Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Nama Baru di Daftar Nama Kontak
Pagi terakhir syuting di Universitas Bina Bangsa datang lebih cepat dari yang Alya kira.
Sejak pukul tujuh pagi, area pelataran gedung fakultas sudah kembali dikuasai kru produksi. Kamera besar terpasang kukuh di beberapa sudut strategis. Lampu-lampu lighting berdaya tinggi dinyalakan menantang cahaya matahari. Kabel-kabel hitam kembali berserakan seperti sarang laba-laba.
Beberapa mahasiswa yang jadwal kelasnya siang sengaja datang lebih pagi hanya untuk melihat proses syuting dari kejauhan pinggir pita batas.
Namun bagi Alya, ia justru merasa ada sesuatu yang janggal pagi itu.
Bukan karena jadwal syuting yang masih padat. Bukan karena tekanan adegan emosional terakhir.
Melainkan karena satu hal yang sangat sederhana.
Payung hitam.
Benda itu terlipat rapi di dasar tote bag miliknya. Alya menatap benda itu selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
"Harus dikembalikan hari ini."
Ia menutup ritsleting tasnya.
"Mbak Alya!"
Suara asistennya membuat Alya menoleh.
"Kita take pertama lima belas menit lagi ya, Mbak."
Alya mengangguk. "Baik."
Ia berdiri dari kursi kanvasnya dan berjalan menuju lokasi set.
Hari terakhir syuting di satu lokasi biasanya identik dengan kelancaran dan perayaan kecil. Tapi ternyata hukum murphy berlaku di lapangan.
"Cut!"
Sutradara mengangkat tangannya dari balik monitor.
Alya menghela napas, menahan rasa frustrasi. "Kenapa lagi, Mas?"
"Ekspresinya udah bagus banget, Al. Dapet feel-nya. Tapi coba sedikit lebih tenang dan pasrah di bagian akhir dialognya."
Alya mengangguk patuh. "Oke, ngerti."
Kamera dan posisi boom mic kembali dipersiapkan.
"Roll! Action!"
Alya kembali menyelami karakternya. Kali ini ia menekan emosinya lebih dalam, membiarkan raut kepasrahan tergambar lebih natural.
"Cut!"
Sutradara itu tersenyum lebar sambil melepas headphone-nya. "Nah! Itu dia! Bungkus untuk scene ini!"
Beberapa kru langsung bertepuk tangan kecil penuh kelegaan.
Alya mengembuskan napas panjang sambil membalas senyum mereka. "Terima kasih, semuanya."
Namun begitu sorot lampu kamera dimatikan, senyum Alya perlahan memudar.
Tinggal satu adegan lagi siang nanti. Setelah itu proyek ini selesai, dan ia harus segera beranjak dari kampus ini selamanya.
Alya melihat layar jam tangannya. Masih ada jeda lumayan panjang sebelum take terakhir.
Entah kenapa, matanya tanpa sadar mengedarkan pandangan, menyisir kerumunan mahasiswa yang menonton di luar batas syuting. Ia mencari-cari sesosok pria berjaket denim dan bertas ransel hitam.
Arka.
Tapi sosok jangkung itu sama sekali tidak terlihat.
Alya membuang muka, mencoba mengusir pikiran itu. "Fokus, Alya." Ia menepuk pelan kedua pipinya sendiri. "Hari ini lu kerja. Bukan nyariin mahasiswa apatis."
Sementara itu, di gedung fakultas ekonomi yang hanya berjarak beberapa blok dari lokasi syuting...
Arka sedang duduk menyandar di kursi ruang kelas yang pengap. Dosen di depan sedang berapi-api menjelaskan materi manajemen risiko perusahaan.
Arka mencatat beberapa poin kunci dengan tulisan tangannya yang khas. Di sebelahnya, Rendy tampak berjuang mati-matian menahan kantuk dengan mata setengah tertutup.
Lima menit kemudian, Rendy menyenggol lengan Arka.
"Ka."
"Hm?" Arka merespons tanpa mengalihkan pandangan dari papan tulis.
