Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 18
Roti tersisa separuh tak lagi menggugah selera. Sekeras apapun usahanya menahan tangis, tetap saja buliran bening itu berhasil membobol pertahanan diri. Cepat-cepat dihapusnya bukti kerapuhannya.
Janti menelan ludah, memutuskan pandangan dengan wanita yang terkikik geli sambil berdiri pongah.
Jemarinya gemetaran, lantas di genggam cangkir terasa panas, namun kalah panas dengan hatinya yang baru saja menyaksikan pria telah 4 tahun membersamai asik memersai wanita lain.
Wajah berkulit tan itu tampak pucat, dan napasnya menderu dengan bunyi detak jantung memburu.
Sayang, Mas menikahi Saila cuma karena satu alasan — anak. Selain itu, gak ada. Dia memang cantik, tapi lebih cantik istri kesayanganku ini.
Ucapan manis sebelum restu diberi, kini terdengar menjijikan ditelinga wanita yang mengatur napas, mengupayakan ketenangan meski hatinya seperti gemuruh tanah longsor.
“Arjanti, Sayang, kamu sudah bangun?” Herlan berdiri di dekat gazebo, suaranya parau dikarenakan berlari menuruni tangga.
Herlan berhenti, kepercayaannya diri perlahan terkikis ketika tak mendapati binar mendamba di netra basah sang istri yang memandang hampa.
“Janti, gak mungkin kan Mas langsung meniduri dia tanpa terlebih dahulu membangun kedekatan supaya penyatuan kami memberinya rasa nyaman, biar pikiran tenang sehingga lebih cepat hadirnya keturunan?” tanyanya bersuara lembut.
Arjanti menggigit bibir tanpa mengalihkan mata dari wajah pria yang namanya selalu tersemat dalam doa di setiap sujudnya.
“Sayang.” Ia maju, tangannya terulur hendak mengelus pipi tirus.
Entah karena amarah, atau merasa jijik, otomatis Janti mundur, menghindari sentuhan tangan yang baru saja meraba-raba tubuh wanita lain.
“Arjanti, tolong jangan seperti ini. Jangan jauhi suamimu. Mas bukan orang jahat, hanya sedang menjalankan tugas sebagai seorang suami, dan laki-laki yang tengah berusaha memenangkan istri pertama dihadapan orang tuanya. Semua Mas lakukan semata-mata bukan karena nafsu, tapi demimu juga.” Tangan masih menggantung itu ditarik lagi, ia kecewa ditolak.
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir terlipat ke dalam karena digigit. Arjanti membisu.
“Sayang,” Herlan memanggil lirih istri pertamanya.
“Tepatnya, kapan kamu mengenal Saila, Mas?” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja.
“Maksudnya?” Herlan tidak bisa menangkap makna dibalik suara berusaha tegar.
“Kalau dilihat bagaimana kalian berhasil membangun chemistry dalam waktu sangat singkat, sepertinya kurang bisa diterima oleh akalku,” katanya menyembunyikan rasa nyeri dalam hati.
“Jangan mulai melantur lagi, Janti! Gak ada yang Mas sembunyikan darimu. Sedari awal kamu pun kami libatkan ketika pilihan Mama jatuh ke Saila,” ungkapnya mantap.
“Ya, ya.” Janti mengangguk, memberikan senyum meski lemah. “Semoga hanya praduga buah dari pemikiran sempitku saja.”
“Mas, mandilah! Aku mual mencium aroma tubuh wanita lain yang menempel di kulitmu,” katanya santai setelah berhasil menguasai diri.
“Kita perlu bicara. Sekarang!” Herlan ingin memanfaatkan kesempatan ini, takut Arjanti menghindar lagi.
“Apa dirimu nyaman berbicara denganku disaat bekas hisapan gigi kecil itu memenuhi dada dan leher? Tidakkah kamu merasa bersalah, atau setidaknya malu karena membiarkan aku melihat semua itu? Atau memang sengaja?” cecarnya berusaha sabar, dan menahan mual.
Herlan menunduk, dan baru sadar kalau bagian dada banyak tanda merah gelap hasil mahakarya Saila. “Kamu jangan kemana-mana, mas ambil baju sebentar.”
Janti tidak menjawab, memandang kosong pundak lebar yang sebelumnya menjadi sandaran ternyaman.
Hueg.
Rasa mual lebih kuat lagi sampai dia tidak bisa menahan diri.
Janti berlari masuk ke dalam rumah, lalu masuk ke kamar mandi. Membungkuk di depan kloset duduk.
