Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sorak-sorai penonton langsung pecah riuh saat lawan Praduta tersungkur di kanvas.
Namun, di mata Gladys, sorakan itu terdengar sangat memekakkan dan menyiksa.
Air mata kecemasan yang ditahannya sejak tadi akhirnya menetes membasahi pipi.
Begitu wasit menghentikan pertandingan, Praduta yang masih memegang sudut bibirnya yang berdarah melangkah keluar dari ring.
Pria itu menyapu keringat di keningnya, lalu berjalan mendekati Gladys dengan tatapan mata yang intens—seolah-olah seluruh luka memar dan darah itu tidak ada artinya dibanding kehadiran wanita di depannya.
"Gladys," panggil Praduta pelan, suaranya parau dibalik napasnya yang masih terengah-engah.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Gladys melangkah lebar memangkas jarak di antara mereka.
Matanya memerah dipenuhi campuran rasa panik, cemas, dan amarah yang meledak.
PLAK!
Suara tamparan keras menggema di sudut ruangan yang sepi itu.
Pipi kanan Praduta terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang berpadu dengan memar dan luka.
Dada Gladys naik-turun hebat. Jemari tangannya yang baru saja menampar Praduta gemetar parah.
"Kamu gila, Pra?!" jerit Gladys dengan suara bergetar dan parau, air matanya menetes makin deras.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan?! Kamu menyiksa dirimu sendiri! Kamu minta aku datang ke sini hanya untuk melihat kamu dihajar sampai berdarah-darah seperti ini?!"
Praduta perlahan memutar kepalanya kembali menghadap Gladys.
Bukannya marah atau meringis kesakitan, ia justru menatap Gladys dengan sorot mata yang begitu dalam dan dingin—sebuah tatapan rapuh yang sengaja ia tampilkan untuk menyayat perasaan Gladys lebih dalam lagi.
"Iya, aku gila, Gladys," bisik Praduta dengan suara parau namun sarat akan manipulasi yang terencana.
"Rasa sakit karena pukulan-pukulan ini, sama sekali tidak ada artinya dibanding rasa sakit di dadaku saat melihatmu kembali bersama pria itu pagi tadi."
Dada Gladys naik turun tak beraturan. Napasnya tercekat di tenggorokan mendengar pengakuan telak itu.
Rasa marah yang baru saja ia lampiaskan lewat tamparan kini seketika runtuh, digantikan oleh gelombang rasa bersalah dan sesak yang luar biasa menghantam dadanya.
"Pra," bisik Gladys lemah, jemarinya yang tadi mengepal kini gemetar di sisi tubuhnya.
"Bukan begitu, kamu tidak mengerti situasiku."
Praduta melangkah mendekat, mengabaikan luka robek di sudut bibirnya dan darah yang mengering di pelipisnya.
Tatapannya menyorot tajam, sarat akan luka dan cemburu yang sengaja ia pertontonkan dengan begitu sempurna untuk menghancurkan pertahanan wanita itu.
"Apa kamu mulai jatuh cinta dengan suami yang baru kamu nikahi beberapa hari itu?" desis Praduta, suaranya rendah namun menghujam tepat di ulu hati Gladys.
"Apakah kamu lupa ciuman pagi tadi bersamaku?"
Pertanyaan itu meluncur tajam, membuat Gladys seolah kehilangan pijakannya.
Bayangan sentuhan hangat, keintiman, dan debaran liar di apartemen Praduta pagi tadi berkelebat kontras dengan ciuman di kening yang diberikan Raka siang tadi.
Gladys menggelengkan kepalanya pelan, air matanya kian deras tumpah membasahi pipi.
"Bukan begitu, Pra." cicitnya tertahan, merasa terjepit di antara rasa bersalah pada komitmen pernikahannya dan ikatan emosional yang terlanjur terajut dengan pria di hadapannya.
Praduta tidak memberinya celah untuk bernapas. Ia terus memangkas jarak, hingga aroma keringat dan bau khas metalik darah dari tubuh atletisnya menguar di indra penciuman Gladys.
Tangan Praduta yang terbungkus handwrap merah terulur, perlahan menyentuh pipi Gladys yang basah oleh air mata, mengusapnya dengan kelembutan yang teramat kontras dengan tatapan matanya yang membara.
"Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa kamu biarkan dia menyentuhmu? Kenapa kamu masih berada di sangkar emas itu, Gladys?" bisik Praduta tepat di depan bibir wanita itu, menuntut jawaban yang bisa menghancurkan sisa-sisa benteng pertahanan Gladys.
Di tengah keheningan yang menyesakkan dan debaran jantung Gladys yang bergemuruh akibat kata-kata Praduta, suara nyaring dering ponsel mendadak memecah ketegangan di sudut sasana tinju yang agak sepi itu.
Gladys tersentak kaget. Ia buru-buru merogoh tas tangannya dan menarik keluar ponselnya yang bergetar hebat.
Nama "Mas Raka" tertera jelas di layar dengan foto profil pria itu.
Panggilan telepon itu masuk tepat di saat Gladys merasa paling terpojok di dunia.
Praduta, yang berdiri hanya beberapa sentimeter darinya, ikut melirik layar ponsel tersebut.
