Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pesan di Balik Giok
Liontin itu terasa hangat di genggaman Ling Yue, seolah benda itu sendiri memiliki nyawa. Ia membukanya perlahan, menatap permukaan giok yang kini menyatu sempurna membentuk lingkaran utuh. Di bawah cahaya matahari pagi yang menembus celah jendela, ukiran halus yang tadinya terpisah kini menyatu membentuk pola yang lebih besar—bukan sekadar hiasan, melainkan deretan huruf kuno yang tersembunyi di balik lapisan tipis debu usang.
"Ada tulisan..." bisiknya, memicingkan mata.
Li An mendekat, napasnya tertahan. "Itu aksara yang digunakan puluhan tahun lalu. Hanya sedikit orang yang masih bisa membacanya."
Ling Yue mengusap permukaan giok dengan ujung kain lengan bajunya. Huruf-huruf itu perlahan menjadi jelas, tertulis rapi namun samar di bagian dalam lingkaran giok:
"Kebenaran tidak mati bersama kami. Ia menunggu di tempat air bertemu langit, di mana awan tidak pernah pergi."
"Tempat air bertemu langit..." Ling Yue mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat peta wilayah kekaisaran. "Di mana itu?"
Li An terdiam sejenak, lalu matanya membelalak pelan. "Itu mungkin merujuk pada Danau Awan di perbatasan barat. Di sana, permukaan air begitu tenang sehingga seakan tak ada batas antara danau dan langit. Ayahku pernah bercerita bahwa ayahmu sering pergi ke sana sendirian, katanya untuk berpikir dan menenangkan hati."
"Berarti di sanalah ia menyimpan bukti yang ia cari?" tanya Ling Yue, jantungnya berdebar kencang. "Bukti bahwa ia bukan pengkhianat?"
"Kemungkinan besar begitu," jawab Li An dengan wajah serius. "Tapi Danau Awan kini berada di bawah kendali pasukan Wei Yan. Jika kita pergi ke sana, kita berjalan langsung ke sarang musuh."
"Saya tidak bisa diam saja," ucap Ling Yue tegas, matanya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Selama ini nasib keluargaku digantungkan pada ucapan orang lain. Kali ini, saya sendiri yang akan membuktikan kebenaran."
Li An menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan. Ia tahu tidak ada yang bisa mengubah keputusan gadis itu.
"Baik. Tapi kita tidak akan pergi berdua secara sembarangan. Itu terlalu berbahaya." Ia berbalik ke arah pintu dan berteriak pelan. "Ayo masuk!"
Dua orang melangkah masuk—seorang pemuda bertubuh ramping dengan wajah tenang, dan seorang wanita yang tatapannya tajam namun waspada.
"Ini Mo Yu," tunjuk Li An pada pemuda itu. "Ia adalah pengintai terbaik di bawah pimpinanku. Dan ini Shen Ying, ahli pengobatan serta petarung yang sangat lihai. Mereka berdua bisa dipercaya sepenuhnya."
Mereka mengangguk hormat.
"Malam ini," lanjut Li An dengan suara rendah namun tegas, "Kita berangkat ke Danau Awan. Kita menyamar sebagai rombongan pedagang. Semakin sedikit orang yang tahu keberangkatan kita, semakin aman."
"Bagaimana dengan istana?" tanya Ling Yue. "Jika Kaisar mengetahui kita pergi..."
"Aku akan meninggalkan surat penjelasan," jawab Li An. "Aku akan meminta waktu tujuh hari. Jika dalam waktu itu kita tidak kembali dengan bukti yang cukup, aku akan menyerahkan diriku sendiri untuk diadili."
"Li An..." Ling Yue menggenggam tangannya erat. "Itu terlalu berisiko."
"Risiko terbesar adalah membiarkan kebohongan ini terus hidup," jawabnya lembut namun tegas. "Kita sudah memulainya bersama. Kita akan menyelesaikannya bersama."
Malam turun perlahan, menyelimuti ibu kota dengan kegelapan. Di gerbang belakang kediaman, tiga ekor kuda sudah bersiap lengkap dengan perlengkapan perjalanan sederhana. Pakaian mewah mereka diganti dengan pakaian kasar berwarna gelap, wajah Li An yang biasanya bersih kini tampak lebih tua dan biasa saja berkat samaran cerdik dari Shen Ying.
"Jalan ke Danau Awan melewati hutan lebat," bisik Mo Yu saat mereka mulai bergerak pelan meninggalkan kota. "Ada beberapa jalur tersembunyi yang jarang dilewati orang. Namun pasukan Wei Yan sudah mengawasi setiap jalan utama."
"Kita ambil jalur tersembunyi itu," putus Li An. "Lebih lambat, tapi lebih aman."
Perjalanan terasa panjang dan melelahkan. Di bawah sinar remang bulan, mereka melintasi sungai yang airnya sedingin es, menaiki bukit yang terjal, dan menyusuri jalan setapak yang nyaris tak terlihat. Ling Yue tidak pernah melupakan kenyamanan hidup, namun kini ia berjalan tanpa keluhan, kakinya lelah namun hatinya semakin teguh. Ia tidak lagi sekadar lari dari bahaya—ia sedang mengejar masa depan.
