Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.Doa yang Melangit
Kota besar tidak pernah ramah pada mereka yang datang tanpa membawa tameng harta.
Setelah badai penghinaan yang mereka lalui di Rumah Sakit Medika Utama, realitas hidup segera menarik keluarga kecil itu kembali ke bumi.
Di sebuah sudut sempit pinggiran kota yang padat, berjejer kontrakan-kontrakan semi permanen yang dipisahkan oleh gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu sepeda motor.
Di sanalah, di salah satu petak hunian berukuran tak lebih dari tiga dikali empat meter, Pak Hasyim, Bu Sulis, dan Tera merajut sisa-sisa hidup mereka.
Kontrakan itu sangat kecil sekali. Ruangan utamanya multifungsi, menjadi tempat menerima tamu yang jarang datang, ruang belajar Tera yang dipenuhi tumpukan buku kedokteran tebal, sekaligus ruang tidur bagi Pak Hasyim dan Bu Sulis saat malam tiba dengan menggelar kasur lantai tipis.
Hanya ada satu sekat tripleks yang memisahkan area itu dengan kamar tidur berukuran mini khusus untuk Tera, serta sebuah dapur kecil di sudut belakang yang menyatu dengan kamar mandi.
Jika hujan deras turun, atap seng di atas kepala mereka akan memunculkan simfoni kebisingan yang memekakkan telinga, sering kali disertai dengan bocor di beberapa titik yang memaksa mereka menaruh ember plastik bekas.
Meskipun hidup dalam kondisi yang begitu memprihatinkan, tidak ada satu pun keluhan yang keluar dari bibir Pak Hasyim maupun Bu Sulis.
"Uang ini haram hukumnya dipakai untuk makan kita sehari-hari, Bu," ucap Pak Hasyim dengan suara berat namun tegas, memecah keheningan malam.Jari-jarinya yang kasar mengusap sampul buku tabungan itu.
"Ini uang masa depan Tera. Uang untuk persiapan kuliah profesinya, biaya ujian kompetensi, dan segala keperluan kedokterannya sampai dia benar-benar mandiri. Kita tidak boleh menyentuhnya sepeser pun, walau hanya seribu rupiah."
Bu Sulis yang sedang melipat kain hasil cucian tetangga menghentikan aktivitasnya sejenak. Beliau tersenyum lembut, mengangguk setuju.
"Iya, Pak. Ibu paham. Biarlah lambung kita yang mengalah, asal jalan anak kita tidak terputus di tengah jalan. Ibu masih punya sisa uang dari upah vermak baju tadi siang. Cukup untuk beli beras literan besok pagi."
Tera yang baru saja keluar dari kamar sekotak korek apinya mendengar percakapan itu.
Dadanya bergemuruh hebat. Rasa bersalah dan haru bercampur menjadi satu, menyumbat tenggorokannya.
"Bapak, Ibu" panggil Tera lirih. Dia berjalan mendekat lalu duduk bersimpuh di samping ayahnya.
"Kenapa Bapak dan Ibu harus menyiksa diri seperti ini? Pakai saja sebagian uang itu untuk modal usaha Bapak, atau untuk beli mesin cuci agar Ibu tidak perlu mengucek pakaian laundry sampai larut malam. Tera bisa mencari beasiswa, atau bekerja paruh waktu apa saja sambil menunggu panggilan rumah sakit."
Pak Hasyim menatap anak tunggalnya. Matanya yang mulai meredup dimakan usia mendadak memancarkan kilatan ketegasan yang tak terbantahkan. Beliau memegang kedua pundak Tera dengan mantap.
"Tera, dengarkan Bapak," kata Pak Hasyim, menatap lurus ke dalam manik mata putrinya.
"Tugasmu sekarang hanya satu belajar dan jadilah dokter yang hebat. Jangan kotori pikiranmu dengan urusan perut kami. Bapak ini mantan pemilik sawah, Tera. Kulit Bapak sudah tebal, urat leher Bapak sudah biasa tegang di bawah terik matahari. Menjadi kuli panggul di pasar induk bukan apa-apa dibanding melihat mimpimu hancur."
"Tapi, Pak_" kalimat Tera terputus saat Bu Sulis mengusap lembut rambutnya yang terurai.
"Nduk, tidak ada istilah menyiksa diri bagi orang tua yang sedang memperjuangkan anaknya," sambung Bu Sulis dengan suara yang menenangkan bagai embun pagi.
"Ibu masih kuat mengucek baju. Setiap gesekan tangan Ibu di papan gilesan itu adalah doa, Tera. Ibu selalu berdoa, semoga setiap kotoran yang hilang dari baju-baju ini, luruh juga kesulitan jalanmu menuju kesuksesan. Jadi, jangan pernah minta kami menyentuh uang itu lagi, ya?"
