NovelToon NovelToon
ASI Untuk HOT CEO

ASI Untuk HOT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:234.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arran Lim

Alur cerita ringan...
Dan novel ini berisi beberapa cerita dengan karakter yang berbeda-beda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arran Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenzo & Naya [Bab 8]

Narendra keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai namun penuh aura gelap. Ia tidak mendapati Gaby di sepanjang koridor, mungkin gadis itu terlalu takut untuk menghadapinya sekarang. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Narendra mendorong pintu ruang rawat Nayara.

Pemandangan di dalam sana membuatnya nyaris kehilangan akal sehat. Di sana, di samping ranjang Naya yang sedang berbaring lemas, duduklah Kenzo. Pria itu tidak tampak merasa bersalah. Sebaliknya, Kenzo tengah menggenggam tangan Nayara dengan begitu erat, mengecup punggung tangan gadis itu berulang kali dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan—sebuah ekspresi syukur yang tak bisa disembunyikan.

"Abang..." panggil Naya lirih kala melihat sang kakak berdiri di ambang pintu, suaranya sangat lemah.

Kenzo menoleh, matanya bertemu dengan mata Narendra. "Ren..."

"Ikut gue," ucap Narendra singkat. Suaranya dingin, datar, dan mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah keluar.

Kenzo terdiam sesaat, ia bisa merasakan badai besar akan segera datang. Ia menatap Naya yang tampak ketakutan. "Sayang, aku pergi sebentar ya. Aku harus bicara sama Abang Naren."

"Kak... Abang kayaknya marah banget ya?" tanya Naya dengan air mata yang mulai menggenang. "Apa Abang marah karena Naya hamil anak Kak Ken?"

Kenzo mengusap air mata di pipi Naya, memberikan senyum paling menenangkan yang ia punya. "Jangan khawatir. Kalau Abang kamu marah, itu tandanya marahnya sama Kakak, bukan sama kamu. Kamu istirahat ya, ingat kata dokter, kamu nggak boleh stres."

Setelah mengecup kening Naya, Kenzo keluar menyusul Narendra. Di koridor, Gaby muncul kembali, segera masuk ke dalam kamar untuk menemani Naya.

.

.

Narendra membawa Kenzo ke taman belakang rumah sakit, sebuah area yang jarang dilalui orang karena jam kunjung sudah berakhir. Suasana taman yang remang-remang menambah ketegangan yang sudah memuncak.

Narendra berhenti mendadak, ia berbalik dan menatap Kenzo dengan tatapan nyalang yang dipenuhi kebencian. "Lo hamilin adik gue?!" tanya Narendra to the point.

Kenzo menarik napas dalam, ia berdiri tegak, tidak berniat menghindar. "Iya. Gue—"

BUGH!

Pukulan mentah mendarat telak di wajah Kenzo. Kenzo tersungkur ke tanah, sudut bibirnya segera mengeluarkan darah segar yang kental.

"ANJ*NG YA LO!!!" teriak Narendra, ia menerjang Kenzo yang baru saja hendak bangun dan kembali memukulnya dengan membabi buta. Pukulan demi pukulan mendarat di dada, perut, dan wajah Kenzo.

Kenzo tidak melawan. Ia membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan amarah Narendra. Ia tahu, rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa hancur yang dirasakan Narendra sebagai seorang kakak. Narendra mencengkeram kerah kemeja Kenzo dengan tangan gemetar.

"Gue percaya sama lo, Ken! Gue titip Naya karena gue pikir lo adalah orang paling aman di dunia ini setelah gue! Tapi lo malah merusak dia! Lo hancurin kepercayaan gue!" teriak Narendra dengan suara parau yang menyakitkan untuk didengar.

Kenzo menundukkan kepala, seluruh rasa bersalah terasa menekan dadanya. Nafasnya sempat tertahan ketika ia kembali mengangkat wajah dan mendapati tatapan Narendra—tatapan yang penuh kekecewaan begitu dalam hingga membuat Kenzo merasa kecil. Namun, di balik rasa bersalah itu, ia tahu satu hal: jika ia menempuh jalan yang baik-baik saja, Narendra tidak akan pernah menyerahkan Naya kepadanya.

Dengan suara pelan namun tegas, Kenzo akhirnya membuka suara.

“Ren... gue minta maaf. Gue tahu gue udah bikin lo kecewa.” Kenzo menarik napas panjang, berusaha menahan getaran dalam suaranya. “Tapi ada satu hal yang harus lo tahu. Gue cinta sama adek lo. Gue bener-bener mau hidup sama dia.”

Narendra mengeraskan rahang, tapi memilih untuk diam sejenak.

“Lo boleh pukul gue kalau itu bisa bikin lo lega,” lanjut Kenzo lirih, menatap sahabatnya dengan mata yang memohon. “Tapi gue mohon... restuin gue sama Naya. Gue bakal jagain dia. Gue bakal cintain dia. Gue bakal rawat dia sebaik mungkin, Ren. Gue janji.”

Sunyi sejenak. Angin yang melewati halaman rumah terasa dingin, tapi telapak tangan Kenzo justru berkeringat.

Kenzo menatap Narendra dengan penuh ketulusan, tatapannya sendu namun mantap. “Gue cinta banget sama Naya, Ren. Dari setahun lalu perasaan itu udah ada. Gue cuma selalu takut ngakuin...”

Nada suaranya merendah, seolah seluruh keberaniannya terkumpul di detik itu.

