Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sebagai seorang wanita yang sangat memuja status sosial dan pujian, ego Widyawati mendadak terbang ke langit ketujuh.
"Ah, kalian ini bisa saja. Dewi memang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga kami," ucap Widyawati dengan tawa yang dibuat elegan.
Dewi hampir saja tersedak udara mendengar Widyawati memujinya di depan orang lain.
Nenek sihir ini ternyata gampang sekali dijinakkan kalau egonya sudah dibelai, batin Dewi menahan tawa.
"Dewi sayang, dari mana kau mendapatkan daun teh sebagus ini?" tanya Susan dengan nada suaranya yang kini berubah sangat lembut dan ramah.
Dewi tersenyum manis, memamerkan Skill Senyum Penakluk Gosip yang rupanya mulai bekerja dari sistem.
"Ini racikan rahasia keluarga saya Tante Susan. Daun tehnya hanya tumbuh di dataran tinggi tertentu pada musim tertentu."
Alasan itu tentu saja hanya karangan Dewi untuk menutupi asal-usul hadiah gaib dari sistemnya.
"Wah, pantas saja rasanya sangat eksklusif. Jeng Widya, besok-besok aku boleh mampir lagi kan untuk minum teh di sini?" pinta Merry penuh harap.
Widyawati mengibaskan tangannya dengan gaya sombong yang baru.
"Tentu saja boleh Jeng. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian mencicipi teh buatan menantu kesayanganku ini."
Dewi tersenyum semakin lebar melihat betapa cepatnya Widyawati beralih pihak demi sebuah gengsi di depan teman-temannya.
Ding!
[Misi Harian Selesai dengan Predikat Sempurna!]
[Ibu Suri diam-diam telah mengangkat Anda menjadi trofi kebanggaannya!]
[Hadiah ditransfer: Poin Kasih Sayang +25 dan Skill Senyum Penakluk Gosip (Permanen)!]
Sisa sore itu dihabiskan dengan obrolan ringan dan tawa hangat dari para sosialita tersebut.
Dewi melayani mereka dengan sangat luwes, menjawab pertanyaan-pertanyaan jebakan dengan kecerdasan yang membuat Widyawati semakin bangga.
Brum.
Sekitar pukul lima sore, suara mobil Raka memasuki pelataran mansion.
Raka melangkah masuk ke ruang tamu dengan raut wajah kelelahan dan kemeja yang sedikit berantakan.
Pria itu langsung mengerutkan kening melihat ibunya sedang tertawa lepas bersama tiga temannya, sementara Dewi duduk menemani mereka.
"Selamat sore Tante-tante semua," sapa Raka dengan sopan meski wajahnya tetap datar.
"Eh, Raka sudah pulang. Ya ampun, kau sangat beruntung memiliki istri sehebat Dewi," puji Susan langsung saat Raka baru saja berdiri.
Raka melebarkan matanya sedikit dan menatap Dewi yang sedang tersenyum penuh kemenangan dari sofa.
"Benar Raka. Ibumu ini dari tadi tidak berhenti membanggakan masakan istrimu," tambah Rina dengan nada iri.
Raka menatap ibunya yang kini malah tersenyum canggung karena ketahuan memuji Dewi di belakangnya.
"Oh ya? Syukurlah kalau Mama menyukainya," jawab Raka dengan nada sarkas yang halus.
Raka berjalan menghampiri Dewi dan dengan sangat natural meletakkan tangannya di bahu wanita itu.
"Aku lelah sekali seharian di kantor, Sayang. Bisakah kau menemaniku ke kamar sekarang?" tanya Raka dengan suara bariton yang dibuat sedikit serak dan manja.
Dewi langsung merinding mendengar nada suara Raka yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat itu.
"Tentu saja Mas Raka. Tante-tante, Mama Mertua, saya permisi dulu ke atas untuk mengurus suami saya," pamit Dewi dengan sangat anggun.
Ketiga sosialita itu mengangguk maklum dengan senyum menggoda, sementara Widyawati memutar bola matanya malas.
Raka tetap merangkul bahu Dewi hingga mereka menaiki tangga dan menghilang dari pandangan orang-orang di ruang tamu.
Begitu mereka sampai di lorong lantai dua, Raka langsung melepaskan rangkulannya dan bersandar di dinding.
"Kau pakai pelet apa sampai ibuku dan teman-teman arisannya memujimu setinggi langit?" tanya Raka dengan wajah masih tidak percaya.
Dewi berkacak pinggang dan menepuk dadanya dengan bangga.