Sudut bibirnya yang robek terangkat membentuk senyuman sinis yang dingin.
Tanpa suara, Praduta menatap Gladys lekat-lekat, menantang wanita itu untuk mengangkat atau mengabaikannya.
Napas Gladys tercekat. Tangannya gemetar menggenggam benda pipih itu, terjebak dalam dilema besar antara menjawab panggilan suaminya yang tengah bersiap menjemputnya malam ini, atau tetap berdiri di hadapan Praduta yang sengaja menguji batas kewarasannya.
Gladys menelan ludahnya yang terasa tercekat, keraguannya terpampang jelas di matanya yang berkaca-kaca.
Sebelum ia sempat berpikir jernih untuk menolak atau mengabaikan panggilan itu, layar ponselnya berkedip sekali lagi—panggilan dari Raka terhenti karena tidak terjawab, namun detik berikutnya sebuah pesan teks masuk:
[Gladys, aku sudah di perjalanan menuju kafe untuk menjemputmu. Jangan ke mana-mana, ya.]
Jantung Gladys seakan berhenti berdetak. Panic attack kecil menyerangnya; Raka sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya malam ini, sementara ia kini berdiri di sasana tinju bersama Praduta dalam kondisi yang sangat rentan.
Melihat perubahan warna wajah Gladys dan gerak-geriknya yang gelisah, Praduta menyipitkan mata.
Dengan gerakan cepat dan tanpa permisi, tangan Praduta merampas ponsel dari genggaman Gladys.
"Eh—Pra, kembalikan!" seru Gladys kaget, refleks mencoba merebut kembali ponselnya.
Namun Praduta mengangkat sebelah tangannya, menjauhkan benda itu dari jangkauan Gladys yang bertubuh lebih pendek.
Praduta melirik layar ponsel yang menyala, membaca pesan singkat dari Raka, dan seringai dingin kembali tersungging di bibirnya yang terluka.
"Suami teladan," ejek Praduta pelan dengan nada sinis yang menusuk.
"Dia bahkan tidak tahu di mana istrinya berada, dan dengan bodohnya berasumsi kamu masih patuh menunggunya di kafe."
"Pra, jangan gila! Kembalikan ponselku!" pinta Gladys memelas, suaranya bergetar karena rasa takut jika Raka tiba-tiba datang ke kafe dan mendapatinya tidak ada di sana.
Konflik di rumah tangga mereka baru saja diberi kesempatan kedua oleh Papa Devandra, dan Gladys tahu kehancuran total akan terjadi jika Raka memergokinya bersama Praduta.
Praduta menatap lekat-lekat mata Gladys yang ketakutan.
Alih-alih marah, Praduta justru menurunkan tangannya, lalu mencengkeram kedua bahu Gladys dengan lembut namun tegas—mengunci pergerakan wanita itu agar fokus sepenuhnya padanya.
"Pilih, Gladys," bisik Praduta tepat di depan wajahnya, suaranya menghanyutkan sekaligus berbahaya.
"Tetap jadi boneka patuh di sangkar emas bersama pria yang tidak pernah benar-benar menghargaimu, atau biarkan aku meruntuhkan semuanya bersamamu malam ini."
"Pra, aku yang salah." cicit Gladys tertahan, suaranya nyaris tenggelam di antara napas mereka yang memburu.
Praduta menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Gladys yang basah, membaca setiap keraguan dan rasa bersalah yang berkecamuk di sana. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai penuh kemenangan yang kelam.
"Kamu tidak salah, Gladys," bisik Praduta serak, ibu jarinya mengusap bibir bawah wanita itu dengan gerakan yang mendominasi.
"Kamu mencintaiku."
Sebelum Gladys sempat mencerna atau meralat ucapan itu, Praduta langsung merengkuh tengkuknya.
Pria itu membungkam bibir Gladys dalam sebuah ciuman yang menuntut—jauh lebih kasar, menuntut, dan sarat akan amarah serta obsesi yang menggebu-gebu.
Ciuman itu meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhir Gladys, membuatnya terengah-engah dalam kungkungan tubuh Praduta yang panas dan berkeringat.
Suasana di sudut ruangan sasana tinju yang remang itu mendadak berubah semakin berbahaya saat tangan Praduta mulai bergerak mencengkeram ujung pakaian Gladys, menariknya ke atas, berniat menepis segala batasan moral dan logika di antara mereka demi menuntaskan hasrat posesifnya.
"Pra, sudah!" teriak Gladys tersengak, dengan sisa-sisa tenaga dan kesadarannya ia mendorong dada bidang Praduta sekuat tenaga hingga ciuman itu terlepas.
Napas Gladys naik turun tak beraturan, dadanya bergemuruh hebat di ambang kepanikan yang mutlak.
Sadar bahwa situasi ini sudah melangkah terlalu jauh dan bisa menghancurkan sisa hidupnya, Gladys menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja di sebelah mereka.
Tanpa menoleh lagi ke arah Praduta yang berdiri tertegun dengan napas memburu dan tatapan mata yang menyala, Gladys membalikkan badan dan berlari keluar dari sasana tinju itu.
Ia menghentikan taksi pertama yang melintas, hatinya berdegup kencang ketakutan membayangkan Raka yang mungkin sudah menunggunya kembali di kafe.