"Syuting film si Alya itu hari terakhir lho di kampus kita."
Arka tetap menulis dengan tenang. "Terus?"
"Lu enggak mau melipir buat lihat?"
"Enggak."
"Kenapa?"
"Karena gue lagi kuliah, dan IPK gue butuh diselamatkan."
Rendy mengangguk pelan. "Jawaban yang sangat mahasiswa tingkat akhir."
Arka melirik temannya itu sekilas. "Lu sendiri?"
"Kalau nanti jam istirahat ada kesempatan, gue mau ngintip bentar ah. Nyari bahan update IG story."
"Silakan aja."
Rendy tersenyum miring. "Tapi gue penasaran deh sama satu hal."
"Penasaran apa lagi, astaga."
"Lu... bakal ketemu lagi nggak ya sama Alya habis ini?"
Tangan Arka yang sedang menulis mendadak berhenti di udara selama satu detik penuh. "Enggak tahu."
Senyum Rendy makin melebar. "Nah kan. Jeda satu detiknya berarti lu sempet kepikiran."
"Enggak."
"Yakin?"
"Yakin."
"Gimana kalau nanti dia sengaja nyariin lu buat minta nomor lu?" goda Rendy.
Arka menatap Rendy datar. "Mana ada artis minta nomor orang sembarangan? Apalagi nomor mahasiswa kere kayak gue."
"Ya siapa tahu, Ka. Muka lu kan lumayan komersil."
Arka kembali menulis, mengabaikan omong kosong temannya. "Enggak mungkin."
Rendy tertawa kecil sambil menguap. "Lu terlalu yakin, Bro."
Arka tidak menjawab lagi. Namun beberapa menit kemudian, fokusnya benar-benar buyar. Pikirannya tanpa izin melayang pada percakapan mereka kemarin sore di bawah rintik hujan.
Tentang skripsi. Tentang beban hidup. Tentang keinginan mereka berdua untuk hidup biasa layaknya manusia normal.
Arka menghela napas panjang dan menutup buku catatannya dengan agak kasar. "Ah, udahlah."
Ia bersandar ke kursinya, berusaha kembali fokus menatap dosen di depan.
Menjelang siang, proses syuting akhirnya benar-benar rampung.
"Cut! Wrap untuk semuanya!"
Sutradara bertepuk tangan tinggi-tinggi. Suara sorakan dan tepuk tangan meriah langsung meledak dari seluruh kru.
Alya tersenyum sangat lega. Beban berat di pundaknya akhirnya terangkat.
Ia membungkuk hormat ke beberapa arah. "Terima kasih banyak atas kerja kerasnya semuanya!"
"Terima kasih juga, Mbak Alya!" balas beberapa kru.
Setelah melayani sesi foto bersama dan berbincang sebentar dengan tim penyutradaraan, Alya kembali ke ruang persiapan artis.
Ia berganti pakaian yang lebih kasual dan menghapus sebagian riasan tebalnya. Hari yang panjang ini akhirnya usai.
Namun sebelum melangkah meninggalkan ruangan, matanya terpaku pada tote bag di atas meja.
Payung lipat.
Alya meraih tas itu, lalu berjalan cepat keluar ruangan tanpa asistennya.
Ia berkeliling mencari-cari sosok Arka di sekitar pelataran gedung. Matanya menyapu setiap gerombolan mahasiswa yang lewat. Nihil.
Alya akhirnya memberanikan diri mencegat salah satu mahasiswa berseragam panitia kampus.
"Permisi, kamu tahu mahasiswa sini yang namanya Arka Pratama?"
Mahasiswa itu tampak kaget disapa artis, namun ia segera mengangguk gugup. "Eh—iya tahu, Kak. Arka yang jurusan manajemen bisnis, kan?"
"Iya, betul."
"Jam segini biasanya dia masih ada kelas di lantai dua gedung sana, Kak."
Alya tersenyum ramah. "Oke, terima kasih banyak ya."
Alya melirik jam tangannya. Sesuai perhitungannya, jadwal kelas reguler akan berakhir dalam beberapa menit.
