NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

‎Cahaya matahari sore yang tipis menembus celah kecil tirai hitam, menyinari sudut-sudut kamar hotel yang masih tenang. Revan membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke samping dimana Alina terlelap di sampingnya, selimut menutupi tubuhnya sampai ke dada, napasnya teratur dan wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya.

‎‎Suara dering ponsel yang berulang-ulang menarik perhatiannya ke arah sofa di sudut ruangan. Suara itu berasal dari ponselnya yang terperangkap di saku jas hitam yang tergeletak di punggung sofa. Ia membuka selimut perlahan, meraih kemejanya yang berserakan di lantai lalu memakainya tanpa mengancingkan bagian depan. Langkahnya ringan agar tidak membangunkan Alina, sampai ia tiba di depan sofa dan mengambil ponsel itu.

‎‎Layar menyala terang, tertulis nama Ibu di layar panggilan masuk.

‎‎Ia berjalan ke arah jendela, menarik tirai hitam itu sedikit ke samping, cahaya matahari sore berwarna keemasan menyelinap masuk. Dari balkon lantai dua puluh dua, terlihat keramaian kota yang padat dan kemacetan panjang berkilau di bawah sana. Ia menggeser tombol hijau di layar ponsel.

‎‎"Halo, Ibu."

‎‎"Revan... sudah hampir tujuh bulan. Kamu sudah bertemu dan mengenalnya, Ibu rasa ini sudah cukup, Nak. Saatnya kamu pulang. Ibu rindu."

‎‎"Ibu... Aku belum bisa pulang sekarang. Masih ada hal yang harus aku urus."

‎‎"Baiklah. Satu bulan, Revan. Ibu rasa itu cukup bagi kamu untuk mengurus sisanya. Setelah itu pulanglah."

‎‎Sambungan telepon terputus. Revan berdiri termenung di depan celah tirai, melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Rafael, lalu berbalik dan berjalan perlahan menuju ranjang. Ia duduk di tepi ranjang, jari-jemarinya mengusap lembut pipi Alina.

‎‎"Sudah waktunya untuk pulang."

‎‎Alina mengerjipkan matanya beberapa kali, wajahnya memerah saat pandangannya tanpa sengaja tertuju ke arah dada Revan yang belum tertutup kemeja. Ia segera memalingkan pandangan ke arah jendela.

‎‎"Aku masih mau di sini."

‎‎Revan meraih dagu Alina perlahan. "Kita harus pulang sekarang, sebelum Rafael pulang lebih dulu."

‎‎"Tapi aku sedang tidak ingin melihatnya," bisiknya pelan, dadanya kembali sesak saat teringat pertemuan dengan Amara di kafe tadi.

‎‎Ia melingkarkan lengannya di pinggang Revan, lalu menyandarkan kepalanya di dada pria itu.

‎‎"Revan... aku ingin bercerai dari Rafael."

‎‎Revan tertegun, namun kali ini ia tidak ragu. Jari-jemarinya mengusap lembut punggung Alina, memeluknya lebih erat.

‎‎Alina mengangkat kepalanya, menatap mata Revan dalam. "Kenapa? Apa kamu tidak mencintaiku dan ingin aku tetap bersamanya?"

‎‎Revan menatapnya balik, tatapannya tegas dan dalam.

‎‎"Alina, dengarkan aku," ucapnya pelan namun jelas. "Aku mencintaimu. Dari awal aku yang mendekatimu, aku yang menginginkanmu di sini bersamaku. Aku tidak pernah ingin kamu kembali ke Rafael."

‎‎"Justru karena aku mencintaimu, aku ingin kamu mengambil keputusan itu bukan karena amarahmu melihat Amara tadi. Aku ingin kamu bercerai karena kamu sudah tidak mencintainya lagi, dan karena kamu ingin hidup bersamaku."

‎‎Alina terdiam, matanya berkaca-kaca.

‎‎"Aku di sini," lanjut Revan sambil menggenggam tangan Alina erat. "Kalau kamu yakin ingin bercerai, aku akan ada di sampingmu sampai semuanya selesai. Aku yang memulai ini, jadi aku yang akan bertanggung jawab."

-

-

-

‎Rafael mengendarai mobilnya membelah kemacetan sore yang padat, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu di sepanjang jalan. Jam di dasbor menunjukkan pukul 18.25, sebuket bunga mawar merah segar tergeletak rapi di kursi penumpang, yang sengaja ia beli untuk meminta maaf pada Alina.

