Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Cahaya matahari sore yang tipis menembus celah kecil tirai hitam, menyinari sudut-sudut kamar hotel yang masih tenang. Revan membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke samping dimana Alina terlelap di sampingnya, selimut menutupi tubuhnya sampai ke dada, napasnya teratur dan wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya.
Suara dering ponsel yang berulang-ulang menarik perhatiannya ke arah sofa di sudut ruangan. Suara itu berasal dari ponselnya yang terperangkap di saku jas hitam yang tergeletak di punggung sofa. Ia membuka selimut perlahan, meraih kemejanya yang berserakan di lantai lalu memakainya tanpa mengancingkan bagian depan. Langkahnya ringan agar tidak membangunkan Alina, sampai ia tiba di depan sofa dan mengambil ponsel itu.
Layar menyala terang, tertulis nama Ibu di layar panggilan masuk.
Ia berjalan ke arah jendela, menarik tirai hitam itu sedikit ke samping, cahaya matahari sore berwarna keemasan menyelinap masuk. Dari balkon lantai dua puluh dua, terlihat keramaian kota yang padat dan kemacetan panjang berkilau di bawah sana. Ia menggeser tombol hijau di layar ponsel.
"Halo, Ibu."
"Revan... sudah hampir tujuh bulan. Kamu sudah bertemu dan mengenalnya, Ibu rasa ini sudah cukup, Nak. Saatnya kamu pulang. Ibu rindu."
"Ibu... Aku belum bisa pulang sekarang. Masih ada hal yang harus aku urus."
"Baiklah. Satu bulan, Revan. Ibu rasa itu cukup bagi kamu untuk mengurus sisanya. Setelah itu pulanglah."
Sambungan telepon terputus. Revan berdiri termenung di depan celah tirai, melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Rafael, lalu berbalik dan berjalan perlahan menuju ranjang. Ia duduk di tepi ranjang, jari-jemarinya mengusap lembut pipi Alina.
"Sudah waktunya untuk pulang."
Alina mengerjipkan matanya beberapa kali, wajahnya memerah saat pandangannya tanpa sengaja tertuju ke arah dada Revan yang belum tertutup kemeja. Ia segera memalingkan pandangan ke arah jendela.
"Aku masih mau di sini."
Revan meraih dagu Alina perlahan. "Kita harus pulang sekarang, sebelum Rafael pulang lebih dulu."
"Tapi aku sedang tidak ingin melihatnya," bisiknya pelan, dadanya kembali sesak saat teringat pertemuan dengan Amara di kafe tadi.
Ia melingkarkan lengannya di pinggang Revan, lalu menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
"Revan... aku ingin bercerai dari Rafael."
Revan tertegun, namun kali ini ia tidak ragu. Jari-jemarinya mengusap lembut punggung Alina, memeluknya lebih erat.
Alina mengangkat kepalanya, menatap mata Revan dalam. "Kenapa? Apa kamu tidak mencintaiku dan ingin aku tetap bersamanya?"
Revan menatapnya balik, tatapannya tegas dan dalam.
"Alina, dengarkan aku," ucapnya pelan namun jelas. "Aku mencintaimu. Dari awal aku yang mendekatimu, aku yang menginginkanmu di sini bersamaku. Aku tidak pernah ingin kamu kembali ke Rafael."
"Justru karena aku mencintaimu, aku ingin kamu mengambil keputusan itu bukan karena amarahmu melihat Amara tadi. Aku ingin kamu bercerai karena kamu sudah tidak mencintainya lagi, dan karena kamu ingin hidup bersamaku."
Alina terdiam, matanya berkaca-kaca.
"Aku di sini," lanjut Revan sambil menggenggam tangan Alina erat. "Kalau kamu yakin ingin bercerai, aku akan ada di sampingmu sampai semuanya selesai. Aku yang memulai ini, jadi aku yang akan bertanggung jawab."
-
-
-
Rafael mengendarai mobilnya membelah kemacetan sore yang padat, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu di sepanjang jalan. Jam di dasbor menunjukkan pukul 18.25, sebuket bunga mawar merah segar tergeletak rapi di kursi penumpang, yang sengaja ia beli untuk meminta maaf pada Alina.
