Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Suara gesekan ban mobil yang mengerem mendadak di pelataran mansion Ashford seolah tak mampu meredam gejolak di dalam dada Dominic.
Berita duka dari Boston tentang kematian Fernando Mattos menghantamnya seperti tamparan keras. Tidak ada nama lain di dalam benak Dominic selain satu sosok bajingan: Tristan Enver.
Dominic meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa bersalah yang teramat sangat menggerogoti jiwanya. Ia merasa terlambat.
Andaikan saja ia bertindak lebih cepat sore ini, mengabaikan segala kerumitan administrasi dan langsung memindahkan ayah Ester menggunakan helikopter pribadi menuju New York, nyawa pria paruh baya itu mungkin masih bisa diselamatkan.
"Ini semua salahku, Ester..." bisik Dominic parau saat mereka menaiki anak tangga menuju kamar pribadi di lantai dua.
Tangan kokohnya menggenggam jemari Ester yang terasa begitu dingin dan gemetar. "Aku terlalu lambat. Pria brengsek itu... Tristan... dia yang melakukan ini semua."
Ester tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunduk dengan mata yang memerah dan air mata yang terus mengalir tanpa suara. Kepedihannya nyata, namun di balik duka yang mendalam itu, kobaran api dendam menyala kian pekat.
Tristan telah menyeberangi garis batas yang tak ampuni.
Di dalam mansion, suasana duka mendadak menyelimuti seluruh keluarga. Parrie Ashford, sang Mommy, yang mendengar kabar duka tersebut tak sanggup menahan rasa iba.
Dengan mata berkaca-kaca, Parrie mendekati Ester, memeluk gadis muda itu dengan penuh kehangatan seorang ibu.
"Kasihan sekali dirimu, Nak..." bisik Parrie lembut seraya mengusap punggung Ester. "Pergilah ke Boston bersama Dominic. Selesaikan semua urusan pemakaman ayahmu. Mommy akan menyiapkan segalanya di sini."
Dominic memeluk bahu Ester dari samping, menyalurkan kehangatan dan kekuatan di tengah reruntuhan hati gadis itu.
"Kita akan berangkat ke Boston sekarang juga menggunakan jet pribadi keluarga. Aku akan mendampingimu di setiap langkah, Ester. Tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu."
"Terima kasih, Nic..." lirih Ester, membenamkan wajahnya sejenak di dada bidang Dominic sebelum pria itu pamit melangkah turun ke lantai bawah untuk membawa koper dan barang-barang mereka menuju mobil yang sudah bersiap di pelataran.
Suasana kamar tidur pribadi Dominic mendadak menjadi begitu hening setelah langkah kaki Dominic menjauh menuruni tangga.
Ester berdiri sendirian di dekat meja rias, jemarinya memegang tepi kayu untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas.
Klek.
Suara pintu kamar yang terdorong terbuka memecah kesunyian. Ester menoleh, menduga Dominic telah kembali. Namun, langkahnya terhenti seketika.
Bukan Dominic yang masuk.
Sesosok pria tua bertubuh tegap dengan garis wajah tegas dan mata elang yang tajam melangkah masuk secara perlahan.
Kaetos Ashford—sang patriark keluarga—berdiri tegak di ambang pintu, menatap Ester dengan pandangan dingin yang sanggup membekukan darah.
"Tuan... Kaetos?" cicit Ester, dengan refleks mencoba memasang wajah duka yang rapuh.
Kaetos melangkah mendekat, menggenggam gagang tongkat kayunya dengan erat. Tidak ada raut keprihatinan di wajah tua itu, hanya ada dominasi dan kecurigaan mutlak.
"Aku merasa dua tahun lalu, berkas latar belakangmu saat mendaftar sebagai guru privat Angelo memang sudah sangat janggal," suara Kaetos mengalun berat, tajam, dan penuh penekanan.
"Tapi karena saat itu aku menilai kau tidak berbahaya bagi cucuku, Angelo, maka aku membiarkanmu aman di rumah ini selama dua tahun terakhir."
Deg.
Jantung Ester serasa berhenti berdetak sesaat. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku. Manik mata cokelatnya membelalak menatap pria tua di hadapannya.
"D-Dad..." panggil Ester tergagap.
"Berhenti memanggilku seperti itu!" potong Kaetos dingin, suaranya menusuk bagaikan bilah es.
"Aku tidak yakin kau bisa menyematkan panggilan itu untukku di masa depan. Jika kau memulai segalanya di rumah ini dengan tujuan yang buruk, maka bersiaplah... akhir yang akan kau terima juga akan sangat buruk."
