Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Dia mengambil serbet dan mengelap bibirnya dengan gerakan yang sangat elegan.
"Tenanglah, Tuan Muda Raka, jangan membuang energimu untuk marah."
Astiana menyentuh punggung tangan Raka dengan lembut membuat pemuda itu langsung tenang dan kembali duduk.
Astiana lalu menatap lurus ke arah mata Bima dengan sorot yang sangat dingin dan menusuk.
"Aku mengizinkanmu menggeledah kamar paviliunku sampai kau puas, Tuan Bima."
Bima tersenyum lebar mendengar persetujuan dari Astiana.
"Tapi ada satu syarat yang harus kau setujui sebelum kau melangkah ke sana."
Astiana menopang dagunya dengan tangan kanan menatap Bima seperti menatap seekor badut.
"Syarat apa, sebutkan saja, aku tidak takut pada gertakanmu."
Bima menjawab dengan dada membusung sombong.
"Jika kau tidak menemukan jam tanganmu di kamarku, apa ganti rugi yang akan kau berikan padaku atas tuduhan ini."
Astiana memberikan tekanan pada setiap suku kata yang dia ucapkan.
"Kau menuduhku di depan Kakek Darma dan seluruh pelayan rumah ini, reputasiku tidak gratis."
Bima tertawa meremehkan tantangan tersebut.
"Kalau jam itu tidak ada di kamarmu, aku akan berlutut dan bersujud meminta maaf padamu di depan semua orang."
"Bukan itu yang aku inginkan."
Astiana menggelengkan kepalanya menolak tawaran Bima yang dianggapnya terlalu murah.
"Lalu apa yang kau inginkan, gembel."
Bima mulai kehilangan kesabarannya karena merasa dipermainkan.
"Jika kau gagal menemukannya, kau harus keluar dari rumah ini hari ini juga dan tidak boleh menginjakkan kaki di sini lagi."
Astiana memberikan syarat yang sangat mutlak dan menghancurkan rencana Bima untuk menginap.
Tante Rosa langsung melotot kaget mendengar syarat yang sangat kurang ajar dari seorang tamu.
"Beraninya kau mengusir kami dari rumah ayah kami sendiri."
Rosa berteriak menunjuk wajah Astiana dengan sangat tidak sopan.
"Itu adalah syaratku, jika kalian tidak berani menyetujuinya, maka tidak ada penggeledahan."
Astiana menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.
Pak Darma yang sejak tadi diam akhirnya menganggukkan kepalanya menyetujui syarat tersebut.
"Kakek rasa itu syarat yang sangat adil, Bima."
Pak Darma menatap cucunya dengan tatapan menguji.
"Jika kau berani menuduh tanpa bukti, kau harus berani menanggung akibatnya."
Bima menggertakkan giginya menahan amarah, tapi dia sangat yakin jam itu ada di kamar Astiana.
Yono adalah pelayan kepercayaannya yang tidak pernah gagal menjalankan tugas kotor.
"Baik, aku setuju dengan syaratmu, gadis sombong."
Bima menepuk dadanya dengan sangat yakin.
"Ayo kita ke paviliun sekarang juga dan buktikan siapa yang menjadi badut di sini."
Bima memimpin jalan dengan langkah besar diikuti oleh Tante Rosa, Pak Darma, Raka, dan beberapa pengawal.
Astiana berjalan di barisan paling belakang bersama Raka dengan langkah yang sangat santai.
"Apa kau yakin membiarkan mereka menggeledah kamarmu."
Raka berbisik pelan di sebelah telinga Astiana.
"Tentu saja yakin, kamarku sangat bersih dari barang rongsokan seperti itu."
Astiana menjawab santai membuat Raka tersenyum tipis menyadari sesuatu.
Setibanya di depan paviliun, pintu kamar masih dalam keadaan terbuka lebar seperti saat Raka meninggalkannya.
"Geledah setiap sudut kamar ini, jangan lewatkan satu inci pun."
Bima memberikan perintah pada tiga orang pengawal bertubuh besar di belakangnya.
Ketiga pengawal itu masuk dan mulai membongkar isi kamar Astiana dengan cukup berantakan.
Mereka membalik kasur, memeriksa laci lemari, dan memeriksa meja rias.
Bima berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada menanti kemenangan.
Namun setelah sepuluh menit berlalu, ketiga pengawal itu keluar dengan tangan kosong.
"Maaf, Tuan Bima, kami tidak menemukan jam tangan apapun di dalam kamar ini."
Salah satu pengawal melapor dengan kepala menunduk.
"Apa."
Bima berteriak histeris dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar.