“Dan gue minta maaf karena gue hilang kendali... gue nyesel, tapi penyesalan gue cuma satu—gue nyesel bikin lo kecewa.” Kenzo menahan napas sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi gue nggak nyesel udah bikin Naya hamil. Gue bahagia... karena dia hamil anak gue.”

Kata-kata terakhir itu keluar dengan suara bergetar, namun penuh keyakinan. Tidak ada lagi yang ia sembunyikan. Tidak ada lagi yang ia tutupi.

BUGG!!!

Satu pukulan keras kembali mendarat di wajah Kenzo. Kepala pria itu terpelanting ke samping, darah segar merembes di sudut bibirnya. Tatapan mata Narendra masih dipenuhi amarah—tajam, dingin, dan penuh kekecewaan.

“Lo bisa dapetin adek gue dengan cara baik, Ken!” pekik Narendra, suaranya bergetar oleh emosi. “Bukan kayak gini caranya! Naya masih terlalu muda, dan lo udah hancurin masa depannya!”

Kenzo mengusap darah di bibirnya, meringis namun tetap menatap Narendra tanpa mundur selangkah pun. “Lo yakin bakal ngasih adek lo ke gue kalau gue pakai cara baik-baik?” suaranya serak namun tegas. “Lo bahkan selalu ngingetin gue supaya nggak jatuh cinta sama Naya. Lo pikir itu gampang, Ren?”

Narendra mengepal tangan, tubuhnya menegang, siap melayangkan pukulan lagi.

“Dan gue nggak hancurin masa depan dia,” lanjut Kenzo, napasnya memburu. “Naya tetap bisa kejar cita-citanya. Gue nggak akan ngekang dia. Gue justru mau bangun masa depan bareng dia.”

Narendra mengangkat tangannya—pukulan ketiga siap dilepaskan.

Namun—

“BERHENTI!!!”

Suara lantang itu memecah tegangnya udara sore. Keduanya menoleh bersamaan.

Tania berdiri di sana, terengah, wajahnya pucat melihat kedua pria itu. Wanita itu—sekretaris Narendra sekaligus teman masa kuliah—menatap mereka dengan mata membesar antara takut dan cemas.

“Kamu kenapa? Kenapa mukul Kenzo segitunya?” tanya Tania sambil meraih tangan Narendra, menurunkannya perlahan. Suaranya gemetar.

Ini pertama kalinya Tania melihat Narendra semarah ini. Pria itu biasanya dingin, terkontrol... bukan seperti sekarang, seperti bom yang hampir meledak.

“Kamu kenapa?” ulang Tania, lebih lembut kali ini.

Tatapan Narendra yang semula penuh bara perlahan meredup. Melihat ketakutan di mata Tania membuat sisi rasionalnya kembali muncul. Nafasnya mulai turun satu per satu.

Tania lalu menoleh ke Kenzo. “Ken, kamu pergi dulu. Obatin luka kamu.”

Kenzo bangkit pelan, wajahnya lebam memar. Ia mendekat sedikit, mencoba berbicara. “Ren...”

“Pergi.”

Satu kata. Dingin. Datar. Tidak bisa dibantah.

Kenzo menahan napas, menatap Tania sejenak—memberi isyarat halus agar wanita itu menenangkan Narendra—sebelum akhirnya berjalan menjauh dengan langkah berat.

Begitu suara langkah Kenzo hilang, Tania terkejut saat Narendra tiba-tiba menariknya ke dalam pelukannya. Pelukan itu kuat, seolah Narendra takut kehilangan pegangan. Wajahnya disembunyikan di ceruk leher Tania, napasnya kasar, menggigil oleh sisa amarah yang belum padam.

Tania membeku sejenak, lalu perlahan mengangkat tangan dan mengelus kepala Narendra dengan lembut. “Kamu kenapa…? Kenapa bisa semarah itu sama Kenzo?”

Narendra tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, berkali-kali, terperangkap antara kemarahan, ketakutan, dan ketidakmampuan menerima kenyataan yang baru saja menghantamnya.

Anehnya, berada dalam pelukan Tania... membuatnya tenang. Ada sesuatu tentang wanita itu yang selalu mampu meredakan badai di dalam dirinya.

Tania tersenyum lirih, meski hatinya ikut terseret emosi Narendra. “Kalau kamu belum mau cerita, nggak apa-apa,” bisiknya lembut. “Yuk... kita cari tempat yang tenang dulu. Biar kamu bisa lebih tenang.”

Narendra hanya mengangguk pelan, masih memeluknya erat, seakan Tania adalah satu-satunya jangkar yang menjaga dirinya tetap waras.

1
D_wiwied
ga takut hamil apa kamu Gab
D_wiwied
aduuh licik jg ya kamu Gab.. 😆😆cuus lgs gas aja Lang 🤭
D_wiwied
lanjut kak
Elsker
🙈🙈🙈🙈🙈🙈
mil_oy cantik
up terus thor
Elsker
makasih udah kembali update
Elsker
Anna adalah mangsa yang empuk 🙈🙈🙈
sahabat pena
Luar biasa
yulia afadz
kpn up lagi ka
panjul man09
pasti ulah sepupunya nico
panjul man09
cinta dalam diam
J
kak lanjut dong kak
Arbaati
sampai sini belum ada kabar si sopir yg dulu katanya sama" krisis.
Niken Dwi Handayani
Leo ember ach
Maya Lara Faderik
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!