Pada malam ketiga, mereka berhenti beristirahat di sebuah gua kecil di tengah hutan. Api unggun dinyalakan kecil saja, cukup untuk menghangatkan tubuh tanpa menarik perhatian.
"Menurut laporan," ucap Mo Yu sambil menatap peta sederhana yang digambar di atas tanah, "Pasukan Wei Yan berjumlah sekitar dua ribu orang. Mereka mendirikan kemah tidak jauh dari tepi danau. Sepertinya mereka juga sedang mencari sesuatu."
"Mereka tahu," gumam Ling Yue. "Wei Yan pasti menyadari bahwa ayahku meninggalkan bukti. Ia ingin menemukannya lebih dulu."
"Kalau begitu kita harus lebih cepat," kata Shen Ying, suaranya lembut namun tegas. "Sebelum mereka menemukan apa yang dicari, atau sebelum mereka menyadari kita ada di sini."
Li An menatap ke arah kegelapan di luar gua. "Besok sore kita akan sampai di tepi danau. Kita masuk diam-diam saat malam tiba."
Namun takdir seakan tak membiarkan mereka berjalan tanpa hambatan.
Saat fajar menyingsing, tepat saat mereka hendak melanjutkan perjalanan, terdengar derap langkah kuda mendekat. Bukan satu atau dua ekor—puluhan.
"Penyamaran kita terbongkar!" seru Mo Yu, segera berdiri dan menarik pedangnya.
"Jangan bertindak gegabah," tahan Li An, matanya menyapu sekeliling. "Di sini terlalu terbuka. Kita tidak bisa melawan mereka secara langsung."
"Ke sana!" Shen Ying menunjuk ke arah semak belukar rapat di sisi tebing. "Ada jalur turun curam yang mengarah ke sungai. Kita bisa menyusup."
Mereka berlari secepat mungkin, namun suara teriakan pengejar semakin dekat. Anak panah melesat melewati bahu Ling Yue, menancap ke batang pohon di sampingnya. Li An menarik tangannya, mempercepat langkah mereka.
Turunan itu licin dan berbahaya. Ling Yue terpeleset, kakinya terasa perih, namun ia tidak berhenti. Tangan Li An tidak pernah melepaskan genggamannya, menariknya terus maju, maju, dan maju—hingga suara air sungai yang bergemuruh terdengar keras di bawah.
Di tepian, sebuah perahu kayu kecil tertambat di antara bebatuan.
"Naik!" perintah Mo Yu, sudah berada di perahu dan menahan agar tidak hanyut.
Li An mendorong Ling Yue naik lebih dulu, lalu menyusul Shen Ying. Saat ia hendak melompat masuk, sepasang anak panah melesat sekaligus. Li An berputar menangkis satu dengan pedangnya, namun yang satunya menancap di lengan kirinya.
"Li An!" teriak Ling Yue, tangannya meraih pria itu.
"Tidak apa-apa," desis Li An, menahan rasa sakit, melompat masuk ke perahu. "Cepat pergi!"
Mo Yu mendayung sekuat tenaga. Perahu melesat membelah air yang deras, meninggalkan tepian tempat para pengejar berdiri mematung, melepaskan anak panah yang hanya jatuh ke air di kejauhan.
Perlahan namun pasti, suara teriakan itu mereda. Namun kelegaan itu tak bertahan lama. Wajah Li An pucat, darah merembes membasahi lengan bajunya, menetes ke lantai perahu.
"Lenganmu..." Ling Yue duduk di sampingnya, suaranya bergetar.
Shen Ying segera berlutut memeriksa luka itu. "Anak panah itu tidak merusak tulang, tapi ujungnya kemungkinan besar diolesi racun."
Ling Yue menatap Li An dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kau melindungiku..."
Li An tersenyum tipis, meski keringat dingin mulai menetes di dahinya. "Bukankah sudah kubilang? Aku akan melindungimu dengan nyawaku sendiri."
"Jangan bicara seperti itu," isak Ling Yue, meremas tangannya. "Kita belum sampai. Kau tidak boleh menyerah sekarang."
"Aku tidak akan menyerah," bisiknya, menatapnya lekat-lekat. "Aku hanya... minta satu hal darimu."
"Apa pun. Katakanlah."
"Jika sesuatu terjadi padaku..." Ia mengangkat tangan yang tidak terluka, menyentuh pipi gadis itu dengan lembut. "Jangan berhenti mencari kebenaran. Dan jangan membenci dunia ini hanya karena sebagian orang berbuat jahat."
"Li An..."
"Temukan buktinya. Bersihkan nama ayahmu. Dan hiduplah... hiduplah dengan bahagia."
Ling Yue menahan tangis, menggeleng kuat. "Kita akan melakukannya bersama. Semuanya. Bersama-sama."
Shen Ying tiba-tiba berseru pelan, "Lihat ke depan!"
Mereka mendongak. Di balik kabut tipis yang melayang di permukaan air, terlihat garis pantai yang panjang. Di kejauhan, di bawah sinar matahari sore yang mulai meredup, permukaan danau berkilauan seperti hamparan permata yang tak bertepi. Di sana, di tengah keheningan yang damai, langit dan air menyatu menjadi satu—persis seperti tulisan di dalam giok itu.
Kita sudah sampai.