Ester menelan ludahnya dengan susah payah. Bulu kuduknya meremang.
"Aku sedang menyelidikimu, Ester Alba," lanjut Kaetos dengan tatapan mengintimidasi yang tak teralihkan.
"Dulu aku membiarkan putraku, Dominic, yang mengambil alih dan mengurus segalanya karena kupikir ini hanya masalah pekerjaan biasa. Tapi sekarang... karena tujuan utamamu rupanya adalah putraku Dominic... maka ucapkan selamat tinggal untuk kota New York."
DUAR!
Tubuh Ester bergetar hebat.
Kata-kata sang patriark menghantam ulu hatinya bagaikan ledakan dahsyat.
Rahasia dan taktik terselubung yang ia susun rapi selama dua tahun terakhir seolah telanjang bulat di bawah tatapan mata elang pria tua ini.
Namun, di tengah getaran ketakutan itu, insting bertahan hidup Ester bergejolak cepat.
Tidak... aku tidak boleh takut! batin Ester menjerit. Ia tidak boleh membiarkan kepanikan menghancurkan segalanya di garis akhir ini.
Ester mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik gaunnya, mencoba menetralkan getaran di suaranya.
Meskipun caranya masuk ke dalam keluarga Ashford berawal dari ambisi dan taktik terselubung untuk melepaskan diri dari ancaman Tristan, cintanya dan rasa terikatnya pada Dominic kini bukan lagi sekadar kebohongan.
Ia benar-benar membutuhkan Dominic—bukan hanya sebagai perisai, melainkan sebagai pria yang telah merenggut seluruh jiwanya.
"Tidak, Tuan Kaetos..." ucap Ester dengan suara yang dipaksakan tenang, menatap lurus mata sang patriark meski matanya berkaca-kaca.
"Saya mengakui... awal kehadiran saya di rumah ini mungkin tidak sepenuhnya murni. Tapi demi Tuhan, perasaan saya pada Dominic saat ini tulus. Saya tidak pernah berniat untuk mempermainkan atau merugikan putra Anda."
Ester melangkah maju satu tindak, membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda penghormatan yang penuh kepasrahan.
"Saya berjanji pada Anda, Tuan... Saya akan mencintai putra Anda tanpa satu kekurangan pun. Saya akan melindunginya dengan seluruh hidup saya."
Kaetos menyipitkan matanya, mengamati setiap jengkal ekspresi di wajah gadis muda di hadapannya.
Tidak ada kebohongan yang terpancar dari keteguhan mata Ester saat menyebut nama Dominic, namun sang patriark tetaplah seorang pengusaha kawakan yang tidak mudah diluluhkan oleh air mata.
"Hm," dengus Kaetos dingin.
Ia menegakkan tubuhnya, lalu membalikkan badan menuju pintu.
"Jaga cucuku baik-baik... Dan jangan sampai kau memanfaatkan nyawa yang belum melihat sempurnanya dunia ini hanya demi ambisimu."
Tepat saat Kaetos merampungkan kalimatnya, langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah koridor.
Dominic muncul di ambang pintu dengan koper di tangannya.
"Dad? Kau di sini?" tanya Dominic dengan dahi berkerut, menatap bergantian ke arah ayahnya dan Ester yang berdiri kaku di dekat meja rias.
Ekspresi Kaetos berubah seketika dalam hitungan detik.
Pria tua itu mengusap bahu putranya, berpura-pura menunjukkan rasa belasungkawa dan simpati atas musibah yang menimpa calon menantunya.
"Daddy hanya menyampaikan belasungkawa pada Ester, Dom," ucap Kaetos dengan nada suara yang melunak, meski tatapan matanya saat melirik Ester untuk terakhir kalinya tetap memancarkan ancaman tajam yang tak bisa dibohongi.
"Jagalah dia selama di Boston. Selesaikan urusan pemakaman dengan baik."
"Terima kasih, Dad," jawab Dominic tulus, sama sekali tidak menyadari perang dingin yang baru saja berkecamuk di dalam kamar tersebut.
Setelah Kaetos melangkah pergi, Dominic langsung mendekati Ester, memeluk tubuh gadis itu yang masih terasa bergetar.
"Kau siap pergi sekarang, Honey?" bisik Dominic lembut.
Ester mengangguk pelan dalam dekapan Dominic, memejamkan matanya rapat-rapat.
Di dalam hatinya, Ester tahu... badai di Boston hanyalah awal dari perang besar yang harus ia hadapi. Namun selama tubuh kokoh Dominic berada di sisinya, ia siap menerjang api sekalipun.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