Tanpa pikir panjang lagi, Alya mengayunkan langkah menuju gedung fakultas ekonomi yang ditunjuk mahasiswa tadi.
Tepat saat ia tiba di ujung lorong lantai bawah gedung tersebut, bel tanda kelas berakhir berbunyi nyaring. Ratusan mahasiswa mulai berhamburan keluar menuruni tangga.
Di antara kerumunan itu, Arka berjalan santai sambil menyampirkan tas ranselnya di satu bahu. Rendy mengekor di sebelahnya.
"Ke kantin?" tanya Rendy.
"Nanti aja," jawab Arka.
"Kenapa? Lu mau ngerjain revisi lagi?"
"Bukan, ada yang harus gue urus sebentar."
"Tumben."
Mereka berbelok keluar dari pintu kaca utama fakultas. Tepat saat itu, langkah Arka tertahan. Rendy yang berada di sampingnya juga ikut mengerem mendadak.
Di ujung pilar lorong, Alya berdiri bersandar sambil bersedekap, menatap lurus ke arah mereka.
Mata Rendy membulat sempurna. Mulutnya membentuk huruf 'O' tanpa suara.
Arka melirik Rendy dan langsung membaca situasinya. "Jangan."
"Gue belum ngomong apa-apa, Ka!"
"Ekspresi muka lu udah teriak-teriak."
Rendy menyeringai luar biasa lebar, menepuk bahu Arka keras-keras. "Gue pamit undur diri dulu. Hati-hati ya, artis tuh."
Tanpa menunggu balasan, Rendy melesat pergi secepat kilat sambil tertawa-tawa sendiri.
Arka hanya bisa memijat pangkal hidungnya.
Alya berjalan santai menghampiri Arka.
"Hai."
"Hai," balas Arka pelan. Ia melirik sekilas ke arah bayangan Rendy yang sudah menghilang di ujung lorong.
"Teman kamu?" tanya Alya geli.
"Iya."
"Dia kelihatan lucu."
"Dia itu musibah yang merepotkan."
Alya tertawa pelan. Kemudian ia menurunkan tote bag dari bahunya.
"Saya sengaja nunggu di sini buat balikin sesuatu."
Arka melirik tas itu. "Payung?"
Alya mengeluarkan benda silinder hitam itu dan menyodorkannya. "Ini. Masih utuh."
Arka menerimanya dan memasukkannya ke samping ransel. "Terima kasih repot-repot mampir."
"Sama-sama."
Hening sebentar turun di antara mereka.
Secara teknis, tujuan Alya sudah tercapai. Payung sudah dikembalikan. Seharusnya, percakapan mereka berakhir dan mereka kembali ke dunia masing-masing.
Tapi anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang beranjak pergi. Kaki mereka seolah dipaku di aspal lorong kampus.
Alya memainkan ujung resleting tasnya sebentar, menimbang-nimbang kalimatnya.
"Arka."
"Ya?"
"Kamu pasti setiap hari ada di kampus ini kan?"
Arka menatapnya sejenak. "Tentu. Sayakan mahasiswa sini."
Alya tertawa kecil menyadari kebodohan pertanyaannya. "Iya, pertanyaan saya bodoh."
"Agak sedikit."
"Saya maksudnya begini..." Alya berhenti, otaknya bekerja keras mencari alasan paling masuk akal yang tidak akan membuatnya terlihat menyedihkan.
"Kita kan sudah beberapa kali ketemu..."
"Iya."
"Dan kebetulan jadwal syuting saya di kampus ini udah resmi beres hari ini."
Arka tidak bereaksi berlebihan, ia hanya mendengarkan.
"Jadi, kalau suatu saat saya lagi kangen kopi kampus sini, atau butuh rekomendasi tempat makan enak yang tersembunyi..." Alya mendongak menatap mata Arka. "...boleh saya tanya ke kamu?"
Arka terdiam, terlihat menilai arah pertanyaan tersebut. "Boleh."
"Kalau begitu..."
Jantung Alya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya saat ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya.
"Boleh saya minta nomor HP kamu?"
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!