Dia membongkar sendiri bantal dan selimut Astiana hingga berserakan ke lantai.
"Tidak mungkin, pasti ada di sini, cari lebih teliti lagi dasar bodoh."
Bima berteriak marah pada pengawalnya sambil terus mengobrak-abrik isi laci meja.
Tante Rosa ikut panik dan mulai berkeringat dingin melihat anaknya kehilangan akal.
"Sudah cukup, Bima."
Suara Pak Darma menggelegar menghentikan aksi perusakan di dalam kamar tamu tersebut.
"Kalian sudah menggeledah semuanya dan tidak menemukan apa-apa."
Pak Darma menatap cucunya dengan raut wajah yang sangat kecewa.
"Kau sudah menuduh orang baik tanpa bukti, sekarang penuhi janjimu dan angkat kaki dari rumah ini."
Bima terdiam kaku dengan wajah pucat pasi seperti mayat.
Otaknya tidak bisa memproses bagaimana rencananya bisa gagal total seperti ini.
"Pasti Yono menipuku."
Suara hati Bima mulai mencari kambing hitam atas kegagalannya sendiri.
"Ini tidak adil, Kakek, dia pasti sudah menyembunyikan jam itu di tempat lain."
Bima masih berusaha mengelak dari janjinya dan menolak untuk pergi.
Saat itulah Raka melangkah maju dan mengeluarkan gembok raksasa dari sakunya.
Klotang.
Raka melempar gembok berat itu ke lantai tepat di depan kaki Bima.
"Bagaimana mungkin dia bisa menyembunyikannya atau ada pencuri yang masuk."
Raka tersenyum sinis menatap wajah sepupunya yang semakin kebingungan.
"Semalaman penuh, aku yang mengunci pintu kamarnya dari luar dengan gembok baja ini."
Raka menjelaskan fakta yang membuat lutut Bima seketika terasa lemas.
"Tidak ada yang bisa masuk, dan tidak ada yang bisa keluar dari kamar ini sejak jam delapan malam kemarin."
Penjelasan Raka menjadi pukulan telak yang meruntuhkan semua argumen Bima.
Bima akhirnya menyadari bahwa dia sudah masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Astiana sejak awal.
Astiana melangkah maju melewati gembok di lantai dan berhenti tepat di depan Bima.
Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan jam tangan Rolex emas berlian tersebut.
Kring.
Astiana menggoyangkan jam tangan itu di depan wajah Bima yang melongo tidak percaya.
"Apakah ini jam tangan yang kau cari, Tuan Bima."
Astiana bertanya dengan nada suara yang sangat polos namun menyakitkan.
"Dari mana kau mendapatkan jam itu."
Bima mencoba merebut jam itu namun gerakan Astiana jauh lebih cepat menghindarinya.
"Aku menemukannya di semak-semak pot bunga di luar kamarku pagi ini."
Astiana menunjuk ke arah pot besar yang ada di halaman paviliun.
"Sepertinya semalam ada pencuri bodoh yang tidak bisa membuka gembok, lalu lari ketakutan dan menjatuhkan barang curiannya."
Astiana menjelaskan kronologi kejadian dengan sangat akurat seolah dia melihatnya langsung.
Wajah Bima berubah menjadi merah padam menahan rasa malu yang luar biasa di depan kakeknya.
"Pencuri bodoh itu pasti pesuruhmu kan, Bima."
Raka menimpali dengan nada mengejek yang sangat memuaskan.
Pak Darma menggelengkan kepalanya merasa sangat malu dengan kelakuan licik cucunya sendiri.
"Kemasi barang-barang kalian sekarang juga dan keluar dari rumahku."
Pak Darma menunjuk arah gerbang utama tanpa memberikan ruang untuk berdebat lagi.
"Ayah, tolong maafkan Bima, dia hanya salah paham."
Tante Rosa mencoba memohon sambil menangis memegangi lengan Pak Darma.
"Bawa anakmu pergi, Rosa, sebelum aku memotong fasilitas kartu kredit kalian bulan ini."
Ancaman itu sangat ampuh membuat Tante Rosa langsung bungkam dan menarik paksa tangan Bima.
Ibu dan anak yang tamak itu berjalan pergi dengan langkah tertatih dan wajah yang menanggung malu.
Jebakan murahan mereka telah kembali menjadi senjata yang menghancurkan mereka sendiri.
Astiana menatap kepergian mereka dengan senyum yang sangat tipis dan puas.
Fase adaptasinya di rumah ini telah selesai, sekarang saatnya fokus kembali pada musuh utamanya, Tuan Kusuma.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