Lentera tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia menunduk, membiarkan tetesan air mata hangatnya jatuh membasahi tikar plastik.
"Tera berjanji, Pak, Bu, Tera tidak akan menyia-nyiakan sepeser pun keringat kalian."
Untuk menyambung hidup dan membayar sewa kontrakan bulanan, Pak Hasyim benar-benar membuang jauh-jauh egonya sebagai orang yang pernah berkecukupan di kampung.
Setiap pukul dua dini hari, saat kota masih terlelap dalam mimpi dan angin malam berembus sangat menusuk, Pak Hasyim sudah bersiap-siap.
Beliau mengenakan jaket kain yang sudah menipis dan bersiap berjalan kaki menuju pasar induk terdekat.
"Bapak berangkat dulu, Bu, Tera," pamit Pak Hasyim sambil membenarkan letak kain sarung yang dililitkan di lehernya untuk menahan dingin.
"Ini air hangat di dalam botol, Pak. Dibawa," ucap Bu Sulis sambil menyodorkan botol minum plastik bekas.
"Kalau punggung Bapak terasa sakit lagi setelah memanggul karung, jangan dipaksakan. Istirahat sejenak."
"Ah, punggung tua ini sudah berteman dengan karung kentang sejak seminggu lalu, Bu. Sudah hafal ritmenya," seloroh Pak Hasyim sambil terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana agar istri dan anaknya tidak cemas.
"Lagipula, juragan sayur berjanji akan memberi bonus sekantong sawi dan beberapa butir telur kalau kerja Bapak cepat hari ini."
Lentera yang ikut mengantar ayahnya sampai ke ambang pintu kontrakan berkata, "Hati-hati di jalan, Pak. Jalanan jam segini sangat sepi."
"Tenang saja, Tera. Malaikat juga tahu Bapakmu berjalan untuk menafkahi calon dokter sukses," jawab Pak Hasyim dengan senyum bangga sebelum melangkah membelah kegelapan gang sempit.
Malam harinya sehabis sholat magrib pak Hasim memanggil Lentera.
"Tera," panggil Pak Hasyim sebelum merebahkan diri di kasur lantai usang.
"Bapak tadi sempat mengobrol dengan salah satu kondektur bus di pasar. Katanya, ada rumah sakit besar di dekat pusat administrasi kota yang sedang membuka lowongan untuk dokter umum melalui jalur tes mandiri tanpa calo. Kriterianya memang sangat ketat, katanya hanya menerima orang-orang dengan otak encer."
Tera yang sedang merapikan mukenanya langsung menoleh, matanya berbinar mendengar informasi tersebut. "Rumah sakit apa namanya, Pak?"
"Rumah Sakit Harapan Bangsa, kalau tidak salah ingat," jawab Pak Hasyim. Beliau menatap langit-langit kontrakan mereka yang bocor, lalu beralih menatap Tera dengan penuh keyakinan.
"Bapak tahu kamu pasti bisa bersaing di sana. Otakmu itu mutiara, Nduk. Jangan biarkan lumpur penghinaan kemarin meredupkan kilaumu. Kirim lamaranmu ke sana besok pagi."
Tera mengangguk perlahan. Dia merapatkan jemarinya, merasakan kehangatan sisa doa subuh tadi masih melekat di kulitnya.
"Tera tidak akan pernah menyerah, Pak, Bu," ucap Tera dengan suara yang bergetar namun sarat akan tekad yang menghujam bumi.
"Penghinaan di Rumah Sakit Medika Utama kemarin tidak membuat Tera ciut. Justru itu menjadi bahan bakar bagi Tera. Uang yang Bapak dan Ibu kunci rapat di bank, akan Tera tebus dengan kesuksesan. Dinding-dinding papan kontrakan ini, atap seng yang bocor ini, suatu hari nanti akan berubah menjadi tempat yang layak bagi Bapak dan Ibu untuk menghabiskan masa tua tanpa perlu memikirkan harga sepotong tahu."
Bu Sulis tersenyum haru, memeluk anak tunggalnya dengan sangat erat, sementara Pak Hasyim memejamkan matanya dengan senyuman tenang di bibirnya.
Di dalam ruangan sekecil itu, di tengah kemiskinan materi yang mengepung mereka dari segala penjuru, Lentera tetap menyala terang, memancarkan cahaya ketegaran yang siap menaklukkan kerasnya dunia luar pada hari-hari esok yang menanti.
Menuju bab menegangkan kembali, jangan lupa komen ya gaes
sean anaknya siapa ini?