Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Ucapan Nadia tehenti karena dengan tiba-tiba jay membungkam bibir Nadia dengan bibirnya. Menyekop dengan rakus hingga Jay bahkan tak memberikan waktu Nadia untuk bernafas sedetik pun.
Jay mengangkat badan Nadia ala koala dan menggendongnya lalau meletakan ke atas meja kerja yang ada di kamarnya.
Sedetik Jay melepaskan bibirnya lalau dengan cepat kembali menyekop bibir Nadia dengan rakus lagi.
Nadia memukul da da bidang Jay saat ia benar -benar kehabisan nafas.
Hah.. hah.. hah...
Nafas keduanya sama-sama tersenggal, menghirup oksigen sebanyak - banyaknya.
"Lo tahu kan, kalau selama ini gue nahan, dan sekarang gue nggak bisa tahan lagi Nad," desisnya kembali menggendong badan Nadia. Namun kali ini Jay meletakanya di atas tempat tidur dengan pelan.
Nadia menelan ludahnya saat netra melihat bagaimana Jay membuka kacing satu persatu dengan begitu sexi di mata Nadia.
Netra Nadia membulat saat melihat perut Jay yang sixpack dengan otot perut yang membentuk roti sobek.
"Lo suka? lo boleh pegang sayang, semau lo dan sepuas lo," jay menarik jemari mungil Nadia dan meletakanya di otot perutnya.
Lagi - lagi Nadia merasa nafasnya tercekat di tenggorokanya.
"Jay..." panggil Nadia tapi dengan cepat Jay membungkam lagi dengan bibirnya.
"Gue nggak nerima penolakan malam ini sayang."
Nadia ikut terlena dengan sentu han yang Jay berikan di setiap inci kul it lehernya yang sensitif, bibir Nadia menganga saat bagaimana lidah Jay dengan lihainya bermain di area itu.
.
.
.
.
Pagi yang cerah, dengan sinar matahari yang mulai masuk melalui celah gorden, dan Jay yang ternayat sudah terjaga lebih dulu lebih memliih menikmati bagaimna suasana pagi yang indah ini baginya.
Bagaimana tida? pagi ini Nadia masih tertidur dengan pulas berada di sampingnya, dan hanya selimut sebagai penutup badanya setelah apa yang mereka lakukan semalam.
Netra Jay bakan tak mau berpaling dari wanita yang menurutnya lebih cantik dari siapa pun itu, walau sebelumnya Nadia sempat insecure dengan kecantikan Jesica. Tapi bagi Jay, Nadialah yang masih memegang tahta tertinggi di hatinya.
Jay menyingkirkan ana rabut yang menganggu pemandangan jay pagi.
"Eughh..." ringis Nadiamerasa badanya semua linu dan sakit, apa lagi di bagian bawah sana, Nadia merasa sangat perih dan sakit.
"Good morning," sapa Jay saat Nadia dnegna pelan sudah membuka matanya.
"Lo kok masih di sini?" tukas Nadia yang langsung menarik selimut untuk menutupi semua badanya.
jay menarik sudut bibirnya saat melihat bagaimna tingkah Nadia yang malu-malu kucing.
"Aku udah kihat semuanya sayang, jadi apa yang buat kamu malu?"
"Diaammm!!!!!!' seru Nadia menutup bibir jay dengan telapak tanganya.
Slhrup.
Dan dengan jahilnya Jay malah menj ilat telapak tangan Nadia, membuat cewek itu menyibak selimutnya dan terbelalak.
"Jorok iiihhhhh....!!!" seru Nadia lagi tapi itu membuat Jay terkekeh.
"Apa yang jorok sih sayang?kamu lupa sama yang semalam?" goda jay dengan sengaja.
"Diem....!!!!!!! gue bilang idem ya diem, kenaa di bahas mulu sih? lo sengaja ya?"
"Mau mandi nggak? atau mau mandi bareng?" Jay semakin menggoda Nadia.
"Mandi aja duluan, gue belakangan aja," serunya dari balik selimut. " Mending lo pergi kerja aja deh sekarang. gue juga mau ke sekolahan." tegas Nadia.
"Ya udah yuk mandi bareng kamu yakin kuat ke sekolahan? nggak mau libur lagi aja?"
"Libur mulu nanti gue nggak lulus lagi,"
"Ya udah kalau gitu aku mandi duluan ya' Jay turun dari tempat tidur, tapi cowok itu sengaja tak pergi ke kamar mandi karena ingin melihat wajah Nadia lagi.
