakannya sederhana, tetapi sikapnya tampak anggun dan tenang. Jemarinya bergerak lincah di atas tuts, menghasilkan rangkaian nada yang menyentuh hati. Sosok itu terasa akrab sekaligus berbeda; senyum tipis di wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang larut dalam musik.
Arga tidak ingin mengganggunya atau merusak gambaran yang diimpikannya. Lagipula, ia tertarik dengan cara Nadia bermain piano. Dia tidak akan pernah lupa bahwa pada malam pergantian tahun lima tahun lalu, dia sedang makan di restoran bergaya klasik dan melihat seorang perempuan muda. Perempuan itu mengenakan gaun putih tanpa tali, dengan rambut disanggul rapi hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Jemarinya bergerak ringan di atas tuts dan setiap sentuhannya menghasilkan melodi yang indah. Dia terpesona dengan lagu "Für Elise" dan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Namun setelah dia bekerja keras dan akhirnya menikahi gadis impiannya, dia tidak pernah bermain piano lagi. Hari ini, dia merasakan sensasi setelah lama absen. Gadis yang dia cintai pada pandangan pertama telah kembali.
Nadine akhirnya bisa melupakan kecanduannya pada piano. Nada terakhir mengalir dari ujung jarinya dan dia menurunkan tangannya dengan puas. Saat itu, dia mendengar tepuk tangan meriah. Pria bernama Arga itu bertepuk tangan dan perlahan berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Ia benar-benar berbeda dengan gambaran suram dan pendiam dalam kesan Nadine. Nadine tak tahu apakah itu hanya perasaannya, tapi dia bahkan melihat cinta di matanya. Sorot itu mengingatkannya pada cara Fajar memandang saat pertama bertemu: hangat, terbuka, dan sulit diabaikan.
Tepuk tangan itu membuat Nadine sadar bahwa sejak tadi ia tidak lagi sendirian. Ia menarik jemarinya dari tuts dan menahan keinginan untuk bertanya sejak kapan Arga berdiri di sana. Arga justru menyebut bagian lagu yang paling disukainya. "Bagian sebelum nada terakhir tadi, ulangi sekali lagi," pintanya sambil berdiri di samping piano. Nadine memainkan empat birama itu dengan lebih pelan, sementara Arga mengikuti iramanya dengan ujung jari di sandaran kursi. Pengetahuannya tentang musik membuat Nadine terkejut; Nadia tidak pernah menceritakan sisi itu. Saat Arga berdiri di samping piano, jarak mereka hanya beberapa langkah, dan perhatian penuh di wajah pria itu terasa jauh lebih berbahaya daripada sikap dingin yang sudah Nadine persiapkan untuk dihadapi.