NovelToon NovelToon
Yan Kai

Yan Kai

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:778k
Nilai: 4.9
Nama Author: DANTE-KUN

Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.

Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Entah berapa lama waktu telah berlalu. Yan Kai perlahan membuka matanya. Langit biru yang luas kembali menyambut pandangannya, sementara pulau-pulau yang melayang di udara masih bergerak perlahan, seolah tidak pernah berubah sejak ia kehilangan kesadaran.

"...Aku..."

Ia mengusap kepalanya pelan sebelum duduk perlahan. Ingatan tentang Naga Kegelapan kembali memenuhi benaknya—jeritan yang mengguncang langit, api emas yang membakar tubuh sang naga, hingga akhirnya makhluk raksasa itu berubah menjadi abu di hadapannya.

Yan Kai segera berdiri sambil menoleh ke arah tempat naga itu sebelumnya berada. Kini yang tersisa hanyalah pilar batu hitam, rantai-rantai kuno yang tergantung tanpa penghuni, dan hamparan abu yang mulai diterbangkan angin.

"Naga itu... benar-benar telah menghilang..."

Ia menarik napas panjang. Meski masih dipenuhi tanda tanya, setidaknya ia bersyukur karena masih hidup. Namun tak lama kemudian, wajahnya kembali berubah muram.

"Kalau begitu, bagaimana caranya aku pulang?"

Ia memandang ke segala arah. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan alam yang begitu indah—tidak ada gerbang, tidak ada jalan keluar, tidak ada manusia lain. Bahkan suara burung pun nyaris tidak terdengar. Yang ada hanyalah keheningan.

Yan Kai mencoba mengingat apakah buku tua itu pernah muncul kembali. Sayangnya tidak. Ia juga sempat mencoba memusatkan pikirannya seperti para murid yang sering bermeditasi, namun tidak terjadi apa pun.

Meski sejak bangun ia merasa tubuhnya jauh lebih ringan dan hangat dibanding sebelumnya, ia sama sekali tidak mengerti apa yang berubah. Ia bukan seorang kultivator. Tak ada seorang pun yang pernah mengajarinya bagaimana merasakan energi spiritual, apalagi mengendalikannya.

"Percuma kalau hanya berdiri di sini." Yan Kai menghela napas pelan. "Aku harus mencari sesuatu."

Kalau memang tidak ada jalan keluar, mungkin setidaknya ada petunjuk mengenai tempat ini. Dengan pikiran itu, ia mulai berjalan menyusuri padang rumput yang luas. Semakin jauh ia melangkah, semakin kagum pula dirinya terhadap dunia yang bernama Dimensi Tak Berujung.

Di kejauhan tampak pepohonan raksasa yang batangnya berwarna putih keperakan, daunnya berkilauan setiap kali tertiup angin, memantulkan cahaya seperti ribuan kristal kecil.

Di sisi lain, sungai-sungai melayang mengalir tenang di udara, membentuk lengkungan-lengkungan indah yang tidak masuk akal menurut akal manusia. Kadang-kadang terlihat bunga-bunga aneh yang membuka kelopaknya sendiri ketika Yan Kai melintas, lalu kembali menutup perlahan setelah ia pergi.

"Tempat ini benar-benar seperti dunia para dewa..." gumamnya lirih.

Entah berapa lama ia berjalan. Perutnya tiba-tiba berbunyi.

Gruuuk...

Yan Kai tersenyum pahit sambil memegang perutnya. "Benar juga. Sejak siang kemarin aku belum makan." Karena terus bekerja di sekte, ia memang sudah terbiasa menahan lapar. Namun kali ini rasa lapar itu datang jauh lebih kuat.

Tatapannya menyapu sekeliling. Tak lama kemudian, matanya tertuju pada sebuah pohon yang tumbuh sendirian di tepi sebuah bukit kecil.

Pohon itu tidak terlalu tinggi, tetapi seluruh batangnya memancarkan warna kecokelatan yang hangat. Yang paling menarik perhatian adalah buah-buahnya—puluhan buah berwarna merah menyala menggantung di antara dedaunan hijau, bentuknya hampir menyerupai apel, hanya saja permukaannya tampak jauh lebih halus dan sesekali memantulkan kilau lembut ketika terkena cahaya.

Yan Kai mendekat dan memperhatikan salah satu buah itu dengan saksama. "Sepertinya bisa dimakan..." Ia memang tidak tahu buah apa itu, namun aromanya sangat harum—harum yang membuat perutnya semakin keroncongan.

Tanpa berpikir terlalu jauh, ia mengulurkan tangan dan memetik satu buah. Kres. Buah itu terasa segar di tangannya. Yan Kai membersihkan permukaannya dengan lengan bajunya sebelum menggigitnya perlahan.

Krak...