"Beneran udah pergi kan dia?" gumam Nadia dengan pelan menyibak selimutnya,"
"Mau mandi bareng kan? aku nungguin ni," bisik Jay membuat Nadia menoleh ke arah suara tersebut.
"Lo ngapain masih di sini?" seru Nadia yang taksadar jika selimutnya terbuka.
"Mau nen lagi boleh nggak?"
Nadia terbebelalak dan melihat ke arah badanya yang terpublish.
"Jayyyyy ....... Mesummmmmm!!!!" teriak Nadia tapi Jay malah terkekeh.
"Nggak lucu! tahu!" ketus Nadia lagi.
"Emang nggak ada yang lucu, tapi muka kamu gemesin."
Nadia merasa ada yang berubah dari perkataan Jay, tapi Nadia masih belum menyadari bahwa Jay sudah tak memakai panggilan lo gue lagi.
"Buruan mandi sana," Nadia kembali menarik selimutnya.
"Mandi bareng," rengek Jay.
"Gue boleh nyesel nggak sih baikan sama lo? yang ada lo mesum mulu nanti sama gue lagi."
"Kan kamu istri aku sayang, emang kamu mau aku mesum sama cewek lain? nanti cemburu lagi, nanti galak lagi."
"Bodo ahh! sana mesum sama cewek lain aja."
"Oh... boleh ni? ya udah kalau gitu aku manggil Jesica lagi aja."
Jay hendak beranjak dari tempat tidur, tapi Nadia menahanya.
"Apa?"
"Nggak boleh," Nadia menarik pinggiran celana Jay pelan lalu memanyunkan bibirnya.
"Ohh... Shit! pokoknya hari ini kamu nggak boleh berangkat sekolah."
Jay menyibak selimut itu dan ikut masuk ke dalam bersama Nadia.
"Jangan macem-macem deh, ini masih sakit tau," rengek Nadia.
"Maaf, nanti kalau udah sering juga nggak sakit ko," Jay membelai lembut rambut Nadia.
"Lo nggak mau mandi?" Jay menggeleng pelan.
"Kamu nggak laper?" kini Nadia yang menggeleng.
"Lo nggak kerja?"
"Nggak mau, hari ini pengen sama istri di rumah," sahut Jay manja.
"Nggak usah manja, gue geli liatnya."
"Geli tapi enak kan? mau lagi nggak? biar nggak sakit kan harus di biasain sayang," Nadia membulatkan matanya dan memukul bahu jay.
"Lo kenapa jadi mesum begini sih?" heran Nadia. "Oh iya, punggung lo udah sembuh?" Nadiamasih saja khawatir, karena terakhir kali Nadia brtemu dengan Jay, luka cowok itu masih terlihat menyeramkan.
"Kamu khawatirin aku?" Jay menarik badan Nadia agar istrinya lebih dekat lagi, bukan dekat sih, lebih tepatnya menempel.
"Jay....!!!" pekik Nadia karena merasa malu saat badanya menempel tanpa sehalai kain yang menghalangi.
"Hemm.... aku masih kangen." tau kan cowok kalau bilang kangen artinya apa?
"Masih sakit,"
Dan Jay pun mengalah, " iya sayang, maaf ya, aku egois, habis udah nahan dari kemarin, ehh... kamunya malah ngedeket, jadinya bablas deh."
"Dasar mesum!"
"Biarin, yang penting sekarang kamu suka kan sama yang mesum ini?"
"Cewek itu?" tanya Nadia ragu.
"Siapa? Jesica?"
"Apal banget sama namanya!" ketus Nadia kesal.
"Apal dong sayang, orang kita temen bisnis, dan sekarang dia udah jadian sama Arnold."
"Hah? Maksudnya?" Nadia menjadi bingung.
"Temen, sahabat lebih tepatnya."
"Jadi kalian? nggak ada hubungan lebih dari temen?" Jay menggeleng pelan.
"Nggak ada, dan nggk akan mungkin!' tegasnya tapi Nadia malah berpikir bahwa dia telah di bodohi.
"Jadi kemarin kalian bohongin aku? ih jahat sih!" Nadia merajuk dan memunggungi Jayden.
"Jahat kenapa sih sayang? gara-gara dia mesra sama aku kemarin?"
"Au ah, males!"
jay memeluk badan Nadia dari belakang, menghirup wangi Nadia yang selau mebuatnya candu setiap saat.
"Dedenya bangun, masukin ya?" desis Jay yang malah kembali mesum.
"Jay....! Isshh..." Nadia menggigit bibirnya sendiri sat ia merasa ada sessuatu yang masuk dari belakang.