"Itu namanya pesona alami seorang istri idaman Bos. Kau harusnya sujud syukur punya karyawan sepertiku."
Raka mendengus pelan, tapi sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum lega.
Dia sebenarnya sangat khawatir ibunya akan merundung Dewi habis-habisan saat dia berada di kantor.
"Lalu aktingmu tadi di bawah bagaimana Bos? Mas Raka sedang lelah dan manja ya?" goda Dewi sambil menusuk pelan perut Raka dengan telunjuknya.
Raka langsung menepis pelan tangan Dewi dengan telinga yang kembali memerah seperti kepiting rebus.
"Jangan besar kepala. Aku hanya membantu mengamankan skenario sandiwara kita di depan teman-teman ibuku."
Tring.
Ponsel Raka di saku celananya tiba-tiba berbunyi nyaring memotong obrolan mereka.
Raka mengambil ponselnya dan melihat nama Bram tertera di layar panggilannya.
"Halo Bram, ada apa? Aku baru saja sampai di rumah," ucap Raka mengangkat telepon.
Dewi bisa melihat raut wajah Raka yang tadinya santai mendadak berubah menegang.
Rahang pria itu mengeras dan matanya memancarkan kilat kemarahan yang tertahan dengan sangat buruk.
"Apa kau bilang? Di stasiun televisi mana wawancara itu disiarkan?" suara Raka berubah menjadi sangat dingin dan mengancam.
Dewi langsung menghentikan candaannya dan menatap Raka dengan cemas yang tiba-tiba meluap.
"Baik, blokir semua berita yang mencoba mempublikasikan ulang wawancara sampah itu. Aku tidak mau Elvan melihatnya."
Klik.
Raka mematikan telepon secara sepihak dan meremas ponselnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.
"Bos, ada apa? Nenek sihir model itu berulah lagi?" tebak Dewi langsung pada inti masalah yang paling logis.
Raka menatap Dewi dengan pandangan yang menyiratkan kelelahan mental yang luar biasa besar.
"Marissa baru saja mengadakan konferensi pers dadakan di salah satu stasiun televisi nasional."
"Dia menangis di depan kamera dan memohon simpati publik karena dihalangi bertemu dengan anak kandungnya sendiri," jelas Raka dengan suara bergetar menahan amarah.
Dewi langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi yang juga memuncak.
Wanita ular itu rupanya benar-benar menggunakan taktik sebagai korban untuk menekan Raka lewat media massa.
"Bukan cuma itu Dewi. Dia juga menyebutkan namamu di wawancara itu dengan sangat jelas."
Mata Dewi membulat kaget mendengar namanya ikut terseret dalam drama televisi murahan itu.
"Namaku? Apa yang dia katakan tentangku pada wartawan?" tanya Dewi waspada.
Raka membuang nafas berat dan menatap langsung ke dalam manik mata Dewi.
"Dia bilang aku telah dicuci otaknya oleh seorang wanita misterius bernama Dewi yang berniat menguasai harta keluarga Mahardika."
"Dan parahnya lagi, ibuku pasti akan segera melihat berita sialan itu di televisi ruang tamu sekarang juga."
Benar saja, dari lantai bawah sayap kiri mansion, terdengar suara pekikan heboh dari Widyawati dan teman-teman sosialitanya.
"Ya ampun! Jeng Widya, lihat berita di TV ini! Bukankah ini Marissa mantan menantumu?!" teriak suara Nyonya Susan menggema sampai ke lantai atas.
Dewi menelan ludah dengan susah payah.
Baru saja dia berhasil mengambil hati ibu mertua palsunya, sekarang reputasinya sudah dihancurkan kembali lewat televisi nasional dalam hitungan menit.
"Bos, sepertinya perang dunia ketiga akan benar-benar meledak di rumah ini malam ini juga," bisik Dewi dengan senyum getir yang dipaksakan.
Raka memegang kedua bahu Dewi dengan tangannya, cengkeramannya terasa sangat kuat namun melindungi.
"Jangan takut. Aku akan berdiri di depanmu untuk menghadapi wanita gila itu dan juga ibuku," ucap Raka dengan nada sumpah yang sangat absolut.
Dewi menatap lekat pria di depannya itu.
Untuk pertama kalinya, Dewi merasa tidak perlu lagi mengandalkan sistem untuk merasa aman dari masalah.
Karena pria kaku yang menggajinya seratus lima puluh juta ini, kini benar-benar telah menjadi pelindung terkuatnya di dunia nyata.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