Hueg!
Hueg!
Dia muntah-muntah. Kepalanya terasa pusing dan perut bergejolak. Sarapan pagi belum lama masuk ke lambung, kini keluar lagi.
“Siapa yang muntah dikamar mandi belakang?” tanya Tanira, berdiri di batas dapur.
“Arjanti, Bu,” jawab Astuti. Tadi sempat melihat istri pertama Herlan. “Apa mungkin dia hamil ya?”
Darti yang duduk di kursi roda dan didorong oleh Astuti, langsung menyambar. “Halla, lagu lama. Aku sudah lelah, bosan dan muak ngeliat aktingnya dulu. Ratusan kali ada dia muntah-muntah dikira hamil ternyata masuk angin.”
“Mandul kok ya mau memainkan peran pura-pura hamil didepan wanita yang pernah mengandung dan melahirkan, jelas gagal total lah,” hinanya berkelanjutan.
Tanira tersenyum puas, tetapi berbanding terbalik dengan kalimat sok peduli. “Jeng, siapa tau Janti memang hamil, tapi gimana dengan Saila semisal istri pertama Herlan bisa memberi keturunan?”
“Aku cuma bertanya, gak ada maksud apa-apa. Wajarkan seorang ibu mengkhawatirkan nasib putrinya?” sambungnya cepat sebelum Darti maupun Astuti menjawab.
“Jeng, jangan pernah percaya muka lugu menantuku satu itu. Dia pinter akting, pura-pura lemah, kalem, aslinya bermuka dua. Buktinya, tega ngebiarin aku yang habis jatuh ini. Jangankan diurusin, ditanyain keadaannya saja tidak,” kebencian Darti bertambah saja ke Janti.
Belum sempat Tanira menyahuti, pintu kamar mandi dibuka dari dalam.
“Kamu hamil, Janti? Atau masuk angin, lagi?” suara Astuti lebih ke mengejek daripada bersimpati.
Arjanti kehilangan rona merah pada pipi lembab, mata memerah, dan lidah terasa pahit. Ia jelas paham hinaan dibalik pertanyaan terselubung.
“Lebih tepatnya cacingan. Lihat aja badan kurus kering itu! Dikasih makan enak, bukannya jadi daging malah mirip orang kekurangan gizi,” Darti tidak menyia-nyiakan kesempatan meluapkan emosi tertunda.
Dia sedang malas meladeni mulut jahat ibu mertua dan lainnya. Ditambah perutnya masih mual, tetapi sudah tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan. Janti pun berlalu, melewati ketiga orang memandang penuh perhitungan itu.
“Eh, eh … makin kurang ajar ya kamu, Janti!” hardik Darti. Tak terima dilalui menantu tanpa disapa.
“Sana buat sarapan! Aku mau nasi goreng telur ceplok setengah matang. Jangan mau enaknya saja kamu disini! Sudah numpang hidup, malas membantu meringankan pekerjaan rumah, gak bisa hamil, terus gunamu apa coba?!” ujarnya tanpa mau repot-repot memilah kata.
“Gunaku?” Ia berbalik, menunjuk dirinya sendiri. “Sebelum ada Saila disini, aku berperan ganda — melayani suami, memastikan perut kalian kenyang lewat masakanku, dan merawatmu, Bu.”
“Sekarang ....” Kedua tangannya terbuka. “Boleh dong aku libur sejenak? Aku ini sebenarnya baik, perhatian, dan pengertian, bersedia memberi kesempatan kepada Saila untuk unjuk gigi, bukan bisanya mendesah di bawah selimut saja. Bu, ingat gak sama perkataanmu dulu pas awal-awal aku tinggal disini — perempuan itu harus pintar di dapur, sumur, dan kasur.”
“Saila mungkin sudah berhasil membuktikan diri diatas kasur, tinggal sumur dan dapur. Sebagai istri pertama, sudah sepantasnya aku memberi dia ruang dan waktu. Baik kan aku?” tanyanya seraya memindai setiap wajah berekspresi kaku.
“Saila itu tugasnya cuma mengandung. Sesuai kodrat biologis wanita — Mengandung, melahirkan, menyusui,” Tanira membela putrinya.
Janti terbelalak, lalu memasang ekspresi terkejut. “Apa sekarang dia lagi hamil? Atau jangan-jangan memang telah mengandung? Kok bisa cepet banget ya? Menikah baru hitungan hari. Top cer banget maduku itu.”
“Mas, lihat kelakuan istri pertamamu! Dia fitnah aku!”
.
.
Bersambung.