Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STRATEGI YANG TERBACA
Serangan yang begitu ganas dan brutal seketika mengacak-acak formasi pasukan lawan yang tadinya tampak kokoh berdiri rapi. Suara benturan keras yang memekakkan telinga bercampur dengan jeritan kesakitan langsung bergema di seluruh penjuru lapangan yang luas itu. Tanpa sedikit pun memperlambat atau mengubah arah gerakannya, Ivan mencabuk tubuh di hadapannya sekali lagi, lalu mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kuku jarinya memutih, dan mengayunkan kepalan tangan kanannya sekuat tenaga ke depan. Tinju itu melesat di udara bagai meteor yang jatuh dari langit, seakan hendak menghancurkan kumpulan pasukan musuh yang berdiri berderet tak jauh di depannya.
Namun tepat sebelum tinju itu menyentuh sasaran, sesosok pria bertubuh raksasa layaknya beruang hutan yang gagah perkasa melangkah maju sendirian menghadang jalannya. Kepalan tangan besarnya diayunkan dengan kekuatan penuh, beradu tepat dan keras dengan tinju Ivan di udara.
BUCH!
"WAAAAH!!!" Seluruh penonton yang memenuhi tribun meledak bersorak begitu hebat hingga tanah di bawah kaki mereka terasa bergetar. Dua tinju yang sama-sama kuat bertemu di udara — satu milik Ivan Dragos, ahli Kungfu Shaolin yang namanya disegani di seluruh penjuru tempat ini, dan satu lagi milik Axel, petinju dunia bawah yang mendominasi kejuaraan selama empat tahun berturut-turut tanpa pernah terkalahkan.
Mata Ivan menatap tajam dan menusuk ke arah Axel, penuh dengan keganasan yang tak disembunyikannya sedikit pun. "Lihatlah… si pengecut akhirnya turun tangan sendiri dengan membawa sekutu-sekutunya… hahaha…" tawanya menggelegar memenuhi udara.
"Demi menumbangkanmu, apa pun akan kulakukan," balas Axel dengan suara tegas dan tak bergeming, tangannya tetap menekan erat kepalan tangan Ivan. "Ini adalah medan perang. Segala cara boleh dipakai, bahkan cara yang disebut pengecut sekalipun!" Sambil berbicara, jari-jarinya mencengkeram lengan Ivan erat-erat, mengunci pergerakannya agar tak bisa lepas atau bergerak bebas.
Dari balik kerumunan pasukan, Zevan dan Lucas yang sedari tadi merunduk dan bersembunyi bagaikan harimau yang sabar mengintai mangsanya, seketika melesat maju bersamaan begitu melihat Ivan tertahan oleh Axel. Langkah mereka cepat, tenang, dan teratur seakan sudah dilatih ribuan kali, melompat beriringan ke udara, kaki kanan terayun membentuk lengkungan yang sempurna — berniat menghancurkan kepala Ivan dalam satu serangan mematikan yang cepat.
Ivan tersenyum tipis ke arah Axel yang masih menahan lengannya. "Strategi kalian… terlalu mudah dibaca," gumamnya pelan namun terdengar jelas di telinga Axel.
Di saat yang sama, dua sosok lain juga melesat dari barisan belakang pasukan Ivan. Petra, meski sudah lanjut usia dan rambutnya memutih, bergerak lincah dan cepat tak terduga. Ia melakukan salto akrobatik di udara dan menendang tepat menghantam kaki Zevan di tengah ayunannya. Bersamaan dengan itu, Gaban muncul dari sisi lain, mengayunkan tinjunya yang besar menghantam kaki Lucas dengan kekuatan yang tak kalah dahsyat.
DUGH!
DUGH!
"Dasar anak-anak tolol! Apakah kalian kira sekadar bersekutu sudah cukup untuk menjatuhkan kami?" teriak Ivan Dragos lalu tertawa lebar tanpa menahan diri, seakan serangan tadi hanyalah permainan kecil yang tak berarti.
Axel mengertakkan gigi, jantungnya berdebar kencang karena bingung sekaligus cemas. "Mereka sudah mengantisipasi semuanya… bagaimana bisa mereka tahu rencana yang baru saja kami susun? Apakah ada pengkhianat di antara kami?" Pikirannya berputar cepat, namun tiba-tiba ia tersentak — Ivan menarik paksa lengannya dari cengkeraman Axel, lalu mengayunkan kaki kanannya dengan kekuatan dahsyat, bagaikan pilar baja yang bergerak menghantam lurus ke arah tubuh Axel.
Insting bertahan yang terlatih selama bertahun-tahun langsung menyadarkan Axel akan bahaya itu. Sebagai petarung yang berpengalaman, ia tak berpikir dua kali — sekuat tenaga ia mengayunkan tinju tangan kirinya untuk menangkis serangan yang datang begitu cepat.