Begitu gigitan pertama masuk ke mulutnya, matanya langsung membelalak. "Manis..." Daging buahnya sangat lembut, airnya begitu banyak hingga langsung memenuhi mulutnya. Rasanya jauh lebih nikmat daripada buah apa pun yang pernah ia makan selama hidupnya. Dalam waktu singkat, buah itu habis tanpa tersisa.

"Benar-benar enak."

Namun beberapa tarikan napas kemudian, tubuh Yan Kai mendadak bergetar.

"Hah?"

Rasa hangat mulai menyebar dari perutnya menuju seluruh tubuh, semakin lama semakin kuat, mengalir ke setiap lengan, kaki, hingga ujung jarinya. Bekas luka di lutut yang selama ini terasa nyeri perlahan mulai menggelitik. Yan Kai segera menunduk.

"Apa...?"

Ia membelalakkan mata. Luka robek di lututnya sedang menutup dengan kecepatan yang dapat terlihat oleh mata. Bekas memar di lengannya memudar sedikit demi sedikit.

Bekas pukulan di punggungnya menghilang. Luka di pelipisnya lenyap tanpa meninggalkan bekas. Bahkan kapalan tebal di telapak tangannya mulai mengelupas dengan sendirinya.

Dalam hitungan menit, seluruh luka yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun menghilang begitu saja. Yan Kai menyentuh wajahnya dengan tidak percaya. Kulitnya terasa jauh lebih halus, lebih bersih, seolah seluruh kotoran dan bekas luka yang selama ini menempel telah dibersihkan oleh kekuatan misterius.

"Buah ini... apa sebenarnya buah ini?"

Rasa penasaran membuatnya segera mencari pantulan dirinya. Tak jauh dari sana mengalir sebuah sungai kecil yang airnya sebening kristal. Yan Kai berlari ke tepinya dan berlutut perlahan. Air sungai yang tenang memantulkan wajahnya dengan sangat jelas.

Saat melihat bayangan itu, Yan Kai benar-benar terpaku.

"Itu... benarkah... aku?"

Pemuda yang terlihat di permukaan air masih memiliki wajah yang sama, namun kini wajah itu tampak jauh lebih segar. Kulitnya bersih tanpa noda. Bekas luka yang selama ini menghiasi pipi dan dahinya telah lenyap.

Rambut hitamnya yang dahulu kusam dan kering kini tampak lembut, bersih, dan berkilau diterpa cahaya. Bahkan sorot matanya yang dulu selalu dipenuhi kelelahan kini terlihat lebih hidup. Wajahnya yang sebenarnya sudah memiliki garis-garis tegas kini semakin tampan setelah seluruh bekas luka dan kotoran menghilang.

Yan Kai menyentuh pipinya sendiri berulang kali. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Selama delapan tahun menjadi pelayan sekte, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk benar-benar merawat dirinya.

Kini, hanya karena memakan sebuah buah aneh di Dimensi Tak Berujung, seluruh penampilannya berubah seolah menjadi pribadi yang baru.

1
Durian Anget
kecil
Durian Anget
mayat nya mana?
Durian Anget
bayangin kota perak luas nya berkali kali lipat lebih besar daripada GREAT BRITAIN
Durian Anget
sumpah gua takut nya nih mas author asal ketik doang🙏
Durian Anget
mas author ini salah ketik? atau ngasal ketik nih?
tau ga 3 jt km² itu seluas apa? hampir 2X total luas daratan Indonesia mas,
dan masa iya ada kota yang luas nya ratusan ribu sampai jutaan kilometer persegi? TAKUT NYA NGGA KONSISTEN NIH
Durian Anget
Hilih lu aja ngelepasin pasukan kerajaan awan suci 😹
Durian Anget
lima lantai melulu mas
Durian Anget
lah tiba tiba ada kapal terbang,
Durian Anget
kabur kok di bilang gugur🤡
Durian Anget
sikat aja mas
Durian Anget
btw puluhan ribu prajurit cuma action figure kah? 😹
Durian Anget
kali ini gua setuju
Durian Anget
udah gua duga akan ada ketidak konsisten an,

bukannya perjalan dari kota berlian ke perak membutuhkan berhari hari? ini kok dalam beberapa jam doang? apalagi itu bawa banyak pasukan dengan ranah kultivasi yang rendah?
Durian Anget
konsisten gak nih kayak gini?
Durian Anget
kesadaran saja gausah ada tambahan

toh belum sampai Ranai itu juga
Durian Anget: *ranah*
total 1 replies
Durian Anget
tapi kok SU LIAN pake pedang? tidak konsisten kah?
Kenzie Ganendra
ok mantap..lanjut
Kenzie Ganendra
sy suka org kaya🤣🤣
Kenzie Ganendra
aseeeeek..gassss
ibarumbung
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!