Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01: Istri yang Selalu Menunggu
____🌺
Makanan di atas meja makan itu sudah dipanaskan untuk yang ketiga kalinya. Jarum jam di dinding ruang tengah, kini menunjuk tepat ke angka sebelas malam.
Dua tahun usia pernikahan mereka, dan Nayara Adisty, masih saja mengulang kebodohan yang sama, yaitu berharap Adrian Mahendra akan pulang tepat waktu ke rumah.
Tut tut tut!
Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar, memecah keheningan malam. Layarnya menampilkan nama Maya, sahabatnya sejak kuliah. Nayara segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu, ke telinga.
"Kamu masih belum tidur, Nay?"
Suara Maya terdengar berisik di seberang sana, diiringi alunan musik pelan. Sepertinya perempuan itu masih berada di kafe miliknya, yang baru akan tutup tengah malam.
"Masih. Kenapa, May? Ada masalah di kafe?" tanya Nayara pelan.
"Kafe aman. Aku yang tidak tenang memikirkan kamu. Adrian belum pulang? Ini sudah jam sebelas, malam?."
Nayara menghela napas, matanya menatap nanar lilin angka dua, di atas kue tar yang sudah lama, ia padamkan.
"Belum, May. Katanya tadi sore ada rapat dadakan sama klien dari luar kota."
"Tiap hari rapat dadakan. Aneh sekali suami kamu itu. Ini kan, hari peringatan pernikahan kalian, masa dia tidak bisa mengosongkan jadwal sehari saja, buat istrinya?" omel Maya dengan nada gemas yang tak ditutupi. "Sudah keterlaluan, sibuknya."
"Ya, namanya juga urusan pekerjaan, May. Apalagi dia baru pegang proyek besar di perusahaan keluarganya. Tanggung jawabnya pasti nambah." Nayara membela suaminya.
Meskipun hatinya sendiri terasa mulai kebas, karena terlalu sering kecewa.
"Pekerjaan sih pekerjaan, Nay. Tapi nggak gitu juga caranya. Kamu itu sudah mengorbankan karier desain interior kamu, demi ngurusin dia di rumah. Jangan mau terus-terusan dijadikan prioritas, terus-terusan, Nay. Tadi siang kamu bilang sudah masak banyak, kan? Pasti semuanya, sudah dingin sekarang."
"Sudah aku panasin tiga kali, kok," balasnya, berusaha terdengar santai dan tersenyum tipis, meski ia tahu, Maya tak bisa melihatnya. "Masih enak, buat dimakan, kok."
"Bukan masalah dipanasin nya, Nayara! Masalahnya itu, suami kamu ke mana? Kamu sudah berdandan cantik, menyiapkan makan malam spesial, capek-capek ke pasar dari pagi, eh, dianya malah asyik rapat tidak jelas di luar. Sudah kamu telepon belum?"
"Sudah, dari jam tujuh malam tadi aku telepon berkali-kali. Tapi masuk ke kotak suara terus. Mungkin hp-nya lowbat atau sengaja di-silent karena lagi rapat penting."
Maya mendengus kasar, terdengar sangat tidak puas dengan jawaban sahabatnya itu.
"Kamu tuh ya, terlalu sabar tahu tidak? Kalau aku jadi kamu, sudah aku kunci, tuh pintu depan. Biar dia tidur di teras sekalian, digigit nyamuk biar sadar diri."
Wanita itu tertawa kecil, setidaknya ucapan Maya sedikit mengurangi rasa sesaknya.
"Jangan begitu, May. Lagian, aku yakin dia pasti pulang sebentar lagi. Nanti kalau dia sudah sampai, aku kabari kamu lagi ya."
"Ya, sudah. Pokoknya kamu jangan terlalu sering mengalah. Sesekali kamu harus berani tegas, Nay. Ingat, kamu itu istrinya, paham kan, bukan sekadar pajangan rumah yang menunggu dia pulang bawa uang."
"Iya, Maya bawel. Sudah dulu ya, kayaknya itu suara mobil, Mas Adrian sudah masuk garasi."
"Oke. Awas saja kalau dia sampai lupa hari ini hari apa. Jangan langsung dimaafin kalau dia banyak alesan!"
Tut!
Sambungan telepon terputus. Nayara segera meletakkan ponselnya di atas meja. Ia buru-buru merapikan sedikit tatanan rambutnya, mengusap gaun tidurnya yang sedikit kusut, lalu berjalan cepat, menuju pintu depan.