DUAAAGH!!!
Kedua tubuh yang sama-sama kuat terpental mundur bersamaan, masing-masing terdorong beberapa langkah ke belakang.
Lucas kembali melesat maju tanpa menunggu, tinju kanannya meluncur lurus mengincar dada Gaban. Gaban berusaha menangkap dan menahan tinju itu, namun tekanan yang datang begitu kuat membuatnya tak mampu menahan sepenuhnya — tubuhnya terhempas jatuh ke tanah berdebu. Melihat lawan jatuh, Lucas segera melompat tinggi ke udara, kakinya diarahkan tajam ke bawah menargetkan wajah Gaban yang belum sempat bangkit. Namun Nathan sudah berdiri di sana, mengayunkan tinjunya menangkis serangan itu dengan keras. Kedua tubuh terpental mundur menjauh satu sama lain.
Lucas mengertakkan gigi menahan rasa kesal. Bukan hanya ia yang berhadapan dengan dua orang sekaligus — Zevan juga kini dikepung oleh Petra dan Riko yang bergerak serasi. Mereka bekerja sama dengan sempurna, saling melindungi, siapa pun yang terdesak akan segera dibantu dan ditutup celahnya oleh yang lain.
Sementara itu, Renzo bergerak tanpa ragu sedikit pun. Tendangannya menyapu keras menghantam pria di depannya, membuatnya terpental dan menabrak kawan-kawannya yang berdiri di belakang. Ia tak berhenti di situ, kembali melesat ke tengah kerumunan musuh, kepalan tangannya diayunkan sekuat tenaga ke segala arah, berusaha menekan pasukan lawan sekeras mungkin agar mereka tak sempat mengatur susunan barisan.
Tiba-tiba Renzo berhenti bergerak. Ia menatap sosok yang berdiri diam tak jauh darinya — Damian. Wajahnya tampak datar dan dingin, tak satu pun orang yang hadir tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Apakah kau hanya akan berdiri diam menontonku menghabisi pasukanmu sendiri?" tanya Renzo sambil tersenyum tipis.
Mata tajam Damian menatap lurus ke arah Renzo tanpa berkedip. "Inilah caraku menilai seseorang yang tak mudah dikalahkan atau dibunuh. Aku tak bisa bertindak gegabah menghadapi orang sepertimu. Namun bukan berarti aku kehabisan cara."
"Hahaha… sikapmu lumayan juga. Sayang sekali aku tak punya waktu menunggu penilaianmu selesai. Majulah, atau aku akan menghabisi mereka semua di depan matamu."
"Baiklah… dengan senang hati aku akan memenuhi permintaanmu."
Begitu kata-kata Damian selesai diucapkan, sesosok bayangan melesat dari tengah kerumunan — bergerak begitu cepat hingga mata hampir tak sanggup mengikutinya. Sebelum orang-orang menyadari apa yang terjadi, Kael sudah berdiri sepuluh meter di hadapan Renzo, jejak geraknya masih terlihat buram di udara. Kecepatan itu mustahil bagi manusia biasa, membuat seluruh penonton terdiam terpaku tak percaya.
Senyuman di wajah Renzo hilang seketika. Ia sudah bersiap sejak awal, segera membentuk kuda-kuda yang kuat di tanah. Kaki kirinya ditancapkan ke tanah sekuat tenaga sebagai poros, lalu kaki kanannya diayunkan dengan kekuatan penuh — tendangan yang menyapu membawa desir angin tajam lurus ke arah wajah Kael.
Seketika Kael memperlambat gerakannya mendadak, menyilangkan kedua lengannya di depan dada untuk menahan serangan yang datang begitu dahsyat.
BUCH!!!
Tubuhnya terlempar mundur, terguling hingga ke kerumunan petarung yang berdiri tak jauh di belakangnya.
Belum sempat Renzo menurunkan kakinya, Damian akhirnya bergerak tanpa suara — bagaikan bayangan pembunuh yang telah menunggu lama saat lawannya lengah. Tangannya membentuk kepalan tajam mengarah lurus ke kerongkongan Renzo, titik vital yang akan mengakhiri nyawa seketika. Namun rencana itu sudah terbaca. Rengoku muncul tepat di depan Renzo, menekuk lengannya dan menahan serangan itu dengan cepat. Dua sosok yang sama-sama dingin bagai puncak gunung es saling bertatapan, lengan mereka saling mengunci kuat di udara.
--
buat teman-teman yang membaca novel saya tolong di like ya karena like kalian sangat mempengaruhi kualitas novel ini dan mempengaruhi pendapatan yang saya dapatkan. jadi mohon di like, terimakasih.