Pikirannya terus berputar, ia harus meminta maaf atas kelalaiannya semalam. Ia tidak ingin orang tuanya mengetahui perselisihan mereka sebelum makan malam besok malam. Apalagi jika mereka tahu ia membiarkan Alina menunggu sendirian di kafe sampai larut malam, pasti ayah dan ibunya akan sangat marah padanya.
Dua puluh menit kemudian, mobilnya melaju masuk ke halaman rumah dan berhenti di depan teras. Rafael turun dengan buket bunga masih digenggam erat di tangan, langkahnya cepat melangkah masuk ke dalam rumah.
Bi Hani sedang sibuk menata hidangan makan malam di meja makan, lalu segera menyapa begitu melihatnya datang.
"Selamat malam, Tuan Rafael. Sudah pulang?"
Rafael mengangguk sambil melirik sekeliling ruangan.
"Bi, apakah Nyonya sudah pulang?"
Bi Hani mengangguk sopan. "Sudah, Tuan. Nyonya baru saja pulang, sekarang ada di kamarnya."
Rafael menghela napas lega, setidaknya Alina masih ada di rumah.
"Lalu Revan?" tanyanya lagi, suaranya sedikit lebih rendah.
"Mas Revan langsung pergi setelah mengantar Nyonya pulang tadi," jawab Bi Hani.
Mendengar jawaban itu, dada Rafael tiba-tiba terasa sesak. Jadi seharian ini Alina berada bersama Revan di luar rumah. Ia hanya mengangguk kaku, lalu menaiki tangga menuju lantai dua dengan buket mawar masih digenggam di tangan.
Ia membuka pintu kamar perlahan. Ruangan itu temaram, hanya lampu tidur yang memancarkan cahaya lembut. Dari balik pintu kamar mandi terdengar suara gemericik air, tanda Alina sedang mandi.
Rafael berjalan mendekati ranjang, lalu meletakkan buket mawar merah itu di atas seprai, dan meletakkan jasnya yang sudah dilepas disampingnya. Matanya beralih ke arah meja rias, di mana kotak perhiasan yang seharusnya ia berikan malam ulang tahun kemarin masih tertutup rapat, belum pernah disentuh oleh istrinya. Ia berdiri diam di tempatnya, menunggu sambil merasakan rasa bersalah dan kegelisahan yang semakin bertambah di dadanya.
Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Alina keluar mengenakan jubah mandi berwarna putih, tangannya sibuk mengusap-usap rambut basah dengan handuk kecil. Langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu saat pandangannya tiba-tiba bertemu tatapan Rafael yang sedang menunggu di dalam kamar.
Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tidak juga menatapnya lebih lama. Hanya memalingkan wajah sedikit, lalu berjalan lurus menuju meja rias di sudut ruangan dan berdiri di sana, punggungnya menghadap ke arah Rafael.
Rafael menatap punggung istrinya, dadanya terasa berat. Ia melangkah perlahan mendekat.
"Alina..." panggilnya dengan suara rendah. "Kamu dan Revan darimana saja sampai baru pulang? Bahkan kalian berdua tidak mengangkat teleponku."
Alina tetap diam, jari-jemarinya masih sibuk mengeringkan ujung rambutnya.
"Alina aku sedang bicara denganmu." suara Rafael sedikit meninggi, ia melangkahkan kakinya mendekat dan berhenti tepat di belakang istrinya itu. "Jawab aku Alina, apa yang kamu dan Revan lakukan di luar sampai baru pulang jam segini?"
Alina akhirnya meletakkan handuknya di atas meja rias. Dari pantulan cermin, ia menatap mata Rafael.
"Kamu menanyakan aku dari mana? Bukankah seharusnya aku yang menanyakan kamu dari mana kemarin malam sampai melupakan ulang tahun pernikahan kita sendiri? Dan hari ini di kafe... aku bertemu Amara. Dia mengembalikan jam tanganmu yang tertinggal di apartemennya semalam. Ini yang kamu bilang hal penting yang harus diurus? Menemui mantan kekasihmu di hari anniversary pernikahan kita?"
Rafael membeku, wajahnya pucat seketika. Kata‑kata Alina menghantamnya lebih keras daripada pukulan apa pun. Mulutnya sedikit terbuka, ingin berkata sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia sama sekali tidak menyangka Amara akan berani melakukan hal itu, mengembalikan jam tangannya tepat di depan Alina.
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