Krek!
Suara derit pintu terdengar dibuka dari luar. Adrian masuk sambil menempelkan ponsel di telinga kiri, sementara tangan kanannya sibuk melonggarkan dasi yang sudah melilit lehernya seharian. Wajahnya terlihat sangat lelah, kaku, dan lesu.
"Iya, pokoknya saya tidak mau tahu. Urus semuanya malam ini," ucap Adrian dengan nada kesal. Langkahnya cepat melewati ruang tamu, hampir tidak menoleh ke arah istrinya. "Jangan sampai ada yang bocor ke media, soal proyek gagal itu. Kamu ngerti, kan? Saya bayar kamu mahal, bukan buat kerja setengah-setengah."
Adrian terdiam sejenak, wajahnya semakin tertekuk mendengarkan jawaban dari seberang telepon.
"Sudah, tidak usah banyak alasan. Pokoknya besok pagi laporan pembukuannya sudah harus ada di meja saya. Tidak ada tapi-tapi lagi. Sudah, ya!"
Tut!
Adrian mematikan panggilan itu sepihak, lalu menghela napas panjang dan melempar ponselnya begitu saja ke atas sofa.
Baru saat itulah ia menoleh dan menyadari kehadiran istrinya yang berdiri diam, di dekat sekat ruang tamu.
"Loh, Nay? Kok, belum tidur? Ini sudah jam sebelas lewat." Adrian melepas jasnya dengan kasar, lalu menyodorkannya pada istrinya.
Nayara tersenyum lembut, meraih jas dan tas kerja suaminya dengan telaten. "Menunggu kamu, Mas. Jalanan macet banget, ya? Mau makan sekarang? Aku sudah masak—"
"Tidak usah," potong Adrian cepat, nadanya dingin. Ia berjalan mendahului Nayara menuju dapur, langsung membuka pintu kulkas dan menenggak air dingin langsung dari botol.
Langkah Nayara terhenti di ambang pintu ruang makan. Jari-jarinya mencengkeram jas Adrian sedikit lebih erat.
"Aku sudah makan di luar tadi sama klien dari luar kota. Kenapa kamu repot-repot masak banyak banget sih malam-malam begini?" tanya Adrian, sambil mengusap tengkuknya yang pegal. Matanya melirik sekilas ke arah meja makan.
Mata Nayara menatap nanar deretan makanan favorit suaminya yang kini kembali dingin. Ada iga bakar, capcay seafood, udang saus tiram, dan sebuah kue kecil bersalut cokelat di tengah meja yang tulisan di atasnya mulai lumer dan sulit dibaca.
"Kamu ... beneran sudah makan, Mas?" tanya Nayara pelan, suaranya sedikit bergetar menahan kecewa.
"Sudah, Nay. Lagian ini sudah malam banget, aku tidak biasa makan berat jam segini. Lambungku bisa bermasalah nanti," jawab Adrian cuek.
Ia menarik kursi meja makan dan duduk bersandar memejamkan mata. "Kamu belum makan sama sekali?"
"Belum. Aku kan, nungguin kamu pulang, Mas."
Adrian berdecak pelan, raut wajahnya menunjukkan kekesalan, bukan simpati.
"Kan, aku sudah sering bilang, kalau aku pulang telat tidak usah ditungguin. Makan saja duluan. Ngapain nyiksa diri sendiri, nahan lapar?"
Dada Nayara terasa semakin sesak. Kata-kata itu terdengar logis, namun sangat menyakitkan.
"Aku cuma ingin kita makan bareng malam ini, Mas. Kamu tidak ingat, ya, hari ini hari apa?"
Adrian yang sedang memijat pelipisnya perlahan membuka mata, menoleh dengan dahi berkerut tajam. Matanya melihat meja makan sekali lagi, melihat hidangan yang begitu meriah, lalu kembali menatap istrinya.
"Hari apa? Ada acara keluarga kamu? Atau ulang tahun Mama? Perasaan Mama ulang tahunnya bulan depan, dan aku sudah menitip kado ke Dimas."
Pertahanan Nayara perlahan runtuh. Ia menunduk sambil meremas ujung jas yang masih ia pegang. "Bukan, Mas. Hari ini tanggal delapan. Peringatan pernikahan kita yang kedua."
Hening mendadak menyelimuti ruang makan itu.
Gerakan tangan Adrian yang sedang memijat keningnya terhenti, di tempat. Raut wajahnya berubah seketika.
emang lu doang yang bisa 🤣🤣