‎‎Pikirannya terus berputar, ia harus meminta maaf atas kelalaiannya semalam. Ia tidak ingin orang tuanya mengetahui perselisihan mereka sebelum makan malam besok malam. Apalagi jika mereka tahu ia membiarkan Alina menunggu sendirian di kafe sampai larut malam, pasti ayah dan ibunya akan sangat marah padanya.

‎‎Dua puluh menit kemudian, mobilnya melaju masuk ke halaman rumah dan berhenti di depan teras. Rafael turun dengan buket bunga masih digenggam erat di tangan, langkahnya cepat melangkah masuk ke dalam rumah.

‎‎Bi Hani sedang sibuk menata hidangan makan malam di meja makan, lalu segera menyapa begitu melihatnya datang.

‎"Selamat malam, Tuan Rafael. Sudah pulang?"

‎‎Rafael mengangguk sambil melirik sekeliling ruangan.

‎"Bi, apakah Nyonya sudah pulang?"

‎‎Bi Hani mengangguk sopan. "Sudah, Tuan. Nyonya baru saja pulang, sekarang ada di kamarnya."

‎‎Rafael menghela napas lega, setidaknya Alina masih ada di rumah.

‎‎"Lalu Revan?" tanyanya lagi, suaranya sedikit lebih rendah.

‎‎"Mas Revan langsung pergi setelah mengantar Nyonya pulang tadi," jawab Bi Hani.

‎‎Mendengar jawaban itu, dada Rafael tiba-tiba terasa sesak. Jadi seharian ini Alina berada bersama Revan di luar rumah. Ia hanya mengangguk kaku, lalu menaiki tangga menuju lantai dua dengan buket mawar masih digenggam di tangan.

‎‎Ia membuka pintu kamar perlahan. Ruangan itu temaram, hanya lampu tidur yang memancarkan cahaya lembut. Dari balik pintu kamar mandi terdengar suara gemericik air, tanda Alina sedang mandi.

‎‎Rafael berjalan mendekati ranjang, lalu meletakkan buket mawar merah itu di atas seprai, dan meletakkan jasnya yang sudah dilepas disampingnya. Matanya beralih ke arah meja rias, di mana kotak perhiasan yang seharusnya ia berikan malam ulang tahun kemarin masih tertutup rapat, belum pernah disentuh oleh istrinya. Ia berdiri diam di tempatnya, menunggu sambil merasakan rasa bersalah dan kegelisahan yang semakin bertambah di dadanya.

‎‎Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Alina keluar mengenakan jubah mandi berwarna putih, tangannya sibuk mengusap-usap rambut basah dengan handuk kecil. Langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu saat pandangannya tiba-tiba bertemu tatapan Rafael yang sedang menunggu di dalam kamar.

‎‎Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tidak juga menatapnya lebih lama. Hanya memalingkan wajah sedikit, lalu berjalan lurus menuju meja rias di sudut ruangan dan berdiri di sana, punggungnya menghadap ke arah Rafael.

‎‎Rafael menatap punggung istrinya, dadanya terasa berat. Ia melangkah perlahan mendekat.

‎‎"Alina..." panggilnya dengan suara rendah. "Kamu dan Revan darimana saja sampai baru pulang? Bahkan kalian berdua tidak mengangkat teleponku."

‎‎Alina tetap diam, jari-jemarinya masih sibuk mengeringkan ujung rambutnya.

‎‎"Alina aku sedang bicara denganmu." suara Rafael sedikit meninggi, ia melangkahkan kakinya mendekat dan berhenti tepat di belakang istrinya itu. "Jawab aku Alina, apa yang kamu dan Revan lakukan di luar sampai baru pulang jam segini?"

‎‎Alina akhirnya meletakkan handuknya di atas meja rias. Dari pantulan cermin, ia menatap mata Rafael.

‎‎"Kamu menanyakan aku dari mana? Bukankah seharusnya aku yang menanyakan kamu dari mana kemarin malam sampai melupakan ulang tahun pernikahan kita sendiri? Dan hari ini di kafe... aku bertemu Amara. Dia mengembalikan jam tanganmu yang tertinggal di apartemennya semalam. Ini yang kamu bilang hal penting yang harus diurus? Menemui mantan kekasihmu di hari anniversary pernikahan kita?"

‎‎Rafael membeku, wajahnya pucat seketika. Kata‑kata Alina menghantamnya lebih keras daripada pukulan apa pun. Mulutnya sedikit terbuka, ingin berkata sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia sama sekali tidak menyangka Amara akan berani melakukan hal itu, mengembalikan jam tangannya tepat di depan Alina.

-

-

-

Bersambung...

1
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
Adira🍓
Hayoo loh Revan,,, ketahuan kan 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!