NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK DI RERUNTUHAN KLAN

Malam turun membasahi pegunungan dengan kabut dingin. Di dalam gua, api unggun kecil menyala, memantulkan bayangan di dinding batu. Xuanyuan duduk memeluk lutut, menatap nyala api yang bergoyang pelan. Luka di tubuhnya masih terasa perih, tapi yang lebih berat adalah sesuatu yang baru saja ia pelajari ia bukan satu-satunya. Ia punya keluarga, dan mereka hancur tanpa ia pernah tahu alasannya.

Lian Yue duduk di sampingnya, diam, tidak memaksa bicara. Ia tahu kapan harus hadir dan kapan harus memberi ruang.

"Kau bingung, Nak? Itu wajar. Kebanyakan orang tumbuh dengan cerita tentang leluhurmu. Kau tumbuh dengan keheningan." suara Lang Wuyan terdengar pelan dari cincin perak di jari Xuanyuan.

"Xiao Kun bilang klan kita hancur. Siapa yang melakukannya? Dan kenapa aku satu-satunya yang selamat?"

"Karena orang tuamu tahu apa yang akan datang. Mereka tidak bodoh mereka hanya terlambat. Ketika kekuatan di dalam dirimu mulai terdeteksi, mereka tahu tidak ada tempat yang benar-benar aman. Jadi mereka membagi jejak. Sembilan relik kuno yang dulu melindungi klan kita mereka menyembunyikannya di berbagai penjuru dunia. Setiap relik memegang satu bagian kebenaran. Dan kau... kau membawa benih yang paling penting."

Xuanyuan menatap telapak tangannya sendiri. "Benih Primordial. Itu bukan anugerah, kan? Itu beban."

"Itu jantung dari segala sesuatu yang pernah ada dan yang akan ada. Orang tuamu tidak memberikannya untuk membuatmu kuat. Mereka memberikannya agar kau bisa bertahan hidup saat dunia berusaha menelannya utuh. Tapi ingat benih itu tidak tumbuh di tanah yang nyaman. Ia tumbuh di tanah yang hancur."

Keesokan paginya, mereka tidak kembali ke jalan utama. Lang Wuyan mengarahkan mereka ke lembah tersembunyi di balik pegunungan tempat yang tidak tertera di peta mana pun. Jalan setapak itu sempit, tertutup semak berduri, dan udara di sana terasa lebih berat, seakan waktu sendiri berjalan lebih lambat.

Saat mereka berbelok di balik tebing batu tinggi, pemandangan di depan mereka membuat langkah kaki terhenti.

Di dasar lembah yang sunyi, tersebar reruntuhan kota kuno. Menara-menara batu yang patah, gerbang besar yang runtuh, dan lorong-lorong yang tertutup lumut tebal. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara air. Hanya keheningan yang menekan dada.

"Ini..." Xuanyuan menelan ludah, suaranya bergetar pelan. "Ini rumahku?"

"Ini sisa-sisa Kota Langit Terbalik. Pusat kekuasaan klanmu. Dua ratus tahun lalu, ini adalah tempat di mana para penguasa berdiri setara dengan dewa. Sekarang... ini makam tanpa nama."

Mereka berjalan di antara reruntuhan. Pupil Gandanya terbuka, dan di balik kabut waktu, ia melihat bayangan masa lalu yang samar menara yang bersinar terang, orang-orang yang berjalan dengan aura kuat, langit yang berbeda, lebih biru, lebih hidup. Lalu cahaya itu padam dalam sekejap. Langit berubah merah. Api turun dari atas.

Ia terhuyung, memegang dahi yang terasa sakit. Gambar-gambar itu bukan miliknya, tapi ia merasakannya rasa takut, keberanian, pengkhianatan, dan keputusasaan yang melanda ribuan orang sekaligus.

"Siapa yang melakukannya?" bisiknya.

"Tidak satu orang. Tapi satu perintah. Perintah yang turun dari Langit Abadi sendiri. Klanmu tidak dihancurkan karena berbuat jahat. Mereka dihancurkan karena mereka menemukan sesuatu yang tidak boleh ditemukan cara menembus gerbang yang tidak pernah dibuka oleh siapa pun sebelummu."

Xuanyuan berjalan menuju struktur tertinggi yang masih berdiri sebuah altar batu besar di tengah kota. Di permukaannya tertulis ukiran yang sebagian telah terkikis waktu, tapi Pupil Gandanya membacanya seakan baru saja diukir kemarin.

"Kami tidak menentang Langit. Kami hanya bertanya mengapa Langit harus tetap di atas sendirian."

Air mata jatuh ke batu kuno itu. Xuanyuan tidak menyeka-nya. Ia merasakan kehilangan untuk orang-orang yang tidak pernah ia kenal, untuk rumah yang tidak pernah ia tinggali, untuk masa depan yang dirampas sebelum ia lahir.

Lian Yue berdiri di belakangnya, tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan tangan di bahu Xuanyuan, dan dalam keheningan itu, Xuanyuan menyadari satu hal ia tidak lagi mencari balas dendam untuk dirinya sendiri. Ia mencari keadilan untuk ribuan nama yang telah dihapus dari sejarah.

Ia melangkah ke tengah altar, dan di sana, di bawah lapisan debu tebal, ada sebuah batu kecil yang memancarkan cahaya putih redup. Saat jari-jarinya menyentuh permukaannya, batu itu bergetar dan melayang pelan ke telapak tangannya.

"Ini Relik Pertama Batu Langit Terbelah. Ini bukan senjata. Ini saksi. Di dalamnya tersimpan ingatan terakhir klanmu. Tapi kau belum siap melihat semuanya. Saat kau siap, ia akan membuka matamu pada kebenaran yang bahkan aku takut untuk ucapkan."

Xuanyuan menyimpan batu itu di dalam jubah, tepat di sebelah dadanya. Beratnya terasa ringan, tapi ia tahu dari saat ini, ia tidak lagi berjalan sendirian. Ribuan bayangan berjalan bersamanya.

Saat mereka berjalan keluar dari lembah, di salah satu dinding batu yang belum runtuh, Xuanyuan melihat satu ukiran lagi — nama yang ditulis dengan tangan yang gemetar sebelum akhirnya gelap datang.

LIU...

Sisanya terhapus. Tapi itu cukup.

"Terima kasih," bisiknya ke arah reruntuhan. "Aku akan kembali. Dan kali ini, aku tidak akan datang sendirian."

Mereka berjalan meninggalkan lembah itu. Di atas bukit, sesaat sebelum kabut menutup pandangan, Xuanyuan menoleh sekali lagi. Di antara reruntuhan, seakan ada sosok yang berdiri di menara tertinggi siluet pria yang menunduk memberi hormat, lalu perlahan menghilang bersama kabut pagi.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!